Teman, katanya.
Iwaizumi mendengus geli sambil memainkan gelas berisi minuman bening yang tengah dipegangnya. Tatapannya tertuju pada satu orang yang tengah berjingkrak-jingkrak dengan semangat di lantai dansa. Pria jangkung yang diperhatikannya itu menari sambil tertawa-tawa dengan beberapa orang yang bahkan Iwaizumi tidak ketahui nama-nama mereka siapa. Entah karena alasan apa, tapi Oikawa terlihat lebih enerjik dari biasanya malam ini.
Malangnya, Iwaizumi hanya bisa memperhatikan itu semua dari kejauhan. Dia hanya bisa mengawasi dan baru mengambil tindakan seandainya temannya yang sembrono itu kelelahan lalu minta diantar pulang. Tapi selain dari itu, Iwaizumi tidak yakin dirinya berhak.
Entah batasan sampai mana yang boleh ia langgar selama status teman itu masih disandang dirinya. Yang jelas, melarang siapa pun mendekati Oikawa sepertinya termasuk batasan yang tidak boleh ia lewati.
Karena segeram apa pun Iwaizumi saat melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang, ia tahu, tidak berhak bagi dirinya untuk melarang Oikawa berteman dengan siapa pun.
Seperti tadi, saat mereka berdua baru sampai di club baru milik si kembar Miya, belum 10 menit mereka duduk dan berbincang dengan Atsumu, sudah ada pria yang mengaku sebagai teman salah satu si kembar itu mengajak Oikawa berkenalan. Oikawa, yang jiwa sosialnya memang sangat tinggi (Iwaizumi memikirkan ini sambil memutar kedua bola matanya), tentu mengiyakan saja dengan senang hati. Iwaizumi langsung berasa dilupakan dan ia hanya bisa menatap pemandangan keduanya mengobrol akrab diiringi senyuman pahit.
Atsumu yang memperhatikan hanya meringis dan menepuk bahu Iwaizumi pelan. Kalau kata Atsumu, itu semua karena Oikawa tidak peka dengan keadaan di sekelilingnya, termasuk perasaan Iwaizumi yang sudah dipendamnya sejak lama.
Padahal, Iwaizumi sendiri merasa perlakuannya selama ini ke temannya itu sudah sangat menjelaskan perasaannya. Tidak perlu disebutkan satu per satu karena Atsumu saat pertama kali mendengarnya saja langsung mengatainya bucin tolol.
(Iwaizumi ingin membalas kalau Atsumu sebenarnya sama saja. Tapi tidak tega, saat melihat tatapan penuh cinta yang diberikan temannya itu pada Kita Shinsuke, kekasihnya.)
Namun, jika ada hal yang bisa sedikit meninggikan status pertemanan mereka, mungkin kenyataan bahwa Iwaizumi dan Oikawa sudah berteman sejak lama. Bahkan sebelum keduanya lahir ke dunia, ibu mereka sudah berjanji akan memperkenalkan dan bahkan membuat mereka tak terpisahkan.
Sepertinya benar ucapan ibu itu adalah doa karena sejak saat itu, buktinya Iwaizumi dan Oikawa memang tak pernah terpisahkan. Mereka selalu bersama sejak TK, SD, SMP dan SMA. Barulah saat kuliah, mereka berdua mengambil jurusan yang berbeda, walaupun kampusnya tetap sama. Iwaizumi pikir, setelah sekarang kantor mereka juga berbeda, frekuensi pertemuannya dengan Oikawa akan semakin berkurang dan ia pun bisa ikut mengurangi rasa sukanya pada pria itu. Tapi lagi-lagi Iwaizumi merasa doa ibu mereka terlampau kuat, sampai takdir saja membuat mereka terus bertemu apa pun yang terjadi.
