sua

Oikawa merasa kehidupannya berubah 180 derajat.

Pertama, waktunya yang dulu terasa tak pernah cukup untuk melakukan segala aktivitas — kuliah, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, kerja paruh waktu — kini menjadi kebalikannya. Keluar dari dua pekerjaan paruh waktunya ternyata memberi perubahan yang cukup besar.

Dan Oikawa bersyukur akan hal itu.

Yachi sempat bertanya ketika pria itu datang menemui pemilik kafe tempat mereka bekerja, apa Oikawa baru saja menemukan pekerjaan lain yang bayarannya lebih besar.

Sambil meringis kecil, Oikawa hanya menjawabnya dengan anggukan serta janji bahwa ia masih akan sering datang ke kafe sebagai pelanggan. Yachi, bagaimanapun, sudah dia anggap seperti adik perempuannya sendiri.

Kedua, mulai ada surat serta berbagai merek cokelat yang memenuhi lokernya setiap pagi. Awalnya Oikawa bingung dari mana benda-benda yang kebanyakan dilapisi pembungkus berwarna merah muda itu berasal. Sampai Matsukawa datang, melingkarkan tangan di bahunya, dan berucap dengan nada usil.

“Lah, lo gak tau? Sekarang yang terkenal bukan Iwaizumi doang!'

Pernyataan itu terus terngiang-ngiang dan masih terasa tak masuk akal sampai Oikawa menyaksikannya sendiri.

Ada seorang perempuan, sepertinya angkatan di bawahnya, memandanginya suatu hari secara terang-terangan dengan pipi yang bersemu merah. Oikawa tanpa sadar membalas tatapan perempuan itu untuk waktu yang cukup lama, sampai Iwaizumi (yang lagi-lagi ikut makan bersama mereka) tiba-tiba menyentuh tangannya sampai dirinya terlonjak. Dengan kening yang sedikit berkerut, Iwaizumi bertanya menu makan siang apa yang ingin dibeli Oikawa hari itu.

Oikawa tentu tidak bodoh. Ia sendiri tahu dirinya memang memiliki tampang di atas rata-rata. Kepopuleran itu pernah ia rasakan sewaktu SMA. Namun semenjak masuk kuliah dan mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan (ditambah lagi tidak sedikit mahasiswa di kampusnya yang memiliki tampang serta dandanan keren untuk menarik kaum hawa), Oikawa tidak lagi begitu memikirkan tentang hal tersebut. Malah, ia cukup menikmati privasinya tanpa ada kumpulan perempuan yang mengejar-ngejarnya setiap saat seperti dulu.

Namun hubungan terbukanya bersama Iwaizumi mulai menempatkannya di bawah lampu sorot dan Oikawa paham akan risikonya, jadi ia membiarkannya saja.

Oikawa menceritakan tentang hal tersebut pada Iwaizumi di salah satu perjalanan pulang mereka. Iwaizumi tidak mengatakan banyak, namun di sepanjang sisa perjalanan, ekspresi pria itu terlihat sedikit masam.

Ketiga, memasuki hari kelima Oikawa resmi 'berpacaran' dengan Iwaizumi, ia jadi sedikit mengetahui lebih banyak soal pria itu.

Selama lima hari berturut-turut itu pula Iwaizumi selalu datang ke kantin departemennya untuk makan siang bersama. Karena selalu bersama, Oikawa jadi tidak sengaja mengetahui kebiasaan makan pria itu.

Seperti bagaimana Iwaizumi selalu menyingkirkan timun yang ada di sayurannya karena ternyata memiliki darah rendah. Atau bagimana Iwaizumi akan memulai menyantap hidangannya dengan tiga sendok nasi, baru mencicipi lauk pauknya. Dan Oikawa juga menemukan fakta bahwa Iwaizumi lebih menyukai susu rasa stroberi dibandingkan rasa lainnya.

Tidak hanya itu, hubungan Iwaizumi dengan teman-temannya ternyata berjalan sangat baik. Ia bahkan baru tahu bahwa Iwaizumi juga suka bermain game, sampai Kuuro, dengan senang hati menawarkan Iwaizumi untuk bermain bersama kekasihnya, Kenma, yang juga seorang maniak game minggu depan di apartemen mereka.

“Our first double date!” seru Kuroo dengan bersemangat setelah Iwaizumi menyetujui ajakannya.

Tidak hanya dengan Kuroo, Iwaizumi juga terlihat sering tenggelam dalam pembicaraan seru mengenai olahraga bersama Daichi dan Suga. Oikawa pun baru mengetahui bahwa pria itu benar-benar mencoba segala jenis olahraga, tidak hanya voli dan basket, tapi juga pernah ikut lomba lari, memiliki sabuk hitam dalam Taekwondo, rutin memanah setiap minggu, bahkan mengaku cukup ahli dalam berenang.

Oikawa harus menahan diri agar tidak tercengang.

Keempat, tentu saja hubungannya dengan Iwaizumi.

Di luar hubungan pura-pura mereka, Oikawa di luar dugaan sangat menikmati keberadaan pria itu di dekatnya. Iwaizumi memang tidak banyak bicara, tidak seperti dirinya yang apabila sudah nyaman bersama seseorang, pasti akan mengoceh setiap saat. Namun pria itu pendengar yang baik dan sekali dua kali akan menanyakan perihal yang berkaitan dengan omongan Oikawa. Responsnya tidak terlihat dipaksakan maupun sekadar formalitas. Rasanya seolah Iwaizumi benar-benar mendengarkannya dan menghargai setiap ocehannya, bahkan yang tidak penting sekalipun.

