Outburst

Setelah terdengar suara pintu menutup sehingga menyisakan mereka berdua di dalam ruangan, Oikawa menghela napas untuk kesekian kalinya, lalu kembali meletakkan atensinya pada pria yang sedari tadi belum berhenti juga mondar-mandir.

Lebih tepatnya, semenjak Oikawa menceploskan ide bahwa dia bersedia mengorbankan diri dalam rencana perebutan senjata selanjutnya.

Sedikit banyak, Oikawa paham bahwa Iwaizumi pasti tengah pusing tujuh keliling sekarang. Siapa sangka salah satu orang yang mereka tangkap di gudang senjata hari ini memberikan info bahwa sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang disembunyikan. Dan tempat itu, sayangnya, hanya diketahui oleh putra tunggal Klan Aone sendiri.

Dengan cepat, Klan Iwaizumi langsung mengorek informasi mengenai keberadaan pewaris utama klan tersebut. Dan entah disengaja atau tidak, namun mereka sama sekali tidak kesulitan dalam menemukan lokasi pria itu sekarang.

“Korea,” Iwaizumi mengucapkan satu kata itu dengan penuh amarah yang teredam. “Kita harus segera ke sana sebelum orang itu pergi lagi.”

Oikawa menghela napas. Entah harus berapa kali ia berargumen dengan pria yang satu ini.

“Apa lo punya rencana yang lebih jenius?” tanya Oikawa tanpa berusaha menyembunyikan sarkasmenya.

“Aku yang bakal nemuin dia langsung,” Iwaizumi lantas menjawab tanpa ragu.

“That’s stupid. Gue nggak nyangka lo sebodoh ini. Begitu lo sampai di sana, mereka tanpa ragu bakal pasang jebakan,” Oikawa menjelaskan dengan gemas. “Tapi gue yakin 90% mereka nggak tau kalau ada gue juga yang ikut sama lo sekarang. Mereka cuma hafal lo sama anggota klan yang lain, bukan gue. Kecuali lo udah ngumumin ke mana-mana kalau kita soulmate?” Tanpa bisa ditahan, Oikawa bertanya dengan skeptis.

“Dan lo selalu ngelarang gue keluar dari mobil setiap datengin tempat persembunyian senjata di sini. Terus fyi aja, gue juga belum bilang ke siapa-siapa kecuali temen-temen gue di klan bahwa gue udah nemuin soulmate. Jadi, yah, bisa dibilang gue invisible?”

Iwaizumi tak membalas apa pun, tetapi Oikawa tahu pria itu diam-diam mendengarkan.

“Lo bilang si Aone itu mau dateng ke suatu pesta, kan, nanti di Korea? Gue bisa nyamar dan ikut masuk ke pesta itu. Nanti di sana, antara gue bisa ngerayu dia buat bocorin di mana tempat persembunyian senjata satu lagi, atau—“

“Ngerayu?” Iwaizumi memotong dengan tajam.

Atau gue bisa pake kekerasan dan bawa orang itu ke tempat kalian buat diinterogasi. You choose.” Oikawa menyelesaikan tanpa memedulikan tatapan menusuk dari pria yang kini sudah berhenti mondar-mandir tersebut. “Lo harus mengakui kalau ini rencana yang bagus. Seandainya lo nggak keras kepala—“

“Tooru.” Dalam sekejap, pria itu sudah menghampirinya dalam langkah besar dan menariknya berdiri tanpa perlu bersusah payah. Proksimitas nyaris tanpa jarak itu mengingatkan Oikawa dengan kejadian di hutan saat sang Alpha menyentuhnya pertama kali. Oikawa pun membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering akibat gugup.

Gerakan kecil itu tentu saja tidak luput dari netra hijau sang Alpha. Namun cengkeraman yang cukup kuat di pergelangan tangannya membuat Oikawa tidak mampu memproses arti tatapan tersebut.

“Kalau aku nggak keras kepala, itu artinya aku nggak peduli sama kamu,” ucap pria itu dengan penuh penekanan. Cengkeraman di tangannya akhirnya mengendur sedikit meskipun tatapan pria itu masih sama menusuknya. “Kamu pikir aku bakal diem aja pas denger soulmate-ku sendiri ngusulin rencana kayak gitu?”

Oikawa menatap tanpa berkedip. Ucapan itu terlalu gamblang dan ia sungguh tidak menyiapkan hati untuk mendengarnya. Jantungnya memukul keras dadanya sampai ia ngeri sendiri seandainya Iwaizumi bisa mendengarnya.

“Gue udah bilang, gue bukan anak kecil,” Oikawa masih berusaha berargumen karena meskipun kekhawatiran pria itu memang beralasan, ia tidak mau hanya duduk dan berdiam diri. “Lo bilang gue bisa bantu klan ini. Tapi nyatanya, begitu kita sampai di sini lo nggak pernah ngebiarinin gue buat terjun langsung ke lapangan. Kenapa? Karena gue Omega? Jadi lo mau ngurung gue aja selamanya? Kalau gitu caranya, lo nggak ada bedanya sama Ayah gue— selalu ngelarang ini itu seolah-olah gue nggak bisa ngapa-ngapain.”

Oikawa yakin suaranya bergetar sedikit barusan. Ia sungguh tidak ingin menunjukkan kelemahannya, tetapi semua kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan— insekuritasnya, kesedihannya dan amarahnya yang selama ini ia pendam.

Bahkan itu saja belum setengahnya.

“Kalau lo emang berniat nerima gue di klan lo, maka lo harus bikin gue ngerasa berguna di sini. Gue nggak mau nerima pandangan yang sama dari anggota klan di sini. Gue nggak mau diliat sebagai orang yang lemah cuma karena posisi itu. Karena buat gue, itu nggak adil.” Oikawa melarikan tatapannya ke lantai— mendadak merasa terlalu letih untuk berbicara lebih banyak. “Nggak seharusnya kekuatan seseorang dinilai dari ranking semata. Tapi mungkin lo nggak bakal ngerti karena udah terlahir sebagai Alpha.” Oikawa mengakhirinya dengan nada kecut. Ia sudah sering mengalami hal seperti ini. Tapi kenapa perlakuan Iwaizumi yang sama seperti orang lain justru membuatnya merasa kecewa berkali-kali lipat?

Perlahan, Oikawa melepaskan cengkeraman pria itu di pergelangan tangannya.

“Gue capek, mau tidur. Terserah lo mau nyusun rencana kayak gimana. Gue nggak peduli.”

Baru Oikawa membalikkan badannya, kakinya langsung berhenti melangkah saat ada dua lengan yang merengkuhnya dari belakang. Oikawa terkesiap dan hanya mampu berdiri kaku sementara ada kehangatan yang langsung menjalar di sekujur tubuhnya saat punggungnya menempel dengan dada pria itu.

“Maaf…” Iwaizumi berbisik lirih. Hangat napasnya terasa sampai ke tengkuknya dan membuat perutnya bergejolak aneh. “Aku nggak tau kamu ngerasain hal kayak gitu selama ini. Aku… minta maaf.”

Oikawa tak cukup kuat untuk menggerakkan persendiannya yang seakan mati rasa. Jadi ia hanya pasrah ketika Iwaizumi semakin mengeratkan pelukannya.

Lagi pula, bukannya Oikawa tidak menyukai hantaran hangat dari tubuh pria itu—

“Aku pernah bikin kamu janji supaya nggak nempatin diri kamu dalam bahaya.” Iwaizumi melanjutkan dalam oktafnya yang paling rendah. Kalau Oikawa tidak salah dengar, ada setitik kesedihan yang begitu kentara di balik suaranya.

“Tapi sekarang, aku malah ngerasa kayak bakal nempatin kamu dalam bahaya.” Iwaizumi menghela napas dan sedikit melonggarkan rengkuhannya. Oikawa ingin protes, tapi ia langsung meredam keinginan konyol tersebut.

“Aku nggak pernah nganggap kamu lemah atau nggak mampu, Tooru. Tapi kita nggak pernah tau apa yang bisa terjadi di setiap rencana kayak gini.” Pria itu terdiam untuk beberapa sekon yang terhitung sangat lama sampai Oikawa menahan napasnya tanpa sadar.

“Aku cuma khawatir.”

Iwaizumi kini sudah benar-benar melepas pelukannya. Namun tangannya meraih kedua bahu Oikawa dan membalikkan tubuhnya perlahan sampai mereka berhadapan kembali.

“Kamu mau janji satu hal lagi?” tanya pria itu pelan— layaknya hembusan angin laut yang masuk lewat celah jendela.

Oikawa mengangguk— terlalu terkejut untuk mengeluarkan suara.

“Apa pun yang terjadi nanti, kamu harus kembali dalam keadaan hidup.” Iwaizumi mengucapkan per silabelnya dengan penuh kehati-hatian, juga ketegasan tak terbantah.

“Karena aku nggak mau lagi kehilangan orang-orang yang berharga.”


Woot, woot! I just realized that the starting point of this AU is kinda... rough? lmao (or is it just me?). Kayak, at some point kadang aku sendiri masih belum paham banget sama karakter dua orang ini. Thus, I'm trying so hard to 'break through' their characters seiring berjalannya cerita... biar kalian sendiri juga paham, hehe. Kalau kalian ngerasain kebingungan yang sama, either with the characters or the plot (tho I can't reveal much!), feel free to ask via DM, secreto or askfm! I'll be more than happy to answer it all!

@fakeloveros