Warming The Snow

Yachi selalu menyukai hari natal.

Pagi itu dirinya terbangun dengan cahaya berwarna putih menyelinap masuk melalui jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Yachi menyipitkan matanya dan berpikir. Selang beberapa detik kemudian, matanya terbelalak lebar dan ia langsung melompat dari tempat tidur untuk menyibak jendela dan melihatnya langsung.

Putih.

Semua di hadapannya berwarna putih. Jalanan, pohon-pohon, atap rumah, juga mobil di seberang jalan, diselimuti oleh putih kesukaan Yachi. Dan setiap putih itu datang, dunia akan terasa lebih hening— bola dunia seakan beputar lebih lambat dan memberikan waktu bagi semua orang untuk berdiam diri di rumah bersama orang-orang terkasih selagi menikmati secangkir cokelat hangat.

Dan putih itu selalu membuat Yachi merasa bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan.

“Yachi?”

Ada suara bariton halus masuk ke gendang telinganya. Dengan bersemangat, (walaupun tangannya cepat-cepat menghapus setitik air yang ada di ujung matanya) Yachi menoleh ke arah sumber suara sambil memamerkan senyum lebarnya.

“Selamat hari natal, Hinata.” Yachi mengucapkannya dengan begitu ceria, sampai-sampai pria yang diberi ucapan tersebut ikut tersenyum kecil karenanya. “Di luar turun salju!” Yachi melanjutkan seraya memfokuskan kembali atensinya ke arah luar jendela.

Kali ini Hinata tertawa pelan.

“Tadi aku juga udah liat.”

Hinata menyeberangi kamar sang perempuan dengan langkah halus untuk ikut berdiri di sebelah objek afeksinya yang masih menatap hamparan putih itu dengan mata yang berbinar-binar. Saking halusnya, Yachi sampai tidak menyadari bahwa Hinata sudah berdiri di sampingnya. Laki-laki itu kemudian menyingkap tirainya lebih jauh untuk sama-sama melihat pemandangan di luar.

Terkadang Yachi masih belum terbiasa dengan 'keahlian-keahlian' Hinata yang berada di luar nalar manusia. Jika langkah halusnya saja masih membuat Yachi terkejut, maka ia tidak berani membayangkan reaksinya jika melihat 'keahlian' lain pria itu. Bahkan tanpa 'keahlian-keahlian' itu pun, Hinata sudah terlihat begitu sempurna di matanya.

Terlalu indah, sampai terkadang hatinya terasa perih.

Dengan surai lembayung yang terlihat begitu halus, kulit yang menyaingi terangnya salju dan netra berwarna madu, Hinata sudah terlihat bersinar di mata Yachi.

Padahal lelaki itu memiliki suhu tubuh yang sama dinginnya dengan hamparan putih di luar sana.

Bedanya, jika hamparan salju itu ia genggam teksturnya akan berubah menjadi cair, maka jika menyentuh Hinata, keras lah yang akan dirasakan. Pria itu dingin, keras, tidak tidur dan hanya meminum darah sebagai penopang untuk bertahan hidup.

Objektif apa lagi yang cocok untuk menggambarkan Hinata selain kata vampir?

“Selamat natal.” Hinata membalas ucapannya setelah beberapa saat. Laki-laki itu lalu menoleh ke arah Yachi, dan memperlihatkan senyum lebarnya. Pandangannya sedikit tak terbaca, tapi itu bukan hal yang aneh lagi bagi Yachi. Entah karena setiap vampir memang jarang memperlihatkan emosinya, atau memang Hinata lah yang terlalu pandai menyembunyikan sentimennya.

Tatapan Yachi seolah terkunci pada manik mata yang menatapnya begitu lekat. Rasanya seolah-olah mereka berdua berada di dimensi lain; terkunci untuk menikmati waktu yang berhenti atas satu sama lain.

Walaupun begitu, tatapan Yachi masih menyiratkan emosi yang mendalam, dan Hinata tidak mengerti apa penyebabnya. Laki-laki itu bahkan tadi harus menahan diri untuk tidak segera menghancurkan pintu yang menghalanginya ketika menangkap aroma asin garam dan detak jantung Yachi yang mendadak memompa begitu kencang.

Namun sepertinya ia mengerti sekarang, setelah melihat tatapan perempuan itu terhadap hamparan salju di hadapannya. Hinata ingin bertanya untuk memastikan, tapi ia menahan diri dan lebih memilih untuk mencuri pandang pada cahaya putih yang jatuh di kulit Yachi, mata yang membulat penuh semangat, juga pipi yang bersemu merah dengan rambut acak-acakan sehabis bangun tidur.

Bagi Hinata, Yachi adalah manusia kecilnya yang indah, juga malang.

“Kamu nggak apa-apa?” Hinata akhirnya memutuskan untuk bertanya setelah sepuluh menit dan tiga-puluh detik berlalu. Pertanyaan dari Hinata pun menyadarkan Yachi kembali ke realita.

“A-aku ng-nggak apa-apa, k-kok,” Yachi menjawab sembari menggelengkan kepalanya. “Cu-cuma k-kangen aja sa-sama nu-nuan-s-sa nat-natal...”

Hinata mengerutkan keningnya, lalu mengumpat pelan setelah menyadari apa penyebab perempuan di sampingnya berbicara penuh gagap.

Yachi bahkan tidak sempat berpikir atau memproses apa yang baru saja Hinata lakukan. Satu detik tadi ia masih mengagumi pemandangan di luar sana, tetapi detik berikutnya badannya tiba-tiba terangkat dan sudah kembali menuju kasur.

“H-hinata! Ka-kamu nga-ngapain?!”

Hinata tidak menjawab. Laki-laki itu dengan lembut langsung membaringkan Yachi di kasurnya, dan menyelimutinya sampai menutupi dagu.

“Kamu kedinginan.” Hinata menyatakan fakta tersebut dengan nada yang terdengar sedikit tajam, berbanding terbalik dengan tangan lembutnya yang terus memastikan bahwa seluruh badan Yachi sudah terselubung hangat. “Kalau tadi aku nggak cepet bawa kamu ke kasur gimana? Kamu mau berdiri di sana terus sampai mati kedinginan?”

Kata-katanya memang terkesan kejam, tapi Yachi tahu Hinata tidak bermaksud seperti itu, dilihat dari kerutan dahi dan kekhawatiran yang tampak jelas di balik matanya.

“Aku nyalain penghangat, ya?” Daripada pertanyaan, kata-kata yang keluar dari mulut Hinata lebih terdengar seperti bujukan.

Tawaran tersebut terdengar sangat menggoda, namun hangatnya mesin yang dimaksud adalah suatu hal yang berharga dan perlu dibayarkan dengan uang; salah satu hal yang Yachi tidak banyak miliki dalam hidupnya.

Hinata menghela napas melihat ekspresi Yachi— tahu benar apa yang dipikirkan oleh perempuan itu. Yachi jadi ikut merasa bersalah dan sedikit malu. Padahal ini merupakan pagi natal mereka yang pertama, tapi belum apa-apa, Yachi merasa sudah menghancurkannya dengan tubuh manusianya yang lemah sehingga menyulitkan Hinata.

“Ha-harusnya a-aku bi-bikin sa-sarap-p-pan se-sekarang.”

Hinata menghela napas lagi mendengar Yachi yang berusaha mengalihkan topik.

“Aku bisa bikinin kamu sarapan,” laki-laki itu menawarkan. “Aku tau cara pakai kompor. Kemarin kamu sempet beli roti, telur, sosis sama susu. Oh ya, sama minuman cocoa.”

Untuk sesaat, Yachi lupa siapa dirinya dan siapa Hinata. Ada nada pahit yang terdeteksi dari ucapan Hinata barusan, dan Yachi langsung menyesalinya. Bagaimana bisa ia begitu bodoh sampai melupakan fakta tersebut?

Yachi sudah akan bangkit dan berkata sesuatu, tapi Hinata bergerak lebih cepat dan segera menahannya dengan tangan, juga tatapannya.

“Nggak usah bangun. Nanti aku bawain selimut lagi.” Yachi melihat tatapan laki-laki itu mengeras, lalu dengan gerakan kaku mulai mengambil jarak. “Aku nggak mau kamu kedinginan, Yachi.”

Yachi tidak berkata apa-apa dan hanya mengangguk. Apa pun yang ia utarakan, tidak akan bisa menurunkan keteguhan pria itu untuk merawat dirinya. Jadi Yachi hanya diam dan memperhatikan pria itu keluar-masuk kamarnya sambil membawakan banyak kain yang dijadikan selimut.

Setelah memastikan bahwa selimut yang dibawanya sudah cukup memberi kehangatan, Hinata kembali menghilang dengan langkahnya yang sunyi.

Yachi mencoba menjaga agar matanya tetap terbuka, tetapi cahaya putih yang masuk ke kamarnya dengan lembut, juga kehangatan yang menyelimuti, perlahan membuat kelopak matanya menjadi berat. Ia baru terbangun saat mencium aroma roti bakar, telur, sosis goreng, juga minuman cokelat panas yang familier.

Beberapa menit kemudian, Hinata muncul di pintu kamarnya sambil membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman tersebut.

Juga, dengan topi Santa yang terpasang di atas kepalanya. Padahal tadinya, topi itu Yachi letakkan di atas kulkas.

Yachi langsung tersenyum lebar. Kini ia merasa tidak hanya tubuhnya yang terasa hangat, tetapi hatinya pun ikut menghangat melihat aksi laki-laki tersebut. Tiba-tiba hari natalnya langsung terasa begitu indah.

Hinata meletakkan nampan di atas nakas sebelah tempat tidur Yachi dengan sedikit ragu. Namun keragu-raguan itu langsung hilang saat Hinata menangkap senyum halus yang diberikan Yachi untuknya.

“Jangan terlalu dipikirin.” Hinata mengatakannya dengan pelan, tanpa melihat ke arah Yachi. Pria itu mengambil piring berisi sosis dan telur, lalu memotong dan menusuk salah satu potongannya dengan garpu. “Kita... masih punya waktu seharian buat rayain natal. Natal masih bisa dirayain walaupun dari tempat tidur, kok.” Hinata lalu menyerahkan garpu itu pada Yachi.

Yachi menerimanya dengan senang hati dan langsung melahapnya. Sosis itu terasa dua kali jauh lebih enak, padahal itu hanyalah sosis murah yang biasa ia beli di supermarket. Namun begitu mendengar kalimat Hinata, dan makna lain di balik perkataannya, semburat merah langsung muncul di wajahnya. Ia pun berusaha menelan makanan yang masuk ke tenggorokannya tanpa membuat dirinya sendiri tersedak.

“I-iya, sih...” Yachi menjawab dengan suara pelan— berusaha menghalau pikiran ambigu yang mulai masuk ke dalam otaknya. “Boleh juga. Bukan ide yang buruk.”

Hinata melakukannya lagi— laki-laki itu menatap Yachi lebih lama dari seharusnya. Matanya terpaku pada semburat merah yang muncul dengan cantik di wajah Yachi. Namun Hinata cepat-cepat mengalihkan tatapannya sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Diam-diam ia menyentuh ujung taringnya dengan lidahnya sendiri sambil berusaha meredam keinginan apa pun itu yang sempat muncul.

“Iya...” Hinata akhirnya membalas perkataan Yachi, tetapi kali ini matanya menatap ke arah luar jendela dengan pandangan tak terbaca. “Bukan ide yang buruk, kan?”


@fakeloveros