sua

Saat mengatakan bahwa dirinya akan menjadi lebih sibuk, Oikawa tidak menyangka bahwa perkataan Iwaizumi ternyata benar. Setelah chat terakhir mereka pada hari Minggu, Oikawa benar-benar tidak bertemu dengan Iwaizumi bahkan sampai H-1 MT Spring tim voli akan diadakan. Dalam pertemuan terakhir technical meeting yang diadakan pada hari sebelumnya pun Iwaizumi tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.

Hal ini jelas menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.

Matsukawa yang paling berisik. Temannya yang satu itu terus-terusan menuduh bahwa ia dan Iwaizumi tengah bertengkar hebat sampai tidak berbicara satu sama lain. Daichi dan Sugawara ikut menanyakan keberadaan Iwaizumi beberapa kali, sedangkan Kuroo hanya menatapnya penuh arti tanpa mengatakan apa pun, namun tatapannya seperti mengatakan, lo belum ngomong juga sama dia?

Oikawa sendiri bingung bagaimana harus memulai percakapan dengan Iwaizumi. Di satu sisi ternyata ia merindukan juga keberadaan pria itu dan obrolan-obrolan ringan mereka di setiap kesempatan yang ada. Beberapa kali Oikawa ingin mencoba menghubungi Iwaizumi untuk sekadar menanyakan kabar, tapi sesering itu juga Oikawa menghapus teks yang sudah ia tulis, lalu berteriak sendiri di balik bantalnya.

Baru kali ini Oikawa merasa dirinya benar-benar seperti pengecut — sesuatu yang tidak pernah ada di dalam kamusnya.

Dan baru kali ini juga Oikawa memikirkan seseorang sampai dirinya tidak bisa tidur sama sekali.


“Lo kayak zombie.”

Bukannya ucapan selamat pagi, sapaan itulah yang justru Oikawa dengar pertama kali keluar dari bibir Matsukawa. Ia hanya melirik temannya dengan jengkel sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jaket — mencoba mencari kehangatan di tengah pagi buta yang masih menebarkan hawa dingin.

“Tapi tampang lo masih lebih mending dibanding pacar lo sendiri, sih.”

Kalimat itu sukses menarik perhatian Oikawa yang hampir saja menutup matanya untuk mencuri waktu tidur. Kepalanya langsung terangkat dan matanya berputar ke segala arah mencari keberadaan pria yang tadi disebutkan temannya.

“Iwaizumi udah dateng? Mana??”

Matsukawa menyeringai, lalu menepuk pundaknya pelan. “Udah tadi, tapi langsung ngilang nggak tau ke mana.”

Oikawa mendecak sebal, lalu melepaskan rangkulan temannya itu dan segera melangkah menjauh untuk mencari 'pacar'nya. Dari kejauhan dia bisa melihat rambut pirang Atsumu di tengah gerombolan anggota voli dan memutuskan untuk bertanya pada pria itu. Namun tinggal beberapa langkah sebelum sampai, Oikawa mendadak berhenti.

Ada sosok seorang wanita yang tidak asing berada di tengah gerombolan tersebut.

Tapi sayang, sebelum dirinya sempat membalikkan badan dan bertanya pada orang lain, Atsumu sudah melihatnya lebih dulu.

“Eh, woy! Oikawa! Sini!”

Oikawa mengerang dalam hati, dan dengan enggan mendekati sang setter. Semakin dirinya melangkah lebih dekat, Oikawa pun semakin mengenali wanita yang kini sudah ikut menatapnya dengan senyuman kelewat polos terulas di wajah cantik itu.

Alisa Haiba ada di sini.

“Woy! Lemes amat sih lo! Kayak Iwaizumi aja anjir. Tadi pacar lo dateng-dateng juga mukanya lesu banget kayak muka Osamu setiap habis ujian!”

Perkataan itu berhasil membuat Atsumu menerima geplakan keras di kepalanya dari saudara kembarnya. Namun Atsumu hanya mengaduh pelan, kemudian berbicara lagi dengan penuh antusias kepada Oikawa seolah tidak ada yang terjadi.

“By the way, lo belum pernah ketemu Kak Alisa, kan? Dia kakaknya Lev. Tahun ini katanya mau ikutan bantu-bantu di MT kita! Tadi juga Kak Alisa bawain banyaaak banget makanan! Wah, lo kalo liat—”

“Hajime mana?” Oikawa segera memotong, bukan karena tidak ingin mendengarkan ocehan Atsumu, melainkan jengah karena harus berada di dekat wanita yang terus-terusan menatapnya dengan aura penuh permusuhan. Atsumu langsung berhenti, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Eeh... ke mana ya tuh orang? Hmm, tadi sih bilangnya mau nyari tempat buat istirahat sebentar. Tapi habis itu gue—”

“Iwaizumi udah naik duluan ke dalam bus. Katanya dia capek, mau tidur.”

Ada suara baru yang bergabung dengan mereka. Oikawa menoleh, dan mendapati Ushijima tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu memang berangkat lebih dulu tadi pagi, mengingat posisinya sebagai kapten yang harus memastikan semuanya sudah lengkap sebelum mereka berangkat.

Dengan agak bingung, Oikawa memperhatikan Ushijima yang menjawab tanpa menampilkan ekspresi apa pun. Sepertinya itu pertama kalinya dia mendengar roommate-nya menyebutkan nama Iwaizumi secara langsung tepat di hadapannya.

“Oh, oke, thanks. Ehm... apa boleh gue naik sebentar ke busnya? Mau ngecek aja,” jawab Oikawa sedikit ragu. Namun sang kapten hanya mengedikkan bahunya dan dengan gerakan kepalanya mempersilakan Oikawa untuk naik ke dalam bus yang akan ditempati anggota tim voli. Setelah mengucapkan terima kasih juga kepada Atsumu (dan tanpa menghiraukan keberadaan Alisa), Oikawa cepat-cepat berjalan menuju bus.

Bohong kalau dibilang jantungnya tidak berdegup kencang saat tahu bahwa sebentar lagi dirinya akan bertemu Iwaizumi setelah sekian lama.

Oikawa menaiki bus dengan langkah pelan — tidak ingin membuat suara sedikit pun yang bisa saja membangunkan pria yang sedang beristirahat di dalamnya. Benar saja, ia langsung menemukan Iwaizumi yang tengah tertidur pulas di salah satu bangku karena tidak ada siapa-siapa lagi di dalam bus selain mereka berdua.

Oikawa menelan salivanya, kemudian mendekat secara perlahan. Namun keningnya berkerut semakin dalam saat menyadari penampilan pria itu sedikit berbeda dibandingkan biasanya. Ada lingkaran hitam di bawah mata pria itu dan — apakah ini hanya perasaannya atau memang — Iwaizumi terlihat lebih kurus. Pria itu tidur sambil bersedekap dan jelas sekali terlihat tidak nyaman karena kepalanya harus bersandar ke sandaran kursi yang tegak.

Selama beberapa saat, Oikawa hanya diam di tempatnya dan memperhatikan Iwaizumi lekat-lekat.

Ada banyak yang ia rasakan. Ada banyak yang ingin ia utarakan. Namun kakinya seakan tertanam di lantai dan lidahnya kelu dengan mata yang terpaku pada pria yang selama beberapa hari belakangan membuatnya tidak bisa tidur tenang.

Membuatnya rindu.

“Kalau ngeliatinnya kayak gitu, mata kamu bisa perih nanti.”

Oikawa terlonjak kaget saat suara Iwaizumi tiba-tiba terdengar meskipun mata pria itu masih terpejam. Namun ia yakin, bibir pria itu memang bergerak barusan.

“Iwai... zumi?” Oikawa memanggilnya pelan.

Barulah setelah namanya disebut, Iwaizumi membuka matanya. Obisidian hitam itu langsung mengarah tepat ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Meskipun begitu, Oikawa bisa melihat betapa lelahnya pria itu.

Pantas saja Matsukawa menyebut tampang Iwaizumi lebih parah dibandingkan dirinya.

“Kok bisa tau... aku yang dateng? Bukannya kamu lagi tidur barusan?” tanya Oikawa selagi memperhatikan Iwaizumi meregangkan badannya. Kaus yang dikenakan pria itu terangkat sedikit sampai Oikawa bisa melihat kulit halus kecoklatan yang melengkapi otot kencang di baliknya. Oikawa buru-buru mengalihkan pandangannya sebelum fokusnya buyar. Atau yang lebih parah, sebelum Iwaizumi menangkap tatapannya.

“Kalau diliatin kayak gitu, siapa yang nggak bakal kebangun?” jawab Iwaizumi dengan suara parau khas seseorang yang baru bangun tidur. Matanya mengerjap pelan seakan berusaha mengusir letih yang terpancar jelas di baliknya.

“Kamu... nggak apa-apa, kan? Maksudku kamu... keliatan capek banget,” ucap Oikawa tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Kalau masih mau tidur, aku bisa turun lagi. Tadi aku naik cuma mau ngecek keadaan kamu, jadi—”

“Tooru.”

Oikawa refleks mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jantungnya mungkin sudah berdetak dengan kecepatan yang tidak normal sekarang karena akhirnya bisa mendengar nama kecilnya disebut lagi oleh Iwaizumi setelah sekian lama.

“A-apa?”

“Sini, temenin aku.”

Oikawa memiringkan kepalanya tidak paham, namun ia patuh dan maju beberapa langkah. Setelah cukup dekat, Iwaizumi lantas menarik tangannya sampai dirinya terduduk di sebelah pria itu.

Oikawa bahkan belum sempat memproses apa yang terjadi ketika kepala Iwaizumi tiba-tiba sudah bersender di bahunya.

“Sekarang setiap habis pulang kuliah, aku harus langsung ke kantor Ayahku. Kadang aku bisa pulang malem banget, kadang aku bahkan bisa ketiduran di sana.”

Oikawa bergeming. Telinganya mendengar dengan jelas, namun otaknya tidak tahu harus membentuk respons seperti apa.

“Aku capek. Aku cuma mau tidur. Tapi tetep aja percuma karena meskipun udah tutup mata, aku malah mikirin hal lain.”

Suara pria itu terdengar sangat letih, namun di saat yang bersamaan seolah memberikan indikasi bahwa apa yang mereka pikirkan selama beberapa hari belakangan pastilah hal yang sama.

“Kita bisa ngomongin banyak hal nanti. Itu tujuan aku ikut acara ini. Tapi buat sekarang, kita bisa kayak gini tanpa harus mikirin hal apa pun.”

Seolah memperjelas makna di balik ucapannya, Iwaizumi semakin mendekatkan tubuh mereka sampai aroma parfum pria itu tercium dengan jelas. Bergamot kesukaannya.

Terdengar helaan napas berat yang menyusul, dan Oikawa tahu pria itu pastilah sudah kembali menutup matanya sekarang.

“Sebentar aja, Tooru. Aku mau kamu nemenin aku kayak gini.”

Oikawa tidak tahu mantra apa yang ada di balik ucapan halus tersebut. Tapi yang jelas, mantra itu pasti bekerja dengan sangat baik karena pada detik itu juga, tidak ada hal yang diinginkannya selain menemani Iwaizumi sampai pria itu kembali tertidur pulas.


Honestly, I can't wait to write the entire MT Spring scenes. But, of course, it needs to wait.

@fakeloveros

Teman, katanya.

Iwaizumi mendengus geli sambil memainkan gelas berisi minuman bening yang tengah dipegangnya. Tatapannya tertuju pada satu orang yang tengah berjingkrak-jingkrak dengan semangat di lantai dansa. Pria jangkung yang diperhatikannya itu menari sambil tertawa-tawa dengan beberapa orang yang bahkan Iwaizumi tidak ketahui nama-nama mereka siapa. Entah karena alasan apa, tapi Oikawa terlihat lebih enerjik dari biasanya malam ini.

Malangnya, Iwaizumi hanya bisa memperhatikan itu semua dari kejauhan. Dia hanya bisa mengawasi dan baru mengambil tindakan seandainya temannya yang sembrono itu kelelahan lalu minta diantar pulang. Tapi selain dari itu, Iwaizumi tidak yakin dirinya berhak.

Entah batasan sampai mana yang boleh ia langgar selama status teman itu masih disandang dirinya. Yang jelas, melarang siapa pun mendekati Oikawa sepertinya termasuk batasan yang tidak boleh ia lewati.

Karena segeram apa pun Iwaizumi saat melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang, ia tahu, tidak berhak bagi dirinya untuk melarang Oikawa berteman dengan siapa pun.

Seperti tadi, saat mereka berdua baru sampai di club baru milik si kembar Miya, belum 10 menit mereka duduk dan berbincang dengan Atsumu, sudah ada pria yang mengaku sebagai teman salah satu si kembar itu mengajak Oikawa berkenalan. Oikawa, yang jiwa sosialnya memang sangat tinggi (Iwaizumi memikirkan ini sambil memutar kedua bola matanya), tentu mengiyakan saja dengan senang hati. Iwaizumi langsung berasa dilupakan dan ia hanya bisa menatap pemandangan keduanya mengobrol akrab diiringi senyuman pahit.

Atsumu yang memperhatikan hanya meringis dan menepuk bahu Iwaizumi pelan. Kalau kata Atsumu, itu semua karena Oikawa tidak peka dengan keadaan di sekelilingnya, termasuk perasaan Iwaizumi yang sudah dipendamnya sejak lama.

Padahal, Iwaizumi sendiri merasa perlakuannya selama ini ke temannya itu sudah sangat menjelaskan perasaannya. Tidak perlu disebutkan satu per satu karena Atsumu saat pertama kali mendengarnya saja langsung mengatainya bucin tolol.

(Iwaizumi ingin membalas kalau Atsumu sebenarnya sama saja. Tapi tidak tega, saat melihat tatapan penuh cinta yang diberikan temannya itu pada Kita Shinsuke, kekasihnya.)

Namun, jika ada hal yang bisa sedikit meninggikan status pertemanan mereka, mungkin kenyataan bahwa Iwaizumi dan Oikawa sudah berteman sejak lama. Bahkan sebelum keduanya lahir ke dunia, ibu mereka sudah berjanji akan memperkenalkan dan bahkan membuat mereka tak terpisahkan.

Sepertinya benar ucapan ibu itu adalah doa karena sejak saat itu, buktinya Iwaizumi dan Oikawa memang tak pernah terpisahkan. Mereka selalu bersama sejak TK, SD, SMP dan SMA. Barulah saat kuliah, mereka berdua mengambil jurusan yang berbeda, walaupun kampusnya tetap sama. Iwaizumi pikir, setelah sekarang kantor mereka juga berbeda, frekuensi pertemuannya dengan Oikawa akan semakin berkurang dan ia pun bisa ikut mengurangi rasa sukanya pada pria itu. Tapi lagi-lagi Iwaizumi merasa doa ibu mereka terlampau kuat, sampai takdir saja membuat mereka terus bertemu apa pun yang terjadi.

Lucu, karena teman-teman mereka pun saling mengenal sehingga Oikawa dan Iwaizumi mau tidak mau sering memiliki janji untuk menghadiri acara yang sama. Seperti bagaimana Atsumu, teman mereka berdua saat SMA, ternyata kekasihnya bekerja di kantor dan divisi yang sama dengan Oikawa. Atau bagaimana saat Daichi, senior Iwaizumi di kantornya, mengatakan bahwa ia memiliki kekasih bermarga Sugawara. Nama yang tidak asing bagi Iwaizumi karena nyatanya itu adalah nama salah satu teman dekat Oikawa saat kuliah.

Jadi bukan pemandangan yang asing ketika pada akhirnya mereka semua saling mengenal dan berkumpul bersama.

Sialnya, di lingkaran pertemanan itu, hanya Iwaizumi dan Oikawa yang masih saja setia dengan status pertemanan mereka. Daichi bahkan menertawainya keras-keras saat mengetahui fakta yang menyedihkan tersebut. Karena sekali lihat pun orang-orang tentu akan mengira mereka berdua adalah pasangan yang sudah resmi meskipun kenyataannya justru sebaliknya.

Iwaizumi lagi-lagi hanya mampu mendengus jika memikirkan hal tersebut. Ia menghabiskan es batu yang perlahan-lahan mulai mencair di dalam gelasnya. Perhatiannya masih tertuju pada Oikawa yang kini sedang memeluk Sugawara dengan erat. Sepertinya Sugawara dan Daichi baru saja tiba.