Lucu, karena teman-teman mereka pun saling mengenal sehingga Oikawa dan Iwaizumi mau tidak mau sering memiliki janji untuk menghadiri acara yang sama. Seperti bagaimana Atsumu, teman mereka berdua saat SMA, ternyata kekasihnya bekerja di kantor dan divisi yang sama dengan Oikawa. Atau bagaimana saat Daichi, senior Iwaizumi di kantornya, mengatakan bahwa ia memiliki kekasih bermarga Sugawara. Nama yang tidak asing bagi Iwaizumi karena nyatanya itu adalah nama salah satu teman dekat Oikawa saat kuliah.
Jadi bukan pemandangan yang asing ketika pada akhirnya mereka semua saling mengenal dan berkumpul bersama.
Sialnya, di lingkaran pertemanan itu, hanya Iwaizumi dan Oikawa yang masih saja setia dengan status pertemanan mereka. Daichi bahkan menertawainya keras-keras saat mengetahui fakta yang menyedihkan tersebut. Karena sekali lihat pun orang-orang tentu akan mengira mereka berdua adalah pasangan yang sudah resmi meskipun kenyataannya justru sebaliknya.
Iwaizumi lagi-lagi hanya mampu mendengus jika memikirkan hal tersebut. Ia menghabiskan es batu yang perlahan-lahan mulai mencair di dalam gelasnya. Perhatiannya masih tertuju pada Oikawa yang kini sedang memeluk Sugawara dengan erat. Sepertinya Sugawara dan Daichi baru saja tiba.
“Woy,” Iwaizumi merasakan tepukan keras di pundaknya. Benar saja, yang baru saja menepuknya adalah Daichi. Iwaizumi pun hanya mengangguk malas sebagai balasan sapaan untuk senior di kantornya itu.
“Lemes amat lo,” ujar Daichi seraya mengambil tempat di sebelah Iwaizumi setelah menyebutkan pesanannya pada bartender yang bertugas.
“Biasa aja,” ucap Iwaizumi singkat selagi meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.
“Nggak mau nambah? Mumpung gratis,” kata Daichi sambil memperhatikan wajah Iwaizumi yang terlihat lesu.
Iwaizumi menggeleng pelan. “Gue nyetir ke sini.”
Sekarang gantian Iwaizumi yang memperhatikan Daichi dengan mata menyipit saat seniornya itu sudah asyik menenggak minuman alkoholnya. “Lo nggak nyetir nanti?”
“Ada Suga tuh, katanya dia mau sober hari ini,” jawab Daichi yang kini ikut memutar kursinya untuk memperhatikan orang-orang di lantai dansa.
Iwaizumi hanya ber-ooh pelan, lalu keduanya sama-sama diam dan hanya memperhatikan pemandangan yang ada di depan mereka dengan pikiran masing-masing.
“Hari ini udah berapa orang?” tanya Daichi memecah keheningan.
“Hm?” Iwaizumi yang belum terlalu fokus hanya menjawab dengan gumaman kecil.
“Udah berapa orang hari ini yang ngajak Oikawa kenalan?” Daichi mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan penekanan di kata kenalan.
“Kenapa nanyanya ke gue, sih…” Iwaizumi menjawab sambil menghela napas berat. Tapi sedikitnya ia paham kenapa seniornya bertanya hal seperti itu padanya.
“Kebiasaan lo, kan, kayak gini. Kalau kita lagi nongkrong, terus tiba-tiba ada yang ngajak Oikawa kenalan, pasti lo langsung bad mood. Kayak minggu kemaren tuh. Padahal cuma ada yang nyelipin nomor buat dia, tapi mood lo langsung jelek seharian.”
Iwaizumi tak membalas pernyataan tersebut.
“Sebenernya lo tuh nunggu apa, sih?” tanya Daichi lagi saat dilihatnya Iwaizumi hanya diam. “Lo mau nunggu sampai akhirnya Oikawa ngeladenin salah satu dari mereka? Lo mau nunggu sampai akhirnya beneran nyesel karena selama ini malah diem aja? Lo mau nunggu sampai kapan, Iwaizumi?”
