Danger

“Oh, this is so fun.”

Ucapan datar itu ditanggapi dengan sebuah pukulan keras di punggung sehingga pria yang menerimanya langsung mengaduh kesakitan.

“Jangan lemes gitu, dong, Kageyama! Kita kan ke sini mau ngehibur Oikawa!” seru Alisa berapi-api. Tangannya membuat gerakan-gerakan di udara yang menunjukkan antusiasmenya. Oikawa sendiri mulai curiga ini hanya taktik wanita itu agar mereka bisa pergi ke tempat penuh hingar bingar musik seperti sekarang.

Dan walaupun enggan mengakuinya, Oikawa pikir akan sulit untuk mengalihkan fokusnya ke hal lain sekarang. Namun teman wanitanya itu bersikeras bahwa bersenang-senang seperti ini akan membuatnya lupa untuk sementara.

Oikawa mendengus. Mana ada konsep seseorang bisa melupakan soulmate-nya semudah itu? Alisa berkata seperti itu karena belum bertemu saja dengan orang yang ditakdirkan untuknya.

Ah, persetan dengan takdir.

Oikawa menghabiskan minuman bening di gelasnya sampai tetes terakhir sementara kedua temannya masih meributkan hal yang tak penting.

“Ya udah, pokoknya ganti tuh ekspresi lo! Nggak enak banget diliatnya, masa ke sini muka lo masih aja kayak gitu, Kageyama?! Ceria dikit, kek!”

Kageyama mencibir— seolah perkataan Alisa tidaklah dianggap penting olehnya. Buktinya, pria itu masih saja berwajah datar dan terlihat cuek seperti biasa.

“Berisik. Gue mau ke toilet dulu. Kalian jangan ke mana-mana, ya. Jangan pergi sembarangan,” ucap pria itu meskipun kalimatnya lebih terdengar seperti ditujukan untuk Oikawa yang wajahnya mulai memerah akibat alkohol. Setelah Kageyama menghilang dari pandangan, Alisa mendesah keras.

“Ada cowok cakep arah jam 12…”

Oikawa mendongak dan mengikuti arah pandang wanita itu. Namun mau matanya mencari-cari pun, dia tidak menemukan orang yang dimaksud Alisa.

“Yang mana, sih?”

Alisa berdecak pendek. “Lo nggak bakal nemu orangnya. Sekarang kan buat lo yang cakep ya soulmate lo doang.”

Oikawa melengos malas, meskipun tidak membalasnya dengan argumen. Ia jadi sedikit kesal karena apa yang dikatakan Alisa ada benarnya. Padahal ia baru bertemu sekali dengan Iwaizumi, tapi rupa pria itu seperti sudah tertinggal di otaknya dan tak mau pergi. Yang ia ingat sekarang hanya netra gelap sang Alpha, rambut segelap obsidian dan aroma cokelat yang—

“Gue mau nyamperin cowok itu! Lo tunggu di sini, ya!”

Oikawa seakan terhempas kembali ke bumi begitu didengarnya suara Alisa mengumumkan dengan semangat. Ia bahkan belum menjawab, tapi temannya itu keburu hilang dari pandangan.

“Ngehibur gue belah mananya ini kalau malah ditinggal sendiri...” Oikawa berguman pada dirinya sendiri sambil menghela pasrah.

“Kenapa? Bukannya lebih enak sendirian, ya?”

Oikawa menoleh cepat saat ada suara baru bergabung dengannya. Tombol kewaspadaannya langsung menyala begitu didapatinya ada seorang pria tinggi dengan dandanan nyentrik duduk di sebelahnya. Pria itu tersenyum sekilas sebelum melambai pada bartender dan memesan nama minuman yang belum pernah didengar Oikawa sebelumnya.

“Nih, buat lo yang lagi sendirian,” ucap pria itu diikuti sebuah kedipan mata seraya mendorong gelas berisi cairan berwarna merah muda ke arahnya. Oikawa tak langsung menerimanya. Bertahun-tahun dilatih untuk waspada terhadap orang asing, cukup mengajarinya satu hal; jangan pernah menerima minuman dari orang yang tak dikenal. Itu aturan dasar.

“No, thanks,” tolaknya singkat dengan seulas senyum sopan. Bagaimanapun, ia hargai usaha pria itu.

“Yah, kok gitu? Kenapa? Lo curiga ya, minuman ini gue apa-apain? Emang lo nggak liat tadi habis bartender ngasih, langsung gue kasihin ke lo?”

Oikawa melirik ke arah bartender yang masih sibuk melayani pengunjung lain. Ia memang melihat dengan mata kepala sendiri saat bartender itu meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian pria asing di sebelahnya langsung mendorong gelas itu ke arahnya.

Jadi seharusnya… tidak akan ada yang terjadi, bukan?

“Oke kalau gitu. Thanks.” Oikawa berucap pelan sebelum meraih gelas itu dan mulai menyesapnyaa. Ada manis, sedikit asam dan aroma menyegarkan memenuhi indra perasanya. Tanpa sadar Oikawa langsung meminumnya sampai habis.

Pria asing yang ada di sebelahnya hanya tersenyum selagi mengawasinya.

“Enak, kan?” tanyanya setelah Oikawa meletakkan gelasnya dengan suara kencang ke atas meja.

