The Truth (part 1)

“Whoaa...”

Oikawa tidak bisa menahan dirinya untuk memandang takjub pemandangan yang ada di depannya. Perjalanan selama dua jam menjadi tidak terasa begitu mengetahui apa yang ternyata ingin ditunjukkan oleh soulmate-nya.

Harus Oikawa akui, bahkan klan-nya sendiri pun tidak memiliki gudang senjata sebesar dan selengkap yang dilihatnya sekarang.

“Wow.” Lagi-lagi Oikawa hanya mampu mengutarakan kekagumannya dalam satu kata. “Ini punya klan kalian semua?”

Iwaizumi yang melangkah di sampingnya, menjawab sambil mengernyitkan keningnya sedikit. “Klan kita. Ini punya kamu juga sekarang.”

“Oh.” Oikawa masih terlalu sibuk mengagumi persediaan senjata di hadapannya untuk mengoreksi perkataan pria itu. “Tapi bukannya yang diambil kemaren kata lo ada yang punya klien juga, ya?”

“Iya, beberapa emang terkadang dijual lagi,” Iwaizumi lalu menatapnya penuh arti. “Ilegally,” sambung pria itu penuh penekanan.

Oikawa mengangguk-angguk. Tanpa perlu dijelaskan, ia sendiri tahu bisnis yang biasa dijalankan oleh komplotan mafia seperti mereka, terutama yang berhubungan dengan senjata. Terkadang ada petinggi negara yang bisa diajak bekerja sama untuk memberi perlindungan bagi mereka dari belakang. Sebagai gantinya, ada transaksi-transaksi ilegal yang harus dijalankan demi memenuhi permintaan klien. Meskipun begitu, bukan berarti kelompok mafia mana pun bersedia dijadikan bawahan. Setiap kelompok berjuang masing-masing dengan caranya sendiri. Gencatan senjata yang dilakukan kedua klan mereka pun merupakan salah satunya.

Apalagi begitu kedua anak dari petinggi klan itu sendiri telah memiliki ikatan, maka tak ada alasan bagi masing-masing pihak untuk tidak membantu jika dibutuhkan.

Singkatnya, mereka telah beraliansi.

Namun Oikawa tak mengatakan bahwa sejujurnya ia masih bingung dengan posisinya sendiri. Menurut hukum alam, seorang Omega yang telah diklaim oleh Alpha-nya wajib mengikuti di mana pun pasangannya tinggal dan menjadikan kelompok itu keluarga barunya. Oikawa memang sudah pindah, tapi karena Iwaizumi sendiri belum mengklaimnya secara fisik, maka hukum itu belumlah berlaku sepenuhnya. Jadi begitu Iwaizumi menegaskan bahwa semua senjata ini termasuk miliknya... Oikawa tak tahu harus merespons bagaimana.

Ngomong-ngomong, Iwaizumi kapan rut-nya, ya...? Apa dia juga nggak pernah curiga soal siklus heat gue? Atau jangan-jangan, Kita nanya waktu itu karena sebenernya disuruh dia?

Pikiran menakutkan yang sempat memenuhi benaknya itu langsung terpotong begitu Iwaizumi berhenti melangkah di sebelahnya.

“Ini bagian senjata terakhir yang diambil klan Aone waktu itu,” jelas pria itu sambil menunjuk lima rak besar yang diisi oleh senjata berderet. Jumlahnya sangat banyak— bahkan lebih dari yang dikumpulkan di tempat-tempat sebelumnya saat Oikawa ikut serta.

“Sebanyak ini yang ada di tempat terakhir?” tanyanya terkejut sambil mendekati salah satu rak. Tangannya gatal ingin menyentuh salah satu senjata. “Apa karena di sini ada yang punya klien?”

Iwaizumi mengangguk, lantas ikut mendekat. Ia mengambil salah satunya dan tahu-tahu menyerahkannya pada Oikawa yang menerimanya dengan sedikit gugup.

“You like guns?” tanya pria itu seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dan menatapnya lekat. “I bet you do, karena kemaren kata Kita kamu jago, kan.”

Oikawa tak langsung menjawab. Ia tengah mengagumi senjata yang ada di tangannya dan berandai-andai apa suatu hari bisa menggunakannya. Meskipun terampil, Ayahnya sangat membatasinya dalam penggunaan senjata sehingga ia harus puas dengan posisi sebagai pengajar. Bahkan dalam misi nyata sekalipun, ia tak begitu banyak menggunakan senjata.

Yah, bukan berarti gue sering ikut misi klan juga... pikir Oikawa pahit seraya mengangkat wajahnya untuk menatap soulmate-nya.

“Suka, tapi gue nggak pernah punya senjata sendiri.”

Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. “Kenapa?”

Oikawa mengedikkan bahu, lalu mengembalikan senjata itu kembali ke tempatnya. “Nggak tau. Mungkin Ayah gue pikir, gue nggak cukup jago.”

“Nggak mungkin.”