Kali ini ada helaan napas panjang yang terdengar keluar dari mulut Iwaizumi.
“Klasik banget nggak, sih, kalau alasan gue karena takut nanti pertemanan kita nggak bisa sama lagi?” tanya Iwaizumi pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh Daichi.
“Klasik, sih. Banget. Tapi penyelesaiannya juga sama-sama klasik. Lo harus coba dulu ngomong sama dia, baru tau nantinya gimana. Kebanyakan orang yang nyesel di akhir tuh karena mereka nggak berani buat ngomong duluan,” jelas Daichi panjang lebar sambil ikut menghela napas.
“Lagian…” Daichi melanjutkan, “pertemanan lo sama Oikawa, kan, udah lama banget. Nggak mungkinlah ikatan kalian sedangkal itu sampai bisa langsung terputus begitu aja.”
Iwaizumi terdiam selama beberapa sekon sebelum terkekeh pelan. “Geli banget kata-kata lo.”
Daichi menyenggol Iwaizumi dengan kesal. “Yee… dikasih tau juga! Gue capek liat kalian berdua main tarik ulur gitu! Dan gue yakin, Suga, Atsumu sama temen yang lain juga capek liat kalian. Bikin frustrasi!” seru Daichi sembari meminum isi gelasnya sampai habis.
“Kalian tuh udah dewasa. Pasti bisa nyelesein urusan beginian baik-baik,” ucap pria itu lagi dengan nada seolah mengakhiri perbincangan mereka.
Iwaizumi bukanlah orang yang sangat pendiam, namun jika sudah memikirkan Oikawa dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi di antara mereka, dirinya akan diam seribu bahasa. Kemungkinan-kemungkinan itu terus berputar dalam otaknya, seperti kunci terbang dalam film Harry Potter dan Batu Bertuah yang sangat disukai oleh teman jangkungnya itu. Dan dari segala kemungkinan yang ada, ia harus bertaruh agar dapat memilih keputusan yang benar. Persis seperti Harry saat dirinya harus memilih kunci yang benar menggunakan sapu terbangnya.
Lagi pula, benar apa kata Daichi. Dirinya tidak mungkin menunggu sampai akhirnya menyesal. Bagaimanapun, penyesalan selalu datang belakangan, bukan?
“Iwa-chaaaannn…”
Mendengar namanya disebut seperti itu, Iwaizumi hanya mampu menghela napas sambil mengeratkan rangkulannya pada temannya yang sudah kepalang mabuk.
Mereka baru saja kembali dari pesta saat jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Iwaizumi sempat bertanya pada Oikawa, apa dirinya mau diantar pulang saja ke kediamannya, tapi pria itu langsung menggeleng keras dan mengatakan ingin ikut pulang ke apartemen miliknya.
Jadi di sinilah Iwaizumi sekarang — mencoba mengambil kartu masuk apartemennya seraya menyeimbangkan tubuh Oikawa yang terus-terusan hampir jatuh akibat berada di bawah pengaruh alkohol.
Setelah berhasil masuk, dengan sedikit susah payah, Iwaizumi berusaha melepaskan sepatu mereka berdua dan langsung setengah menyeret Oikawa menuju sofa ruang tamunya. Setelah Oikawa ia baringkan, Iwaizumi segera menyalakan lampu dan beranjak menuju dapur.
Saat kembali, dilihatnya Oikawa sudah bangun dari posisi berbaringnya, dan kini sedang duduk sambil menatap dinding dengan pandangan kosong.
“Oikawa, ini minum dulu,” ujar Iwaizumi sambil menyodorkan segelas air yang dibawanya dan langsung diterima Oikawa dengan senang hati. Pria itu langsung meminumnya sampai habis.
“Pelan-pelan minumnya,” ucap Iwaizumi sambil mengelus punggung pria itu dengan lembut.