“Woy,” Iwaizumi merasakan tepukan keras di pundaknya. Benar saja, yang baru saja menepuknya adalah Daichi. Iwaizumi pun hanya mengangguk malas sebagai balasan sapaan untuk senior di kantornya itu.

“Lemes amat lo,” ujar Daichi seraya mengambil tempat di sebelah Iwaizumi setelah menyebutkan pesanannya pada bartender yang bertugas.

“Biasa aja,” ucap Iwaizumi singkat selagi meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.

“Nggak mau nambah? Mumpung gratis,” kata Daichi sambil memperhatikan wajah Iwaizumi yang terlihat lesu.

Iwaizumi menggeleng pelan. “Gue nyetir ke sini.”

Sekarang gantian Iwaizumi yang memperhatikan Daichi dengan mata menyipit saat seniornya itu sudah asyik menenggak minuman alkoholnya. “Lo nggak nyetir nanti?”

“Ada Suga tuh, katanya dia mau sober hari ini,” jawab Daichi yang kini ikut memutar kursinya untuk memperhatikan orang-orang di lantai dansa.

Iwaizumi hanya ber-ooh pelan, lalu keduanya sama-sama diam dan hanya memperhatikan pemandangan yang ada di depan mereka dengan pikiran masing-masing.

“Hari ini udah berapa orang?” tanya Daichi memecah keheningan.

“Hm?” Iwaizumi yang belum terlalu fokus hanya menjawab dengan gumaman kecil.

“Udah berapa orang hari ini yang ngajak Oikawa kenalan?” Daichi mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan penekanan di kata kenalan.

“Kenapa nanyanya ke gue, sih…” Iwaizumi menjawab sambil menghela napas berat. Tapi sedikitnya ia paham kenapa seniornya bertanya hal seperti itu padanya.

“Kebiasaan lo, kan, kayak gini. Kalau kita lagi nongkrong, terus tiba-tiba ada yang ngajak Oikawa kenalan, pasti lo langsung bad mood. Kayak minggu kemaren tuh. Padahal cuma ada yang nyelipin nomor buat dia, tapi mood lo langsung jelek seharian.”

Iwaizumi tak membalas pernyataan tersebut.

“Sebenernya lo tuh nunggu apa, sih?” tanya Daichi lagi saat dilihatnya Iwaizumi hanya diam. “Lo mau nunggu sampai akhirnya Oikawa ngeladenin salah satu dari mereka? Lo mau nunggu sampai akhirnya beneran nyesel karena selama ini malah diem aja? Lo mau nunggu sampai kapan, Iwaizumi?”

Kali ini ada helaan napas panjang yang terdengar keluar dari mulut Iwaizumi.

“Klasik banget nggak, sih, kalau alasan gue karena takut nanti pertemanan kita nggak bisa sama lagi?” tanya Iwaizumi pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh Daichi.

“Klasik, sih. Banget. Tapi penyelesaiannya juga sama-sama klasik. Lo harus coba dulu ngomong sama dia, baru tau nantinya gimana. Kebanyakan orang yang nyesel di akhir tuh karena mereka nggak berani buat ngomong duluan,” jelas Daichi panjang lebar sambil ikut menghela napas.

“Lagian…” Daichi melanjutkan, “pertemanan lo sama Oikawa, kan, udah lama banget. Nggak mungkinlah ikatan kalian sedangkal itu sampai bisa langsung terputus begitu aja.”

Iwaizumi terdiam selama beberapa sekon sebelum terkekeh pelan. “Geli banget kata-kata lo.”

Daichi menyenggol Iwaizumi dengan kesal. “Yee… dikasih tau juga! Gue capek liat kalian berdua main tarik ulur gitu! Dan gue yakin, Suga, Atsumu sama temen yang lain juga capek liat kalian. Bikin frustrasi!” seru Daichi sembari meminum isi gelasnya sampai habis.

“Kalian tuh udah dewasa. Pasti bisa nyelesein urusan beginian baik-baik,” ucap pria itu lagi dengan nada seolah mengakhiri perbincangan mereka.

Iwaizumi bukanlah orang yang sangat pendiam, namun jika sudah memikirkan Oikawa dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi di antara mereka, dirinya akan diam seribu bahasa. Kemungkinan-kemungkinan itu terus berputar dalam otaknya, seperti kunci terbang dalam film Harry Potter dan Batu Bertuah yang sangat disukai oleh teman jangkungnya itu. Dan dari segala kemungkinan yang ada, ia harus bertaruh agar dapat memilih keputusan yang benar. Persis seperti Harry saat dirinya harus memilih kunci yang benar menggunakan sapu terbangnya.

Lagi pula, benar apa kata Daichi. Dirinya tidak mungkin menunggu sampai akhirnya menyesal. Bagaimanapun, penyesalan selalu datang belakangan, bukan?


“Iwa-chaaaannn…”

Mendengar namanya disebut seperti itu, Iwaizumi hanya mampu menghela napas sambil mengeratkan rangkulannya pada temannya yang sudah kepalang mabuk.

Mereka baru saja kembali dari pesta saat jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Iwaizumi sempat bertanya pada Oikawa, apa dirinya mau diantar pulang saja ke kediamannya, tapi pria itu langsung menggeleng keras dan mengatakan ingin ikut pulang ke apartemen miliknya.

Jadi di sinilah Iwaizumi sekarang — mencoba mengambil kartu masuk apartemennya seraya menyeimbangkan tubuh Oikawa yang terus-terusan hampir jatuh akibat berada di bawah pengaruh alkohol.

Setelah berhasil masuk, dengan sedikit susah payah, Iwaizumi berusaha melepaskan sepatu mereka berdua dan langsung setengah menyeret Oikawa menuju sofa ruang tamunya. Setelah Oikawa ia baringkan, Iwaizumi segera menyalakan lampu dan beranjak menuju dapur.

Saat kembali, dilihatnya Oikawa sudah bangun dari posisi berbaringnya, dan kini sedang duduk sambil menatap dinding dengan pandangan kosong.

“Oikawa, ini minum dulu,” ujar Iwaizumi sambil menyodorkan segelas air yang dibawanya dan langsung diterima Oikawa dengan senang hati. Pria itu langsung meminumnya sampai habis.

“Pelan-pelan minumnya,” ucap Iwaizumi sambil mengelus punggung pria itu dengan lembut.

Setelah benar-benar habis, Iwaizumi langsung mengambil gelasnya dan diletakkan di atas meja. “Kamu mau ganti baju? Aku ambilin ya, habis itu langsung tidur aja di ka-“

Perkataan Iwaizumi langsung terhenti saat dirinya tiba-tiba dipeluk olah temannya itu. Oikawa memeluk Iwaizumi erat, bahkan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher pria tersebut.

Iwaizumi menelan salivanya dengan gugup. Jelas ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan. Segala bentuk afeksi dalam bentuk sentuhan (yang tentu saja masih dalam batas wajar antar teman) bukanlah hal yang canggung untuk mereka lakukan. Namun tetap saja, jantung Iwaizumi akan berdebar dengan tempo yang lebih cepat setiap menerima afeksi dari pria yang kini masih memeluknya dengan erat tersebut.

“Oikawa… ayo ganti baju dulu, baru habis itu tidur,” ucap Iwaizumi selagi berusaha mendorong tubuh Oikawa agar dapat dibangunkan. Namun pria itu hanya menggelengkan kepala dan tetap bergeming pada posisinya.

Iwaizumi menghela napas dan kembali mengelus punggung pria itu dengan lembut. “Kenapa? Kepala kamu sakit?”

“Iwa-chan…” bukannya menjawab, tapi Oikawa malah lebih mengeratkan pelukannya dan memanggil nama teman masa kecilnya itu pelan.

“Hmm?”

“Kamu benci sama aku…?” tanya Oikawa tiba-tiba. Pertanyaan itu jelas tidak disangka-sangka akan keluar dari mulut Oikawa sehingga Iwaizumi yang mendengarnya pun hanya mengerutkan keningnya dengan bingung.

“Mana mungkin aku benci sama kamu…?” Jawaban Iwaizumi terdengar lebih seperti pertanyaan karena ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.

“Terus kenapa kamu nggak mau cium aku?”

Hening.

“H-hei, kamu ngomong ap-“

“Kamu nggak pernah marah kalau ada yang ngajak aku kenalan. Kamu nggak pernah marah kalau aku iseng pergi ke kencan buta. Kamu nggak pernah marah kalau ada orang lain yang suka sama aku.”

Iwaizumi terdiam. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dan ia juga tidak paham kenapa Oikawa mendadak berkata seperti itu.

Kecuali…

Iwaizumi segera menepiskan pikiran yang barusan lewat di otaknya. Ia pun memegang pundak Oikawa seakan berusaha nenyadarkan pria itu. “Hei, kamu lagi mabuk. Kamu nggak tau apa yang barusan kamu bilang.”

Dengan gerakan cepat, Oikawa langsung melepaskan pelukannya dan menatap Iwaizumi dengan pandangan sedikit terluka.

“Aku emang lagi mabuk, tapi aku sadar sama apa yang barusan aku omongin, Iwa-chan,” ucap Oikawa sambil meremas pelan ujung kemeja Iwaizumi dengan kesal.

“Tapi barusan kamu…”

“Iwa-chan! Kamu tuh ngerti nggak, sih? Aku nggak mau kita cuma temenan!”

Iwaizumi terkesiap. Bukan karena Oikawa baru saja setengah berteriak padanya, tapi makna di balik seruan pria itu tadi rasanya seperti membangkitkan semua harapannya.

Iwaizumi sedikit menunduk untuk mencari-cari mata pria itu yang kini tengah menghindarinya. Iwaizumi kemudian menyentuh dagu Oikawa dengan lembut untuk membawa pandangan mereka kembali bertemu.

“Oikawa… kamu serius? Kamu beneran sadar barusan ngomong apa?”

Bahkan di bawah pengaruh alkohol pun Oikawa sempat berpikir siapa sebenarnya di antara mereka yang sedang mabuk. Kenapa temannya yang terkenal cerdas itu tiba-tiba seperti tidak mengerti bahasa manusia? Berapa kali Oikawa harus menegaskan sampai Iwaizumi bisa mengerti apa yang diinginkannya?

Mungkin Iwaizumi tidak akan paham kalau hanya melalui perkataan.

Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Oikawa sebelum pria itu maju dan mempertemukan bibir mereka. Bisa dirasakan olehnya Iwaizumi sempat tersentak kaget sehingga Oikawa langsung melepaskan diri. Entah kenapa, ia jadi ragu atas perbuatannya sendiri.

“Aku… mau ganti baju aja deh,” Oikawa berkata sambil bersiap-siap untuk bangun. Ia tahu, pipinya pasti sudah memerah sekarang akibat menahan malu. Bisa-bisanya ia mencium Iwaizumi begitu saja, padahal belum tentu temannya itu memiliki perasaan yang sama dengannya.

Namun belum sempat Oikawa melangkah lebih jauh, dirinya sudah ditarik kembali untuk duduk di atas sofa.

Tahu-tahu, bibirnya sudah kembali dipertemukan dengan teman masa kecilnya itu. Dan kali ini, tidak ada keraguan sama sekali di antara mereka.

Ciuman itu tidak bisa dikatakan lembut karena Iwaizumi tidak mau menahan dirinya lagi. Tidak di saat ia akhirnya diberi kesempatan untuk merasakan lembutnya bibir Oikawa yang terasa seperti campuran mint dan alkohol. Iwaizumi memang belum mengatakan apa-apa, tapi ia berharap, Oikawa bisa merasakan apa yang selama ini sudah ia pendam melalui ciuman mereka.

Tubuh Oikawa sedikit terdorong akibat intensitas ciuman yang diberikan Iwaizumi sampai punggungnya menempel ke sandaran sofa. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang Iwaizumi untuk menarik pria itu lebih dekat, sampai tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Sedangkan tangan Iwaizumi mengusap rahang Oikawa dengan lembut meskipun ciuman yang diberikan pria itu justru kebalikannya.

Iwaizumi terus melumat bibir Oikawa dengan gerakannya yang terlampau sangat lihai. Bahkan Oikawa sempat kewalahan saat bibir bawahnya dijilat sehingga refleks ia membuka mulutnya dan memberikan kesempatan bagi Iwaizumi untuk memperdalam ciuman mereka.

Sekarang Oikawa paham bagaimana orang-orang sering mendeskripsikan ciuman dengan orang yang disukai seperti membuat sekujur tubuh terasa panas, bahkan nyaris meleleh. Atau bagaimana kakinya terasa berubah seperti agar-agar sampai tidak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri.

Karena Oikawa kini merasakan itu semua saat berciuman dengan Iwaizumi — seseorang yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Entah sejak kapan perasaannya berubah, namun yang jelas, tanda-tandanya mulai terlihat saat mereka masuk SMA dan Iwaizumi semakin sering dikerubungi oleh teman-teman perempuannya. Tidak heran memang karena pria itu tampan, tinggi, jago olahraga, juga pandai dalam pelajaran. Oikawa kesal saat melihat Iwaizumi menerima perhatian dari ‘penggemar-penggemarnya’ itu.

Dan rasanya Oikawa semakin kesal saat mengetahui bahwa segala upaya untuk membuat Iwaizumi cemburu sepertinya tidak berhasil karena pria itu kebanyakan hanya diam dan memperhatikan.

Jadi siapa yang menyangka, kalau sekarang mereka malah sedang melakukan perbuatan paling intim dari batas wajar pertemanan selama ini?

Oikawa sempat mengeratkan pegangannya di pinggang pria itu dan melenguh tidak terima saat bibirnya dilepas sepersekian detik. Iwaizumi hanya mengambil napas sebentar, lalu kembali memagut bibir Oikawa dengan intens. Namun temponya sedikit berkurang dibandingkan ciuman awal mereka — seakan Iwaizumi ingin mengatakan pada Oikawa bahwa mereka masih memiliki banyak waktu di dunia untuk saling memberikan afeksi tanpa perlu menahan diri lagi. Akhirnya.

Iwaizumi sendiri rasanya tidak ingin berhenti menciumi pria yang ada di dekapannya. Ciuman mereka didominasi oleh rasa alkohol karena itulah yang paling banyak dikonsumsi Oikawa malam ini. Dan seperti alkohol juga, mencium Oikawa efeknya sungguh memabukkan, bahkan untuk sekadar berhenti dan mengambil napas kembali pun Iwaizumi sungguh tidak rela. Rasanya Iwaizumi ingin terus menciumi bibir pria itu sampai sang empunya mulai kehabisan napas dan dirinya terpaksa melepaskan bibirnya dari bibir Oikawa yang kini terlihat basah dan sedikit bengkak.

Dengan mata yang masih terpejam, Iwaizumi menempelkan keningnya ke bahu pria yang masih terengah-engah itu. Perasaannya membuncah saat merasakan napas hangat Oikawa menerpa sisi wajahnya dengan lembut. Begitu banyak yang ingin ia sampaikan, namun di saat yang bersamaan, kata-kata saja sepertinya tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Seumur hidup, belum pernah ia merasa sebahagia dan selega ini.

Barulah setelah mereka berdua mulai bisa mengatur napas, keduanya membuka mata dan tersenyum satu sama lain. Tangan Iwaizumi terangkat, lalu mengelus pipi Oikawa yang terlihat merona itu dengan lembut.

“Tooru,” Iwaizumi mulai memanggil nama temannya itu, namun Oikawa hanya mampu mengerjap pelan sambil menggigit bibirnya. Mendengar suara Iwaizumi yang berubah sedikit lebih parau dari biasanya itu memberikan efek geli dalam perutnya.

“Selama ini kita… kayak buang-buang waktu nggak sih?” tanya Iwaizumi seraya terkekeh pelan dan menatap mata Oikawa yang terlihat sedikit sayu.

“Habis ini… apa kita masih bisa disebut sebagai temen?” tanya Iwaizumi pelan karena Oikawa masih juga belum mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba ia takut sudah salah membaca sinyal yang diberikan temannya itu dan bahwa kejadian barusan hanyalah efek dari alkohol.

Namun keraguannya langsung sirna saat bibirnya tiba-tiba dikecup pelan oleh Oikawa.