“Lo belum pernah liat gue megang senjata, kan?” tuduh Oikawa sambil berkacak pinggang karena sanggahan pria itu datang terlalu cepat.

“Nggak perlu liat juga aku tau kamu bakalan jago.”

Oikawa mengibaskan tangannya. Menurutnya, pernyataan itu terlalu konyol.

“Lo ngomong gitu cuma karena gue soulmate lo.”

Iwaizumi terdiam, namun matanya mengatakan banyak hal. “Mungkin iya, tapi kamu pun beda dari Omega lain yang pernah aku temuin. Jadi jawabanku tetep sama.

Itu karena gue emang beda...

Oikawa menelan balasan itu dan langsung mengalihkan wajahnya. Di kerongkongannya mendadak seperti ada gumpalan kapas dan sesuatu yang menindih jantungnya sampai ia kesulitan bernapas. Ia berusaha berjalan menjauh agar wajahnya tidak terlihat oleh Iwaizumi.

“Gue laper, apa kita bakal makan siang sekarang?” tanyanya, berusaha mengalihkan topik. Oikawa berdeham beberapa kali agar suaranya tidak terdengar pecah.

Ada hela napas berat yang terdengar dari belakangnya, serta langkah kaki yang tak beberapa lama menyusul.

“Apa ada yang lagi kamu pengen makan sekarang?” tanya Iwaizumi begitu mereka keluar dari gudang dan berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Beberapa penjaga berbadan besar menundukkan kepala saat mereka lewat. Oikawa membalasnya dengan canggung, lalu memikirkan jawaban dari pertanyaan Iwaizumi.

“Nggak ada. Gue makan apa aja, kok. Lagian bukannya lo yang ngajak kencan dulu—”

Oikawa berhenti begitu menyadari omongannya. Ia pura-pura terbatuk sambil menatap ke arah mana pun selain sang Alpha. Tapi dari sudut matanya, ia bisa menangkap Iwaizumi tengah tersenyum kecil.

“Iya, emang aku yang ngajak kencan, tapi aku juga bilang kan, kita bisa pergi ke mana pun kamu mau.”

Oikawa menggeleng. Seumur hidup, dirinya jarang sekali berkencan, terlebih lagi menjalin hubungan. Jadi mana mungkin dia tahu tempat-tempat bagus yang sering dikunjungi pasangan?

“Terserah ke mana aja,” tegasnya sekali lagi sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Cuaca panas membuat mobil itu sedikit pengap sehingga Oikawa langsung mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. “Asal yang adem aja deh. Di luar panas banget.”

Dan dengan pernyataan terakhirnya itu, tanpa membuang-buang waktu Iwaizumi langsung menjalankan mobil.


Tanpa diduga, Iwaizumi membawanya ke sebuah restoran Italia dengan warna putih gading mendominasi. Oikawa nyaris meneteskan air liurnya begitu mereka melangkah ke dalam. Pelayan yang melayani langsung mengarahkan keduanya ke salah satu meja yang terletak sedikit di pojok. Begitu sang pelayan meninggalkan mereka dengan buku menu, Oikawa refleks bertanya.

“Lo pernah ke sini sebelumnya?”

“Belum pernah.”

“Oh ya? Sama mantan pacar juga nggak pernah?”

Iwaizumi berhenti membalikkan lembaran buku menu, kemudian menatap Oikawa dengan satu alis yang terangkat.

“Apa ini cara kamu buat nanya aku pernah pacaran atau nggak?” Iwaizumi terkekeh, lantas menjawab santai. “Buat sekadar info, tapi aku nggak pernah pacaran.”

“Termasuk sama Kiyoko?”

Dalam hati, Oikawa mengutuk mulutnya yang tak bisa diam. Meskipun begitu, ia takkan menarik pertanyaannya karena sebenarnya sangat penasaran dengan hubungan kedua orang itu. Iwaizumi tak langsung menjawab, melainkan menghela napas seperti orang lelah, lalu menutup buku menunya.

“Udah kubilang, aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma pernah deket sebagai temen.”

“Pernah? Berarti sekarang nggak lagi?”

Iwaizumi menatapnya lama sebelum bertanya pelan. “Kayaknya kamu beneran nggak inget apa-apa ya, sama kejadian di deket danau beberapa hari lalu?”

Oikawa berusaha memasang wajah tenang, meskipun hatinya merasa waswas.

“Apa... ada kejadian atau omongan penting yang harusnya gue inget?”

“Buatku semuanya penting,” Iwaizumi menjawab singkat sebelum mengalihkan wajahnya ke samping. “Apa kamu mau pesen sekarang?” tanyanya seolah sengaja mengalihkan pembicaraan. Oikawa akhirnya menutup mulut— memutuskan untuk tidak membahas topik itu lebih jauh. Selanjutnya begitu ia mengangguk, Iwaizumi lantas memanggil pelayan.

Setelah selesai menyebutkan pesanan mereka, netra sang Alpha bergulir kembali ke arahnya. Kali ini kepala pria itu ikut dimiringkan seraya menampilkan ekspresi berpikir.

