Butterflies
Setelah membalas pesan dari Kita, Oikawa lantas membuka pesan dari soulmate-nya dan menatap layar gawainya lama.
Ini pertama kalinya Iwaizumi memintanya datang ke ruangan kerja pribadi pria itu.
Dan ini pertama kalinya juga Oikawa akan berbincang dengan pria itu setelah kejadian dirinya mabuk. Oikawa ingat, ia terbangun pagi itu dengan terkejut dan tahu-tahu sudah ada Iwaizumi yang berdiri di sebelahnya selagi menyodorkan segelas air. Mukanya pasti benar sudah semerah kepiting rebus begitu menyadari di mana dirinya berada. Dan begitu kesadarannya terkumpul sempurna, hal yang dilakukannya pertama kali adalah kabur dari kamar sang Alpha.
Parahnya, dia tidak mengingat sama sekali kejadian malam sebelumnya. Tapi pasti ada sesuatu yang terjadi sampai dirinya bisa tidur di kamar pria itu.
Oikawa tidak berani bertanya.
Dan sekarang, Oikawa menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu besar berwarna mahogani gelap yang memisahkannya dengan soulmate-nya. Entah apa yang ingin dibicarakan pria itu sampai memanggilnya secara khusus kemari.
“Masuk.”
Terdengar suara bariton milik sang Alpha yang langsung membuat bulu kuduknya meremang. Oikawa membuka pintu itu pelan dan langsung disambut pemandangan Iwaizumi yang tengah sibuk membaca tumpukan dokumen di mejanya. Pria itu mengangkat wajah, kemudian memberi senyum kecil selagi dirinya melangkah ke dalam.
“Hai, maaf ya tiba-tiba manggil kamu ke sini.”
Oikawa menggeleng. Mendadak dirinya merasa gugup sampai-sampai tangannya berkeringat. Ia menghapus peluhnya diam-diam di celananya sembari menghindari tatapan pria itu.
Saat Oikawa sudah duduk, Iwaizumi menyingkirkan dokumen-dokumen yang tersebar di atas meja, lantas menangkupkan kedua tangan di bawah dagu seraya menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
“A-apa?” tanya Oikawa yang merasa jengah karena ditatap seintens itu.
“Nggak apa-apa, gimana latihan hari ini? Aku denger kamu bantuin Kita ngelatih anggota klan nembak? Dan katanya kamu jago.”
Mau tak mau, ada sekelumit rasa bangga yang Oikawa rasakan saat Iwaizumi memujinya. Ia berusaha menjaga posturnya tetap tenang meskipun jantungnya bertalu kencang.
“Biasa aja, kok. Dulu juga di klan gue suka bantuin hal yang sama.”
“Apa kamu kangen pulang?”
“Eh?” Oikawa sempat tertegun karena mendadak ditanya seperti itu. “Ehm… masih sih, lumayan. Tapi di sini juga… mulai terbiasa. Orang-orangnya baik.”
Iwaizumi terlihat puas mendengar jawabannya. Sang Alpha mengangguk singkat sebelum netranya berubah menjadi lebih serius.
Oikawa menegakkan badannya.
“Alasanku manggil kamu ke sini karena mau ngajakin kamu buat ngunjungin gudang rahasia senjata klan kita. Semua senjata yang waktu itu diambil udah terkumpul. Thanks to you. Dan makanya aku mau ngajakin kamu ke sana buat sekalian ngecek langsung.” Iwaizumi mengambil jeda untuk menatapnya dalam. “Karena kupikir kamu berhak tau.”
Oikawa memproses rentetan kalimat yang barusan didengarnya dengan tidak percaya. Entah kenapa, ajakan Iwaizumi membuatnya terharu. Rasanya seperti benar-benar dihargai atas kerja kerasnya yang menurutnya tidaklah seberapa. Namun pria itu terlihat bersungguh-sungguh dan menanti jawabannya dengan penuh harap.
“Oh, oke… boleh. Kapan?”
“Besok. Karena tempatnya agak jauh, jadi kita bakal berangkat pagi. Nggak apa-apa?”
Oikawa mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Ia pikir pembicaraan mereka selesai sampai di situ. Oikawa baru berniat untuk pamit ketika tiba-tiba Iwaizumi melanjutkan.
“Oh ya, satu lagi…”
Oikawa menunggu. Mungkin ada hal penting lainnya yang ingin disampaikan pria itu. Namun Oikawa mengernyitkan keningnya saat mendapati Iwaizumi bergerak sedikit gelisah.
“Besok kalau urusan di gudang udah selesai… apa kamu mau pergi sama aku?”
“Pergi? Ke mana?”
Iwaizumi berdeham pelan dan mengubah posisi duduknya.
“Apa kamu keberatan kalau aku ngajak… pergi makan? Nonton? Atau… apa pun terserah kamu.”
Oikawa memperhatikan Iwaizumi yang terlihat mengeluarkan semburat merah dari pipinya dengan tatapan kosong. Otaknya mendadak sulit diajak untuk berpikir jernih. Ia yakin tidak salah dengar. Barusan apakah maksud Iwaizumi—
“Itu… maksudnya… kayak kencan?” Oikawa bertanya tak yakin. Tangannya tanpa sadar meremas celananya sendiri selagi menunggu jawaban. Iwaizumi menggaruk belakang lehernya dengan kikuk sementara seulas senyum kecil menghiasi wajahnya yang masih kemerahan.
“Iya, kalau kamu nggak keberatan?”
Astaga.
Oikawa menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Matanya tidak bisa beralih dari semburat merah yang baru pertama kali ia lihat di wajah pria itu. Ekspresi Iwaizumi yang biasanya datar dan dingin, kini terlihat…
Manis.
“Oke.”
Tanpa ragu, Oikawa menjawab singkat.
Seperti dimantrai sesuatu, kegugupan Iwaizumi lantas menghilang dan digantikan dengan senyum lebar. Oikawa harus mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan bahwa pemandangan di depannya kini adalah Iwaizumi yang terlihat senang.
“Oke. Kalau gitu… besok, kita bisa pergi ke mana pun kamu mau.”
Dan Oikawa harus menahan diri agar tidak ikut tersenyum lebar meski ada rasa menggelitik yang memenuhi perutnya.
Kalau menurut orang lain, seperti ada kupu-kupu di dalamnya.
Kalian bosen gak sih, aku kasih narasi terus… LOL
@fakeloveros