The Truth (part 2)


trigger warning: mentions of suicide


Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut keduanya begitu mereka telah masuk kembali ke dalam mobil. Makanan yang seharusnya terasa nikmat pun menjadi hambar di lidahnya, tidak terkecuali minuman favoritnya sendiri.

Pemandangan yang lewat melalui jendela bahkan tidak dipedulikannya. Oikawa terlalu gelisah sampai ia hanya mampu menatap lurus seraya menggenggam erat handphone-nya. Alisa belum membalas pesannya, dan itu berarti, tak ada yang bisa membantunya untuk berpikir jernih sekarang.

Ketika mobil yang dikendarai sudah keluar dari keramaian kota, barulah Oikawa membuka suara.

“Kita... mau ke mana?”

“Ke rumah kakekku,” jawab Iwaizumi singkat.

“Kakek?” Oikawa bertanya bingung. Ia tidak pernah mendengar soal anggota keluarga Iwaizumi yang lain selain ayah, juga ibunya yang telah meninggal. Oikawa tahu Iwaizumi pun tidak memiliki saudara kandung ataupun sepupu. Dan fakta bahwa kakek pria itu masih hidup namun tinggal di tempat terpisah cukup mengejutkannya.

Seakan paham dengan isi pikirannya, Iwaizumi meneruskan.

“Orang tuaku sama-sama anak tunggal, makanya aku nggak punya paman atau bibi. Kakek nenek dari pihak ayahku udah meninggal, jadi ini... kakek dari pihak ibu.”

“Terus kenapa kita mau ke sana?”

“Karena ibuku dimakamin di sana.”

Oikawa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi sepertinya harus menunggu sedikit lagi. Bagaimanapun, Iwaizumi pasti akan menjelaskan semuanya.

Setelah setengah jam berlalu, Iwaizumi membawa mobil mereka masuk ke dalam sebuah hutan kecil. Ada jalan yang hanya cukup dimasuki oleh satu kendaraan, lalu mereka berhenti di depan rumah kayu bercat biru pucat. Rumah itu berukuran sedang, dan terlihat tak terawat dari luar seolah-olah tak ada penghuninya.

Oikawa mengikuti Iwaizumi yang sudah keluar dari mobil terlebih dulu. Pria itu mengetuk pintu, dan mereka menunggu beberapa sekon sebelum ada suara pelan yang menyahut di baliknya.

“Siapa...?”

“Kakek, ini aku,” jawab pria di sebelahnya dengan singkat. Sama seperti dirinya, Iwaizumi pun terlihat tegang. Bahkan lebih tegang dibandingkan saat menjalankan misi bersama mereka.

Saat pintu itu terbuka, langsung ada sepasang netra hijau gelap yang menyambutnya dengan awas. Oikawa berdiri dengan canggung sementara soulmate-nya menyapa pria tua itu.

“Kakek, maaf aku dateng tiba-tiba. Kenalin, dia...” Iwaizumi menoleh sembari meletakkan sebelah tangan di belakang punggungnya. “Soulmate aku. Oikawa Tooru.”

Ada keterkejutan bermain di netra sang pria tua saat mengamati Oikawa dengan lebih lekat. Tatapannya sedikit mengingatkan Oikawa pada Iwaizumi sendiri. Mungkin karena warna mata mereka nyaris sama. Dan dari intensitas yang familier, Oikawa tak ragu lagi bahwa pria yang ada di hadapannya merupakan kakek dari sang Alpha.

“Halo, K-kakek...” sapa Oikawa sedikit ragu. Meskipun begitu, pria yang disapanya tidak membalas dan hanya menatap mereka bergantian.

“Masuk.”

Oikawa kembali mengikuti langkah Iwaizumi. Matanya baru menyapu cepat isi rumah tersebut ketika suara soulmate-nya terdengar lagi.

“Aku mau ngajak Tooru ke makam Ibu.”

Sang pria tua berhenti, lalu menoleh ke arah cucunya. Mereka saling melempar pandang penuh arti cukup lama sebelum yang lebih tua menghela napas besar dan menghilang di balik dapur.