Tidak jarang, Oikawa akan mengoceh sepanjang jalan (“Matsun hari ini ditegur Pak Ukai lagi gara-gara ketiduran di kelas”, “Gue denger bakal ada menu baru loh di kantin FED!”) dan Iwaizumi hanya diam mendengarkan. Saat Oikawa menoleh untuk melihat reaksi pria itu, Iwaizumi ternyata sudah menatapnya lebih dulu. Pria itu terus menatapnya, sampai Oikawa duluan yang mengalihkan atensi sambil berdeham kecil dengan gugup.

Iwaizumi sering memberikannya tatapan seperti itu.

Di luar dugaan pula, Iwaizumi tidak begitu 'pandai' dalam memulai apa yang mereka sepakati sebagi skinship. Setiap pagi mereka akan bergandengan tangan, terkadang pria itu juga akan merangkulnya di beberapa kesempatan. Namun sejauh ini, Iwaizumi tidak pernah melakukan lebih dari itu, padahal kalau ingin lebih meyakinkan orang-orang di sekitar mereka, Oikawa tahu seharusnya ada aksi tambahan selain hanya berpegangan tangan atau merangkul.

Tanpa bermaksud lain, Oikawa memberanikan diri mencoba hal itu hari Kamis kemarin.

Seperti biasa, Iwaizumi mengantarkannya sampai ke depan departemennya pagi itu, masih sambil bergandengan tangan. Karena kelas pertama sebentar lagi akan segera dimulai, banyak mahasiswa/i yang lalu lalang. Kini pemandangan mereka berduaan sudah bukan hal aneh lagi sana. Meskipun begitu, masih ada beberapa orang (kebanyakan perempuan) yang menatap mereka dengan penasaran serta ingin tahu.

“See you at lunch?” ucap Iwaizumi pelan seraya mulai menarik tangannya agar terlepas. Oikawa pun cepat-cepat megambil kesempatan dengan menarik tangan Iwaizumi yang hampir terlepas sampai pria itu terdorong ke depan — ke arahnya.

Secepat kilat, Oikawa menjatuhkan ciuman tepat di pipi sebelah kiri pria itu. Di depan banyak orang.

Sambil menyeringai lebar, Oikawa melepaskan pegangan tangan mereka, lalu segera berbalik dan masuk ke dalam gedung.

Ia bahkan tidak sempat melihat ekspresi terkejut Iwaizumi, tangan pria itu yang membeku selagi memegang pipinya sendiri, serta semburat merah yang perlahan mulai muncul.

Namun Oikawa tahu ia telah melakukan hal yang tepat.

Sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana besok ia harus menghadapi keluarga Oikawa. Mereka sudah membicarakan ini berulang kali. Mendiskusikan sekali lagi segala detail yang mungkin akan ditanyakan.

Namun terutama, Iwaizumi berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa Oikawa tidak perlu terlalu khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja. Mereka hanya perlu menghabiskan waktu makan malam dengan ayah, ibu, juga kakak perempuan Iwaizumi.

“Tenang aja,” ucap Iwaizumi setelah dilihatnya Oikawa yang biasanya cerewet, kini hanya diam dan menatap kerikil-kerikil di bawah kakinya dengan gugup. Pria itu kemudian menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat. Hangat.

“Kan ada aku.”

Detik itu juga, Oikawa yakin semua akan baik-baik saja.


@fakeloveros

“Nice place.”

Begitu komentar Iwaizumi pertama kali saat melangkah ke dalam sebuah kafe. Tadinya memang pria itu yang mengusulkan nama kafe lain sebagi tempat diskusi mereka selanjutnya. Tetapi di detik terakhir, Oikawa memberanikan diri mengajak Iwaizumi untuk pergi ke kafe langganannya.

“Ya, kan? Gue sering ke sini sama temen-temen,” balas Oikawa sambil tersenyum begitu dilihatnya Iwaizumi menyukai kafe pilihannya. Kafe itu memang seperti harta karun bagi Oikawa karena tidak begitu banyak orang yang tahu sehingga tempat duduk selalu tersedia, padahal kopi dan kue di sana menurutnya sangat enak.

“Kenapa dulu nggak part time di sini aja?” tanya Iwaizumi seraya mengambil tempat duduk di dekat jendela. Oikawa mengikuti, masih dengan senyumnya yang terpampang lebar.

“Waktu itu lagi nggak nerima. Lagian sekarang ada adek kelas gue dulu pas SMA yang kerja di sini, jadi kadang suka dapet kue gratisan. Oh, itu orangnya,” Oikawa menoleh ke arah pria jangkung yang sepertinya baru saja kembali, lalu melambaikan tangannya dengan antusias. “Tobio!!”

Pria berambut hitam dengan wajah malas bernama Tobio itu lantas mendongak, dan menatap Oikawa tanpa bersuara selama beberapa detik. Pria itu kemudian keluar dari meja kasir dan menghampiri meja mereka.

“Kak,” sapa pria itu dengan nada datar. “Mau pesen apa?” matanya bergulir ke arah Iwaizumi sebentar, sebelum kembali menatap Oikawa yang tengah tersenyum sangat lebar sampai gigi-giginya yang putih dan berderet rapi kelihatan.