“But friends don’t know the way you taste.”

Iwaizumi langsung tersenyum saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Oikawa.

“Kalau gitu… sekarang kita udah bisa jadi lebih dari sekadar temen?” tanya Iwaizumi lagi memastikan.

Oikawa hanya memutar bola matanya mendengar pertanyaan pria itu. “Tadi masih kurang apa, ya, aku udah sampai setengah teriak ke kamu segala…”

Iwaizumi tertawa dan langsung memeluk Oikawa dengan sangat erat. “Kata-kata nggak mempan buat aku, Tooru,” ucap pria itu sambil menghidu aroma parfum Oikawa tepat di bagian leher. “Dibuktiin pake tindakan, baru mempan…”

Oikawa ikut tertawa sambil menikmati dekapan hangat dari teman masa kecilnya itu.

“Hmm, berarti sekarang aku nggak perlu nahan diri lagi, kan?” Iwaizumi bertanya sambil menghujani leher Oikawa dengan kecupan-kecupan lembut. “Aku udah boleh marah kalau ada yang ngajak kenalan atau deketin kamu. Aku udah boleh marah kalau misalnya kamu iseng mau ikut ke kencan buta. Dan aku boleh marah kalau ada yang berani nyakitin kamu.”

Oikawa tersenyum mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Iwaizumi. Rasanya hatinya ingin meledak saking bahagianya karena tahu akhirnya perasaannya terbalas. Dan seperti kata Iwaizumi barusan, mulai sekarang mereka tidak perlu menahan diri lagi.

“Dan aku boleh nyium kamu kapan pun aku mau…”

Maka siapa yang bisa menolak, saat Iwaizumi kembali mendekatkan wajahnya dan memberikan Oikawa ciuman yang rasa-rasanya mampu membuatnya lupa akan namanya sendiri.


@fakeloveros

“Ngapain lo di sini?”

Oikawa mendongak saat mendengar suara yang familier tersebut menyapa gendang telinganya.

“Maksud lo apa? Gini-gini gue sering ya ke perpus. Lah lo sendiri ngapain di sini?” balas Oikawa sewot pada temannya yang hanya menyeringai lebar tersebut.

“Mau nungguin Kenma,” jawab Kuroo yang langsung mengambil tempat di depannya.

“Lagi ngapain emang Kenma?”

“Mabar sama temennya.”

Oikawa lantas mencibir. “Bucin banget lo sampai Kenma mabar aja ditungguin.”

Bukannya tersinggung, Kuroo hanya mengibaskan tangannya dengan santai. “Ah, udah biasa, kok. Pacar lo sendiri ke mana? Biasanya dia suka ngintilin lo tuh.”

“Gue suruh balik duluan,” jawab Oikawa singkat. Mendadak dirinya langsung kembali lesu mengingat hubungannya dengan Iwaizumi yang kembali canggung dan aneh. Namun kali ini dirinya tidak tahu siapa yang bersalah.

“Kenapa emang? Lagi berantem ya lo sama dia?”

“Bukan berantem, sih…” Oikawa menggantungkan kalimatnya. Ia bahkan tidak yakin apakah yang mereka lakukan sekarang bisa disebut sedang berantem atau bukan.

“Tapi? Kayak ada tapinya…” Di luar dugaan, Kuroo justru seolah memaksanya untuk bercerita. Oikawa pun menimbang-nimbang selama beberapa saat sebelum bertanya.

“Lo pernah nggak berantem sama Kenma?”

Kuroo mendengus seakan itu pertanyaan paling konyol yang pernah didengarnya.

“Ya pernah, dong. Gila, pacaran apaan namanya kalau nggak ada berantemnya sama sekali? Justru aneh, anjir, kalau ada orang pacaran yang nggak pernah berantem,” jawab pria itu, kemudian tatapannya berubah menjadi lebih curiga. “Bener ya lo lagi berantem sama Iwaizumi?”

Oikawa hanya bergumam panjang. Pandangannya jatuh pada permukaan meja yang dipenuhi oleh buku-bukunya. Ia bahkan sampai berbohong pada Iwaizumi dan mengatakan ada tugas kelompok. Padahal yang dilakukannya sedari tadi hanyalah mencoba belajar di perpustakaan, namun gagal karena pikirannya akan kembali terusik dengan masalah mereka sekarang.

“Tapi gue sama Kenma kalau berantem paling lama cuma dua hari. Percaya nggak lo?” ucap Kuroo penuh kebanggaan. “Mau tau nggak tipsnya apa?”

“Apa?” Oikawa berusaha tidak terdengar tertarik, namun dirinya penasaran juga.

“Gampang. Ko-mu-ni-ka-si. Ngomong. Bicara. Talk. Niscaya habis itu hubungan lo bakal balik adem ayem,” jawab Kuroo dengan khidmat. “Emang sih kedengerannya klasik banget. Tapi justru itu yang sering dilupain sama banyak pasangan di dunia ini. Komunikasi. Dan buang ego lo berdua sejauh-jauhnya untuk sementara. Ngomong sejujur-jujurnya soal yang lo rasain. Liat masalah itu nggak cuma dari sudut pandang lo, tapi juga sudut pandang pasangan lo. Istilahnya, lo kalau mau dimengerti, ya harus coba ngertiin pasangan lo juga. Jangan maunya enak sendiri aja.”

Oikawa tak bisa menahan dirinya untuk tidak tercengang. Ia tidak menyangka orang seperti Kuroo, yang terlihat cuek dari luar, ternyata memperhatikan hal sedetail itu dalam sebuah hubungan.

“Anjir…” Oikawa hanya mampu mengucap satu kata itu dengan takjub. “Coba lo sehebat ini juga pas pelajaran…”

“Sialan lo.”

Oikawa menggeleng-gelengkan kepalanya — tak habis pikir dengan tips yang diberikan Kuroo. Namun sedikit banyak, saran pria itu mulai ia pertimbangkan.

Mungkin, dirinya dan Iwaizumi memang hanya perlu berbicara serius.

“Gue mau nanya sesuatu deh,” Oikawa tiba-tiba terpikirkan akan satu hal, dan selagi ada orang yang bisa ditanya di hadapannya, ia memutuskan untuk menyuarakannya. “Gimana pas lo pertama kali tau kalau lo suka sama Kenma?”

Kuroo tersenyum (Oikawa harus menahan diri agar tidak bergidik geli karena itu pertama kalinya dia melihat Kuroo tersenyum begitu lembut) dan matanya menerawang seakan berusaha mengingat momen berharga yang sudah lama.

“Hmm… selain gue lebih deg-degan setiap kali ada di deket dia, gue jadi lebih aware aja sama mood dia. Dan gue juga nggak mau liat dia sedih, ngambek, marah atau khawatir. Menurut gue, ucapan yang bilang kalau lo cuma mau buat pasangan lo bahagia itu bener.”

“Kalau cemburu? Pernah nggak?” Oikawa kembali bertanya.

“Duh, salah nanya lo. Gue orangnya bukan tipe yang cemburuan gitu, sih,” jawab Kuroo sekenanya.

“Kan gue nanyanya pernah atau nggak, bukan sering atau nggak.”

“Ooohh… hehehe,” Kuroo menggaruk tengkuknya dengan malu-malu. “Pernah, tapi ya gitu. Sekelebat aja soalnya Kenma sendiri orangnya cuek. Dia nggak mikirin hal-hal yang kayak gitu.”

Oikawa mengangguk-angguk sementara otaknya berusaha memproses perkataan Kuroo.

“Iwaizumi pasti tipe yang cemburuan banget, ya?”

“Kenapa gitu?” Bukannya menjawab, Oikawa malah bertanya balik. Ia sendiri penasaran kenapa Kuroo bisa berpendapat seperti itu.

“Yaa... keliatan aja? Dia kalau ada di deket lo, kayak maunya lo ngeliat dia, dia ngeliat lo. Gitu.”

“Oh, ya?” Oikawa memiringkan kepalanya sedikit terkejut setelah mendengar pernyataan tak terduga tersebut. “Hmm… kadang-kadang dia emang aneh, sih, kalau gue nyebut-nyebut nama Ushijima depan dia… tapi masa, sih…” Oikawa berucap penuh keraguan.

Ngapain Iwaizumi cemburu? Kita, kan, nggak pacaran beneran? Oikawa bertanya-tanya dalam hati dengan bingung.

“Gue aja sadar, Oik. Masa lo nggak? By the way, bukannya itu nggak bagus. Bisa aja itu emang cara dia buat ngungkapin rasa sayangnya. I know some people emang kayak gitu waktu pacaran. Asal nggak over aja, sih, menurut gue. Dan lo tau nggak, kalau orang tuh cemburu karena biasanya dia ngerasa insecure. Bisa aja Iwaizumi ngerasa insecure gara-gara Ushijima deket sama lo as roommate? Coba aja lo kurang-kurangin nyebut nama Ushijima depan dia. Kayak yang gue bilang di awal, coba pahami dari sudut pandang pasangan lo juga.”

Kuroo menyudahi jawaban yang tak bisa dibilang singkat tersebut seraya mengangguk yakin. Oikawa sendiri lagi-lagi hanya mampu tercengang takjub mendengar jawaban bijak tersebut.

“Ini beneran Kuroo bukan, sih? Jangan-jangan lo hantu perpus yang nyamar jadi Kuroo, ya?”

Kuroo merobek satu kertas binder milik Oikawa, membentuknya seperti bola, lalu melemparnya tepat ke kepala pria itu.

“Heh, gue udah ngasih lo saran panjang lebar gini, malah dituduh hantu. Lagian mana ada hantu yang seganteng gue??” ucap Kuroo tak terima. “Justru lo yang kayak hantu soalnya tampang lo tadi dari jauh tuh kucel banget!”

Oikawa meringis, namun dirinya langsung menyerah dan tak membalas ledekan Kuroo lagi.

“Udah, jangan galau terus. Mending lo omongin dulu deh masalah lo berdua sama Iwaizumi. Tapi jangan pake emosi dan ego. Ingetin tuh tips gue tadi!” Kuroo mengingatkannya sekali lagi dengan berapi-api.

Oikawa menghela napas berat. Matanya bergulir ke arah pemandangan kampus yang terlihat dari jendela perpustakaan. Pikirannya refleks berkenala ke setiap perkataan dan sikap yang diberikan Iwiazumi padanya selama sebulan terakhir. Terkadang ia sampai lupa bahwa mereka hanya berpura-pura dan semua yang dilakukan seharusnya hanyalah akting.

Namun untuk ukuran akting, bukankah Iwaizumi terlau hebat? Oikawa bahkan nyaris yakin bahwa Iwaizumi terkadang memang menaruh perhatian lebih padanya, juga cemburu terhadap kedekatannya dengan Ushijima.

Semua terasa mustahil kecuali seandainya ternyata Iwaizumi menyu—

Oikawa langsung menggeleng dan berusaha menghilangkan kemungkinan absurd tersebut.

Nggak mungkin, kan, Iwaizumi suka beneran sama gue? Tetapi tanpa bisa ditahan, Oikawa tetap memikirkan adanya kemungkinan tersebut. Dan anehnya, justru tak ada alasan lain lagi yang terasa lebih masuk akal.

Tetapi Oikawa tidak ingin menarik kesimpulan secara asal. Karena itulah, ia memutuskan akan bertanya langsung pada pria itu nanti.


@fakeloveros

Oikawa nyaris berpikir bahwa sisa malam itu akhirnya bisa mereka habiskan dengan tenang.

Nyaris.

Setelah berbagai sambutan yang terdengar lebih membosankan dari kelas yang diajarkan dosennya, makan malam pun mulai dihidangkan. Dan untuk pertama kalinya sejak Oikawa melangkah ke dalam hall besar tersebut, ia bisa tersenyum senang melihat hidangan makanan dengan tampilan begitu menarik dan aroma yang hampir membuat air liurnya menetes. Mulai dari appetizer, main course, sampai dessert, semua ia habiskan dengan senang hati. Iwaizumi pun tidak pernah meninggalkan sisinya dan Yui pun selalu memiliki topik menarik untuk dibicarakan.

Namun Oikawa tahu ada yang tidak beres ketika tiba-tiba Yui dipanggil oleh sekelompok wanita untuk berbincang, juga saat Alisa menghampiri meja mereka dengan senyum malu-malu. Perempuan itu mengatakan bahwa Iwaizumi dipanggil oleh Ayahnya untuk diperkenalkan ke para rekan bisnis pria paruh baya itu.

Tadinya Iwaizumi sudah membuka mulut untuk menolak. Oikawa tahu, pria itu pasti tidak ingin meninggalkannya sendirian. Namun Alisa langsung memotong pria itu dan mengatakan, “nggak apa-apa. Aku yang bakal nemenin pacar kamu di sini. Kamu pergi aja.”

Oikawa mengangkat sebelah alisnya cukup terkejut. Jadi ternyata perempuan itu tahu siapa dirinya. Maka dengan sedikit dorongan di punggung, Oikawa menyuruh Iwaizumi pergi untuk mendatangi Ayahnya. Lagi pula, ia sendiri tidak ingin melihat hubungan ayah dan anak itu semakin memburuk kalau Iwaizumi tidak patuh.

Oikawa pun ditinggal berdua bersama Alisa.

Untuk sesaat, tak ada yang mengatakan apa pun di antara mereka. Oikawa terus mengesap minumannya sementara perempuan di seberangnya hanya menatap udara kosong meskipun Oikawa tahu sesekali obsidiannya akan mengarah padanya dengan tatapan ingin tahu. Oikawa memutuskan bahwa dirinya akan menunggu sampai perempuan itulah yang pertama kali bersuara.

“Nama kamu... Oikawa, kan?”

Gotcha.

Oikawa hanya mengangguk dan menunggu kelanjutan kalimat yang ingin diucapkan perempuan itu.

“Oikawa,” kali ini Alisa menyebut namanya dengan lebih yakin. Tatapan perempuan itu pun terlihat lebih fokus mengarah padanya. “Aku yakin kamu pasti tau kalau sebenernya aku mau dijodohin sama Hajime.”

Hajime? Oikawa mencibir dalam hati. Perempuan itu berani memanggil Iwaizumi dengan nama kecilnya hanya saat pria itu sedang tidak ada? Apa ini usahanya untuk menunjukkan kedekatan semu mereka?

Setidaknya Oikawa tahu bagaimana cara untuk tetap bersikap tenang. Sebutlah ini berkat pengalamannya karena harus menghadapi berbagai jenis pembeli saat bekerja sebagai pelayan kafe ataupun kasir di mini market.

“Iya, aku tau. Hajime sendiri yang pernah bilang,” Oikawa hanya menjawab singkat.

“Dan Ayahnya bakal ngelakuin segala cara supaya perjodohan ini berhasil.”

Oh, wow. “Aku tau, tapi,” Oikawa meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu menatap perempuan itu tepat di manik mata. “Hajime juga punya hak di sini untuk menolak. Dan setauku, Hajime udah nolak perjodohan itu sejak lama.”

Perempuan itu mengernyitkan alisnya sedikit. Tatapannya terlihat tak setuju. “Kamu nggak tau. Keputusan apa pun bisa berubah. Hubungan kamu sama dia pun bisa aja nggak akan bertahan lama.”

“Hmm...” Oikawa bergumam panjang dan pura-pura berpikir keras. “Kayaknya kamu belum kenal Hajime dengan baik, ya? Maksudku, kamu pasti nggak tau Hajime orang yang kayak apa sampai bisa berkesimpulan gitu.”

“Terus kenapa? Apa karena kamu pacarnya, jadi kamu mau bilang kalau udah kenal Hajime dengan baik?” tantang Alisa seraya menaikkan dagunya dengan gestur angkuh.

“Oh, ya, jelas. Seenggaknya aku tau kalau Hajime orang yang menghargai banget pasangannya. Dia nggak pernah maksa, tapi juga mau tetap berargumen kalau menurutnya ada yang salah. Dia perhatian, sabar, dan walaupun kata orang-orang dia bucin tolol sama aku,” Oikawa berhenti untuk mengangkat sudut bibirnya dan memberi Alisa tatapan penuh arti. “Dia tau gimana harus tetap memosisikan dirinya. Dan kalau digabungin sama sifat aku... hmm, ya katakanlah hubungan kita berdua bakal bisa bertahan lama.”

Oikawa mengakhiri penuturannya dengan sebuah cengiran lebar sementara wajah perempuan di hadapannya terlihat memerah karena menahan marah.

“Kamu—”

“Kamu mendingan pergi dari sini sekarang.”

Oikawa menoleh dan mendapati Iwaizumi sudah kembali dan berdiri di dekatnya. Namun pria itu mengarahkan tatapannya ke arah Alisa dengan ekspresi cukup datar.

Alisa menggigit bibirnya dan tanpa mengucap satu patah kata pun segera berdiri dari duduknya. Namun sebelum perempuan itu melangkah lebih jauh, Iwaizumi kembali bersuara.

“Dan tolong jangan panggil aku Hajime lagi. Hubungan kita nggak sedekat itu.”

Berbeda dengan ekspresinya yang seakan tidak menampilkan emosi apa pun, ucapan Iwaizumi justru terdengar sangat dingin. Alisa hanya melempar pandangan tak suka sekali lagi sebelum melangkah menjauhi meja mereka.

Oikawa menghela napas panjang dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Dia bahkan tidak sadar dari tadi sudah duduk terlalu tegak saat berargumen dengan perempuan itu. Rasanya seperti baru saja ada beban yang diangkat dari bahunya.

Beberapa detik berlalu, namun Iwaizumi belum juga ikut duduk di sebelahnya.

“Kok nggak duduk?” tanya Oikawa sambil mendongak menatap Iwaizumi yang masih berdiri menjulang di sebelahnya.

Iwaizumi memandanganya lama untuk beberapa saat sebelum tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya ke arahnya.

“Would you like to dance with me?”

Saat itulah Oikawa baru tersadar bahwa ada musik lembut yang mengalun di sekeliling mereka. Oikawa menegakkan tubuhnya kembali dan memperhatikan beberapa pasangan bahkan sudah turun ke lantai dansa dan mulai menari.

Oikawa lalu mengembalikkan tatapannya ke arah Iwaizumi yang masih menunggu jawabannya dengan sabar. Ia yakin ada pengaruh alkohol yang membuatnya menyambut uluran tangan itu dengan berani dan penuh percaya diri.

“Of course, sir.”

Iwaizumi lantas menuntunnya ke lantai dansa di mana para pasangan tengah menikmati musik yang mengalun tersebut. Oikawa tersenyum malu saat Iwaizumi berbalik ke arahnya dan mulai meletakkan kedua tangannya di sisi pinggangnya.

“Tapi kamu harus tau... aku nggak bisa dansa sama sekali,” Oikawa berbisik rendah sementara Iwaizumi mulai menggerakkan tubuh mereka pelan mengikuti musik.

“Nggak apa-apa. Ikutin aja gerakan aku.”

Oikawa mengangguk singkat, lalu mulai merilekskan tubuhnya dan mengikuti gerakan pelan pria itu. Tak beberapa lama, ia merasa mulai terbiasa dan bisa menyesuaikan tanpa harus tersandung kakinya sendiri.

“Jadi... kamu bukan cuma jago olahraga, tapi jago dansa juga, ya?” godanya pada pria yang malam ini terlihat sangat tampan dalam balutan setelan serba hitam.

Iwaizumi tertawa pelan dan Oikawa rasanya seperti terbutakan oleh pemandangan tersebut.

“Menurutku dansa juga termasuk olahraga,” jawab pria itu setelah tawanya reda.

“Oh, ya? Kamu kalau latihan dansa biasanya sama siapa emang?”

“Kak Yui.”

Oikawa mengangkat sebelah alisnya tak percaya. “Kak Yui doang?”

“Ditambah sama kamu sekarang.”

Oikawa bisa merasakan gesekan aneh di perutnya kembali muncul.

“You really know how to flirt. Mantan pacar kamu dulu pasti banyak, deh,” ucap Oikawa selagi berusaha mengusir rasa gugupnya yang tiba-tiba datang.

“Am I flirting?” Iwaizumi malah bertanya balik.

“You are.”

“Does it work?”

Oikawa memilih untuk tak menjawabnya. Ia berdeham dan memfokuskan tatapannya ke arah kerah kemeja hitam pria itu.

“Aku denger apa yang kamu bilang tadi ke Alisa.”

Oikawa tetap diam, namun ia mengembalikan tatapannya ke arah Iwaizumi yang kini tengah berbicara dengan serius.

“Rasanya mau berapa kali pun aku ngucapin terima kasih ke kamu kayaknya nggak bakal cukup. Thank you for... helping me. Even kalau dari kata-kata kamu ada yang bohong pun aku bakalan tetap berterima kasih.”

Oikawa buru-buru menggeleng. “Nggak ada dari kata-kata aku barusan yang bohong, kok. Aku serius pas ngomong kayak gitu.”

“Kalau gitu, apa kamu serius pas bilang hubungan kita bakal bertahan lama?”

Oikawa tertegun karena tidak menyangka Iwaizumi akan menanyakan hal seperti itu. Sekarang ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena bukankah hubungan mereka hanya—

“Karena aku serius berharap mau hubungan kita bertahan lama.”

Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.

“Hajime, apa—”

“Kalau nggak setuju sama harapanku barusan, kamu bisa dorong aku habis ini.”

Tidak ada kata-kata dari pria itu yang terproses di otaknya dengan baik, terutama yang terakhir. Benaknya langsung kosong dan yang terpikirkan olehnya hanyalah betapa jarak mereka begitu dekat, wangi bergamot yang semakin tercium, juga bagaimana ia sampai lupa bernapas saat bibir Iwaizumi tiba-tiba menempel di bibirnya.

Oikawa refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Peringatan Iwaizumi sebelumnya terlupakan begitu saja. Sekelebat, Oikawa jadi teringat saat dirinya mencium Iwaizumi selama dua detik di lapangan voli dulu. Namun ia sadar, dibandingkan dengan sekarang, yang waktu itu bahkan tidak bisa dihitung sebagai ciuman.

Karena di momen inilah Iwaizumi benar-benar menciumnya.

Awalnya pria itu hanya menempelkan bibir mereka — seakan mengetes reaksi apa yang akan diberikan Oikawa. Namun tak beberapa lama, bibir pria itu mulai bergerak pelan di atas bibirnya. Oikawa menarik napas dengan gemetar dan tanpa sadar mengeratkan rangkulannya di sekeliling leher pria itu. Iwaizumi semakin maju untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Iwaizumi memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan untuk mendapat posisi yang pas agar bisa memperdalam ciuman mereka.

Detik itu juga, Oikawa melupakan fakta bahwa mereka berada di tempat terbuka. Banyak orang di sekitar mereka yang bisa saja menyaksikan. Namun di saat yang bersamaan, ia sendiri tidak peduli. Ia hanya terfokus pada Iwaizumi, sentuhan pria itu, juga hangat dari tubuh mereka yang saling menempel. Oikawa bahkan yakin tubuhnya sempat terdorong ke belakang saat pagutan Iwaizumi di bibirnya terasa semakin keras dan menuntut. Oikawa hampir saja membuka bibirnya untuk memberi izin pada pria itu kalau tidak secara tiba-tiba Iwaizumi menarik dirinya menjauh.

Oikawa membuka matanya dengan terkejut. Napasnya sedikit terengah. Ia bahkan tidak sadar mereka telah berciuman cukup lama sampai musik telah berganti. Namun keduanya hanya menatap satu sama lain tanpa bersuara.

Iwaizumi tiba-tiba menghela napas dan memejamkan matanya untuk sesaat. Pria itu kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Oikawa sambil merengkuhnya. Mereka tak lagi bergerak untuk berdansa dan hanya berdiri diam seperti itu di tengah puluhan pasang mata yang diam-diam mengawasi.

Tetapi tak ada dari mereka yang peduli.

“Maaf.”

Iwaizumi berucap pelan seraya mengeratkan pelukannya dengan kepala yang masih ditenggelamkan di bahu Oikawa.

“Hampir aja aku...” Iwaizumi menahan ucapannya dan hanya helaaan napas yang terdengar.

Apa?

Oikawa ingin bertanya, tapi dia sendiri tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Pikirannya masih kosong dan dirinya seakan sulit untuk memercayai apa yang baru saja terjadi. Jadi ia diam saja dan membiarkan Iwaizumi terus memeluknya — seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun.

Kali ini Oikawa yakin Iwaizumi pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang bertalu sangat kencang.

Atau mungkin juga tidak karena suara detak jantung pria itu pun sama kencangnya sekarang.


YEAAAAH THEY FINALLY KISSED!!! Hehe selamat hari Senin semua~

@fakeloveros

“Harusnya aku nggak setuju buat dateng.”

Oikawa mengucapkannya pelan, namun ia tahu pria di sebelahnya dapat mendengarnya dengan jelas. Oikawa berusaha tidak memedulikan suara tawa tertahan dari sebelahnya dan melanjutkan monolog kekhawatirannya sejak sepuluh menit yang lalu.

“Gila. Gimana kalau tiba-tiba aku kesandung atau apa gitu? Gimana kalau misalnya aku lagi jalan, terus nggak sengaja nyenggol minuman, eh minumannya tumpah ke baju orang yang harganya lebih mahal dari sewa apartemenku selama setahun? Kayak di dorama-dorama gitu? Atau misalnya aku—”

“Tooru.”

Oikawa langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat mendengar namanya disebut pelan. Tak beberapa lama, tangannya langsung digenggam erat seolah pria di sebelahnya sedang memberinya kekuatan dan ketenangan.

“You'll be fine. Nggak usah tegang gitu,” ujar Iwaizumi seraya menampilkan seulas senyum kecil. “Lagian ada aku, kan.”

Oikawa menghela napas berat. Matanya kembali tertuju ke arah pintu masuk hotel yang sudah ramai dengan para tamu undangan. Sejauh mata memandang, orang-orang yang hadir terlihat seperti pejabat-pejabat berkedudukan tinggi dengan penampilan begitu rapi dan mewah. Melihatnya saja sudah membuat nyali Oikawa kembali ciut. Secara tidak sadar tangannya kembali bergerak ke arah kerah kemejanya sebelum dihentikan oleh pasangannya malam itu.

“Udah rapi, kok. You look splendid,” lagi-lagi Iwaizumi menenangkannya sementara Oikawa terus menyesali keputusannya dalam hati. Hanya karena Ayah Iwaizumi yang meminta pertolongannya, bukan berarti seharusnya Oikawa langsung menyetujui begitu saja. Apalagi setelah mengetahui motif sebenarnya dari ajakan ke pesta malam ini. Tapi nasi telah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana ia memanfaatkan keadaan untuk membuat bubur yang enak.

“Oke,” Oikawa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Oke. Aku siap. Ayo kita masuk sekarang.”

Tanpa menunggu jawaban Iwaizumi, Oikawa keluar dari mobil yang sedari tadi sudah mereka parkirkan. Saat Iwaizumi sudah berada di sampingnya, pria itu lantas merengkuh pinggangnya supaya jarak di antara mereka terkikis. Oikawa berusaha menenangkan jantungnya yang mendadak berdetak dua kali lebih cepat sembari mereka mulai berjalan menuju pintu masuk hotel.

“Ayah Ibu kamu udah dateng?” Oikawa berbisik pelan untuk mengalihkan pikirannya dari tangan Iwaizumi yang melingkar di pinggangnya. Pria itu terlihat tenang seperti biasa, seakan sudah terbiasa dengan acara besar seperti ini. Oikawa benar-benar bersyukur ia tidak sendirian dan ada Iwaizumi yang menuntunnya sampai mereka sudah melewati pintu masuk.

“Katanya sih udah,” jawab Iwaizumi tak beberapa lama begitu mereka tiba di dalam. Setelah melewati pintu masuk hotel, mereka diarahkan menuju pintu besar lainnya yang di dalamnya sudah disulap menjadi ruangan mewah dengan lampu-lampu kristal besar menghiasi, dengan meja-meja bundar beralaskan kain linen berwarna putih tersebar, juga para pelayan yang bolak-balik membawakan nampan berisi minuman berwarna bening. Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali — berusaha membiasakan diri dengan pemandangan yang biasanya hanya dia lihat di dalam film-film.

Tiba-tiba, ada gelas sampanye berwarna bening yang muncul di periferalnya. Oikawa menoleh, dan mendapati Iwaizumi tengah menyodorkan gelas tinggi tersebut padanya.

“Aku nggak bisa minum malam ini karena harus nyetir. Jadi kamu aja yang wakilin,” Iwaizumi tersenyum dan langsung menyerahkan minuman itu sebelum Oikawa menjawabnya. “Kayaknya kamu butuh ini buat nenangin diri juga.”

“Thanks,” Oikawa bergumam selagi menerimanya. Langsung saja ia menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa. Saat ada pelayan lain yang lewat dengan nampan berisi minuman yang sama, tanpa berpikir dua kali Oikawa langsung meletakkan gelas yang sudah habis dan mengambil yang baru.

“Pelan-pelan minumnya, Tooru,” Iwaizumi memperingatkan dari sebelahnya.

Tooru. Entah sejak kapan panggilan nama kecilnya yang keluar dari mulut Iwaizumi mulai membuat perutnya bereaksi aneh. Rasanya seperti ada gesekan diikuti sensasi hangat serta keinginan untuk mendengar nama itu sekali lagi keluar dari bibir pria yang masih merangkulnya erat. Oikawa bertanya-tanya dalam hati apakah ia sudah mulai mabuk hanya gara-gara satu gelas alkohol, sampai bisa memikirkan hal aneh seperti itu.

Tidak. Bahkan tanpa adanya pengaruh alkohol pun akhir-akhir ini dirinya sering merasa aneh setiap kali berada di dekat Iwaizumi.

Selagi memikirkan berbagai kemungkinan penyebabnya, mendadak rengkuhan Iwaizumi di pinggangnya mengerat. Oikawa baru ingin bertanya ada apa, namun jawaban itu segera muncul dalam sosok Ayah Iwaizumi yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Hajime, ada seseorang yang ingin Ayah kenalkan sama kamu.”

Tanpa menyapa, bahkan tanpa melirik ke arah Oikawa sekali pun, pria paruh baya yang malam ini tampil begitu formal, langsung mengucapkan satu kalimat itu begitu tiba di hadapan mereka. Iwaizumi sendiri tidak mengucapkan apa-apa dan hanya menatap Ayahnya tajam. Oikawa ikut terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa.

Saat seseorang itu terlihat berjalan menghampiri mereka, Ayah Iwaizumi tersenyum sangat lebar dan menoleh kembali pada anaknya. “Kamu pernah ketemu sama dia dulu. Kamu pasti inget, kan, sama Alisa?”

Perempuan bernama Alisa yang disebut oleh Ayah Iwaizumi itu sudah tiba di hadapan mereka dengan seulas senyum manis. Perempuan itu terlihat sangat anggun memakai gaun berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya yang berwarna pirang dibiarkan jatuh alami dan membingkai wajahnya yang cantik. Alisa memiliki tipe wajah yang biasanya sering dilihat dalam majalah fashion dengan brand-brand terkenal berlomba-lomba untuk memenangkan hatinya agar bisa menjadi model mereka.

Setidaknya, itu kesan pertama Oikawa saat melihat perempuan yang seharusnya menjadi jodoh Iwaizumi tersebut.

Diam-diam Oikawa melirik dari sudut matanya untuk melihat reaksi pria itu. Namun seperti dugaannya, Iwaizumi tidak menampilkan perubahan ekspresi apa pun. Pria itu tetap terlihat datar, bahkan nyaris tak tertarik.

Apakah aneh kalau Oikawa langsung merasa puas melihat reaksi Iwaizumi yang sepertinya tak terpengaruh sama sekali?

“Hajime, ini Alisa Haiba. Ayah yakin kamu sudah tau dia, hanya saja kalian belum sempat berkenalan. Alisa, kamu juga tau Hajime, kan?”

Perempuan itu mendengarkan ucapan Ayah Iwaizumi baik-baik, lalu mengangguk penuh antusias. “Tau kok, Om. Adik aku, kan, satu kampus sama anak Om. Kata Lev, Iwaizumi terkenal banget di kampusnya.”

Lev? Oikawa memiringkan kepalanya mendengar nama yang tak asing itu. Pantas saja wajah Alisa terlihat sedikit familier. Ternyata dia kakak dari Lev Haiba, salah satu anggota tim voli di kampusnya yang juga ia kenal baik. Setelah diingat-ingat, kalau tidak salah Lev memang pernah mengatakan dia memiliki seorang kakak perempuan.

“Nah, berarti bakalan gampang, kan, buat kalian supaya jadi deket. Alisa kalau mau juga bisa main ke kampusnya Hajime buat sekalian ketemu sama Lev. Nanti Hajime yang bakal—”

“Maaf,” Iwaizumi tiba-tiba memotong ucapan Ayahnya. “Aku sama Tooru mau ke tempat Kak Yui dulu. Permisi.”

Sungguh rasanya seperti deja vu saat Iwaizumi menarik Oikawa pergi dari hadapan Ayahnya begitu saja. Iwaizumi bahkan tidak memedulikan panggilan tertahan Ayahnya dan terus berjalan menarik Oikawa menuju salah satu meja bundar yang sudah ditempati oleh kakak perempuannya.

“Berani banget kamu langsung kabur,” ucap wanita itu to the point begitu mereka berdua sudah mendudukkan diri di kursi masing-masing. “Tapi kamu tau, kan, Ayah nggak bakal langsung nyerah?”

Bahkan tanpa Iwaizumi menjawabnya pun Oikawa paham bahwa itu pertanyaan retoris. Ia bisa memperkirakan bahwa Tuan Iwaizumi pastilah bukan tipe yang mudah membiarkan segala sesuatu berjalan tidak sesuai keinginannya.

Dan kesan seperti itu jugalah yang Oikawa dapatkan dari Iwaizumi.

“By the way, Tooru, hari ini kamu keliatan ganteng banget!” tiba-tiba perhatian kakak perempuan Iwaizumi sudah tertuju padanya. Obsidian wanita itu terlihat berbinar selagi memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. “Kamu cocok banget pake warna biru gelap gini. Siapa yang milihin? Pasti Hajime, deh!”

Oikawa bisa merasakan ada semburat merah yang muncul di pipinya mendengar pujian tersebut. Dirinya hanya mengangguk sementara otaknya merekayasa ulang adegan saat mereka berdua berbelanja kemarin. Iwaizumi bahkan tidak hanya membelikannya satu, namun lima setelan jas mahal sekaligus untuk dirinya kemarin. Oikawa sudah berusaha menolak, namun pria itu bersikeras dengan beralasan bahwa di masa pacaran kontrak mereka pesta seperti ini pasti tidak hanya akan ada sekali. Oikawa mau tak mau menyetujui dalam hati karena setelan jasnya sendiri pun tidak akan bisa disandingkan dengan milik pria itu. Jadi pada akhirnya, dia menerima dan membawa pulang semuanya.

“Yah, tapi, setelan bagus pun bakalan keliatan biasa aja kalau yang pake juga nggak ganteng. Kamu sadar nggak, sih, dari tadi banyak yang ngeliatin kamu? Terutama cewek-cewek, tuh. Mungkin karena mereka juga baru pertama kali ngeliat kamu, ya...”

“Eh?” Oikawa mendongak dan memperhatikan para tamu undangan di sekitar mereka yang memang didominasi oleh kaum hawa. Benar saja, ternyata ada beberapa pasang mata yang tengah mengawasinya secara terang-terangan. Bahkan saat Oikawa membalas tatapan mereka, para wanita itu tidak merasa malu dan terus memperhatikannya dengan tertarik. Oikawa jadi merasa seperti santapan lezat yang sedang diincar oleh para hewan yang kelaparan di tengah gurun.

Oikawa menelan salivanya susah payah, lalu menoleh ke arah Iwaizumi untuk meminta afirmasi. Namun Oikawa tidak sadar bahwa Iwaizumi ternyata duduk sangat dekat dengannya. Saat dirinya menoleh ternyata Iwaizumi pun tengah mendekatkan kepalanya untuk berbisik.

“Nggak usah peduliin mereka. Orang-orang di sini emang selalu kayak gitu. Mereka bakal penasaran sama wajah baru,” Iwaizumi berkata dalam bisikan rendah tepat di depan telinganya. Oikawa harus menahan dirinya agar tidak bergidik saat napas hangat pria itu berhembus mengenai lehernya. Aroma bergamot yang familier pun mulai muncul dan Oikawa diam-diam menghirupnya untuk mengingatnya.

Mendadak lampu di sekitar mereka mulai sedikit diredupkan sehingga menyisakan panggung sebagai pusat perhatian. Tak beberapa lama terdengar suara sambutan dari seorang pria dan Oikawa menghela napas lega saat Iwaizumi menarik tubuhnya menjauh. Oikawa khawatir, semakin mereka sering berdekatan malam ini, bisa saja suara jantungnya akan semakin terdengar keluar.


@fakeloveros

Oikawa tidak pernah melihat Iwaizumi semarah itu.

Iwaizumi memang bukan orang yang sering tersenyum, bahkan Oikawa yakin bisa menghitung dengan jari pernah berapa kali ia mendengar pria itu tertawa.

Tapi Iwaizumi tidak pernah memperlihatkan ekspresi marah di hadapannya. Sampai sekarang.

Oikawa yakin pria itu membawa mobilnya dengan kecepatan penuh karena kalau tidak, mana mungkin 20 menit kemudian Iwaizumi sudah muncul dan melewati pintu restoran hotel dengan langkah cepat serta tatapan menusuk pada Ayahnya sendiri. Oikawa baru akan membuka mulut untuk menyapa pria itu, namun tangannya langsung ditarik sampai ia berdiri dari duduknya. Gerakan yang sangat tiba-tiba itu membuat tubuhnya sedikit terhuyung, tetapi Iwaizumi langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, lalu menariknya sedikit paksa untuk segera berjalan. Oikawa pun panik dan berusaha menahannya seraya menoleh ke belakang — ke arah Ayah Iwaizumi yang hanya menyaksikan dengan tatapan tertarik.

“Hajime—”

“Hajime.”

Panggilan dari Ayah pria itulah yang menghentikan langkah mereka berdua.

“Kamu bahkan nggak mau nyapa Ayah sekarang?”

Oikawa bisa merasakan genggaman di tangannya sedikit mengerat. “Kalau Ayah nggak tiba-tiba manggil Tooru ke sini tanpa sepengetahuanku, mungkin lain lagi ceritanya,” jawab Iwaizumi dengan nada dingin. “Aku harap Ayah nggak akan ngelakuin hal kayak gini lagi. Ayah nggak berhak ikut campur soal hubunganku. Itu perjanjian kita, kan?”

Tanpa menunggu jawaban dari Ayahnya, Iwaizumi kembali menarik tangan Oikawa supaya mereka bisa segera keluar dari sana. Oikawa terlalu panik dan bingung sampai ia tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti pria itu keluar.

Bahkan ketika Iwaizumi membukakan pintu mobil untuknya, juga saat pria itu sudah masuk dan menjalankan mobil, tidak ada di antara mereka yang mengatakan apa pun. Oikawa melirik lewat kaca spion tengah ke arah kursi belakang. Ada tas serta buku-buku Iwaizumi yang sepertinya habis dilempar dengan asal oleh pemiliknya.

“Kamu.. udah selesai kelas? Habis ini nggak ada lagi?” Oikawa akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan tersebut.

“Nggak ada.”

“Ooh…”

Hening lagi.

Oikawa diam-diam menghela napas. Sepertinya Iwaizumi tidak bisa diajak berbicara untuk sekarang.

“Apa kamu keberatan kalau ke tempat aku sekarang?”

Oikawa menoleh dengan cepat saat pertanyaan itu terlontar dari mulut pria di sebelahnya. “Ke tempat kamu? Sekarang?”

“Iya, aku perlu… nenangin diri sebentar. Dan aku yakin ada yang mau kamu omongin juga sama aku.”

Oikawa terdiam, tapi dia bisa melihat cengkeraman Iwaizumi di setir mobil menguat untuk beberapa sekon. Iwaizumi pastilah masih menahan emosinya sampai sekarang.

“Hmm, ya udah…” Oikawa akhirnya menjawab.

Iwaizumi menghela napas, kemudian dengan satu tangan mengusap wajahnya dengan kasar.

“Maaf, aku narik paksa kamu tadi… padahal kamu masih sakit.” Tanpa menunggu jawaban Oikawa, pria itu lantas menyentuh keningnya dengan satu tangan, sedangkan matanya tetap tertuju ke jalanan.

“Kamu masih demam. Kenapa mau-mau aja diajak keluar?”

Oikawa meringis kecil mendengar pertanyaan bernada tajam itu. Dirinya lalu menjawab pelan, “soalnya yang ngajak keluar Ayah kamu, kan.”

Iwaizumi menarik tangannya dari kening Oikawa, lalu kembali menghela napas. Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka, bahkan ketika mereka sudah sampai di suatu kawasan elit dengan bangunan-bangunan apartemen mewah yang mengelilingi.

Oikawa menelan salivanya, lalu mengikuti Iwaizumi masuk ke dalam salah satu bangunan tinggi berinterior mewah. Ada resepsionis yang langsung menyapa mereka dengan begitu ramah. Oikawa menunduk dengan canggung, lalu cepat-cepat mengikuti Iwaizumi menuju lift.

Bahkan sesampainya mereka di dalam apartemen besar milik pria itu, Iwaizumi tetap diam seribu bahasa. Iwaizumi hanya menyuruhnya duduk di ruang tamu sebelum menghilang menuju dapur. Oikawa pun patuh, meski matanya terus bergerak mengagumi setiap sudut apartemen Iwaizumi yang terlihat simpel dan rapi. Sungguh jauh berbeda dengan apartemennya yang ditinggali bersama Ushijima.

Beberapa menit kemudian, Iwaizumi muncul kembali dari arah dapur dan berjalan ke arahnya sambil membawa segelas minuman yang masih mengepulkan asap tipis. Saat Iwaizumi sudah berada di depannya, barulah ia bisa mencium aroma minuman itu. Teh chamomile.

Oikawa menerimanya dengan senang hati, lalu mencicipinya sedikit untuk mengetahui kadar hangatnya. Tanpa sadar, dirinya menghela napas panjang saat cairan hangat itu masuk ke perutnya. Oikawa juga tidak sadar bahwa Iwaizumi sudah duduk di sampingnya dan mengamatinya dengan fokus tak terbagi.

“Gimana kamu bisa ketemu Ayahku?” pria itu mulai bertanya.

Oikawa memejamkan mata selagi menghirup aroma teh chamomile-nya dalam-dalam. Namun ia tetap mendengar pertanyaan Iwaizumi dan memutuskan untuk menjawab sejujur-jujurnya.

“Sekretaris Ayah kamu yang ngehubungin aku duluan. Katanya tau nomor aku dari Kakak kamu.”

“Terus apa yang kamu omongin sama Ayah aku?”

Oikawa berhenti menghirup aroma tehnya, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Iwaizumi seakan tidak berkedip saat menanti jawabannya.

Dan Oikawa sendiri sedang tidak ingin berbasa-basi.

“Ayah kamu minta tolong aku buat bujuk kamu dateng ke pesta yang bakal diadain rekan kerjanya minggu ini,” Oikawa menjawabnya dalam satu tarikan napas. Saat keadaan kembali hening dan Oikawa mencoba mengamati ekspresi Iwaizumi, pria itu justru terlihat tenang seakan sudah menduga apa yang barusan dikatakannya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku… bukan jawab, tapi lebih tepatnya, sih, aku setuju buat dateng ke… pesta… itu…” Oikawa segera membungkam mulutnya rapat-rapat saat Iwaizumi akhirnya mulai menampakkan perubahan ekspresi setelah mendengar jawabannya.

“Kamu setuju buat dateng?” Iwaizumi bertanya di antara rahangnya yang terkatup keras. “Kamu beneran mau dateng ke pesta itu?”

“Ngg…” Oikawa berpikir sebentar. “Iya…? Maksudku, kita cuma perlu dateng, kan? Nggak bakal ngapa-ngapain? Lagian katanya Ayah kamu mau ngenalin kamu ke seseorang…”

Kali ini Iwaizumi menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa keras. Oikawa merasa bingung, tapi dia tetap diam dan menunggu sampai pria itu sendiri yang mau mengatakan alasannya — alasan mengapa Iwaizumi sebegitu kerasnya menolak ajakan Ayahnya untuk datang ke pesta tersebut.

Iwaizumi kemudian menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuh, lalu menoleh ke arah Oikawa. Ekspresi pria itu sungguh tak terbaca.

“Apa kamu tau siapa orang yang mau dikenalin sama Ayahku itu?”

Oikawa menggeleng.

“Orang yang mau dijodohin sama aku.”

“Hah?!”

Iwaizumi tersenyum, seakan reaksi terkejutnya barusan sangat menghibur pria itu. Namun Oikawa benar-benar terkejut dan hanya mampu tercengang. Untung saja barusan gelasnya sudah ia letakkan di atas meja. Kalau tidak, pastilah gelas itu sudah hancur berkeping-keping sekarang di atas lantai.

“Ka-kamu serius? Tau dari mana emang??” tanya Oikawa, masih diliputi oleh keterkejutan.

“Well, he's not very subtle. Aku bisa nebak dengan jelas kalau emang itu tujuannya. Nggak ada lagi alasan lain.”

“Tunggu sebentar,” Oikawa mengangkat satu telunjuknya sebagai gestur meminta waktu untuk mencerna informasi tersebut. “Tapi… Ayah kamu tau aku. Maksudku, beliau tau aku sebagai pacar kamu. Dan kamu masih diminta buat ketemu orang yang mau dijodohin sama kamu itu? Maksudnya apa?”

Senyum Iwaizumi belum pudar dari wajahnya, bahkan kini terlihat lebih lebar dari sebelumnya. “Tooru,” Iwaizumi menyebut namanya penuh kelembutan dan kesabaran. Persis seperti seorang ayah yang tengah berbicara pada anaknya. “Itu cara halus Ayahku buat nolak hubunganku dengan siapa pun kecuali sama pilihannya.”

“Oh.”

Iwaizumi masih tersenyum.

“Even… misalnya kamu punya orang yang bener-bener disuka, terus kamu ngeyakinin Ayah kamu kalau orang itu udah jadi satu-satunya buat kamu. Apa kamu bakal masih dipaksa kayak gini?”

Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya. “Bukannya itu yang lagi aku lakuin sekarang? Ngeyakinin Ayahku?”

“Tapi kamu, kan, nggak beneran suka sama aku.”

Oikawa menjawab dengan bingung, sementara Iwaizumi hanya menatapnya lama. Pria itu tetap membisu seraya memandangnya lama sampai Oikawa merasa jengah sendiri. “Apa?”

“Nggak, cuma…” Iwaizumi tertawa kecil, meskipun di telinga Oikawa tawa itu terdengar pahit. “Kamu lebih naif dari yang aku duga.”

Oikawa menyatukan alisnya dengan tak mengerti.

Iwaizumi mengibaskan tangannya seolah berusaha mengenyahkan topik itu. “Terus gimana? Kamu masih mau dateng?”

Oikawa mengangkat kedua bahunya dan menghela napas berat. “Nggak tau. Gara-gara kamu bilang tujuan Ayah kamu sebenernya itu, aku jadi ngerasa nggak enak karena udah setuju buat dateng. Tapi kalau aku beneran nggak dateng, kok, kayaknya malah jadi nggak sopan… dan itu bukannya bakal jadi nilai minus buat kita berdua? Maksudku, kalau masih mau ngeyakinin Ayah kamu soal hubungan kita berdua, ya...”

Oikawa melirik Iwaizumi yang terlihat tengah berpikir keras. Jujur, ia benar-benar merasa tidak enak sekarang karena sudah seenaknya menyetujui ajakan datang ke pesta itu.

“Tapi kalau kamu beneran nggak mau dateng—”

“Nggak. Kita dateng aja.” Mendadak, Iwaizumi memotong dengan raut wajah yang begitu serius. “Kamu bener. Semakin aku nolak, justru Ayahku bakal semakin gencar. Dan lagi, aku justru bisa manfaatin momen itu buat buktiin ke Ayahku kalau aku udah bener-bener yakin sama pilihanku.”

Rasanya Oikawa ingin mengingatkan Iwaizumi bahwa hubungan mereka sesungguhnya tidak akan berjalan lama. Suatu saat nanti, Iwaizumi pasti akan menemukan orang lain yang benar-benar disukainya. Orang yang benar-benar dipacarinya, dan bukan untuk kamuflase semata seperti dirinya sekarang.

Tiba-tiba pemikiran bahwa Iwaizumi akan menemukan orang lain membuat Oikawa kesal. Dia buru-buru meraih gelas berisi tehnya dan meminum banyak-banyak demi menelan kekesalan yang muncul tiba-tiba tersebut. Lagi pula, kenapa Oikawa harus merasa kesal? Iwaizumi, kan, bukan siapa-siapanya selain teman biasa. Dia tidak punya hak apa pun atas pria itu.

”...Kamu bakal bantuin aku, kan?”

“Eh? Hah? Sori, barusan kamu bilang apa?” Oikawa sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Iwaizumi masih mengajaknya berbicara.

“Aku nanya, kamu bersedia bantu aku, kan, pas lagi di pesta itu nanti?”

“Ooh, iyalah, jelas. Tapi bantuin gimana emang?”

“Kita udah pernah ciuman, kan?”

Pertanyaan Iwaizumi hampir saja membuat Oikawa tersedak tehnya sendiri. “H-hah? Ciuman?”

Iwaizumi mengangguk. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Oikawa yang terlihat gelagapan.

Dan pertanyaan Iwaizumi selanjutnya hampir membuat jantung Oikawa jatuh ke dasar perutnya.

“Menurut kamu, apa kita bisa ngelakuin itu untuk kedua kalinya? Tapi kali ini di depan orang yang lebih banyak.”

Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali — tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut. Ia pun tak tahu apakah Iwaizumi serius atau tidak dengan pertanyaannya.

“Aku bilang dulu, supaya nanti kamu nggak langsung kabur lagi kayak waktu itu,” Iwaizumi melanjutkan saat dilihatnya Oikawa masih diam saja. Pria itu tiba-tiba tertawa saat wajah Oikawa berubah menjadi semerah tomat karena menahan malu.

“Jadi nanti jangan kabur, ya? Temenin aku sampai pestanya selesai.”

Ucapan itu tidak lagi terdengar seperti tengah menggodanya, namun lebih seperti permohonan anak kecil yang tidak ingin ditinggal oleh teman bermainnya.

Oikawa tak punya kuasa untuk menolaknya, jadi dirinya mengangguk dan menjawab penuh determinasi.

“Iya, pasti bakal aku temenin sampai akhir.”


Happy Saturday, folks!

@fakeloveros

Oikawa menarik ritsleting jaketnya sambil mengecek penampilannya yang sudah rapi di depan cermin. Wajahnya masih terlihat agak pucat akibat sakit yang dideritanya, namun hal itu tidak menghalangi Oikawa untuk memilih pakaian terbaik yang dimilikinya demi bertemu dengan ayah 'pacar' bohongannya.

Oikawa sudah menimbang-nimbang sejak tadi pagi, apakah dia harus memberitahukan hal ini pada Iwaizumi atau tidak. Atau lebih baik merahasiakannya sesuai yang dikatakan sang sekretaris? Mengingat hubungan mereka hanya dilandasi atas sebuah perjanjian, Oikawa khawatir pertemuan diam-diam ini justru akan menempatkan Iwaizumi dalam situasi yang menyulitkan pria itu nantinya. Tentu saja itu menjadi hal terakhir yang diinginkan Oikawa. Walaupun tidak sepenuhnya paham, tapi ia bisa meraba adanya ketegangan antara anak dan ayah itu. Dan Oikawa lagi-lagi khawatir apa pun yang akan mereka bicarakan nanti justru akan semakin menyulitkan Iwaizumi.

Oikawa menghela napas dan mengecek handphone-nya. Barusan ada pesan masuk dari Pak Takeda yang mengumumkan bahwa pria itu akan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Oikawa pun memeriksa penampilannya sekali lagi di depan cermin, lalu bergegas keluar kamar.

Oikawa memilih untuk menunggu di depan bangunan apartemennya sampai sang sekretaris tiba. Selain gugup, otaknya pun terasa kosong. Ia tidak tahu harus mempersiapkan apa. Tidak tahu harus mengekspektasikan apa. Dia bahkan tidak tahu orang seperti apa Ayahnya Iwaizumi karena Iwaizumi sendiri hanya menceritakan tentang keluarganya dalam garis besar. Kalau sudah begini, Oikawa hanya bisa pasrah dan menyerahkan pada instingnya saja nanti.

Tak sampai sepuluh menit, ada mobil silver berhenti tepat di depannya. Ketika jendela mobil diturunkan, terlihat seorang pria yang sepertinya berumur 40-an tersenyum ke arahnya. Oikawa berasumsi, pria itu pastilah Pak Takeda.

“Tuan Oikawa?” sapa pria itu sopan. Oikawa hanya mengangguk dan telinganya sedikit memerah mendengar panggilan yang tak biasa tersebut.

“Silakan masuk, Tuan. Tuan Iwaizumi sudah menunggu kedatangan Anda.”

Oikawa lagi-lagi hanya mengangguk, dan dengan canggung masuk ke dalam mobil. Begitu memastikan bahwa sabuk pengamannya sudah terpasang, pria itu tersenyum sekali lagi ke arahnya, lalu mulai menjalankan mobil.

Beberapa menit di awal perjalanan, mereka lalui dalam keheningan. Oikawa memainkan jari-jarinya dengan gugup sementara memperhatikan gedung-gedung yang mereka lewati. Pak Takeda yang ada di sampingnya tetap tenang, dan sesekali menanyakan pertanyaan ringan.

“Kalau boleh saya tahu, apa Tuan Oikawa hari ini nggak ada kelas?”

“Oh, nggak… saya… ehm, sebenernya lagi agak nggak enak badan,” jawab Oikawa yang — dengan kebetulan — setelahnya mengeluarkan batuk kecil.

Pria paruh baya yang tengah menyetir itu menoleh dengan terkejut selama beberapa detik sebelum mengembalikan fokusnya ke jalanan.

“Tuan lagi sakit?”

Oikawa menggaruk hidungnya dengan malu-malu. “Eng… iya, tapi nggak parah, kok. Cuma demam sama flu biasa.”

“Tuan, maaf, mungkin harusnya saya nggak meminta bertemu hari ini, ya? Harusnya Tuan istirahat saja di rumah,” ucap pria itu diliputi kekhawatiran. “Apa perlu saya sampaikan sekarang ke Tuan Iwaizumi supaya pertemuannya diundur…?”

“E-eh, nggak usah! Jangan! Sa-saya nggak apa-apa, kok,” Oikawa buru-buru mencegah, merasa tidak enak sendiri karena hampir saja merepotkan pria tua itu. “La-lagian Tuan Iwaizumi kan sibuk, nanti bisa tambah susah nyusun jadwalnya…”

Pria di sebelahnya meringis kecil, seolah menyetujui perkataan Oikawa.

“Kalau begitu, nanti pulangnya akan saya antarkan lagi. Tuan nggak perlu khawatir.”

“Eh? Oh, terima kasih…”

Lalu keadaan di dalam mobil kembali hening, namun Oikawa tidak tahan, dan akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ada di benaknya.

“Kira-kira… Ayahnya Hajime mau ngomongin apa, ya, sama saya?”

Dari sudut matanya, Oikawa bisa melihat Pak Takeda mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil. “Hmm… sepertinya ada kaitannya dengan Tuan Hajime. Tapi Tuan Oikawa nggak perlu khawatir. Tuan Iwaizumi orangnya baik, kok.”

Oikawa mana mungkin memercayainya. Tidak, kalau ia belum bertemu langsung.

“Kita udah hampir sampai, Tuan.”

Oikawa menegakkan tubuhnya tanpa sadar, lalu matanya memicing saat mobil yang membawanya berhenti di depan lobi masuk sebuah hotel mewah.

Langsung ada pemuda bersetelan rapi yang membukakan pintunya. Saat Oikawa menoleh ke samping, ternyata Pak Takeda justru telah turun dari mobil.

“Terima kasih…” ucapnya pelan pada pemuda itu, namun dengan terburu-buru langsung mengikuti Pak Takeda yang telah berjalan lebih dulu setelah menyerahkan kunci mobil ke pria yang membukakan pintunya tadi.

“Tuan Iwaizumi sudah menunggu di dalam. Mari ikuti saya.”

Oikawa tidak memiliki waktu untuk mengangumi interior hotel yang terlihat sangat mewah tersebut. Dengan panik, ia berusaha memastikan penampilannya tetap terlihat tidak bercela di setiap permukaan kaca yang dilewatinya. Oikawa berharap setidaknya Ayah Hajime tidak akan kecewa dan mendapatkan kesan baik dari pertemuan pertama mereka hari ini.

Pak Takeda kemudian mempersilakannya masuk ke sebuah restoran luas dengan beberapa meja bundar dan musik yang mengalun pelan dari suatu sudut. Tidak banyak orang yang ada di dalam restoran tersebut, namun dari yang hadir untuk makan, semuanya nampak berpenampilan rapi dan formal. Juga mahal.

Termasuk pria yang sudah menunggunya di meja dekat jendela saat Pak Takeda mengarahkannya ke sana.

Tidak perlu diberi tahu, Oikawa langsung tahu ia tengah berhadapan dengan siapa.

“Se-selamat siang, nama saya Tooru Oikawa. Senang bertemu dengan Anda,” Oikawa memberi salam seraya membungkuk dengan sopan. Saat menegakkan badannya kembali, Pak Takeda tengah membisikkan sesuatu pada pria itu. Oikawa menunggu dengan gugup, sementara pria yang terlihat seperti jiplakan Hajime Iwaizumi itu memperhatikannya dengan pandangan tak terbaca.

“Silakan duduk, Oikawa,” ucap pria itu setelah Pak Takeda pergi dari hadapan mereka berdua. Dengan gerakan teramat pelan, Oikawa mengangguk, kemudian mengambil tempat di hadapan pria itu.

“Saya harap kamu nggak keberatan karena tadi sudah saya pesankan makanan duluan. Kamu suka steak?”

Oikawa mengangguk lagi dan sedikit terperangah saat pria itu berbicara begitu sopan padanya diikuti seulas senyum kecil. Dari jarak yang lebih dekat, kemiripannya dengan putranya terlihat semakin jelas. Atau setidaknya, begitu menurut Oikawa.

“Maaf karena sudah tiba-tiba menghubungi kamu seperti ini. Apalagi tadi saya diberi tahu kalau kamu sedang sakit?”

Oikawa menunduk dengan sedikit malu. “Nggak apa-apa, Tuan… sakit saya juga nggak begitu parah, kok.”

“Tetap saja. Hajime pasti khawatir sekali, ya.”

Oikawa tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengerjapkan matanya beberapa kali sementara pria di hadapannya tersenyum polos.

“Alasan saya memanggil kamu ke sini karena ingin membicarakan sesuatu soal Hajime. Memang dia belum memperkenalkan kamu ke keluarga kami secara resmi sebagai pacarnya, tapi saya pikir, bisa memercayai kamu soal ini.”

“Memercayai… saya?” Oikawa mengulangi satu kata itu dengan bingung.

“Begini, dari yang saya perhatikan, sepertinya Hajime sangat menyukai kamu, Oikawa.”

Oikawa bertambah bingung. Dari mana pria itu tahu apakah putranya benar-benar menyukai dirinya atau tidak? Lagi pula, mereka kan belum lama ini baru mengenal. Jadi bagaimana kesimpulan seperti itu muncul?

“Ah, mungkin kamu bingung dari mana saya bisa tahu hal seperti itu,” pria itu tertawa kecil, dan Oikawa harus menahan dirinya agar tidak tercengang sekali lagi karena caranya tertawa bahkan sangat mirip dengan Hajime. “Anggap saja saya sebagai ayah, sering mengawasi anak-anak saya meskipun kami sudah jarang bersama akhir-akhir ini. Dan dari pengawasan itu, saya bisa mendapatkan kesimpulan seperti tadi.”

Pengawasan. Oikawa jadi teringat percakapannya dulu dengan Hajime yang mengatakan bahwa meskipun dia belum diperkenalkan, ayahnya pasti akan langsung mengetahui bahwa Oikawa adalah pacarnya. Mungkinkah memang benar ada orang yang disewa khusus untuk mengawasi Hajime selama 24 jam penuh? Seperti yang sering ada di film-film? Yang jelas, Oikawa benar-benar tidak paham jalan pikir orang kaya.

“Jadi… apa yang bisa saya bantu?” tanya Oikawa pada akhirnya, masih dengan kebingungannya mengenai arah jalannya percakapan ini.

Pembicaraan mereka sempat terpotong oleh datangnya makanan dengan aroma yang begitu menggugah selera. Namun sekalipun daging di hadapannya terlihat sangat menggoda, perutnya justru melilit tidak nyaman saking gugupnya.

“Nah, apa yang saya mau minta ke kamu sebenarnya simpel. Kamu cukup bujuk Hajime untuk datang ke pesta rekan kerja saya yang akan diadakan minggu ini. Kalian berdua, maksud saya. Karena kalau kamu setuju ikut, Hajime juga pasti akan ikut,” ucap pria itu dengan intonasi yang terdengar nyaris penuh semangat, seakan bisa mendapatkan hadiah yang sangat berharga apabila hal itu bisa terwujudkan.

Oikawa terdiam selama beberapa saat. Dia berusaha mencerna apa yang barusan didengarnya. Sakit kepalanya yang tadi sempat hilang, kini muncul lagi, namun untuk alasan yang berbeda.

“Pesta…? Tapi kenapa… Hajime harus dibujuk buat dateng?”

“Karena saya sudah berusaha mengajaknya, tapi dia terus-terusan menolak. Padahal di pesta itu, saya ingin mengenalkan Hajime dengan seseorang yang sangat penting.”

Siapa? Pertanyaan itu sudah berada di ujung lidahnya, tapi Oikawa tidak sanggup menyuarakannya. Ia masih bingung dengan permintaan yang diterimanya dan kenapa pria di hadapannya begitu yakin bahwa Hajime pasti mau datang asalkan dirinya ikut pergi.

Dia, kan, bukan siapa-siapa?

Dan lagi… dia belum pernah ke pesta mana pun. Kecuali, mungkin, pesta prom kecil-kecilan yang dulu diadakan di SMA-nya. Tapi Oikawa yakin, bukan pesta dengan skala seperti itu yang mereka bicarakan sekarang.

“Tapi… gimana kalau Hajime tetap nggak mau datang? Meski udah saya bujuk?”

Pria paruh baya di hadapannya tertawa keras, lalu menggeleng seakan pertanyaan Oikawa barusan terdengar begitu konyol.

“Kamu kayaknya masih ragu, ya, sama penilaian saya? Gimanapun, Hajime itu anak saya. Bisa dibilang saya cukup mengenal dia dengan baik,” pria itu lalu mulai mengangkat pisaunya untuk memotong daging yang ada di piringnya, seraya berbicara dengan tenang. “Kalau kamu nggak percaya, coba hubungi Hajime sekarang dan bilang kalau kamu lagi sama saya untuk makan siang.”

Oikawa mengernyitkan keningnya dengan bingung. “Bukannya pertemuan ini rahasia?”

Pria yang kini tengah mengunyah dagingnya itu mengibaskan tangannya dengan santai. “Karena kamu sudah dengar permintaan dari saya, pertemuan ini bukan rahasia lagi. Jadi nggak masalah kalau kamu mau ngasih tahu dia sekarang.”

Benak Oikawa seperti dipenuhi oleh beribu pertanyaan, tapi di saat yang bersamaan, tidak ada satu pun yang terpikirkan karena ini pertama kalinya ia menghadapi situasi di luar dugaan seperti sekarang. Entah kenapa, Oikawa merasa seperti sedang menghadapi suatu tes yang ia sendiri tidak tahu untuk apa tujuannya.

Meskipun begitu, tangannya tetap bergerak ke arah handphone-nya yang ada di dalam kantung jaket untuk menghubungi Hajime Iwaizumi.

Panggilannya diangkat setelah dering ketiga.

“Halo? Hei, aku baru keluar kelas. Kamu ada apa nelpon? Udah mendingan? Atau butuh sesua—”

“Hajime,” Oikawa memotong pria itu dengan menekan pengucapan namanya. Oikawa berdeham, melirik ke arah pria paruh baya di hadapannya yang masih makan dengan tenang, lalu melanjutkan. “Aku… lagi ada di luar sekarang.”

“Di luar? Di mana? Kenapa nggak istirahat di rumah? Emang kamu udah sembuh?” bahkan dari telepon pun Oikawa bisa mendengar nada khawatir pria itu.

“Aku lagi makan siang sama ayah kamu.”

Hening.

“Hajime? Halo? Kamu de—”

“Kirim lokasinya sekarang.”

“Apa?”

Terdengar suara tarikan napas, sebelum yang di seberang mengulangi dengan nada lebih tajam.

“Kirim lokasi kamu. Aku ke sana sekarang.”

Dan saat Oikawa memutus panggilan mereka, setelah mengirimkan lokasinya dan hanya menerima pesan singkat bertuliskan jangan ke mana-mana, pria di hadapannya memberikannya seulas senyum penuh arti.

“Jadi, gimana? Kamu bersedia bantu saya, kan?”


@fakeloveros


trigger warning: drinking


Setelah diajak berkeliling ke sebuah taman sampai pegal (atau setidaknya Oikawa yang merasa begitu karena Iwaizumi sendiri terlihat baik-baik saja), akhirnya Iwaizumi mengajaknya pergi ke restoran yang lokasinya telah diberi tahu oleh Atsumu. Reaksi pertamanya tentu saja ber-ooh panjang karena ia sudah hapal betul dengan lokasi tersebut.

“Kamu tau restorannya?” tanya Iwaizumi saat mengamati ekspresi Oikawa.

“Hm? Tau, kok. Restoran langganan anak-anak voli emang di situ tuh. Aku juga suka ke sana kadang-kadang sama Ushijima.”

“Sama Ushijima?”

Oikawa merasa ia harus mengambil jeda sebentar sebelum menjawab.

“He-eh.”

Dan ia hanya menjawab singkat.

Panggil dirinya payah karena baru menyadari hal ini sekarang. Namun sepertinya, Iwaizumi tidak begitu suka saat dia menyebut-nyebut nama Ushijima, entah itu dengan sengaja ataupun tidak. Oikawa jadi teringat percakapannya dengan Ushijima yang menyebutkan bahwa sepertinya 'pacar' bohongannya itu tidak begitu menyukai sang roommate. Waktu itu memang Oikawa langsung menyanggahnya, namun melihat sikap Iwaizumi sekarang, kemungkinan itu sepertinya cukup besar.

Oikawa sendiri tidak tahu alasannya dan ia enggan menanyakannya sekarang, terlebih lagi saat suasana di antara mereka baru saja kembali seperti dulu. Mood Iwaizumi pun terlihat lebih baik karena pria itu — meskipun tidak lebar — banyak menunjukkan senyumannya selama mereka berkeliling taman. Pemandangan itu terlihat begitu asing sampai beberapa kali Oikawa tidak fokus dengan obrolan mereka dan terpaksa meminta Iwaizumi mengulangi pertanyaannya.

Dan pria itu hanya tersenyum sambil mengulangi, sedangkan Oikawa mengerang tersiksa dalam hati.

Oikawa bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Mungkin akibat terik matahari atau perutnya yang mulai keroncongan karena tadi siang hanya menyantap dua potong sandwich. Apa pun itu, Oikawa berusaha mendorongnya jauh-jauh ke belakang.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, mereka hanya diam. Namun keterdiaman itu bukannya menimbulkan kecanggungan, melainkan sebuah kenyamanan baru. Rasanya seolah mereka baru saja menyelesaikan konflik pertama setelah saling mengenal dan ada kepemahaman baru dalam diri masing-masing terhadap satu sama lain. Bisa dikatakan, hal itulah yang membuat atmosfer di antara mereka terasa jauh lebih nyaman.

Mungkin yang namanya komunikasi itu memang perlu, sekalipun dalam hubungan pura-pura.

Saat mereka hampir tiba di depan pintu restoran, di saat yang bersamaan, Iwaizumi langsung meraih tangan Oikawa dan menggenggamnya erat. Oikawa hanya tersentak selama sepersekian detik sebelum merilekskan tubuhnya dan balas menggenggam tangan pria itu dengan lebih erat. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran bersama-sama dan mencari meja yang sudah pasti ditempati oleh paling banyak orang.

Tidak sulit menemukannya karena selain anggota tim voli sangat berisik, ada Ushijima yang kebetulan sedang berdiri dan tentu saja pemandangan tersebut cukup menarik perhatian.

Tapi Atsumu lah yang menyadari kehadiran mereka pertama kali. Sang setter dengan bersemangat langsung melambaikan tangan dan memanggil nama keduanya sampai semua anggota tim menoleh. Oikawa tersenyum lebar dan segera menarik Iwaizumi menuju meja yang sudah penuh ditempati tersebut.

“Hoooy! Beneran dateng berdua lo, ya! Dasar pasangan lagi kasmaran!” sambut Atsumu sambil mengajak keduanya ber-high five dan langsung mempersilakan duduk.

“Ngaca, dong! Lo sendiri bareng Kak Kita terus, kan,” celetuk Osamu dari seberang sambil melempari saudara kembarnya itu dengan segumpal tisu.

“Iri aja lo jadi orang! Gue sama Kak Kita, kan, emang udah sepaket!” balas Atsumu seraya menjulurkan lidahnya dan langsung merangkul kekasih yang tadi disebutkannya dengan erat. Kita sendiri tentu saja hanya diam dan menggeleng pelan — seolah sudah terbiasa menyaksikan pertengkaran si kembar dalam kehidupan sehari-harinya.

Oikawa hanya menyeringai, kemudian matanya tak sengaja menangkap tatapan Ushijima yang tengah mengarah padanya dari ujung lain meja. Saat Oikawa baru ingin menyapanya, pria itu langsung memalingkan wajah dan berbincang dengan Yaku, sang libero. Oikawa lantas mengernyitkan keningnya, tetapi memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

Seiring malam yang semakin berjalan, obrolan di sekitar meja mereka pun mengalir semakin lancar. Tak disangka, Iwaizumi dapat berbaur cukup baik dengan anggota tim yang lain. Pria itu terbukti mampu mengimbangi Atsumu yang terlihat kelebihan energi di setiap detiknya, bahkan Tsukishima, si middle blocker pendiam yang hanya mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dianggap pria itu penting. penting. Dan Tsukishima menjawab semua pertanyaan Iwaizumi, bahkan sesekali bertanya balik. Hampir semua yang ada di meja tercengang, bahkan Oikawa yakin Osamu hampir berdiri dan memberikan standing applause untuk Iwaizumi.

Malam itu, Oikawa berusaha agar dirinya lebih berhati-hati dalam menyentuh Iwaizumi. Meskipun Iwaizumi tidak marah padanya, namun tetap saja ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar menjaga sentuhan darinya tetap dalam batas normal dan sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Kalau itu terdengar masuk akal.

Maka betapa terkejutnya Oikawa saat Iwaizumi lah yang justru menggelayut manja padanya malam itu.

Dengan mata yang memicing curiga, Oikawa mengamati gelas kosong di hadapan Iwaizumi dan bertanya-tanya berapa banyak botol yang sudah dihabiskan oleh pria itu.

“Toooooruuuu~” Iwaizumi menyebut nama Oikawa dalam erangan panjang sebelum menarik tubuh pria itu lebih dekat. Iwaizumi memeluk bahu Oikawa dengan kedua tangan dari samping, lalu menenggelamkan kepalanya di leher sang kekasih sambil menghela napas panjang.

“Kamu pake parfum apa, sih...? Wanginya...” Oikawa hanya duduk sambil terpaku selagi merasakan betul bagaimana Iwaizumi menghidu aromanya dengan lekat. “Hmm... enak... seger... kayak buah...” gumam Iwaizumi seraya mengeratkan pelukannya.

Oikawa tidak mampu untuk bergerak atau berpikir. Saraf motorik di otak yang seharusnya bekerja sebagai pengendali pergerakan tubuh manusia seakan tidak bekerja sama sekali di dirinya. Ia bahkan tidak sadar bahwa sebelumnya, Iwaizumi ternyata terus-terusan menenggak alkohol sampai mabuk seperti ini, padahal pria itu jelas-jelas harus pulang dengan menyetir.

“Hajime...” Oikawa menyentuh lengan yang masih melingkar di bahunya dengan lembut. “Kamu... mabuk? Terus nanti pulangnya gimana? Kamu, kan, bawa mobil ke sini...” ucap Oikawa pelan, tak berani sama sekali menoleh ke arah pria itu karena jarak mereka yang hampir tak tersisa.

“Hmm?” Iwaizumi hanya bergumam malas, lalu mengangkat sedikit wajahnya yang sedari tadi masih disembunyikan di leher Oikawa. “Siapa... yang mabuk? Aku nggak mabuk, kok...?”

Oikawa menghela napas pelan. “Kamu yang mabuk. Dari tadi minum berapa gelas sih emang? Masa lupa kalau ke sini barusan nyetir?”

Iwaizumi tidak memedulikan pertanyaannya. Pria itu malah kembali memeluknya, bahkan tangannya mulai terangkat dan memainkan anak-anak rambut Oikawa yang ada di pangkal lehernya.

Oikawa hampir yakin ada aliran listrik yang mengalir di sepanjang tubuhnya barusan.

“Nanti bisa... panggil supir aku... buat ke sini... tapi aku... nggak mau pulang ke rumah... aku maunya... pulang sama kamu...”

Oikawa nyaris tersedak salivanya sendiri.

“Ha-hajime, kamu—”

“Wooow!!! Itu si Iwaizumi bisa mabuk juga toh?” mendadak suara Lev, salah satu middle blocker, terdengar dari ujung meja. Oikawa mendongak, lalu mengangguk. Matanya kembali tak sengaja menangkap tatapan Ushijima, namun pria itu kali ini tidak langsung memalingkan wajah, melainkan terus menatapnya dengan pandangan aneh.

Tiba-tiba, ada sepasang tangan yang meraih wajahnya dan menariknya cepat ke arah samping.

Oikawa begitu lambat dalam memproses semuanya, namun begitu tersadar, sudah ada dua obsidian hitam yang dari jarak begitu dekat menatapnya keras.

“Jangan...” Iwaizumi memulai dalam bisikan rendah. “Ngeliatin dia...”

“Hah?” Oikawa mengernyitkan keningnya dengan tak paham.

“Ushijima...” seakan menjawab pertanyaan tak terlisankan Oikawa, Iwaizumi justru menyebutkan satu nama itu. “Jangan suka... ngeliatin Ushijima... pacar kamu itu aku... bukan dia...”

“Hajime—”

”... nggak suka kalau kamu... ngeliatin cowok lain... nggak suka kalau kamu... ngobrol akrab sama cowok lain... nggak suka kalau kamu... dipegang cowok lain...”

Iwaizumi kemudian melepas rengkuhan tangannya di wajah Oikawa, lalu menjatuhkan kepalanya kembali di bahu pria itu.

“Nggak suka kalau kamu... jadi punya orang lain...”

Suara Iwaizumi teredam, namun Oikawa masih bisa mendengarnya dengan jelas. Meskipun begitu, Oikawa tidak sanggup bergerak atau mengatakan sesuatu. Otaknya terlalu kosong dan persendiannya terlalu kaku untuk digerakkan. Oikawa hanya bisa terdiam dengan mata yang terbeliak lebar dan perkataan Iwaizumi yang terus terngiang di otaknya.

Oikawa ragu bahwa semua yang dikatakan Iwaizumi merupakan kebenaran. Tapi bukankah ada perkataan bahwa justru di saat mabuk lah seseorang bisa mengaku sejujur-jujurnya? Jadi apa yang barusan dikatakan Iwaizumi seharusnya bukan sekadar kebohongan, bukan?

Tapi kenapa? Bukankah hubungan mereka hanya skenario semata?

Kecuali...

Pemikiran Oikawa terpotong saat ada siulan panjang terdengar dari sampingnya. Ia menoleh dan melihat si kembar Miya (yang juga sudah dalam keadaan mabuk) tengah menatap dirinya sambil menaik-turunkan alis mereka dengan tatapan menggoda.

“Gilaaaaa, Oikawa!! Kita denger loh barusan Iwaizumi ngomong apaan ke lo!” ucap Osamu seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. “So sweet bangeeet!! Suna mana mau ngomong gitu ke gue!”

Atsumu tiba-tiba menggebrak meja sampai beberapa pengunjung di sekitar mereka menoleh dengan kaget. “Kalau gue! Gue relate banget sama Iwaizumi! Gue juga nggak suka kalau Kak Kita deket-deket sama cowok lain! Soalnya Kak Kita cuma punya gue!”

Tidak disangka, Tsukishima ternyata dari tadi ikut memperhatikan dan kini bahkan menyahuti omongan si kembar.

“Berarti Iwaizumi bucin tolol juga dong ke Oikawa? Kayak lo?” celetuk pria berkacamata itu, yang meskipun sudah menghabiskan beberapa gelas alkohol, tetap tidak terlihat seperti orang mabuk.

“Oh, ya, jelas!!! Kalau perlu nanti gue buat klubnya sendiri! Namanya... Klub Bucin Tolol Para Pacar!! Gue ketuanya, nanti wakilnya baru Iwaizumi!! Hahahaha!!!”

Beberapa anggota tim di sekitar mereka ikut menertawai ucapan Atsumu yang tidak lucu sama sekali. Namun di saat yang lainnya bisa menikmati obrolan konyol seperti itu, Oikawa tetap terdiam di tempatnya.

Ia hanya terdiam dengan tangan yang entah sejak kapan melingkar di tubuh Iwaizumi — berusaha menjaga agar tubuh pria itu tidak terjatuh ke belakang. Ia hanya terdiam dan mendengarkan tarikan napas teratur pria itu, meskipun kini kepalanya berisik bukan main dengan ribuan pertanyaan yang menuntut untuk dicari jawabannya.

Ia hanya terdiam dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak sangat cepat.


@fakeloveros

Menghindari Iwaizumi ternyata tidaklah sesulit yang Oikawa bayangkan. Meskipun begitu, ada perasaan aneh yang membuat perutnya seperti terlilit setiap kali harus membuat alasan bohong lain atau bahkan saat sengaja tidak membuka chat dari pria yang tengah dihindarinya itu.

Perbuatan impulsifnya saat di lapangan voli kemarin malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan sekarang Oikawa tidak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan. Memang dalam perjanjian mereka, ciuman diperbolehkan dalam situasi yang apabila memang diperlukan. Namun perbuatan spontannya kemarin tidak terhitung sebagai sesuatu yang benar-benar diperlukan, bukan? Apalagi jika ia melakukannya tanpa seizin pria itu terlebih dahulu.

Meskipun Iwaizumi sendiri tidak mengungkit hal tersebut apalagi melayangkan protes, namun tetap saja, Oikawa merasa ia sudah melewati batas.

Untuk kesekian kalinya hari itu, Oikawa menghela napas berat.

Satu-satunya kerja paruh waktu yang ia pertahankan baru saja selesai dan ia sedang melambai kepada anak terakhir yang baru saja dijemput oleh ibunya ketika tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya dari belakang.

“Oikawa.”

Yang dipanggil namanya lantas menahan napas dan membalikkan badan dengan terkejut. Mungkin karena sudah cukup sering bersama pria itu, Oikawa jadi bisa dengan mudah mengenali suara berat Iwaizumi yang memanggil namanya.

Dan benar saja, Iwaizumi sekarang tepat berdiri di hadapannya.

“E-eh? Iwaizumi? K-kok bisa ada di sini…” Oikawa refleks mundur selangkah dan bertanya dengan gugup — tidak berani menatap kedua manik hitam yang tengah memakunya intens tersebut.

“Kata Takahiro kamu part time di sini hari ini,” jawab Iwaizumi singkat tanpa mengalihkan tatapannya meskipun yang diajak bicara terus saja berusaha menghindar.

“I-iya sih bener, terus ada apa lo... ke... sini…” Oikawa menelan salivanya susah payah dan suaranya semakin menghilang saat pria itu justru berjalan semakin mendekatinya.

“Kenapa kamu ngehindarin aku terus?”

Mampus.

Oikawa tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tiba-tiba lidahnya terasa kelu.

“Oikawa?” panggil Iwaizumi sekali lagi. “Tolong jawab pertanyaanku.”

“G-gue nggak… ngehindarin lo…” Oikawa tahu, bahkan di telinganya sendiri, sanggahan itu terdengar sangat lemah.

Dan jelas sekali Iwaizumi tidak memercayainya.

“Kenapa kamu ngehindarin aku?” tanya pria itu sekali lagi. Terdengar lebih lembut, tapi juga lebih menuntut dari sebelumnya.

Sekarang Oikawa yakin dirinya tidak bisa kabur lagi.

“Soalnya... gue... malu dan ngerasa nggak enak sama lo…” jawab Oikawa pada akhirnya.

“Malu? Malu kenapa? Gara-gara kejadian di lapangan waktu itu?”

Oikawa meringis. Tidak menyangka Iwaizumi bisa langsung menebaknya dengan tepat. Tapi memang selain itu, Oikawa tidak memiliki alasan lain untuk menghindari Iwaizumi, bukan?

“Iya... gue... itu... spontan banget. Gue juga nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba... tiba-tiba... err…” Oikawa memalingkan mukanya dan menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal dengan canggung. Padahal sebelum bertemu Iwaizumi, dia tidak pernah bersikap seperti ini. Oikawa selalu dikenal sebagai orang yang supel, penuh percaya diri dan tidak pernah ragu. Namun semenjak mengenal Iwaizumi, terkadang ia merasa seperti ini; tidak berdaya.

Dan hanya di hadapan pria itu.

Untuk beberapa saat, keadaan terasa hening. Mereka masih ada di luar gedung gymnasium tempat Oikawa melatih anak-anak bermain voli, namun tidak ada siapa pun di sekitar mereka saat itu. Yang terdengar hanya suara kendaraan dan gemerisik daun yang tertiup angin pelan.

“Kamu nggak perlu ngerasa kayak gitu,” Iwaizumi lah yang pertama kali memecahkan keheningan suasana tersebut. Pria itu kembali mendekat selangkah sampai, mau tak mau, Oikawa terpaksa kembali menoleh dan menatapnya.

“Aku nggak marah, atau ngerasa keberatan. Jadi harusnya kamu nggak usah ngerasa kayak gitu. Justru kalau kamu ngehindar, aku bakal ngerasa kalau kamu sebenernya... nyesel karena udah ngelakuin hal itu.”

Oikawa tertegun. Ia tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Ia tidak pernah berpikir dari sudut pandang Iwaizumi, apalagi—

“Emang kamu nyesel? Kalau kamu nyesel, aku yang bakal minta maaf.”

Pernyataan mendadak Iwaizumi tentu saja mengejutkan Oikawa. Namun dibandingkan itu, ia lebih memikirkan pertanyaan Iwaizumi.

Apa dia menyesal?

Daripada menyesal, mungkin sebenernya ia lebih khawatir Iwaizumi akan membencinya karena telah melakukan sesuatu di luar consent pria itu. Namun Iwaizumi jelas-jelas mengatakan barusan bahwa ia tidak marah atau keberatan sama sekali.

Berarti bukan masalah, kan, kalau dia tidak…

“Gue... nggak nyesel, kok. Lagian lo nggak salah apa-apa, jadi nggak perlu minta maaf juga. Justru harusnya gue yang minta maaf…” Oikawa menarik napas panjang, dan memberanikan diri menatap lurus pria itu. “Maaf karena udah nyium lo tiba-tiba... depan banyak orang. Maaf juga karena gue balik duluan waktu itu, bahkan sampai nggak bales chat lo. Pokoknya gue... minta maaf. Ke depannya gue bakal lebih hati-hati karena gimanapun, hubungan kita ini kan bukan beneran…” Oikawa mengakhiri ucapannya dengan seulas senyum kecil, meskipun hal yang sama tidak terlihat sama sekali di wajah Iwaizumi. “Lo...beneran nggak marah, kan?” Oikawa bertanya untuk memastikan.

Iwaizumi memang tidak langsung menjawab, hanya menatap Oikawa sedikit lebih lama sebelum menghela napas berat.

“Aku nggak marah, tapi tolong lain kali bales chat dari aku. Meskipun kamu lagi nggak mau ketemu, seenggaknya tolong tetep bales. Biar aku tahu kalau kamu baik-baik aja.”

Iwaizumi mengatakannya dengan pelan, sehingga bukannya terdengar sebagai perintah, melainkan permohonan.

Dan Oikawa tidak kuasa menolaknya, jadi dirinya pun langsung mengangguk sebagai gestur menyanggupi.

“Gue janji. Sori ya, Iwaizumi, lo sampe repot-repot dateng ke sini.”

“Nggak apa-apa, lagian aku juga mau sekalian ngajak kamu keluar.”

“Oh, ya? Mau ke mana?”

“Hmm…” Iwaizumi bergumam panjang seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jeans. Oikawa bahkan baru sadar penampilan pria itu terlihat jauh lebih...rapi dibandingkan biasanya. Oikawa jadi penasaran, memang Iwaizumi mau mengajaknya pergi ke mana?

“Aku diajakin makan-makan sama anggota tim voli sebagai ucapan makasih. Katanya boleh ajak kamu juga, jadi..” Iwaizumi mengerling ke arahnya, dan barulah Oikawa melihat seulas senyum kecil di wajah pria itu. “Kamu mau kan nemenin aku?”


@fakeloveros


I only take the Adlers team's name for the purpose of this AU, but I'll mix the members with other characters from Haikyuu! Hope you don't mind~


Oikawa berlari dengan penuh semangat menuju gymnasium tempat latihan maupun pertandingan tim voli kampusnya biasanya diadakan. Saking bersemangatnya, beberapa kali ia hampir menabrak mahasiswa yang sedang lewat dan segera meminta maaf dengan terburu-buru. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menghalanginya untuk terus berlari sampai tiba di tempat tujuan.

Sesampainya di sana, dengan napas yang masih terengah, Oikawa memperhatikan sekeliling gymnasium untuk menemukan sosok familier yang dicarinya.

Padahal ia baru menerima pesan dari Iwaizumi sekitar sepuluh menit yang lalu. Pria itu mengatakan dirinya sudah berada di gymnasium untuk melakukan pemanasan dan mendengarkan sedikit arahan dari pelatih.

Dan Iwaizumi menambahkan ia tengah menunggu kedatangan Oikawa.

Maka setelah kelasnya berakhir, dengan secepat kilat Oikawa langsung keluar dan berlari menuju gymnasium yang jaraknya cukup jauh dari gedung fakultasnya.

Tapi, ada di mana Iwaizumi sekarang?

Semesta seakan menjawab pertanyaan Oikawa karena detik setelah pertanyaan itu bergaung di kepalanya, ia langsung menemukan sosok Iwaizumi. Pria itu berada di pinggir lapangan dan tengah mendengarkan celotehan salah satu pemain yang Oikawa ketahui bernama Atsumu. Namun Iwaizumi tidak terlihat begitu banyak memberikan respons, dan sesekali hanya mengangguk atau menggeleng.

Dengan senyum yang terkulum, Oikawa berjalan memutar dari arah belakang dengan niat ingin mengejutkan pria itu.

“Hoi!”

Namun tentu saja Iwaizumi tidak terkejut sama sekali – seolah memang sudah mengetahui kedatangan Oikawa. Pria itu hanya langsung berbalik dan ujung bibirnya terangkat sedikit begitu melihat siapa yang barusan mengagetkannya.

“Ih, kok nggak kaget, sih?” Oikawa menggerutu pelan, tetapi tetap terdengar oleh Iwaizumi.

Pria itu hanya tersenyum simpul, dan bertanya singkat, “hai, baru selesai kelas?”

Ekspresi Oikawa berubah cerah. Dirinya tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat. “Udah pemanasannya?”

“Baru aja selesai. Kamu sendirian?”

Oh, ya, benar. Mereka masih harus berakting.

“He-eh, habis yang lain pada sok sibuk.” Oikawa kemudian maju selangkah dan menyentuh lengan Iwaizumi sambil mengeluarkan senyum terbaiknya. “Lagian aku ke sini, kan, emang cuma pengin nonton kamu. Jadi nggak apa-apa sendirian juga.”

Terdengar suara seperti orang muntah dari arah belakang Iwaizumi. Oikawa melirik dan mendapati Atsumu menyeringai lebar selagi memperhatikan mereka dengan tampang yang dibuat sepolos mungkin.

“Eh, ada Atsumu, ya? Sori, nggak keliatan,” ucap Oikawa dengan nada jahil. Ia tahu betul bagaimana harus menghadapi candaan pemain voli yang satu itu.

Atsumu berdecak, meskipun senyum tak kunjung hilang dari wajahnya yang tampan. “Yaelah, sombong banget lo mentang-mentang sekarang udah punya pacar. Mana minggu kemaren bisa-bisanya bikin heboh satu kampus! Eh, Iwaizumi, kok lo mau sih pacaran sama dia?”

Meskipun pertanyaan Atsumu seperti itu, Oikawa tidak merasa tersinggung sama sekali. Ia cukup sering datang ke latihan atau pertandingan voli kampus mereka. Dan melalui Ushijima, Oikawa jadi mengenal dan cukup dekat dengan beberapa pemain, termasuk salah satunya Atsumu.

“Yee! Lo nggak liat tampang gue? Cakep begini ya Iwaizumi pasti mau lah sama gue! Justru gue yang bingung kenapa Kak Kita mau pacaran sama lo!” balas Oikawa tak mau kalah sambil menjulurkan lidahnya.

Mendengar nama kekasihnya disebut, lantas membuat Atsumu langsung terdiam dengan pipi yang bersemu merah. Matanya sekilas melirik ke arah pria yang duduk sendirian di bangku penonton tak jauh dari sana; asyik membaca buku seolah tak terganggu dengan keramaian di sekitarnya.

Atsumu berdeham kecil, lalu mengembalikan tatapannya ke arah Oikawa.

“Eh, berarti lo hari ini bukan dateng buat dukung Ushijima kayak biasa, dong? Hahahaha pantes tuh orang dari tadi kayak bad mood banget!”

Tepat setelah Atsumu mengatakan hal tersebut, Oikawa menangkap sosok Ushijima dari sudut matanya. Pria jangkung itu tengah berbicara dengan pelatih tim voli mereka, namun beberapa detik kemudian, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Oikawa.

Oikawa mengangkat tangannya dan melambai, namun Ushijima hanya membalas dengan senyuman kecil sebelum kembali berbincang serius dengan sang pelatih.

Hm? Aneh, pikir Oikawa selagi menurunkan tangannya diikuti kernyitan dalam di keningnya.

Saat itulah ia merasakan ada sentuhan kecil di pipinya, dan Oikawa langsung menoleh dengan terkejut ke arah Iwaizumi yang tengah memperhatikannya lekat.

“Aku baru kali ini liat… kamu pake kacamata,” ujar pria itu pelan. Tangannya lantas naik sedikit dan merapikan poni Oikawa yang jatuh berantakan di dahinya hasil berlari-lari penuh semangat. “Keliatan bagus di kamu.”

“Eh? O-oh… makasih…” balas Oikawa tanpa bisa menahan pipinya yang mulai terasa panas. “Biasanya aku cuma pake di kelas, tapi karena sekarang mau nonton pertandingan di sini, jadi harus pake juga biar keliatan,” jelasnya seraya berusaha mati-matian supaya tidak menghiraukan sentuhan Iwaizumi yang masih terasa.

Iwaizumi hanya bergumam panjang sebelum menurunkan tangannya dan tersenyum simpul. “Kamu bakal nonton sampai selesai, kan? Kita pulang bareng, ya. Nanti aku anter.”

“Eh? Aku, sih, mau-mau aja pulang bareng. Tapi nggak apa-apa? Emang kamu nggak bakal capek?”

Iwaizumi menggeleng pasti. “Nggak apa-apa, kok.” Pria itu kemudian membuat ekspresi aneh selama sepersekian detik sebelum kembali berujar, “aku bakal ngelawan roommate kamu nanti.”

“Oh? Bener, kan, yang aku bilang! Nggak apa-apa, santai aja. Dia emang jago, tapi siapa tau kamu lebih jago. Iya, kan?” Oikawa berucap selagi menepuk-nepuk bahu Iwaizumi, bermaksud memberi dukungan. “Nanti aku bakal nonton dari san—”

“Kalau aku menang,” Iwaizumi tiba-tiba memotong ucapan Oikawa. “Boleh aku minta sesuatu dari kamu?”

Oikawa memiringkan kepalanya dengan bingung. “Minta sesuatu dari aku?” Misalnya apa? Barang? Tapi dia, kan, tidak sekaya pria itu? Jadi apa yang bisa diminta darinya?

Namun Oikawa tetap mengiyakan.

“Yaa, boleh aja kalau aku sanggup. Asal jangan minta yang aneh-aneh, ya!” ancamnya setengah bercanda. Iwaizumi hanya mengangguk, namun dari matanya terlihat jelas binar bahagia yang membuat Oikawa semakin bertanya-tanya, apa yang diinginkan pria itu darinya?

Tak lama, terdengar suara peluit yang menandakan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Oikawa sudah tahu di mana dirinya akan duduk, namun sebelum pergi, ia ingin melakukan sesuatu.

Mumpung di sini lagi banyak orang, pikirnya seraya berusaha mengusir jauh-jauh rasa ragu, malu dan gugupnya.

Oikawa menelan salivanya, lalu memanggil nama Iwaizumi pelan.

“Hajime.”

Iwaizumi yang tadinya tengah menghadap lapangan, lantas menoleh dan dalam satu gerakan cepat, Oikawa merengkuh kedua sisi wajah Iwaizumi dengan tangannya. Ada keterkejutan bermain di wajah Iwaizumi sebelum Oikawa memejamkan matanya dan mencium pria itu cepat dan singkat. Tepat di bibirnya.

Kecupan itu mungkin hanya berlangsung selama dua detik, namun Oikawa bisa merasakan pipinya memanas luar biasa. Ia pun yakin wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

Oikawa langsung berbalik dan berlari menuju bangku penonton setelah sebelumnya membisikkan kata, semangat!

Oikawa tidak berani melihat ke mata Iwaizumi langsung. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan begitu mendudukkan diri di bangku penonton. Ia bahkan tidak ingin tahu berapa banyak pasang mata yang menyaksikan aksi PDA mereka berusan.

Ia bahkan tidak tahu kenapa berani melakukan hal senekat itu.

“Gue pasti udah gila…” Oikawa bergumam pada dirinya sendiri, dan dengan takut-takut membuka jari-jarinya yang menutupi wajah untuk mengintip. Ternyata semua pemain sudah berkumpul di lapangan dan bersiap-siap.

Oikawa membetulkan letak kacamatanya dan mencari keberadaan Iwaizumi. Pria itu berdiri berlawanan dengan Hoshiumi dan terlihat sangat tenang. Malah — Oikawa berani bersumpah — ia yakin Iwaizumi justru terlihat begitu percaya diri.

Matanya kemudian bergulir ke arah tim lawan dan dengan mudah menemukan sosok Ushijima karena perawakan temannya itu memang yang paling besar di antara semuanya. Oikawa jadi teringat kejadian beberapa menit lalu saat dia menyapa sang kapten. Bahkan sekarang saat tengah memperhatikan pria itu, Oikawa sadar Ushijima terlihat sedikit muram. Ekspresi itu membuat wajah temannya yang sudah terlihat sangar, menjadi dua kali lipat lebih seram dari biasanya.

Ushijima lagi ada masalah kali, ya?

Pikirannya segera teralihkan saat para pemain mengambil posisi masing-masing dan peluit dibunyikan sekali lagi sebagai tanda pertandingan dimulai. Oikawa lantas menegakkan tubuhnya begitu servis pertama dilakukan. Ia berusaha berkonsentrasi menonton pertandingan.

Hari itu, tidak seperti practice match yang biasa ia tonton, Oikawa amat sangat menantikan hasil pertandingan.

Tanpa sadar dirinya berdoa dalam hati selagi menyebutkan satu nama.

Kira-kira, siapa yang akan menang?


Whooops, they kissed?? Already?? Or...that didn't even count? (smirk)

@fakeloveros