Setelah benar-benar habis, Iwaizumi langsung mengambil gelasnya dan diletakkan di atas meja. “Kamu mau ganti baju? Aku ambilin ya, habis itu langsung tidur aja di ka-“
Perkataan Iwaizumi langsung terhenti saat dirinya tiba-tiba dipeluk olah temannya itu. Oikawa memeluk Iwaizumi erat, bahkan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher pria tersebut.
Iwaizumi menelan salivanya dengan gugup. Jelas ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan. Segala bentuk afeksi dalam bentuk sentuhan (yang tentu saja masih dalam batas wajar antar teman) bukanlah hal yang canggung untuk mereka lakukan. Namun tetap saja, jantung Iwaizumi akan berdebar dengan tempo yang lebih cepat setiap menerima afeksi dari pria yang kini masih memeluknya dengan erat tersebut.
“Oikawa… ayo ganti baju dulu, baru habis itu tidur,” ucap Iwaizumi selagi berusaha mendorong tubuh Oikawa agar dapat dibangunkan. Namun pria itu hanya menggelengkan kepala dan tetap bergeming pada posisinya.
Iwaizumi menghela napas dan kembali mengelus punggung pria itu dengan lembut. “Kenapa? Kepala kamu sakit?”
“Iwa-chan…” bukannya menjawab, tapi Oikawa malah lebih mengeratkan pelukannya dan memanggil nama teman masa kecilnya itu pelan.
“Hmm?”
“Kamu benci sama aku…?” tanya Oikawa tiba-tiba. Pertanyaan itu jelas tidak disangka-sangka akan keluar dari mulut Oikawa sehingga Iwaizumi yang mendengarnya pun hanya mengerutkan keningnya dengan bingung.
“Mana mungkin aku benci sama kamu…?” Jawaban Iwaizumi terdengar lebih seperti pertanyaan karena ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.
“Terus kenapa kamu nggak mau cium aku?”
Hening.
“H-hei, kamu ngomong ap-“
“Kamu nggak pernah marah kalau ada yang ngajak aku kenalan. Kamu nggak pernah marah kalau aku iseng pergi ke kencan buta. Kamu nggak pernah marah kalau ada orang lain yang suka sama aku.”
Iwaizumi terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dan ia juga tidak paham kenapa Oikawa mendadak berkata seperti itu.
Kecuali…
Iwaizumi segera menepiskan pikiran yang barusan lewat di otaknya. Ia pun memegang pundak Oikawa seakan berusaha nenyadarkan pria itu. “Hei, kamu lagi mabuk. Kamu nggak tau apa yang barusan kamu bilang.”
Dengan gerakan cepat, Oikawa langsung melepaskan pelukannya dan menatap Iwaizumi dengan pandangan sedikit terluka.
“Aku emang lagi mabuk, tapi aku sadar sama apa yang barusan aku omongin, Iwa-chan,” ucap Oikawa sambil meremas pelan ujung kemeja Iwaizumi dengan kesal.
“Tapi barusan kamu…”
“Iwa-chan! Kamu tuh ngerti nggak, sih? Aku nggak mau kita cuma temenan!”
Iwaizumi terkesiap. Bukan karena Oikawa baru saja setengah berteriak padanya, tapi makna di balik seruan pria itu tadi rasanya seperti membangkitkan semua harapannya.
Iwaizumi sedikit menunduk untuk mencari-cari mata pria itu yang kini tengah menghindarinya. Iwaizumi kemudian menyentuh dagu Oikawa dengan lembut untuk membawa pandangan mereka kembali bertemu.
“Oikawa… kamu serius? Kamu beneran sadar barusan ngomong apa?”
Bahkan di bawah pengaruh alkohol pun Oikawa sempat berpikir siapa sebenarnya di antara mereka yang sedang mabuk. Kenapa temannya yang terkenal cerdas itu tiba-tiba seperti tidak mengerti bahasa manusia? Berapa kali Oikawa harus menegaskan sampai Iwaizumi bisa mengerti apa yang diinginkannya?
Mungkin Iwaizumi tidak akan paham kalau hanya melalui perkataan.
Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Oikawa sebelum pria itu maju dan mempertemukan bibir mereka. Bisa dirasakan olehnya Iwaizumi sempat tersentak kaget sehingga Oikawa langsung melepaskan diri. Entah kenapa, ia jadi ragu atas perbuatannya sendiri.
“Aku… mau ganti baju aja deh,” Oikawa berkata sambil bersiap-siap untuk bangun. Ia tahu, pipinya pasti sudah memerah sekarang akibat menahan malu. Bisa-bisanya ia mencium Iwaizumi begitu saja, padahal belum tentu temannya itu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namun belum sempat Oikawa melangkah lebih jauh, dirinya sudah ditarik kembali untuk duduk di atas sofa.
Tahu-tahu, bibirnya sudah kembali dipertemukan dengan teman masa kecilnya itu. Dan kali ini, tidak ada keraguan sama sekali di antara mereka.
Ciuman itu tidak bisa dikatakan lembut karena Iwaizumi tidak mau menahan dirinya lagi. Tidak di saat ia akhirnya diberi kesempatan untuk merasakan lembutnya bibir Oikawa yang terasa seperti campuran mint dan alkohol. Iwaizumi memang belum mengatakan apa-apa, tapi ia berharap, Oikawa bisa merasakan apa yang selama ini sudah ia pendam melalui ciuman mereka.
Tubuh Oikawa sedikit terdorong akibat intensitas ciuman yang diberikan Iwaizumi sampai punggungnya menempel ke sandaran sofa. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang Iwaizumi untuk menarik pria itu lebih dekat, sampai tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Sedangkan tangan Iwaizumi mengusap rahang Oikawa dengan lembut meskipun ciuman yang diberikan pria itu justru kebalikannya.
Iwaizumi terus melumat bibir Oikawa dengan gerakannya yang terlampau sangat lihai. Bahkan Oikawa sempat kewalahan saat bibir bawahnya dijilat sehingga refleks ia membuka mulutnya dan memberikan kesempatan bagi Iwaizumi untuk memperdalam ciuman mereka.
Sekarang Oikawa paham bagaimana orang-orang sering mendeskripsikan ciuman dengan orang yang disukai seperti membuat sekujur tubuh terasa panas, bahkan nyaris meleleh. Atau bagaimana kakinya terasa berubah seperti agar-agar sampai tidak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri.
Karena Oikawa kini merasakan itu semua saat berciuman dengan Iwaizumi — seseorang yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Entah sejak kapan perasaannya berubah, namun yang jelas, tanda-tandanya mulai terlihat saat mereka masuk SMA dan Iwaizumi semakin sering dikerubungi oleh teman-teman perempuannya. Tidak heran memang karena pria itu tampan, tinggi, jago olahraga, juga pandai dalam pelajaran. Oikawa kesal saat melihat Iwaizumi menerima perhatian dari ‘penggemar-penggemarnya’ itu.
Dan rasanya Oikawa semakin kesal saat mengetahui bahwa segala upaya untuk membuat Iwaizumi cemburu sepertinya tidak berhasil karena pria itu kebanyakan hanya diam dan memperhatikan.
Jadi siapa yang menyangka, kalau sekarang mereka malah sedang melakukan perbuatan paling intim dari batas wajar pertemanan selama ini?
Oikawa sempat mengeratkan pegangannya di pinggang pria itu dan melenguh tidak terima saat bibirnya dilepas sepersekian detik. Iwaizumi hanya mengambil napas sebentar, lalu kembali memagut bibir Oikawa dengan intens. Namun temponya sedikit berkurang dibandingkan ciuman awal mereka — seakan Iwaizumi ingin mengatakan pada Oikawa bahwa mereka masih memiliki banyak waktu di dunia untuk saling memberikan afeksi tanpa perlu menahan diri lagi. Akhirnya.