“Kamu suka stroberi.”

Itu bukan pertanyaan.

“I...ya?” balasnya tak yakin. Tadi Oikawa memang memesan jus stroberi sebagai minuman pendamping, tapi kenapa tiba-tiba Iwaizumi membahasnya?

“Pantes aja di kulkas banyak susu stroberi,” sambung pria itu dengan kesadaran yang terpampang jelas. Wajah Oikawa langsung berubah merah mendengar hipotesis tersebut.

“Maaf, menuhin banget ya? Itu Alisa yang kemarin bawain... dulu gue emang suka ngestock di kulkas, tapi kalau terlalu menuhin gue bisa—”

“Nggak kok, nggak apa-apa.” Iwaizumi buru-buru memotong racauannya. “Mulai sekarang, bilang aja kamu butuhnya apa. Kalau emang salah satunya suka itu, nanti aku stock terus di kulkas.”

“E-eh, nggak usah.” Kali ini gantian Oikawa yang menyela. “Lagian gue nggak minum setiap hari juga kok, lo nggak perlu repot-repot.”

“Nggak repot,” Iwaizumi bersikeras. “Karena aku sendiri yang mau.”

Oikawa menyerah. Sepertinya ia telah menemukan orang yang lebih keras kepala dibandingkan dirinya.

“Kenapa lo tiba-tiba kayak gini?”

Iwaizumi menyatukan alisnya tak paham. “Maksudnya? Kayak gini gimana?”

“Ya... kayak gini. Tiba-tiba peduli, padahal di awal gue inget banget lo nyuekin gue. Nganggap seolah-olah gue nggak ada. Terus tiba-tiba lo ngajak gue temenan, bahkan hari ini jalan-jalan. Apa lo berubah pikiran? Soal kita? Karena gue tau lo sendiri nggak bisa langsung nerima ikatan ini, dan lo juga bilang bahwa ada yang disembunyiin.”

Rasanya seperti habis berlari berkilo-kilo meter. Oikawa menarik napas panjang untuk mengisi rongga dadanya dengan pasokan udara yang sempat habis setelah mengutarakan kalimat begitu panjang. Ia tahu seharusnya mereka bersantai hari ini. Iwaizumi bahkan sudah berniat baik dengan mengajaknya kencan, tapi Oikawa malah menghancurkannya dengan segala praduga yang dimilikinya.

Mungkin karena selama ini ia hidup dalam ketidakpastian tentang dirinya sendiri. Ia jadi meragukan segala hal dan menganggap apa yang ada di depan mata tidak semuanya sesuai kenyataan.

Termasuk sikap Iwaizumi sekarang padanya.

Oikawa tahu Iwaizumi membutuhkan waktu untuk menjawab karena sampai pelayan datang dan menghidangkan makanan mereka pun pria itu masih terdiam. Oikawa yang tadinya lapar, mendadak kehilangan selera makan saking tegangnya menunggu jawaban pria itu.

“Kalau gitu, apa kamu mau dengerin dan nerima semuanya? Misal habis ini aku ceritain?”

Oikawa tertegun. Tidak menyangka bahwa pertanyaannya tidak langsung terjawab. Namun Iwaizumi terlihat begitu serius menantikan jawabannya, dan posisi mereka pun berbalik— dirinya yang kini terdiam.

Tetapi mereka sudah sejauh ini, jadi tidak mungkin Oikawa menolaknya. Ia pun ingin mengetahui banyak hal tentang pria itu, dan Oikawa yakin, Iwaizumi menginginkan hal yang sama darinya.

Dan itulah yang membuatnya semakin takut sekarang.

Kalau Oikawa mengiyakan, maka takkan lama sampai Iwaizumi menuntut hal yang sama— sesuatu yang disembunyikannya. Dan ia harus siap dengan segala konsekuensi, bahkan yang terburuk, dari soulmate-nya sekalipun.

Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, tapi bukan berarti, setiap orang mampu menerima ketidaksempurnaan itu dengan lapang dada. Bahkan di umurnya yang sekarang, ia sendiri masih menganggap apa yang tidak dimilikinya itu sebagai aib.

Oikawa takut Iwaizumi akan berpikiran hal yang serupa.

Tapi di sisi lain, ia masih sepenuhnya berharap. Seperti memegang ujung tali balon yang bisa lepas kapan saja, Oikawa berharap bisa menahannya agar tak sampai melayang di udara. Dan untuk melakukannya, tak ada jalan lain selain menarik talinya sekuat tenaga.

Selain berusaha. Selain berkata jujur.

“Mau. Apa pun itu, bakal gue dengerin semuanya.”

Lalu seandainya balon itu nanti terlepas, bisakah Oikawa berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menangis? Atau berharap bahwa balon itu akan kembali padanya?

“Habisin dulu makanan kamu. Habis ini, bakal aku ajak ke suatu tempat.”

Tentu hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.


Jiaaakh... pada ngira mau dikasih adegan fluff yah xixixi

@fakeloveros