Dive Into You

This is boring.

Iwaizumi menyesap minuman berwarna bening yang ada di tangannya sembari matanya menyapu ruangan megah beraroma campuran parfum-parfum mahal tersebut. Ia mendengus pelan dan berharap bahwa minuman yang masuk ke tenggorokannya lebih keras dari sekadar pemanis. Pesta ini mulai membuatnya jenuh, padahal dia sendiri baru datang.

Seandainya ada Oikawa, tentu dia tidak akan sebosan ini.

Iwaizumi menghela napas. Ingatannya kembali ke beberapa hari lalu saat lagi-lagi dirinya mabuk di depan Oikawa dan dengan bodohnya menumpahkan semua perasaannya secara gamblang. Dia ingat. Tentu saja dia ingat. Iwaizumi ingat bagaimana dirinya memeluk Oikawa tanpa bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuh pria itu. Iwaizumi ingat bagaimana surainya dimainkan lembut oleh sang pria, atau bagaimana ekspresi Oikawa saat dirinya melarang pergi.

Iwaizumi ingat semuanya.

Dilihat dari respons Oikawa, Iwaizumi yakin bahwa mereka memang memiliki perasaan yang sama. Bahkan sejak kejadian di gym pun Iwaizumi tidak mungkin salah mengira arti tatapan maupun ciuman yang bertukar di antara mereka. Namun mungkin benar bahwa mereka berdua terlalu pengecut untuk sama-sama memperjuangkannya.

Iwaizumi sendiri bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Apabila pria itu memang tak ingin lagi berurusan dengannya, maka Iwaizumi akan mengabulkannya.

“Kok kamu sendirian? Mana Alisa?”

Suara seorang wanita tiba-tiba menginterupsi lamunannya. Dia menoleh dan mendapati kakaknya sudah berdiri di sebelahnya seraya memegang minuman yang sama. Dilihat dari semburat tipis yang mulai muncul, Iwaizumi yakin kakaknya sudah minum lebih banyak darinya malam itu.

“Nggak tau. Telat kali,” jawabnya tak peduli. Ia menyesap habis minumannya dan mendesah keras. Dia benar-benar membutuhkan sesuatu yang lebih keras sekarang.

“Telat? Dia telat atau… ninggalin kamu buat dateng sama cowok lain?”

“Maksudnya?”

“Tuh, liat siapa yang baru dateng,” balas Kakaknya seraya mengedikkan dagu ke arah pintu masuk. Iwaizumi lantas mengikuti arah tunjuk Kakaknya dan kalau saja dirinya tidak memiliki kontrol tubuh yang bagus, gelas di tangannya pasti sudah meluncur ke lantai.

Karena Alisa Haiba baru saja datang bersama seseorang yang menjadi objek dalam lamunannya beberapa menit yang lalu.

Oikawa…? Iwaizumi menatap pemandangan itu dengan bingung. Alisa datang dan terlihat memukau tamu lain seperti biasa melalui tampilannya hari itu. Tetapi mata Iwaizumi tak pernah lepas dari pria di sebelahnya yang hadir dalam balutan setelan putih (dan terlihat sangat tampan, kalau Iwaizumi boleh menambahkan dan akan ia tambahkan, tentu saja). Alisa menggandeng lengan Oikawa seraya menebar senyum dan mereka berdua terlihat sangat akrab.

Iwaizumi mengernyitkan alisnya. Ia pasti telah melewatkan sesuatu di sini.

Sebelum kakinya dapat diperintahkan untuk bergerak dan menghampiri pasangan itu, Oikawa lah yang lebih dulu menoleh ke arahnya. Pandangan mereka pun bertemu dan mengunci satu sama lain.

Kalau Iwaizumi boleh mengumpamakan momen itu dengan sesuatu yang dramatis, pastilah ia sudah beranggapan itulah rasanya ketika dunia hanya diisi oleh mereka berdua dan yang lain menjadi latar belakang semata.