“Heh! Datar banget sih ketemu gue! Udah lama gue nggak ke sini, emangnya nggak kangen apa?” tanya Oikawa, kini sambil berdiri dan merangkul pria itu. Yang dirangkul diam saja, dan hanya menghela napas seolah itu hal yang sudah biasa.

Seakan teringat bahwa dirinya tidak sendirian, Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi lalu memperkenalkan pria yang masih dirangkulnya erat tersebut.

“Iwaizumi, ini adek kelas yang tadi gue kasih tau. Namanya Kageyama. Tobio Kageyama.”

Sementara Kageyama mengangguk singkat, Iwaizumi hanya menatap interaksi keduanya dalam diam.

“Lo mau pesen apa?” tanya Oikawa pada Iwaizumi selagi menepuk-nepuk dada Kageyama yang tetap memasang ekspresi datar. “Nanti dia yang bikinin.”

“Long black aja. Thanks.”

Kageyama mengangguk, lalu dengan sigap (meskipun Oikawa masih menggelayut padanya) mengeluarkan catatannya. Pria itu lantas menoleh pada Oikawa dan bertanya, “tadi aku udah tanya, kakak mau pesen apa?”

“Hmm, lagi pengen yang manis, nih. Iced vanilla aja deh sama strawberry cake satu.”

Kageyama mengangguk, lalu dengan lancar mencatat semuanya. Setelah selesai, pria itu menoleh sedikit ke arah Oikawa dan berucap datar, “lepasin, dong. Gimana mau buat?”

Oikawa terkekeh, dan menuruti permintaan pria itu. “Thanks, Tobio!”

Kageyama hanya mengangguk singkat sekali lagi, kemudian berbalik dan melangkah kembali menuju meja kasir.

Iwaizumi masih diam meskipun ada begitu banyak emosi yang tergambar di balik matanya. Sayang, Oikawa tidak menyadari hal tersebut dan dengan santai duduk kembali di kursinya selagi berbicara dengan nada ringan.

“Nah, sambil nunggu, ayo kita mulai ngomongin soal—”

“Kamu deket sama dia?”

Oikawa menggantungkan ucapannya di udara dan sebagai gantinya menatap Iwaizumi dengan terkejut.

Oh, apa mereka masih harus berakting sekarang?

“Ng… yaah, bisa dibilang lumayan deket…?” jawab Oikawa dengan bingung — masih dikagetkan dengan perubahan nada Iwaizumi yang terdengar lebih tajam. “Emangnya kenapa?”

“Apa kamu juga sering ketemu dia?”

Oikawa mulai bergerak-gerak gelisah di kursinya. “Eeh… iya? Setidaknya setiap minggu aku pasti bakal ke sini.”

“Kalau gitu bukannya harusnya kamu bilang ke dia kalau kita pacaran?”

Keterkejutannya pun semakin bertambah sampai Oikawa tidak sanggup berkata apa pun.

Keterdiaman Oikawa sepertinya langsung membuat Iwaizumi tersadar dengan sikapnya yang aneh. Pria itu menghembuskan napas berat dan langsung meminta maaf.

“Sori, aku nggak bermaksud ngatur kamu. Aku cuma… khawatir rencana kita bakal gagal kalau ada orang yang curiga,” ucap Iwaizumi pelan, matanya kini tak lagi menatap Oikawa dan lebih memilih memperhatikan permukaan meja. “Dan nggak banyak orang yang tau, but I have this nasty personality of being…”

Iwaizumi menghentikan ucapannya dengan ragu, sedangkan Oikawa menunggu dengan sabar.

”.... overprotective.”

Iwaizumi semakin menundukkan kepalanya, sementara Oikawa berusaha memproses informasi baru tersebut dan menimbang-nimbang bagaimana ia harus merespons semua ini.

“Aku... paham sama kekhawatiran kamu. Maaf juga karena hal kayak gitu nggak kepikiran sama aku tadi. Terus, selama nggak ngelewatin batas… I don't think that personality of yours is nasty.”

Iwaizumi mendongak dan membuat ekspresi tak setuju.

“Maksud gue— ehm, maksud aku,” Oikawa buru-buru menjelaskan. “Itu artinya kamu sayang, kan, sama partner kamu itu? Dan kamu cuma mau mastiin keamanan mereka.”

Iwaizumi memikirkan kata-kata itu sebentar. “Kalau… misalnya nanti aku nggak sengaja gituin kamu dan kamu ngerasa nggak nyaman… tolong kasih tau aku, ya?” pinta pria itu dengan tatapan meminta maaf.

Oikawa mengibaskan tangannya dengan santai. “It's okay, lagian gue orangnya suka diperhatiin juga, kok. Hehehe,” jawabnya ringan sebagai upaya untuk mencairkan suasana di antara mereka yang tiba-tiba terasa begitu serius. Meskipun begitu, ia yakin usahanya berhasil karena dilihatnya Iwaizumi tersenyum kecil ke arahnya sebelum mengangguk paham.

Oikawa baru akan membuka mulut untuk kembali bertanya, namun momen itu keburu dipotong oleh suara Kageyama yang tiba-tiba sudah terdengar di sebelah meja mereka.

“Long black, iced vanilla dan strawberry cake. Ada lagi yang mau dipesan?” Kageyama bertanya dengan nada profesionalnya selagi meletakkan pesanan mereka masing-masing di atas meja. Iwaizumi menggeleng, tatapannya beralih pada Oikawa yang malah sedang memperhatikan Kageyama dengan ekspresi berpikir.

“Tobio,” panggil Oikawa dengan determinasi baru dalam nada suaranya.

Kageyama menoleh ke arah pria yang memanggilnya dan mengangkat sebelah alis sebagai gestur bahwa ia mendengarkan.

“Cuma mau ngasih tau, sebenernya Iwaizumi itu…” Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi dan tersenyum sangat manis pada pria itu. “....pacar gue.”

Ada keheningan panjang yang menyusul setelahnya.

“Oh,” Kageyama berujar dengan adanya sedikit nada terkejut terdengar dalam suaranya. “Ehm… congrats?” lanjutnya dengan tidak yakin. Mata pria itu bergulir ke arah Iwaizumi selama beberapa sekon sebelum mengalihkannya ke arah lain dengan cepat.

“Thanks!” balas Oikawa dengan nada ceria khasnya.

“Kalau gitu… selamat menikmati. Kalau ada yang mau dipesan lagi, nanti panggil aja.”

Setelah mereka berdua memperhatikan kepergian Kageyama, Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi sembari meringis kecil.

“Anggap aja yang tadi latihan…?” ucap Oikawa sedikit ragu.

Iwaizumi mengangkat cangkir kopinya sampai menyentuh ujung bibir dan diam-diam tersenyum di baliknya.

“Jadi, mau mulai dari mana kita?” tanya Oikawa sambil berdeham kecil dan berusaha menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya.


Oikawa menguap lebar-lebar, lalu menghempaskan dirinya ke atas kasur. Ia baru saja selesai mandi setelah seharian terpapar debu dan matahari. Tubuhnya yang kini sudah terasa lebih bersih justru membuat kelopak matanya semakin berat, padahal ini baru jam sepuluh malam.

Oikawa memejamkan matanya, bahkan tanpa repot-repot menjemur handuknya yang masih melingkar di bahu. Dirinya sudah terlalu malas untuk bergerak.

Lagi pula, kepalanya terasa berat karena dipenuhi oleh banyak informasi yang diserapnya hari ini.

Hajime Iwaizumi…

Tanpa sadar, satu nama itu terpikirkan olehnya. Oikawa lantas mendengus keras seakan siap menertawai nasibnya yang entah kenapa bisa berubah menjadi seperti sekarang.

Jadi pacar pura-pura…

Oikawa membuka matanya, lalu menatap langit-langit kamarnya yang polos. Samar-samar, ia bisa mendengar suara TV dari arah ruang tamu di mana teman satu apartemennya masih sibuk di sana. Meskipun terdengar suara-suara, pikirannya terlalu dipenuhi oleh hal lain sehingga tidak bisa menangkap acara apa yang tengah ditonton temannya itu.

Oikawa termenung, lalu menghembuskan napas berat. Matanya ia pejamkan kembali.

Dari sekian banyak hal yang dibicarakan dengan Iwaizumi sore tadi, ada satu pembahasan yang sangat menempel di otaknya.

“Safe word?” tanyanya dengan nada terkejut yang tak bisa disembunyikan. “Buat apa?” pipinya sedikit memerah karena dua kata itu—

“I don’t mean it sexually,” Iwaizumi menyela seolah bisa membaca pikiran Oikawa. “Safe word di sini maksudnya sebagai kode kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman gara-gara aku. Misalnya kata-kata aku ada yang kelewatan atau kamu lagi nggak mau disentuh sama aku di depan orang banyak. Just say the word and I'll stop.”

“Oh.” Masuk akal.

“Kamu aja yang nentuin.”

“Hmm…” Oikawa berpikir keras. Iwaizumi mengangkat topik ini begitu tiba-tiba sehingga tidak ada kata benda atau kata sifat yang terpikirkan olehnya detik itu juga untuk dijadikan kode rahasia mereka berdua.

Sampai Oikawa teringat akan sesuatu.

“Voli.”

“Voli?” Iwaizumi mengulangi satu kata itu dengan seulas senyum kecil yang menemani. “Safe word-nya voli?”

Oikawa mengangguk seraya tersenyum lebar. “Karena kita berdua bisa main voli, jadi pake kata itu aja. Orang juga nggak akan ada yang curiga, kan, kalau denger.”

Iwaizumi masih tersenyum. “Oke. Kalau gitu kita pake kata voli.”

Pikirannya masih melayang jauh ke percakapan mereka sore hari tadi. Iwaizumi juga menceritakan soal keluarganya, termasuk upaya Ayahnya dalam menjodohkan dirinya dengan orang asing.

“Apa Ayah kamu nggak bakal keberatan?” tanya Oikawa dengan bingung. Masalahnya, ia hanya orang asing yang istilah kasarnya disewa oleh pria itu untuk menjadi pacar bohongan. Dia bukan berasal dari keluarga terpandang, apalagi memiliki harta yang berlimpah. Bagaimana kalau Ayah Iwaizumi tetap melayangkan keberatannya terhadap hubungan mereka?

Iwaizumi mendengus dan Oikawa harus menggigit bibirnya untuk menahan tawa karena ekspresi kesal pria itu justru terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.

“Ayahku nggak bisa ngatur mau sama siapa aku berhubungan. Ayahku cuma bilang, syarat biar aku dibebasin dari perjodohan itu ya asal punya pacar yang bisa dikenalin ke keluarga.”

“Dan apa yang bakal kamu jelasin ke keluarga kamu nanti seandainya kita udah harus putus?”

Pertanyaan itu Oikawa lontarkan tanpa berpikir. Ia hanya benar-benar penasaran apakah Iwaizumi sudah menyiapkan jawabannya. Lagi pula, kemungkinan putus itu memang ada, mengingat hubungan mereka hanya berlandaskan pura-pura.

Iwaizumi tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap Oikawa untuk waktu yang cukup lama sampai Oikawa merasa jengah sendiri karena diamati penuh intensitas seperti itu.

“Iwai—”

“Alasannya,” Iwaizumi akhirnya membuka suara. “Biar aku yang pikirin nanti. Tapi untuk sekarang, cukup jalani aja dulu apa yang udah kita sepakati.”

Oikawa langsung mengangguk paham dan beralih ke topik lain.

Oikawa ingat, sebelum mereka menyudahi diskusi mengenai keseluruhan rencana tersebut, Iwaizumi mengajukan peraturan terakhir.

“Apa kamu lagi deket sama seseorang?” tanya pria itu sesudah menghabiskan kopinya. Matanya mengarah ke meja kasir selama beberapa detik sebelum kembali menatap Oikawa yang tengah memikirkan pertanyaan tersebut.

“Nggak ada, sih. Kenapa?”

“Aku tau hubungan kita cuma pura-pura, tapi kalau bisa… aku mau selama rencana ini berjalan, nggak ada di antara kita yang terlibat hubungan serius sama orang lain. Kecuali… kamu sendiri yang mau ngebatalin semua ini.”

Oikawa tidak membantah karena baginya, hal itu pun terdengar masuk akal.

“Oke, itu gampang, kok.” Karena Oikawa merasa dia memang sedang tidak dekat dengan siapa pun.

Respons yang diberikan Iwaizumi setelahnya lagi-lagi hanya anggukan singkat diikuti seulas senyuman puas.

Sisanya mereka bicarakan dengan cukup santai. Di luar dugaan, banyak kesamaan pendapat antara dirinya dengan Iwaizumi, jadi tidak memerlukan waktu lama bagi mereka untuk menyetujui semua yang diusulkan satu sama lain.

Oikawa mengerang malas, lalu bangkit untuk meraih handphone-nya yang masih berada di dalam tas. Kalau tidak salah tadi baterainya tinggal sedikit. Ia jadi terpaksa bangun untuk mengisi daya baterainya.

Saat membukanya, ternyata ada chat masuk dari Iwaizumi.

Thanks buat hari ini. Mohon bantuannya ya

Oikawa tersenyum, dan membalas chat itu dengan jawaban singkat. Setelah memastikan semua notifikasi sudah dibuka, handphone-nya ia letakkan di atas nakas selagi mengisi daya baterai.

Entah sejak kapan suara TV di ruang tamu sudah tak terdengar. Oikawa kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menghela napas.

Mendadak, ia jadi tidak sabar menunggu hari Senin tiba.


@fakeloveros

“Di sini nggak apa-apa?”

Oikawa mengangguk, lalu mengikuti Iwaizumi duduk di kursi yang baru saja ditunjukkan oleh pelayan. Mereka baru saja selesai menonton film, dan Iwaizumi langsung mengajaknya makan siang di restoran yang ternyata sudah direservasinya.

Oikawa menoleh ke berbagai arah, dan diam-diam memperkirakan harga makanan di restoran yang terlihat mewah ini. Seumur-umur, dirinya baru pertama kali pergi ke restoran yang terlihat begitu glamor dan mahal. Rasanya seolah disadarkan kembali bahwa ada perbedaan besar antara dirinya dengan Iwaizumi.

“Mau pesen apa?” tanya Iwaizumi yang bahkan sama sekali tidak membuka buku menunya. Oikawa melirik ke arah pelayan yang tengah menunggu dengan sabar di sebelah meja mereka — tersenyum sopan selagi menanti Oikawa menyuarakan pesanannya.

“Apa aja yang lo rekomendasiin,” jawab Oikawa, memutuskan untuk mencari pilihan teraman sementara tangannya terulur ke arah pelayan dan menyerahkan buku menu restoran tersebut. Iwaizumi tidak protes, dan langsung menyebutkan beberapa nama hidangan kepada pelayan yang dengan sigap langsung mencatatnya.

Setelah pelayan itu pergi, ada keheningan yang menyelimuti meja mereka.

“Lo sering makan di sini?” Oikawa berusaha membuka percakapan dengan santai, meskipun matanya masih belum bisa menatap manik hitam Iwaizumi secara langsung.

“Hmm, lumayan. Biasanya sama keluarga,” jawab Iwaizumi yang terlihat lebih santai dibandingkan dirinya.

Oikawa ber-ohh pendek, lalu memperhatikan interior restoran tersebut dengan ketertarikan baru.

“Apa lo udah keluar dari part time?”

Pertanyaan tiba-tiba Iwaizumi membawa tatapan Oikawa kembali pada pria itu.

“Part time?” Oikawa memiringkan kepalanya, sembari bertanya dengan bingung.

Iwaizumi mengangguk. Matanya tidak beralih sama sekali meskipun pelayan kembali datang untuk membawakan beberapa hidangan yang mereka pesan.

“Part time mana yang bakal lo pertahanin?”

Seakan ada lampu menyala di atas kepalanya, barulah Oikawa mengerti arah pembicaraan mereka. “Ooh… maksud lo soal itu? Hmm…” Oikawa mengambil jeda untuk berpikir, namun bukannya dia belum memikirkan soal ini sama sekali. Ia hanya heran kenapa Iwaizumi ingin tahu kerja paruh waktu mana yang akan ia lepas maupun pertahankan.

“Kayaknya gue bakal keep part time yang pas weekend. Itu cuma ngajarin anak-anak SD SMP main voli soalnya,” jawab Oikawa tak beberapa lama kemudian.

“Voli?” Iwaizumi kini terdengar lebih tertarik. “Lo bisa main voli?”

Oikawa tersenyum bangga dan membusungkan dadanya sedikit. “Gini-gini gue setter yang lumayan jago.”

“Oh, gue dulu wing spiker,” Iwaizumi mengatakannya dengan datar seolah itu bukan informasi yang bisa mengejutkan pendengarnya, terutama Oikawa.

“Lo main juga??” tanyanya dengan mata yang membulat penuh rasa ingin tahu dan ketakjuban.

“Waktu SMA. Kalau sekarang sih udah nggak terlalu sering. Paling kalau diajak senior aja.”

Wow. “Kita harus main bareng kapan-kapan!” tanpa bisa menghentikan dirinya, Oikawa berucap dengan penuh semangat. Pasalnya, tidak banyak orang-orang di sekitarnya yang bisa ia ajak bermain voli begitu lulus SMA. Kebanyakan anggota timnya yang dulu berkuliah di kota lain, atau menetap di kampung halaman mereka. Jadi siapa sangka kalau ternyata Iwaizumi juga pernah berkecimpung di olahraga yang satu itu?

“Oh, tapi waktu gue balikin dompet lo waktu itu… lo lagi main basket sendirian. Apa lo juga bisa main basket?” tanya Oikawa yang tiba-tiba teringat dengan pertemuan pertama mereka.

“Kalau sekarang iya,” jawab Iwaizumi yang untuk pertama kalinya hari itu, terlihat sedikit malu sehingga mengalihkan tatapannya sedikit ke samping.

Menarik… Oikawa tersenyum kecil dan bergumam dalam hati. Entah kenapa, mengetahui hal-hal kecil tentang Iwaizumi membuatnya merasakan kesenangan yang aneh, juga semacam rasa puas. Rasanya seperti berhasil mengurai benang yang kusut meskipun tahu akan ada ikatan benang selanjutnya yang menanti di depan.

Setelah itu, pelayan bergiliran datang ke meja mereka untuk menghidangkan makanan yang tersisa. Oikawa sedikit tercengang begitu semua hidangan sudah datang dan tahu-tahu meja mereka dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang mengeluarkan aroma begitu menggoda. Kalau tidak ada Iwaizumi di depannya sekarang, air liur Oikawa pasti sudah mengalir deras.

Untuk beberapa menit pertama, yang terdengar di meja mereka hanyalah suara alat makan yang saling beradu. Beberapa kali Oikawa terpaksa menahan dirinya agar tidak mendesah nikmat meskipun indra perasanya terasa begitu dimanjakan oleh berbagai hidangan mahal ini. Namun ia tidak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh di depan Iwaizumi yang terlihat makan dengan begitu tenang. Pastilah karena pria itu sudah terbiasa dengan santapan yang ada di depan mereka.

Oikawa tidak sadar ia makan begitu lahap sampai suara Iwaizumi memecah konsentrasinya.

“Enak?”

Dan niat untuk tidak mempermalukan diri di depan Iwaizumi hancur seketika saat dirinya tersedak. Tangannya lantas meraih gelas yang ada di depannya dan dengan tak sabar langsung menenggak isinya sampai habis. Begitu tenggorokannya sudah lega dan yang tersisa hanyalah batuk kecil, Oikawa mengangakat wajahnya.

Iwaizumi sudah setengah berdiri dari duduknya. Tangannya terjulur seakan berusaha membantu, namun yang membuat Oikawa tertegun adalah ekspresi khawatir pria itu.

“Nggak apa-apa? Maaf, harusnya gue nggak ngajak lo ngobrol tiba-tiba,” ucap pria itu penuh rasa bersalah. Oikawa langsung menggeleng sambil meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.

“Nggak, kok, nggak. Gue aja yang makannya terlalu buru-buru. Ehm, by the way, ini enak semua, kok,” jawab Oikawa seraya tersenyum lebar. Untuk suatu alasan, rasanya ia ingin cepat-cepat menghapus ekspresi khawatir dan rasa bersalah itu dari wajah Iwaizumi.

Setelah keadaan kembali tenang, dan makanan di atas meja sudah hampir habis semua, gantian Oikawa yang bersuara.

“Apa lo mau… ngomongin soal rencana kita sekarang?”

Iwaizumi meletakkan cangkirnya yang berisi teh (kapan pria itu memesan teh?) dengan gaya bak seorang pangeran, lalu menatap Oikawa tepat di manik mata. “Boleh. Mau mulai dari mana?”

Oikawa menimbang-nimbang, lalu memilih perihal yang urgensinya paling dekat.

“Gimana kalau soal hari Senin nanti?”

Iwaizumi menatapnya penuh spekulasi selama beberapa saat sebelum bertanya balik. “Lo pernah pacaran?”

“Hah? Pacaran?” Kenapa tiba-tiba? “Pernah, sih… dulu. Kenapa emangnya?”

“Hari Senin kita harus keliatan kayak gitu. Orang yang lagi pacaran.”

“Nah, iya, tapi gimana caranya?”

Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya yang tebal.

“Skinship? Obviously?” jawaban pria itu lebih terdengar seperti pertanyaan.

Oikawa bersyukur sedang tidak ada minuman atau makanan yang masuk ke tenggorokannya jadi bisa dipastikan dia tidak akan tersedak.

“Skinship…” Oikawa mengulangi satu kata itu secara perlahan. “Oke, terus?”

“Kita harus ubah gaya bicara, juga nama panggilan masing-masing.”

Oikawa menelan salivanya, lalu bergumam memastikan, “maksudnya ubah jadi… aku kamu?”

Iwaizumi lagi-lagi mengangguk. Ekspresinya tetap tenang. “Itu dan… kita harus sebut nama depan masing-masing.”

Astaga. “Oh.”

“Mau coba?”

Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali, persis seperti ikan yang kekurangan oksigen. Huruf ‘h’ sudah berada di ujung lidahnya, tapi tetap tak ada suara yang keluar.

“Tooru.”

Kali ini Oikawa berhasil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, namun itu bagian dari usahanya agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh yang nantinya bisa mempertanyakan kewarasannya. Tapi — astaga — suara Iwaizumi saat tadi memanggil nama depannya benar-benar…

“Tooru?” Iwaizumi memanggilnya lagi, kali ini keningnya mengernyit sedikit saat dilihatnya tidak ada respons yang didapat. “Kamu nggak apa-apa?”

Sialan.

Oikawa memaksakan dirinya untuk tertawa, dan memutuskan ikut ‘bermain’ dalam permainan akting ini. Kalau Iwaizumi saja bisa melakukannya, kenapa dia tidak?

“Maaf, aku nggak apa-apa, kok,” Oikawa sengaja mengambil jeda, “Hajime,” dan mengucapkan nama pria itu dengan penuh penekanan.

Saat dilihatnya wajah Iwaizumi sedikit tertegun, rasanya Oikawa ingin langsung bersorak gembira.

Skor mereka satu sama sekarang.

“Gimana kalau yang soal skinship?” tanya Oikawa setelahnya, tidak ingin membiarkan Iwaizume yang sepenuhnya memimpin keadaan.

Pria itu berdeham kecil, lalu menegakkan tubuhnya. Jelas sekali berusaha mempertahankan komposurnya agar tetap tenang. Iwaizumi pun kembali menatap Oikawa dengan tatapan lurusnya.

“Kamu punya batasan? Aku rasa kalau pegangan tangan, ngerangkul atau… pelukan masih nggak masalah? Tapi kalau kamu nggak mau, aku nggak akan maksa,” jawab Iwaizumi dengan pandangan tak terbaca, namun jelas sekali ia amat sangat menunggu jawaban dari Oikawa.

“Aku nggak keberatan, kok.”

“Apa ciuman juga nggak apa-apa?”

Senyum sedikit menghilang dari wajah Oikawa. Jantungnya yang tadi sempat berdetak dengan normal, kini kembali ke kecepatannya yang dua kali lipat.

Iwaizumi sepertinya menangkap perubahan ekspresi itu dan mengartikannya sebagai sebuah penolakan.

“Nggak apa-apa kalau kamu nggak—”

“Nggak,” Oikawa cepat-cepat memotong tanpa sadar. “Maksudku… aku… nggak keberatan. Kissing is fine too,” yang terakhir ia tambahkan sedikit pelan, sedikit berharap bahwa Iwaizumi tidak akan mendengarnya.

Namun pria itu tersenyum sedikit lebih lebar dan jelas sekali terlihat sangat puas. “Great.”

Setelahnya, Oikawa hanya sanggup memperhatikan saat Iwaizumi memanggil pelayan dan meminta bill. Ia juga tidak mengatakan apa-apa saat pembayaran sudah selesai dilakukan dan Iwaizumi kembali menaruh atensi pada dirinya. Pria itu berdiri, lalu berjalan mendekatinya.

“Mau pindah ke tempat lain?”


Next will be the last part of this dating narration! Thank you for reading until now~

@fakeloveros

Mereka membuat janji untuk bertemu hari Sabtu di depan gerbang Takeshita Street pukul sepuluh tepat.

Dengan gugup, Oikawa berulang kali memeriksa penampilannya di pantulan kaca setiap pertokoan yang dia lewati. Namun tidak sampai semenit kemudian, dirinya lantas mengutuk dalam hati karena sejak kapan gue nervous begini cuma buat ketemu orang?

Oikawa sudah sering dikenal sebagai orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, baik kalangan muda maupun tua. Komunikasi merupakan salah satu keahliannya sehingga menjadi guru merupakan cita-citanya sejak kecil. Itulah kenapa dia mengambil pendidikan di jurusannya yang sekarang. Walaupun tidak sedikit yang mengangkat alis sebelah begitu mendengar keinginannya sejak dulu, Oikawa tidak pernah memedulikan pendapat orang-orang itu. Lagi pula, apa salahnya ingin menjadi guru?

Namun yang jelas, gugup ketika bertemu orang baru ataupun lama tidak pernah ada di dalam kamusnya selama ini.

Jadi kenapa tangannya sampai berkeringat sekarang begitu tahu bahwa pria yang membuat janji dengannya hari ini sudah menanti di depan sana?

Oikawa berhenti sebentar, lalu menepuk kedua pipinya dengan cukup kencang sampai menarik perhatian orang-orang yang lewat di sekitarnya. Namun Oikawa tidak memedulikan orang-orang tersebut, dan lebih memilih untuk memantapkan hati.

Ayo, Oikawa, lo pasti bisa. Ini cuma Iwaizumi. Bukan siapa-siapa. Bukan artis, bukan juga—

Pikirannya langsung terasa kosong detik itu juga begitu matanya menangkap sosok Iwaizumi yang tengah berdiri di depan sebuah toko aksesoris dalam berbagai warna cerah. Sungguh kontras dengan penampilan pria itu yang terlihat gelap. Gelap dan memesona.

Penampilan Iwaizumi begitu memukau sampai Oikawa sulit menggerakkan lidahnya yang mendadak terasa kelu.

Sekarang ia paham kenapa banyak orang yang mengejar-ngejar pria itu, dan Oikawa berdoa keras dalam hati, semoga dia tidak menjadi salah satunya. Setidaknya, tidak sekarang.

Ayo, tarik napas, Oikawa. Tarik napas…

Oikawa berjalan mendekat dengan langkah yang sangat pelan. Jantungnya yang sudah berdegup dengan kencang, kini seakan memukul-mukul dadanya seiring jaraknya dengan Iwaizumi yang semakin terkikis. Begitu tersisa beberapa langkah, Iwaizumi yang menyadari kehadiran Oikawa, langsung mengangkat wajahnya dari layar handphone yang sedari tadi ditekuninya.

Aneh, pikir Oikawa begitu ia tiba di hadapan pria itu. Padahal mereka baru bertemu kemarin, tapi seperti ada sesuatu yang berbeda dari Iwaizumi hari ini, dan itu yang membuat Oikawa sedikit kehilangan fokusnya.

“Hai! Sori, udah nunggu lama, ya?” tanya Oikawa dengan nada ceria, salah satu usahanya untuk menutupi kegugupannya yang kembali datang.

Iwaizumi menggeleng seraya memasukkan handphone-nya ke dalam kantung, kemudian dengan terang-terangan memperhatikan Oikawa dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“You look nice.”

Pujian itu singkat, dan tentunya bukan pertama kalinya Oikawa mendengar hal yang serupa selama hidupnya. Namun pujian itu terdengar tulus sehingga mau tak mau semburat merah muda mulai muncul di pipinya tanpa bisa dihentikan.

“T-thanks. Lo hari ini keliatan… ehm, beda,” balas Oikawa sebelum bisa menghentikan dirinya sendiri.

“Beda? Beda gimana?” tanya Iwaizumi tanpa basa-basi. Ada rasa ingin tahu yang terdengar sangat jelas di balik nada suaranya.

“Ehh… beda… aja? Pokoknya beda? Hahaha…” jawab Oikawa dengan kikuk selagi berusaha menghindari tatapan lurus pria itu. Tangannya terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan sekarang pipinya terasa mulai panas.

Hanya ada satu cara untuk menyelamatkannya dari situasi yang memalukan ini.

“Jadi… rencananya kita mau ke mana?” tanya Oikawa, berusaha mengalihkan topik.

“Hmm…” Iwaizumi bergumam seraya memperhatikan suasana di sekitar mereka yang mulai ramai. “Lo suka nonton film?”

“Hah? Film? Film apa?”

“Apa aja,” jawab Iwaizumi, kini sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung dan menatap Oikawa penuh ekspektasi.

“Ooh, suka-suka aja, sih. Kenapa emang?” tanya Oikawa yang justru semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.

“Mau nonton film dulu? Mumpung masih jam segini.”

“Hah?”

Lagi-lagi, Oikawa hanya mampu tercengang.


Oikawa pikir, hari itu ia akan bertemu dengan Iwaizumi untuk membicarakan soal perjanjian mereka tanpa melalui basa-basi apa pun. Karena itulah kesan yang Oikawa dapat setiap kali berbicara dengan Iwaizumi — to the point dan tidak suka mengulur waktu.

Namun siapa sangka, 45 menit kemudian, dirinya sudah duduk rapi di dalam salah satu studio bioskop dengan segelas soda di tangannya. Iwaizumi sendiri sudah duduk di sebelahnya selagi memegang gelas minuman yang sama.

Bagi Oikawa, tidak ada Sabtu yang lebih absurd dari hari ini.

“Lo suka genre film apa aja?”

Suara rendah Iwaizumi yang terdengar dua kali lebih dekat di telinganya, membuatnya terlonjak kaget dan hampir saja menumpahkan minumannya. Padahal Oikawa memiliki refleks yang cukup cepat, tapi kali itu, Iwaizumi lah yang langsung menahan tangannya agar minumannya tidak jatuh ke lantai.

“Hati-hati,” ucap pria itu setelah memastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah. Sedangkan Oikawa hanya mampu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.

“Makasih…” Oikawa berujar pelan, lalu segera menegakkan tubuhnya diiringi dehaman canggung. “Kalo gue suka… literally genre film apa aja, sih, selama nggak yang garing banget. Tapi gue lebih sering nonton film komedi atau action. Oh, romance is fine too.”

“Romance?” