Hurt
tw: slight violence
Terlahir dikelilingi oleh para Alpha tidak pernah membuat Alisa Haiba gentar sedikit pun meski dia sendiri hanyalah seorang Beta. Dari cerita-cerita yang pernah ia dengar, para wanita sering kali menemui Alpha yang kasar dan suka berbuat seenaknya. Namun anggapan itu dipatahkan di depan matanya sendiri begitu dia ikut pindah bersama orang tuanya ke sebuah kelompok yang juga merupakan salah satu klan mafia terkuat di negaranya.
Di klan ini ia tidak hanya menemukan teman, tetapi juga keluarga baru.
Seperti Oikawa dan Kageyama, contohnya.
Jadi ketika niatnya ingin menghibur Oikawa karena temannya itu terus-terusan bertingkah seperti orang aneh beberapa hari belakangan, bukan hasil seperti ini yang ia harapkan.
Bukan Oikawa yang tiba-tiba menghilang di depan matanya sendiri sehingga mau tak mau, ia menyalahkan keteledorannya karena telah meninggalkan temannya itu sendirian.
Tapi Alisa mengenal baik temannya itu. Oikawa mungkin satu-satunya Omega yang tidak ingin dianggap lemah yang pernah Alisa kenal. Oikawa tidak pernah absen mengikuti latihan pertahanan diri, selalu ingin melakukan segalanya sendiri, bahkan menyembunyikan rasa sakitnya sampai ada orang lain yang sadar.
(biasanya Alisa yang akan menyadari pertama kali, lalu mengobati pria itu sambil marah-marah.)
Jadi ia pun setengah hati mendengar perintah Kageyama, dan tetap pergi menjalankan misi konyolnya. Namun begitu kembali, temannya ternyata sudah raib diajak pergi oleh dua pria asing yang ia dan Kageyama periksa lewat CCTV.
Dan rekaman itulah yang tengah ia tunjukkan pada soulmate temannya— Iwaizumi Hajime berdiri dikelilingi oleh anggota klan mereka tanpa ada rasa khawatir sedikit pun dalam gerak-geriknya. Meskipun perjanjian gencatan senjata telah ditandatangani, bukankah setidaknya pria itu harus tetap waspada?
Alisa mengembalikan tatapannya pada pria yang masih memperhatikan rekaman CCTV dengan penuh konsentrasi. Untuk ukuran pria yang umurnya sepantaran dengan Oikawa, Iwaizumi termasuk besar sehingga menambah aura penuh intimidasinya. Mungkin karena pria itu juga seorang Alpha, entahlah, Alisa masih dibuat khawatir sekarang oleh hilangnya Oikawa dan ia hanya ingin cepat bergerak untuk menemukan temannya itu.
Alisa memperhatikan bagaimana tangan sang Alpha mengepal erat begitu tiba di bagian ketika Oikawa dihampiri oleh seorang pria asing. Secara alami, seorang Alpha pasti merasa lebih posesif ke Omega-nya, apalagi karena mereka berdua belum mengalami proses mating. Alisa tidak bisa membayangkan seberapa hebatnya Iwizumi menahan diri sekarang.
Video itu berakhir dengan adegan Oikawa yang ditarik paksa menuju keluar pintu sampai tak terlihat lagi. Sayangnya, di area dekat pintu keluar belakang, CCTV-nya sedang rusak sehingga mereka tak memiliki bukti lain. Hanya video itu satu-satunya petunjuk mereka.
“Jadi,” suara Ayah Oikawa lah yang memecahkan keheningan itu pertama kali. Ada urgensi di balik suara pria paruh baya tersebut. “Kamu tau siapa orang-orang itu?”
Semua mata menatap sang pendatang baru dengan penuh rasa ingin tahu. Rahang yang mengeras itu seolah menjadi pertanda bahwa apa yang akan mereka dengar bukanlah berita bagus.
“Saya tau salah satunya,” jawab Iwaizumi tanpa memandang siapa pun kecuali Ayah dari soulmate-nya. “Dan sepertinya saya juga tau ke mana Tooru dibawa oleh mereka.”
Tooru. Nama kecil temannya mengalir lancar dari mulut pria itu. Alisa mau tak mau merasa takjub. Dia tiba-tiba membayangkan bagaimana reaksi Oikawa jika mengetahui soulmate-nya sudah memanggilnya seperti itu.
“Kalau gitu, kita bisa pergi sekarang, kan?” tanya Alisa tanpa bisa menahan diri. Mereka sudah terlalu lama berdiam diri seperti ini. Apa pun bisa terjadi pada Oikawa di setiap detik yang mereka lewati sekarang.
Ada manik hijau yang bergulir ke arahnya, kemudian menatapnya tajam.
“Kita nggak boleh sembarang bergerak. Mereka bukan lawan biasa,” ucap pria itu dengan nada sedingin salju. Alisa bergidik tanpa sadar meskipun hawa musim panas begitu terasa. Namun ucapan tersebut berhasil membuatnya bungkam meskipun hatinya masih gelisah karena khawatir.
“Lagi pula, saya udah ngirim beberapa orang ke sana buat ngawasin gerak-gerik mereka.”
Iwaizumi menambahkan berbarengan dengan bunyi notifikasi yang terdengar dari gawai milik pria itu. Dalam satu gerakan cepat, ia mengeluarkan benda persegi itu dan membaca singkat pesan yang diterimanya. Semua yang ada di sekitar hanya mengawasi dalam diam dan menarik napas penuh antisipasi.
“Dan kita bisa pergi ke sana sekarang.”
Sang Alpha berbicara dengan nada final sebagai penutup rapat darurat mereka tengah malam itu. Wajahnya kembali mengeras meskipun jika Alisa tidak salah lihat, ada setitik kekhawatiran terdeteksi di balik netra hijaunya.
Entah di mana tempat yang dimaksud oleh Iwaizumi, tapi Alisa yakin, Oikawa pasti tidak berada dalam keadaan baik.
Oikawa terbangun saat merasakan ada nyeri di bagian tulang rusuknya. Ia mengambil napas tercekat, namun yang dirasakannya justru sakit yang semakin menusuk. Saat ingin bergerak menyentuh bagian tubuhnya yang terasa perih, barulah Oikawa tersadar dia tidak bisa bergerak banyak karena tangan dan kakinya diikat sangat kencang.
Oikawa menghela napas kasar dan melihat ke sekeliling ruangan yang gelap. Cahaya satu-satunya hanya berasal dari jendela kecil yang letaknya jauh mendekati atap. Selain itu, dirinya tak melihat jalan keluar apa pun yang bisa dimanfaatkannya. Sepertinya ia dikurung di sebuah gudang yang sangat luas.
Oikawa merutuk dalam hati. Bisa-bisanya dia terperangkap ke dalam tipuan dangkal seorang pria asing. Selama ini meskipun selalu waspada, tapi tidak pernah sekalipun ia menyangka akan ada yang mengincarnya di tempat seterbuka itu. Lagi pula, siapa kedua orang itu? Dari kelompok mana? Apakah dari klan musuh? Atau—
Pikirannya terhenti saat mendengar langkah-langkah kaki mendekat dari arah belakangnya. Namun belum sempat menoleh, ada tendangan bertubi-tubi yang kembali menyerang setiap inci bagian tubuhnya sampai ia mengerang kesakitan. Napasnya tersangkut dan Oikawa terbatuk-batuk demi mengumpulkan pasokan udara agar kembali memenuhi rongga dadanya.
Begitu pukulan-pukulan itu berhenti, Oikawa pikir orang-orang itu akan langsung pergi dan membiarkannya seperti tadi. Tetapi tanpa aba-aba, ada rasa sakit menyengat yang menjalar di sepanjang tubuhnya— dari ujung kaki hingga ujung kepala. Oikawa membuka dan menutup mulutnya tanpa bisa bersuara. Rasanya seperti dihujani ribuan jarum yang menguliti setiap lapisan kulitnya. Untuk sesaat, pandangannya seperti memutih dan pikirannya berubah kosong.
“Oh, kayaknya udah mulai bekerja tuh obatnya.”
Samar, Oikawa mendengar salah satu pria bersuara. Obat? Obat apa?
“Hmm… cepet juga ternyata, nggak sampai 30 menit,” balas yang satunya sambil menekan-nekan perutnya dengan ujung sepatu seolah ia hanyalah onggokan sampah. Oikawa ingin membalas mereka, atau sekadar melempar sumpah serapah, tapi tenaganya seperti tersedot habis dan yang bisa ia rasakan hanya sengatan tajam di sekujur tubuhnya.
“Bos pasti bakalan seneng, nih, kalau tau hasilnya bakal lancar begini,” ujar pria yang tiba-tiba berjongkok di depannya dan meraih wajahnya dengan kasar. Pria itu menyeringai dan dari balik kelopak matanya yang mulai berat, Oikawa mengenali salah satunya sebagai seseorang yang mengajaknya berbincang di bar semalam.
“Tenang aja, obat itu nggak bakalan langsung bikin lo mati, kok. Bos kita masih pengen nyiksa soulmate lo lebih lama lagi soalnya.”
Mendengar kata soulmate, membuat Oikawa mengerjapkan matanya untuk sesaat. Jadi mereka mengincar soulmate-nya? Apakah dia hanya dijadikan umpan sekarang?
Di balik kesadarannya yang mulai menghilang, Oikawa mendengar suara-suara ribut dari luar. Pria yang masih memegang wajahnya dengan kasar lantas berdiri sehingga menjatuhkan wajahnya ke atas lantai yang keras. Oikawa bahkan tidak sempat merasa kesakitan karena anggota tubuh bagian atasnya seperti mati rasa.
“Kayaknya mereka udah dateng.”
“Oke, itu sinyalnya. Ayo kita cepet pergi.”
“Sebentar.”
Oikawa mengerang saat ada tendangan keras dilayangkan ke perutnya. Ia meringkuk seperti anak kecil dengan tubuh yang gemetar hebat. Pandangannya sudah benar-benar kabur dan tidak ada tenaga yang tersisa, sekalipun untuk mengangkat jari-jarinya.
“Bilang ke soulmate lo itu, kalau sebentar lagi dia harus bayar perbuatannya sendiri.”
Kalimat itu diucapkan oleh pria yang barusan menendangnya terakhir kali sebelum mereka pergi dan meninggalkannya sendirian di lantai yang keras dan dingin. Perlahan, tubuhnya seakan menyerah dengan rasa sakit yang menyerangnya. Matanya mulai menutup dan otaknya seperti ditutupi awan tebal berwarna hitam.
Dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum hilang kesadaran adalah pintu ruangan yang terbuka keras, juga wajah familier seorang pria bermata hijau gelap yang menatapnya penuh kengerian.
@fakeloveros