Sekarang Iwaizumi justru harus menahan kakinya agar tidak bergerak di luar kendali, seperti menghampiri pria itu dan membawanya ke ruangan lain tanpa ada gangguan dari siapa pun, misalnya.

“You’re drooling.”

Ucapan dengan nada jahil yang keluar dari mulut Kakaknya membawa Iwaizumi kembali ke dunia nyata dan menyadari bahwa Alisa telah menyeret Oikawa datang ke arahnya. Iwaizumi menelan salivanya kuat-kuat dan meletakkan asal gelasnya di nampan pelayan yang kebetulan lewat.

“Malam, Kak.” Alisa menyapa Kakaknya terlebih dulu dengan nada ceria, sebelum beralih ke arahnya. “Hey, loser, what does it feel to be ditched by someone like me?”

Jawaban jujurnya tentu saja menyenangkan, tapi Iwaizumi menelan omongan itu dan lebih memilih menatap pria yang sejak tadi hanya diam.

“Kamu dateng,” ucapnya penuh rasa takjub. Oikawa tidak menjawab, namun dari lirikan pria itu, setidaknya Iwaizumi bisa menyimpulkan dia tidak datang secara terpaksa.

“Of course! That’s because I asked him to come with me! This is my surprise for you.” Alisa lah yang justru menjawab seraya tersenyum bangga. Wanita itu mengeratkan gandengannya di lengan Oikawa, dan Iwaizumi menyatukan alisnya dengan kesal melihat pemandangan itu.

“Then let him go,” ujarnya tajam, ingin segera menarik Oikawa jauh-jauh dari siapa pun yang ada di ruangan itu.

“What a possessive man,” gerutu Alisa, namun wanita itu melepaskan juga gandengannya di lengan Oikawa. “By the way, karena rencana kita gagal, jadi siap-siap aja ya habis ini,” ucap wanita itu santai sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kayaknya Ayah kita bakalan marah besar sih gara-gara ini.”

Bahkan pada tahap ini Iwaizumi sudah tak peduli.

Tapi melihat Oikawa yang tiba-tiba berubah ekspresinya, Iwaizumi merasa ia harus segera bertindak.

“Itu urusan gampang,” jawabnya tanpa melirik sama sekali ke arah Alisa. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana. “Can we talk now?” Iwaizumi akhirnya maju dan menyentuh tangan pria yang ada di hadapannya pelan.

“Fine, lovebirds! Sana deh, kalian pergi. Nggak apa-apa, aku di sini aja sama Kak Yui!” seru Alisa pura-pura jengkel. Meskipun begitu, ada senyum kecil terpatri di wajahnya. Wanita itu lalu merogoh sesuatu dari dalam tas kecilnya, kemudian melemparnya cepat ke arah Iwaizumi yang menangkapnya dengan sigap.

“Anggap aja itu juga sebagai permintaan maaf dari aku,” ucap Alisa sambil menaik-turunkan kedua alisnya setelah melemparkan semacam benda tipis yang tidak terlihat jelas oleh Oikawa.

Oikawa baru akan membuka mulutnya untuk bertanya, tetapi Iwaizumi tanpa basa-basi langsung menariknya.

“Kita mau ke mana?” tanya Oikawa, sedikit panik saat dirinya ditarik menuju keluar ruangan. Iwaizumi dengan tidak sabar memencet tombol lift. Oikawa pun tidak berani bertanya apa-apa lagi, bahkan setelah lift berhenti di lantai 15 dan Iwaizumi membawanya keluar menelusuri lorong yang cukup panjang dengan banyak pintu di kanan-kiri.

Masih dalam keadaan diam seribu bahasa, Iwaizumi berhenti di depan salah satu pintu, kemudian membukanya dengan kartu yang tadi diberikan Alisa.

Barulah Oikawa paham benda apa yang diberikan Alisa barusan.

Lampu di kamar itu langsung menyala dan membuat keduanya mengerjap-ngerjapkan mata untuk sesaat. Iwaizumi segera melangkah ke dalam, sedangkan Oikawa mengikutinya dengan ragu dari belakang.

Iwaizumi masih belum berkata sepatah kata pun.

“Kamu pasti marah.”

Adalah ucapan Oikawa untuk membuka percakapan mereka. Iwaizumi masih diam dan hanya berdiri membelakanginya menghadap jendela besar yang memperlihatkan gemerlap malam di kota besar itu. Oikawa bisa melihat pantulan mereka di kaca jendela, tapi tetap saja ekspresi Iwaizumi tak bisa ia artikan.

“Aku… minta maaf, buat semuanya. Kamu pasti kesel karena aku kabur terus. Dari dulu. Ada banyak hal yang rasanya mau aku jelasin, tapi aku terlalu pengecut buat omongin semua itu. Karena aku pikir… kamu nggak akan ngerasain hal yang sama, even orang-orang yang ada di sekitar kita justru ngomong hal yang sebaliknya…” Oikawa menarik napas. Matanya tak pernah lepas dari pantulan manik hitam pria itu yang menatapnya balik tanpa kata-kata. “Bukan cuma itu… dari kita pacaran bohongan pun, Ayah kamu udah nggak setuju. Dan waktu itu aku juga masih kepikiran soal Alisa… aku pikir dia bener-bener mau berusaha dapetin kamu. Dan aku yakin teoriku makin bener pas kamu sakit…”

Oikawa menyerah. Intensitas tatapan Iwaizumi padanya bukannya membuatnya tenang, tapi malah semakin menggetarkan suaranya. Ia pun menunduk untuk menatap karpet tebal yang berada di bawah kakinya.

“Kamu bahkan nggak nelpon aku waktu itu, jadi aku pikir… kamu beneran nggak anggap aku siapa-siapa. Di satu sisi harusnya aku paham kalau hubungan kita dari awal emang cuma berdasarkan kontrak. Tapi kamu taulah namanya juga manusia,” Oikawa tertawa getir. “Sering mereka maunya lebih, dan berharap bakal ada seseorang yang ngasih.”

Oikawa ingin bercerita bagaimana perceraian orang tuanya sedikit banyak memengaruhinya dalam mengharapkan hal tersebut dari orang lain. Ia sudah melihat sendiri apa yang terjadi pada pasangan, yang bahkan sudah menikah, ketika harapan itu tak bersambut. Apa yang didapat hanya kekecewaan dan Oikawa tidak ingin merasakannya untuk kedua kali.

Karena itulah ia memilh kabur selama ini.

Sampai dirinya lupa bahwa di luar sana masih ada orang yang ingin mewujudkan harapannya tersebut.

Dirinya masih menatap lantai, namun dari peripheral-nya, ia bisa melihat Iwaizumi mulai bergerak. Oikawa menahan napas dan tak berani mengangkat wajah sementara Iwaizumi terus mendekat ke arahnya.

“Tooru.”

Apakah masuk akal kalau tangannya kini sedikit bergetar saat mendengar Iwaizumi memanggilnya seperti itu? Apakah bisa dibayangkan oleh Iwaizumi betapa Oikawa sangat menahan dirinya saat ini?

“Tooru, coba liat aku.”

Maka kuasa apa yang bisa menahannya untuk bertindak kebalikannya? Oikawa mendongak dan netra yang tadi memakunya secara intens kini memperlihatkan banyak hal di baliknya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Iwaizumi, Oikawa merasa bisa membaca pria itu seperti buku yang terbuka.

“Waktu aku bilang sayang sama kamu… apa kamu percaya?” tanya pria itu lugas. Matanya tak berkedip seolah memantrai Oikawa agar berkata sejujur-jujurnya.

“Kamu… inget?” Oikawa terperangah. Suaranya naik satu oktaf akibat terkejut. “Kamu inget pas mabuk waktu itu bilang… apa?”

Iwaizumi mengangguk tanpa berkata lebih jauh. Jelas sekali pria itu masih menunggu jawabannya.

“Aku…” Oikawa mengerjapkan matanya beberapa kali seakan berusaha mengusir kegugupannya yang tiba-tiba datang. “Percaya.”

“Good.”

Dan hanya itu balasan Iwaizumi sebelum dunianya serasa berputar saat pria itu menariknya cepat dan kuat.

Napasnya tertahan di rongga dadanya ketika bibirnya dibuka sehingga langsung memberikan keleluasaan bagi pria itu untuk mengeksplor lebih dalam. Tak ada aba-aba. Tak ada peringatan. Rasanya seperti ciuman mereka yang terakhir kali, namun kali ini dua kali lebih intens. Pikirannya kosong dan yang mampu ia proses hanyalah rasa dan aroma pria itu di seluruh indranya. Tangannya yang tadi terkulai lemas di samping tubuh, lantas terangkat untuk mengalungkannya di sekitar leher pria itu. Oikawa bahkan tidak sadar Iwaizumi perlahan mendorongnya sampai punggungnya menyentuh permukaan dinding yang halus.

Ciuman itu belum berhenti, bahkan pagutannya semakin menuntut seakan jarak yang sudah terhapuskan belumlah cukup. Oikawa menarik napas dengan gemetar di sela-sela sekon ketika pria itu melepaskan bibirnya sesaat untuk menciumnya lebih dalam. Usahanya untuk melepas vokal seperti ditelan sehingga hanya deru napas dan decak bibirlah yang terdengar memenuhi ruangan.

Saat kepalanya mulai berputar karena kekurangan pasokan udara, barulah Iwaizumi melepaskannya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, tubuh mereka masih menempel tanpa jarak, bahkan Oikawa harus memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir sang pria mulai menelusuri rahangnya. Iwaizumi semakin menunduk dan lembap bibir pria itu meninggalkan jejak di sepanjang lehernya yang warnanya sudah senada dengan berma.

Lenguhan itu tak bisa lagi ia tahan ketika Iwaizumi menggigit kulit lehernya sampai ia yakin akan meninggalkan bekas. Rasanya sudah terlambat untuk merasa malu karena Oikawa berani bersumpah, Iwaizumi justru tersenyum selagi menghujani lehernya dengan ciuman-ciuman kecil selembut kapas.

Mereka terus seperti itu entah untuk berapa lama. Iwaizumi seperti tidak menyisakan seinci pun bagian wajahnya yang tak tersentuh. Barulah saat pria itu mencapai telinganya, Oikawa mulai bergerak.

“Tickle spot?” bisik pria itu. Napasnya bercampur dengan tawa pelan yang justru membuat Oikawa semakin menggeliat kegelian.

Iwaizumi tersenyum dan mengalihkan bibirnya ke bawah untuk mencium Oikawa sekali lagi sebelum mulai memberi jarak di antara tubuh mereka. Napas mereka sudah kembali normal. Kendatipun begitu, Oikawa merasa sekujur tubuhnya panas dan pipinya pastilah sudah semerah tomat.

Menggantikan bibirnya, tangan Iwaizumi terangkat untuk mengagumi semburat yang sedari dulu ingin disentuhnya. Iwaizumi tersenyum kecil saat rona itu semakin visibel dan menciptakan perpaduan cantik di atas kulit Oikawa yang putih.

“Kamu tau, aku nggak sesempurna yang orang-orang bilang.”

Oikawa mengangkat tatapannya sampai pandangan mereka kembali bertemu. Iwaizumi kini terlihat serius, meskipun ada sedikit kesedihan yang tersirat di balik binar matanya.

“Aku nggak akan bisa jadi orang yang menuhin segala ekspektasi kamu.”

Oikawa membuka mulutnya untuk menyanggah, tapi Iwaizumi segera mendiamkannya dengan sebuah ciuman. Tidak seintens ciuman mereka di awal, memang, tetapi ada keyakinan yang akhirnya membuat Oikawa paham.

“Tapi kalau kamu minta sayangku buat kamu semuanya… aku yakin nggak akan ada yang bisa ngalahin,” lanjutnya setelah mereka bisa menarik napas kembali. “Dan kamu pun sama. Kamu nggak usah memenuhi semua ekspektasi aku. Setiap pasangan nggak akan ada yang bisa, Tooru. Tapi itu nggak menjadikan kamu terlihat kurang di mataku. Kamu nggak perlu kabur kalau merasa ada yang salah. Kita bisa selesain semuanya bareng, selama kamu masih yakin sayangku cuma buat kamu.”

Oikawa percaya, kalau ia membuka mulutnya sekarang, yang keluar pasti hanyalah suara-suara aneh. Perasaannya membuncah, namun ia tidak tahu bagaimana harus mengekspresikannya selain menarik wajah pria itu dan menciumnya kembali dengan keyakinan yang sama.

“Nggak akan,” Oikawa berbisik di antara napas mereka yang saling beradu. Matanya menilik obsidian di depannya — berusaha membuat Iwaizumi yakin bahwa ia pun memiliki kasih sayang yang sama besar. “Aku nggak akan kabur lagi.”

Iwaizumi tersenyum dan menyuarakan satu kata yang tadi diucapkannya di awal.

“Good.”

Setelah ini, tentu akan sulit menyembunyikan bibirnya yang bengkak, atau tanda yang sudah tercetak dengan sangat jelas di lehernya. Iwaizumi seakan tak dapat menahan diri lagi hingga tangannya mulai bergerak menggerayangi tubuhnya. Oikawa tak sengaja menggigit bibir pria itu ketika ada sepasang tangan yang tahu-tahu sudah berada di balik kemejanya.

Tangannya sendiri yang berada di bahu Iwaizumi, mencengkeram lebih kuat saat pria itu membuat aliran listrik di sekujur tubuhnya terasa lebih nyata. Ketika tangan Iwaizumi semakin naik… barulah Oikawa menghentikannya.

“Kita harus…” Oikawa terlihat kewalahan mencari kata-kata yang pas di tengah otaknya yang berkabut. “Stop…”

“Why?” Iwaizumi bertanya tak acuh. Bibirnya menjamahi telinganya untuk dijilat dan digigit pelan sampai Oikawa betul-betul yakin sebentar lagi kakinya tidak akan kuat menopang berat tubuhnya.

“Ada pesta di— shit.” Oikawa mengumpat pelan saat tangan Iwaizumi meneruskan aksinya dan menemukan putingnya yang sudah mengeras. Untuk sedetik, ia nyaris menyuruh pria itu untuk berpindah ke atas kasur yang seakan menggoda mereka. Namun dengan segenap usaha, Oikawa berusaha berpikir jernih.

“Ada pesta di bawah dan kamu belum ajak aku dansa.”

Oikawa mengucapkannya dalam satu tarikan napas seraya mendorong bahu pria itu pelan dengan sisa kekuatan dan akal sehatnya. Iwaizumi tidak menolak, dan justru berhenti untuk menatapnya dengan ekspresi menimbang-nimbang.

“Oke.”

Oikawa menghela napas lega. Setidaknya, Iwaizumi berhasil dibujuk dan yang ia perlu khawatirkan sekarang adalah merapikan penampilannya yang pasti sangat berantakan. Ia tidak perlu kaca untuk mengetahuinya.

“But we’ll continue… this. Later.” Iwaizumi berujar beberapa detik kemudian. Pria itu lalu menjauhkan tubuhnya dan tersenyum santai seakan semburat yang kembali muncul di pipi Oikawa tak memengaruhinya sama sekali.

“Now, shall we dance?”


Akhirnya adegan sayang-sayangan...

@fakeloveros