Love I’m Given
“Kamu yakin nggak mau apa-apa?”
“Iya, Tooru.”
“Serius nggak ada?”
“Serius, sayang.”
Oikawa meniup poninya yang tidak sengaja jatuh di depan matanya dengan frustrasi. Rasanya dia sudah menanyakan perihal itu puluhan— tidak, ia yakin sudah ratusan kali, tetapi jawaban yang dilontarkan Iwaizumi selalu sama.
Pria dengan netra gelap itu mengatakan dengan lugas bahwa dirinya tidak menginginkan apa pun untuk ulang tahunnya minggu depan.
“Lagian udah umur segini emang masih penting ya, ngerayain ulang tahun?” Pertanyaannya justru dilempar balik oleh kekasihnya itu.
“Setahun lalu kita masih ngerayain,” sanggah Oikawa tak mau kalah.
“Itu bukan ngerayain ulang tahunku tapi, lebih ke tukeran kado aja.”
Oikawa mendengus — membenarkan dalam hati. Bahkan tahun lalu dirinya masih belum tahu kapan ulang tahun Iwaizumi. Ia memang memberikan hadiah, walaupun saat itu niatnya lebih ke “hadiah perpisahan”.
Dan membicarakan soal “hadiah”, benda yang ia berikan tahun lalu pun masih melingkar dengan setia di pergelangan tangan sang pria. Gelang yang diberikannya tidak pernah dilepas sama sekali, kecuali saat Iwaizumi mendadak diajak practice match oleh tim voli. Alasannya, sih, karena takut copot dan terlempar.
Sejujurnya, tanpa bertanya pun Oikawa bisa saja memberikan lagi kekasihnya suatu barang. Tapi Iwaizumi terlalu berkecukupan sehingga apa pun yang dilihatnya di etalase pusat perbelanjaan, Oikawa yakin Iwaizumi mampu membelinya sendiri.
Oikawa pun tadinya ingin bersikap romantis dan memasakkan sesuatu untuk pria itu. Tapi memikirkan keselamatan dapur apartemen prianya, juga hal-hal tidak mengenakkan yang bisa mengganggu pencernaan mereka, membuat Oikawa mencoret opsi tersebut.
“Kamu yakin lagi nggak pengen apa-apa? Apa aja! Serius! Pasti bakal aku beliin. Oh, atau tempat yang mau dikunjungin, mungkin?” tanya Oikawa untuk kesekian kalinya dengan putus asa. Iwaizumi mungkin akhirnya dapat mendeteksi keputusasaan tersebut karena pria itu langsung menurunkan iPad-nya dan menatap Oikawa lekat tepat di manik mata.
Oikawa mencondongkan tubuhnya ke depan — berpikir bahwa akhirnya Iwaizumi akan memberinya jawaban.
“Kamu.”
“Hah?”
“Aku mau kamu.”
Oikawa mengerjapkan netra cokelat susunya untuk beberapa sekon — menduga bahwa ia telah salah dengar, walau tentu saja indra pendengarannya masih bekerja dengan sangat baik. Dan jawaban Iwaizumi barusan terdengar senyaring bel musim panas.
“Kamu mau— hah? Maksudnya?” Oikawa menyuarakan isi kepalanya yang mulai melaju ke mana-mana. “Mau aku... gimana maksudnya?” tanyanya lagi dengan semburat merah yang mulai menghiasi.
Iwaizumi tertawa pelan. Jenis tawa yang setahun belakangan menjadi favorit Oikawa karena ketika pria itu tertawa, matanya akan menghilang jadi segaris dan bariton suaranya terdengar lebih lembut. Jenis tawa yang tidak akan diperlihatkan pada siapa pun kecuali Oikawa seorang.
“Maksudku bukan kayak gitu.”
Oh. “Oh, terus?”
“Tunggu aja nanti pas aku ulang tahun, kamu juga bakal ngerti.”
Hah? “Gimana? Loh, jadi aku harus nyiapin apa?” Oikawa tahu Iwaizumi memang pintar, namun terkadang jalan pikiran pria itu sungguh sulit ditafsirkan.
“Ya nyiapin diri kamu aja,” jawab pria itu dengan makna yang sama — namun tetap tak dipahami Oikawa.
“Ngomong apa, sih? Nggak tau, ah. Dasar nggak jelas,” ucap Oikawa kesal seraya menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan bibir yang sedikit dimajukan. Ia bukan bermaksud ngambek dengan kekasihnya itu, tetapi jawaban berputar Iwaizumi justru membuatnya semakin frustrasi memikirkan hadiah apa yang harus diberikannya.
“Yah, kok ngambek?” Iwaizumi meletakkan gawainya ke atas meja, lalu dengan sigap langsung memeluknya dari samping. Pria itu meletakkan dagunya di atas bahu Oikawa sambil bergumam panjang. Seperti sudah bagian dari instingnya, Oikawa refleks meletakkan tangannya di atas milik sang pria.
“Tapi aku beneran, kamu nggak perlu nyiapin apa-apa. Cukup ngabisin waktu berdua aja sama aku pas hari itu. Bisa, kan?”
Mendengar permintaan sederhana tersebut, Oikawa memutar kedua bola matanya. Tanpa ditanya pun ia pasti akan melakukannya. Bahkan tak perlu sampai harus menunggu hari perayaan kelahiran kekasihnya tiba.
“Itu pertanyaan retoris?” jawabnya dengan nada sedikit dibuat jutek — seakan dia masih marah dengan konsep tidak perlu memberikan hadiah apa pun bagi kekasihnya. Tapi kalau memang Iwaizumi sendiri yang berkata begitu, dia bisa apa?
Pria yang merengkuhnya lagi-lagi tertawa. Cahaya matahari sore mulai menyelinap dari balik jendela sehingga menghantarkan nuansa lembut di ruangan berisi pasangan tersebut. Bahkan ketika sudah hampir setahun bersama, pemandangan seperti ini terkadang masih sulit diterima akal sehatnya. Seolah ini mimpi dan Oikawa bisa terbangun kapan saja.
Tapi cahaya di luar yang perlahan tenggelam, sama nyatanya dengan dua lengan kokoh yang masih memeluknya erat. Hangatnya pun bukan sekadar khayalan; tetap terasa meskipun tak seintens predikat apa pun yang bisa ia kalimatkan utuh sebagai perasaannya untuk pria itu.
Ulang tahunnya bahkan masih sebulan lagi, tapi Oikawa kira, ia sudah mendapatkan hadiahnya sejak setahun yang lalu.
Dan dia akan selalu mensyukuri hadiah yang sama untuk tahun-tahun berikutnya sampai Tuhan tak lagi mengizinkan jantungnya memompa, serta menghirup udara yang sama dengan kekasihnya.
Itu berarti, selamanya kalau bisa.
Happy birthday, Iwa-chan!! @fakeloveros (June 10, 2021)