Iwaizumi sendiri rasanya tidak ingin berhenti menciumi pria yang ada di dekapannya. Ciuman mereka didominasi oleh rasa alkohol karena itulah yang paling banyak dikonsumsi Oikawa malam ini. Dan seperti alkohol juga, mencium Oikawa efeknya sungguh memabukkan, bahkan untuk sekadar berhenti dan mengambil napas kembali pun Iwaizumi sungguh tidak rela. Rasanya Iwaizumi ingin terus menciumi bibir pria itu sampai sang empunya mulai kehabisan napas dan dirinya terpaksa melepaskan bibirnya dari bibir Oikawa yang kini terlihat basah dan sedikit bengkak.
Dengan mata yang masih terpejam, Iwaizumi menempelkan keningnya ke bahu pria yang masih terengah-engah itu. Perasaannya membuncah saat merasakan napas hangat Oikawa menerpa sisi wajahnya dengan lembut. Begitu banyak yang ingin ia sampaikan, namun di saat yang bersamaan, kata-kata saja sepertinya tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Seumur hidup, belum pernah ia merasa sebahagia dan selega ini.
Barulah setelah mereka berdua mulai bisa mengatur napas, keduanya membuka mata dan tersenyum satu sama lain. Tangan Iwaizumi terangkat, lalu mengelus pipi Oikawa yang terlihat merona itu dengan lembut.
“Tooru,” Iwaizumi mulai memanggil nama temannya itu, namun Oikawa hanya mampu mengerjap pelan sambil menggigit bibirnya. Mendengar suara Iwaizumi yang berubah sedikit lebih parau dari biasanya itu memberikan efek geli dalam perutnya.
“Selama ini kita… kayak buang-buang waktu nggak sih?” tanya Iwaizumi seraya terkekeh pelan dan menatap mata Oikawa yang terlihat sedikit sayu.
“Habis ini… apa kita masih bisa disebut sebagai temen?” tanya Iwaizumi pelan karena Oikawa masih juga belum mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba ia takut sudah salah membaca sinyal yang diberikan temannya itu dan bahwa kejadian barusan hanyalah efek dari alkohol.
Namun keraguannya langsung sirna saat bibirnya tiba-tiba dikecup pelan oleh Oikawa.
“But friends don’t know the way you taste.”
Iwaizumi langsung tersenyum saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Oikawa.
“Kalau gitu… sekarang kita udah bisa jadi lebih dari sekadar temen?” tanya Iwaizumi lagi memastikan.
Oikawa hanya memutar bola matanya mendengar pertanyaan pria itu. “Tadi masih kurang apa, ya, aku udah sampai setengah teriak ke kamu segala…”
Iwaizumi tertawa dan langsung memeluk Oikawa dengan sangat erat. “Kata-kata nggak mempan buat aku, Tooru,” ucap pria itu sambil menghidu aroma parfum Oikawa tepat di bagian leher. “Dibuktiin pake tindakan, baru mempan…”
Oikawa ikut tertawa sambil menikmati dekapan hangat dari teman masa kecilnya itu.
“Hmm, berarti sekarang aku nggak perlu nahan diri lagi, kan?” Iwaizumi bertanya sambil menghujani leher Oikawa dengan kecupan-kecupan lembut. “Aku udah boleh marah kalau ada yang ngajak kenalan atau deketin kamu. Aku udah boleh marah kalau misalnya kamu iseng mau ikut ke kencan buta. Dan aku boleh marah kalau ada yang berani nyakitin kamu.”
Oikawa tersenyum mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Iwaizumi. Rasanya hatinya ingin meledak saking bahagianya karena tahu akhirnya perasaannya terbalas. Dan seperti kata Iwaizumi barusan, mulai sekarang mereka tidak perlu menahan diri lagi.
“Dan aku boleh nyium kamu kapan pun aku mau…”
Maka siapa yang bisa menolak, saat Iwaizumi kembali mendekatkan wajahnya dan memberikan Oikawa ciuman yang rasa-rasanya mampu membuatnya lupa akan namanya sendiri.
@fakeloveros