Sick
Oikawa terus menghubungi Iwaizumi sepanjang perjalanan, namun tetap saja yang didengarnya pesan suara. Kekhawatirannya tidak semakin berkurang bahkan meski bangunan apartemen Iwaizumi sudah terlihat. Oikawa cepat-cepat turun dari taksi dan masuk ke dalam gedung yang sudah tak asing lagi itu.
Untungnya resepsionis membiarkannya masuk seperti biasa karena sudah cukup hapal dengan wajahnya yang sering terlihat bersama Iwaizumi. Dengan tidak sabar, Oikawa memencet tombol lift yang akan membawanya ke lantai tempat apartemen Iwaizumi berada.
Bahkan ketika sudah berada di dalan lift pun Oikawa mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabar. Selain khawatir, Oikawa juga penasaran ke mana perginya Iwaizumi? Tidak biasanya pria itu tiba-tiba menghilang seperti ini tanpa memberi kabar sama sekali. Rasanya ia baru bisa bernapas lega setelah melihat Iwaizumi baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri.
Semoga dia nggak kenapa-napa… Oikawa berdoa dalam hati begitu sampai di lantai yang ditujunya dan berjalan cepat menuju pintu apartemen yang sudah dihapalnya.
Oikawa menarik napas panjang dan bersiap memencet bel ketika pintu apartemen itu tiba-tiba terbuka.
“Oh, Ha-”
“Oh?”
Nama Hajime tersangkut di tenggorokannya dan tidak berhasil keluar begitu Oikawa berhadapan dengan orang yang membuka pintu tersebut.
Atau lebih tepatnya, wanita yang membuka pintu tersebut.
“Oikawa?” wanita itu mengucap namanya dengan terkejut. Tapi bukankah seharusnya Oikawa yang lebih terkejut di sini?
Karena sedang apa Alisa Haiba berada di apartemen Iwaizumi?
“Kamu… ngapain ada di…” Oikawa menelan salivanya dan mencoba mengintip ke dalam apartemen. Ia tidak melihat Iwaizumi. “Hajime ada di dalem?”
Meskipun Oikawa mencoba membuat nadanya terdengar biasa saja, namun keberadaan wanita itu tak ayal membuatnya berpikir macam-macam. Tentang Iwaizumi dan Alisa Haiba. Tentang hubungan apa yang terjalin di antara mereka sekarang sampai wanita itu kini bisa berdiri tepat di hadapannya. Alisa pun tak lagi terlihat terkejut. Wanita itu seolah memasang kembali topengnya sembari bersedekap.
“Kamu beneran pacarnya bukan, sih?” tanya Alisa dengan pandangan meremehkan. “Hajime lagi sakit, tapi kamu nggak tau?”
“Apa?” Hajime sakit? “Dia… nggak ngabarin apa pun ke aku…” Oikawa berucap lemah. Jadi karena itu Iwaizumi tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya?
Namun fakta tersebut masih belum menjawab pertanyaan kenapa Alisa bisa berada di sini.
Seolah bisa membaca kebingungannya, Alisa menjawab lebih dulu.
“Hajime yang manggil aku ke sini.”
Oikawa tidak tahu bahwa satu kalimat simpel seperti itu bisa membuat pikirannya langsung kosong. Ia berusaha memproses kalimat itu baik-baik meskipun otaknya tak bisa diajak bekerja sama dan hatinya mengatakan hal yang sama berulang kali seperti kaset rusak.
Alisa pasti berbohong.
Wanita di hadapannya tersenyum angkuh seakan bisa membaca pikiran Oikawa. Lagi.
“Aku nggak bohong. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Hajime langsung nanti. Dia ada di dalem, kok, tapi sekarang lagi tidur habis minum obat. Aku mau balik dulu ke kantor, jadi kalau kamu mau masuk ya… silakan,” ucap wanita itu panjang lebar selagi menyingkir dari pintu. Seandainya Oikawa hanya orang asing, dia pasti akan mengira Alisa adalah kekasih Iwaizumi — terdengar dari cara bicara wanita itu yang seakan sudah sering datang ke apartemen tersebut.
Alisa melemparkan senyum kecil penuh kemenangan ke arahnya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan dirinya yang masih berdiri terpaku di depan pintu yang terbuka.
Haruskah dia masuk?
Tapi Oikawa sudah terlanjur datang. Lagi pula, kekhawatirannya belum sirna, apalagi setelah mendengar tadi bahwa Iwaizumi ternyata sedang sakit. Jadi Oikawa memberanikan diri untuk masuk meskipun hatinya masih bergemuruh tak nyaman akibat pertemuan tak disengajanya dengan Alisa.
Seperti yang diduganya, suasana di dalam apartemen sangat hening. Oikawa melewati dapur dan mencium samar aroma bubur.
Mungkin Alisa juga yang buatin, pikirnya pahit. Namun Oikawa berusaha tak memedulikan hal tersebut dan melangkah menuju kamar Iwaizumi yang selama ini tak pernah dimasukinya. Ia hanya pernah melihatnya dari luar secara sekilas.
Oikawa mengetuk pintu kamar itu pelan, meskipun tahu takkan ada jawaban dari dalam. Ia pun membukanya perlahan dan matanya langsung tertuju ke arah kasur di mana Iwaizumi terlihat tengah tertidur pulas.
Oikawa melangkah tanpa suara. Matanya mengamati pria itu baik-baik. Meskipun tak begitu kentara, namun ia bisa melihat peluh yang mengalir di pelipis pria itu dan bagaimana alisnya sedikit menyatu seolah Iwaizumi jatuh ke dalam mimpi buruk. Ada baskom kecil yang terletak di atas nakas, juga lap yang sepertinya habis digunakan.
Selama beberapa menit yang terasa panjang, Oikawa hanya berdiri di sana dan menatap Iwaizumi dalam diam. Baru kali ini dia melihat sosok Iwaizumi yang tidak berdaya. Dan baru kali ini juga hatinya dibuat sakit oleh alasan yang tak masuk akal.
Karena tidak berani membangunkan Iwaizumi, Oikawa berlutut di sebelah kasur dan tangannya mulai bergerak sendiri mengambil lap yang tersampir di atas baskom. Setelah membasahinya dengan air, dengan hati-hati Oikawa meletakannya di atas kening pria itu. Sesaat, Oikawa bisa merasakan betapa tingginya suhu badan Iwaizumi.
Dan ia merasa bersalah.
Ia merasa bersalah karena tahu Iwaizumi pasti sudah memforsir dirinya sendiri dalam pekerjaan hanya demi menemaninya datang ke pertandingan voli. Pria itu sudah mengejar pekerjaannya sejak minggu lalu, namun masih saja berusaha menyempatkan waktu untuk Oikawa.
Iwaizumi sudah melakukan banyak hal untuknya, padahal Oikawa merasa tidak berhak sama sekali untuk menerimanya.
Kenapa? Oikawa bertanya dalam hati. Tangannya kini bergerak menyentuh jarak di antara alis pria itu dan mengusapnya lembut sampai kerutannya hilang. Iwaizumi bergerak sedikit, namun Oikawa tetap berada di tempatnya. Ia hanya menatap pria itu lekat.
Mungkin — mungkin — sejak dulu ia bisa melihat tanda-tandanya. Orang-orang di sekitarnya pun sering mengatakannya. Namun Oikawa tutup mata karena ia tidak berani menyimpulkan, apalagi berharap. Ini bukan perihal yang mudah karena meskipun perasaannya sendiri sudah ikut berubah, masih ada batasan di antara mereka yang harus tetap dijaga. Oikawa takut bahwa jika batasan itu akhirnya dilewati, justru akan muncul masalah baru yang lebih pelik.
Dan mau bagaimanapun dirinya menampik, ia tidak ingin membuat Iwaizumi berada di posisi yang sulit.
Dan bagaimana jika ternyata kesimpulannya salah? Bagaimana jika selama ini Iwaizumi hanya benar-benar pandai berakting dan terlalu menjiwai perannya? Bagaimana kalau ternyata orang lain lah yang akan tetap menang?
Pikirannya kembali pada wanita yang barusan ditemuinya di depan pintu, ditambah kenyataan bahwa Iwaizumi menghubungi Alisa terlebih dulu dibandingkan dirinya.
Itu berarti, Iwaizumi tidak membutuhkannya, bukan? Mungkin pria itu selalu bersikap baik padanya karena mereka sekarang berteman baik. Lagi pula, Iwaizumi pernah bilang dia memiliki orang yang disukainya.
Pasti itu batasan yang diinginkan Iwaizumi, bukan?
Oikawa menghela napas, lalu perlahan bangkit dari posisinya. Kepalanya mendadak ikut pusing setelah memikirkan hal-hal yang lebih rumit dibandingkan ujian di kampusnya sendiri.
Inilah salah satu alasan kenapa dia tak mau lagi terlibat dalam hubungan serius. Lebih baik dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan karena setidaknya itu lebih mudah dilakukan dibandingkan mengurusi soal hati. Dan dari sekian banyak patah hati yang dilewatinya, mungkin ini akan menjadi yang terberat.
“Emang bego lo, Oikawa…”
Oikawa berguman pelan pada dirinya sendiri. Mungkin julukan stupidkawa yang dulu pernah dicetuskan Matsukawa padanya memang benar. Ia merasa bodoh, dan terlalu besar kepala.
Oikawa menatap sosok pulas Iwaizumi sekali lagi — merasa sedih karena tidak bisa merawat pria itu sebagaimana janjinya dulu. Tapi itu mungkin hal yang bagus juga agar dirinya tidak perlu jatuh terlalu dalam lagi.
Setelah memastikan semua masih berada di tempatnya, Oikawa meninggalkan apartemen Iwaizumi. Sebelum benar-benar pergi, Oikawa mengirim pesan singkat pada Ushijima yang isinya berupa permintaan maaf bahwa dirinya mendadak tidak bisa datang ke pertandingan. Ia juga mengirim pesan untuk Iwaizumi yang mungkin akan dibaca pria itu nanti.
Dan terakhir, ia mengirim pesan singkat ke adik kelasnya.
Hei, Tobio, malam ini aku boleh nginep di tempat kamu?
Maaf ya, baru update sekarang huhu kerjaanku dari kemaren lagi banyak banget euy (curhat).
@fakeloveros