Oikawa menatap dengan bingung sementara Iwaizumi mulai melangkah menuju pintu belakang. Ia pun cepat-cepat menyusul tanpa sempat memperhatikan interior keseluruhan dalam rumah.

Ternyata bagian belakang rumah itu lebih luas dari tampilan depannya atau bagian dalam yang barusan mereka lewati. Ada semacam kebun yang dihiasi oleh banyak tumbuhan berwarna-warni. Namun pandangannya segera teralihkan oleh batu pualam besar yang terletak di tengah-tengah. Saat mendekat, ada nama seorang wanita yang terukir indah dan Oikawa langsung tahu siapa pemilik makam tersebut.

“Ibuku... meninggal waktu aku umur tiga tahun.” Suara halus Iwaizumi terdengar dari sampingnya tatkala pria itu menatap makam ibunya tanpa berkedip. Suasana di sekitar mereka begitu hening sampai Oikawa takut jika ia bergerak sedikit, maka cerita pria itu akan terganggu.

Jadi ia mendengarkan dalam diam.

“Orang-orang luar klan taunya Ibuku meninggal karena sakit, padahal...” Ada jeda yang begitu panjang sampai Oikawa menoleh dengan khawatir. “Ibuku bunuh diri.”

“Eh?”

Oikawa mengerjap beberapa kali. Mulutnya terbuka sedikit mendengar fakta mengejutkan tersebut. Tangannya nyaris terangkat untuk menyentuh pria itu, tetapi ia menahan diri.

“Tooru.” Iwaizumi menyebut namanya begitu tiba-tiba. Sang Alpha berputar 180 derajat ke arahnya dan menatapnya tepat di manik mata. “Apa kamu pernah denger soal salah satu pasangan soulmate yang kehilangan tanda* meskipun mereka udah mating?”

Oikawa menggeleng. Lidahnya terasa kelu. Tentu ia tidak pernah mendengar hal semacam itu. Setahunya, tanda yang diberikan masing-masing pasangan setelah proses mating akan bertahan selamanya. Karena itu merupakan simbol kepemilikan, serta ikatan atas satu sama lain.

“Ibuku kehilangan tandanya nggak lama setelah aku lahir.”

Suara pria itu begitu pelan— nyaris berbisik. Namun gaungnya begitu terasa sampai Oikawa yang berdiri dengan terkejut mampu merasakan kesedihan pria itu. Matanya membeliak semakin lebar begitu memproses apa yang baru saja didengarnya.

“T-tapi... itu nggak... mungkin...” Oikawa menyanggah lemah. Tangannya mendadak terasa dingin. Ada perasaan tidak enak yang menyusup saat melihat ekspresi soulmate-nya.

“Emang seharusnya nggak mungkin, tapi ternyata itu... bukan berarti nggak bisa terjadi. Ibuku salah satu contohnya.”

Iwaizumi mengembalikan netranya ke arah makam sang Ibu, lantas menunduk untuk membersihkan dedaunan yang jatuh di atasnya.

“Waktu ibuku lahir, ternyata darah Omega yang ada di dalam tubuh beliau nggak cukup banyak, nggak cukup kuat. Ibuku jadi sering sakit-sakitan. Bahkan kata dokter, ibuku nggak mungkin bisa hamil.”

Oikawa menegang. Ia berusaha menetralkan ekspresinya, tetapi tangannya tak bisa berbohong. Kesepuluh jarinya bergetar sampai ia harus menautkan dan menyembunyikannya di balik punggung.

Iwaizumi yang tak menyadari perubahan sikapnya, lantas melanjutkan ceritanya.

“Yah, kayak yang kamu lihat, ibuku akhirnya berhasil hamil... dan aku lahir. Tapi semenjak itu, ada yang berubah. Ibuku jadi... menjauh dari soulmate-nya sendiri. Dari ayahku. Mereka berusaha bertahan, walaupun lama-kelamaan ibuku nggak ngerasain apa-apa sama sekali, terutama begitu tanda mating-nya menghilang. Baru waktu aku umur tiga tahun, ibuku akhirnya nyerah.”

“Nyerah...?” Oikawa membisikkan satu kata itu dengan tak berdaya.

“Ibuku ngerasa bersalah... karena nggak ngerasain apa pun terhadap ayahku lagi. Sementara ayahku masih ngerasain hal yang sama. Sendirian. Aku nggak tau... siapa di antara mereka yang jadi gila duluan, tapi aku pikir, pasti itu alasan ibuku akhirnya memutuskan buat pergi selamanya.”

Angin bertiup dari sela-sela dedaunan. Namun hembusannya begitu pelan — tanpa suara — seolah menambah kengerian dari suasana yang menyelimuti mereka detik ini. Dari kenyataan mengerikan yang menimpa pasangan tersebut dan apa efeknya untuk Iwaizumi. Rasanya Oikawa ingin meraih pria itu dan memeluknya erat sembari menenangkannya.

“Dan kita bisa aja ngalamin hal yang sama.”

Oikawa membatu. Ia yakin tadi sudah salah dengar.

“Apa? Barusan kamu bilang apa?”

Untuk pertama kalinya, Oikawa benar-benar merasa takut. Apa yang dirasakannya beberapa hari terakhir tak sebanding dengan dingin yang mendadak menjalar di sekujur tubuhnya. Wajah Iwaizumi yang sudah kembali menatapnya terlihat begitu tersiksa seakan sedang menghadapi hukuman tak berbelas.

“Itu... bukan kejadian pertama kalinya dalam keluarga ibuku. Kakekku pun kehilangan tanda mating-nya nggak lama setelah ibuku lahir. Habis itu... nenekku pergi, nggak tau ke mana, dan ninggalin kakek dan ibuku berdua.”

“M-maksud kamu...” Oikawa menarik napas tercekat. “Itu... akibat keturunan? T-tapi kamu kan Alpha...? Terus kakek kamu juga...” Dirinya tak sanggup lagi berkata-kata. Pikirannya kosong dan tubuhnya seperti mendapat beban yang begitu berat. Dadanya sesak seakan ada yang menyumpal alat pernapasannya.

Iwaizumi tak langsung menjawab. Pria itu pun terlihat kehilangan kata-kata sampai ada suara halus yang menginterupsi mereka dari belakang.

“Kalian mau minum teh dulu? Kamu suka teh?” tanya Kakek Iwaizumi yang perlahan menghampiri mereka. Berbeda dengan di awal, netra hijau sang pria tua kini terlihat lebih lembut dan penuh simpati— seakan paham dilema yang tengah dirasakannya.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Oikawa berjalan dengan gontai mengikuti langkah pelan sang Kakek. Iwaizumi mengikuti di belakangnya tanpa suara. Tapi tak perlu menoleh pun Oikawa tahu mereka merasakan kebingungan yang sama.

Saat sudah masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu, tercium aroma menenangkan teh mawar. Sang Kakek menaruh nampan di atas meja dan menyerahkan salah satu cangkir dengan isi yang masih mengepulkan asap ke arahnya. Oikawa menerimanya sambil menggumamkan kata terima kasih, lantas mulai menyesapnya.

Iwaizumi tidak ikut duduk di sebelahnya. Pria itu hanya berdiri dan bersandar di dinding dekat rak buku— menatapnya intens seakan Oikawa bisa menghilang kapan saja.

Oikawa berusaha untuk tidak mengindahkan pria itu dan lebih memilih menaruh atensinya terhadap kakek tua yang sudah siap berbicara.

“Semua yang diceritain Hajime benar, dan saya, sebagai kakeknya meminta maaf...” ucap pria tua itu dengan tulus ditemani tatapan sedih serta menyesal. “Entah semua ini berawal dari kapan, tapi yang jelas... ini memang bukan pertama kalinya dalam keluarga kami. Dan mungkin, kamu bisa tahu kalau saya sendiri seorang Alpha. Sama seperti Hajime.”

Semua energinya seolah terhisap habis. Kalau tidak sedang duduk, Oikawa yakin tubuhnya sudah terjatuh lemas. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana selain menatap sang Kakek dengan pandangan nanar.

“Berarti... seandainya saya dan Iwaizumi... mating, tanda saya yang ada di dia nanti bakalan menghilang?” Oikawa berusaha memuntahkan pertanyaan itu meskipun hatinya merintih. Rasanya seperti ada monster dalam dirinya yang berteriak minta dibebaskan karena kesakitan.

“Ada kemungkinan seperti itu...” Pria tua itu menjawab pelan— sedikit ragu. Dari sudut matanya, Oikawa bisa melihat Iwaizumi berdiri tegang. “Tapi semua masih tergantung.”

“Tergantung...?”

“Setahu saya, darah Alpha yang ada di tubuh Hajime cukup kuat. Dan posisi pemimpin klan pun sedang dipegang sama dia, jadi seharusnya itu berpengaruh.”

“Pemimpin klan?” Oikawa bertanya tak mengerti. “Bukannya pemimpin klan Iwaizumi masih...?” Ayahnya?

“Itu cuma status di atas kertas.” Iwaizumi memotong dari seberang. Tatapannya tak sedetik pun beralih darinya. “Tapi aslinya, begitu aku nginjak umur dewasa, Ayahku langsung nyerahin posisi pemimpin itu. Tapi orang-orang luar klan taunya masih Ayahku yang memimpin.”

Satu lagi kejutan yang baru didengarnya.

“Tapi... aku sendiri baru tau itu punya pengaruh. Kenapa?” Kali ini Iwaizumi ikut mengalihkan atensinya pada Sang Kakek. Pria itu bertanya dengan kerutan di keningnya yang semakin dalam. “Kakek nggak pernah cerita soal ini.”

“Karena teori itu pun belum pasti. Tapi... kekuatan seorang Alpha itu bisa ditingkatkan, beda dengan Omega. Otoritasnya bisa lebih kuat dibandingkan Alpha lain yang nggak terlahir sebagai posisi pemimpin. Dan karena kamu punya semua itu... bisa aja nasib kamu beda sama Kakek.”

Ruangan itu hening. Tak ada yang bergerak seinci pun. Jantung Oikawa berdetak kencang memukul rongga dadanya hingga ia bisa merasakan dentumannya.

“Apa... ikatan sama Soulmate juga bisa ngaruh?” tanya Iwaizumi setelah keheningan panjang tersebut. Ada kilatan penuh harap yang tampak di balik matanya selama sedetik. “Nggak beberapa lama semenjak ketemu Tooru, aku bisa ngerasain rasa sakit dia, padahal kita belum mating. Apa... itu juga bisa ngaruh?”

Sang Kakek menegakkan tubuhnya dan membuat ekspresi berpikir keras. Oikawa menahan napas selang menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir pria tua itu.

“Bukan berarti itu... nggak mungkin. Kakek pernah dengar juga beberapa kasus di mana ikatan soulmate itu sangat kuat sampai mereka bisa ngerasain rasa sakit pasangannya bahkan sebelum proses mating itu sendiri. Ada yang bilang, ikatan itu lebih kuat daripada ikatan soulmate biasa.” Sang Kakek lalu menatap Oikawa dan cucunya bergantian. “Itu bisa jadi pertanda bagus.”

“Berapa—” Oikawa berdeham karena suaranya terdengar serak. “Berapa persen kemungkinan yang kami punya?”

“Tooru—”

“50 banding 50. Atau lebih, seandainya tanda mating kalian bisa bertahan lebih dari dua tahun.”

Oikawa mengepalkan kedua tangannya. Dua tahun. Seandainya ia melalui proses mating dengan Iwaizumi, mereka hanya memiliki waktu dua tahun sebelum salah satu berubah jadi gila.

Sebelum tandanya untuk pria itu menghilang dan Oikawa harus menikmati kesendirian akibat perasaan Iwaizumi yang tak mungkin terjangkau lagi.

Atau... dua tahun itu bisa terlewati tanpa ada satu pun di antara mereka yang berpotensi kehilangan akal sehat. Tandanya di pria itu akan terus ada dan mungkin, akhirnya, mereka bisa hidup bahagia. Seperti di cerita-cerita.

Pilihannya ada dua, dan semuanya memiliki porsi yang sama.

Seperti bisa membaca pikirannya, Iwaizumi langsung maju dan berlutut di depannya sambil menggenggam kedua tangannya yang sedingin es. Cokelat bertemu hijau. Oikawa menatap kosong sementara Iwaizumi berbicara dengan penuh keyakinan.

“Tooru, dengerin aku. Aku nggak akan ninggalin kamu, apa pun yang terjadi. Aku nggak peduli meskipun tanda itu nanti hilang, aku nggak akan ke mana-mana. Aku bakal tetep sayang sama kamu, mau tanda itu ada atau nggak. Kita bisa berjuang sama-sama.”

Oikawa menggigit bibirnya kuat-kuat seraya menahan isak tangisnya yang bisa keluar kapan saja. Ia ingin menjawab ketulusan pria itu, juga memercayai hal yang sama. Namun bayangan bahwa di masa depan bisa saja hanya dirinya yang mencintai seorang diri membuatnya ragu. Oikawa tidak ingin jatuh dalam harapan tak berdasar, tapi di waktu yang sama, ia tidak rela melepaskan apa yang sudah didapatnya sekarang.

Mereka hanya memiliki dua tahun untuk dipertaruhkan.

“Apa... kita bisa pulang sekarang?”

Namun Oikawa malah melontarkan pertanyaan itu. Ia perlu waktu untuk berpikir. Genggaman di tangannya pun mengendur dan Iwaizumi terlihat sedih. Tetapi sang Alpha langsung mengangguk dan bangkit berdiri.

Begitu mereka sudah berada di luar dan bersiap untuk pergi, lengannya ditahan oleh pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka dalam keterdiaman.

“Oikawa... saya tahu keputusan ada di tangan kamu sekarang, tapi kalau saya boleh kasih saran... dan mungkin permintaan, tolong kasih Hajime kesempatan. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya melepas semua tanggung jawab. Nggak ada yang merawat dia layaknya orang tua kandung. Dia tumbuh sendiri tanpa benar-benar ngerasain kasih sayang dari orang lain. Dan sekarang, cuma kamu yang bisa kasih itu ke dia karena nggak akan ada soulmate lain lagi seumur hidup kalian. Kamu sama dia berhak bahagia lewat satu-satunya kesempatan yang ada.”

Oikawa tertegun, namun tak ada reaksi yang bisa diberikannya selain satu anggukan singkat. Ia tidak ingin berpikir apa pun sekarang. Bayangan kasur empuknya yang sudah menanti terasa seperti surga untuk pikirannya yang sudah lelah.

Lagi-lagi tak ada yang berbicara begitu mobil sudah melaju. Oikawa menyenderkan kepalanya di jendela mobil tatkala memperhatikan lampu-lampu jalanan yang mulai dinyalakan. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya sehingga menyisakan warna-warna abstrak di langit tak berbintang.

Rasa sakit itu masih ada. Bukan sakit yang membakar melainkan sesuatu yang menjalar secara perlahan. Seperti ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam hingga tinggal menunggu waktu sampai tak ada yang tersisa.

Iwaizumi sendiri menggenggam roda kemudi begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Bibirnya membentuk segaris tipis dan matanya terpaku ke jalanan.

Oikawa bertanya-tanya dalam hati, apakah sekarang pria itu pun sedang merasakan sakitnya?


*Tanda: maksudnya di sini kayak semacam mark. Kalau di kebanyakan fanfic aboverse, biasanya mark itu ada di leher.

@fakeloveros