Oikawa mengangguk, kemudian mulai membuat pola-pola abstrak di atas meja ketika pria asing itu mengajaknya berbincang.

“Tapi beneran deh, dateng ke tempat kayak gini emang lebih enak sendirian. Lo jadi bisa nikmatin waktu sebebasnya tanpa ada yang ngawasin. Yah, kecuali… kalau lo sebenernya udah punya—” Pria itu menghentikan omongannya dengan sedikit ragu.

“Soulmate?” Oikawa membantu menyelesaikannya.

Pria itu mengangguk. “Lo punya?”

“Ada,” jawab Oikawa singkat dengan bayangan pria berkulit kecokelatan yang lagi-lagi mampir ke pikirannya.

Pria itu menarik napas terkejut. “Dan soulmate lo ngebiarinin lo pergi gitu aja ke sini? Eh, sebentar, lo Alpha, kan?”

Oikawa menghentikan gerakan tangannya dan mulai bergerak di kursinya dengan tak nyaman. Ia memang selalu meminum obat penekan feromon agar identitasnya sebagai Omega tidak diketahui umum. Dan pertanyaan barusan seperti menusuknya tepat di ulu hati.

“Gue…” Oikawa berdeham dan membuat gerakan berdiri. “G-gue kayaknya mau nyari temen-temen gue du—”

Namun ucapannya tidak selesai karena Oikawa dikagetkan dengan gelombang vertigo yang menyerangnya tiba-tiba. Ia sampai harus berpegangan pada kursi supaya tidak terjatuh. Oikawa menggelengkan kepalanya berulang kali— berusaha mengusir kunang-kunang yang mendadak muncul dan mengaburkan pandangannya.

“Lo kenapa? Pusing, ya? Coba ke sini dulu yang agak lengang.”

Oikawa tak sanggup melawan saat pria asing itu tahu-tahu menghampirinya dan membantunya berdiri dengan mudah. Tangan pria itu melingkar di punggungnya dan menuntunnya pergi menjauh dari bar menuju pintu keluar belakang.

“T-tunggu! Gue nggak—”

Dengan sisa kekuatannya, Oikawa berusaha mendorong pria itu. Namun mendadak seperti ada tangan dari sisi lain yang menariknya sampai keluar. Bahkan sebelum Oikawa sempat menghirup udara luar, pandangannya jadi semakin gelap.

Dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum kesadarannya menghilang adalah seringai dua pria asing yang tengah menatapnya puas.


“Nggak ada yang mencurigakan malem ini.”

Pria dengan netra zaitun gelap itu hanya melirik sekilas sebelum kembali ke dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. Sedangkan temannya yang baru datang, langsung menghempaskan diri ke atas sofa sambil mengerang.

“Apa habis ini lo mau cek lagi sendiri?” tanya Atsumu sambil mengipas-ngipas wajahnya yang penuh peluh.

“Nggak, gue percaya sama lo.”

“Tumben? Biasanya lo suka mastiin lagi sendiri,” ucap Atsumu dengan nada sedikit menggoda. “Emang lagi males atau… mikirin hal lain?”

Ekspresi di wajah Iwaizumi tidak berubah sedikit pun kendati ia tahu ada makna khusus di balik ucapan temannya.

“Kalau lo nggak bisa liat, banyak laporan yang masih harus gue baca malem ini,” ucapnya datar tanpa mengangkat wajahnya sama sekali. Meskipun begitu, sosok pria dengan manik cokelat susu langsung melintas di benaknya.

Atsumu hanya berguman panjang seraya mengetuk-ngetukkan tangannya di atas sofa.

“Gue masih nggak paham kenapa lo nggak maksa Oikawa buat langsung tinggal di sini. Aturannya kan udah begitu. Bukannya dia Omega, ya?”

Oikawa. Mendengar nama soulmate-nya disebut saja, langsung memunculkan sensasi aneh dalam perutnya. Seperti ada sayap-sayap kecil berterbangan di dalam dan menggelitiknya. Namun Iwaizumi hanya mampu menghela napas saat teringat dengan jawaban sarat kebencian yang diutarakan pria itu tempo lalu.

“Dianya nggak mau.” Jadi hanya jawaban singkat itulah yang bisa ia berikan.

“Ya tapi nggak bakal selamanya kan kalian pisah gini? Gimana pas dia heat nanti terus lo nggak ada? Emangnya lo—”

“Gue bakal ngeyakinin dia,” potong Iwaizumi tajam. Membayangkan Oikawa harus melewati itu tanpa dirinya saja sudah membuat darahnya mendidih.

“Caranya?”

“Gue bakal— shit!

Seperti ada dorongan tak kasat mata, Iwaizumi hampir terjerambap ke belakang kalau saja tangannya tidak segera meraih ujung meja. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pening sebelum sakit itu menghilang sedetik kemudian. Iwaizumi mengerjapkan matanya sampai pandangannya jelas kembali dan mendapati Atsumu tengah menghampirinya dengan ekspresi khawatir.

“Kenapa? Lo ada yang sakit atau giman—”

“Bukan gue.” Iwaizumi tiba-tiba menegakkan diri dan langsung meraih gawainya dari atas meja. Tatapannya mengeras saat tangannya dengan cepat menghubungi satu nomor.

“Tapi Oikawa. Dia lagi dalam bahaya.”


@fakeloveros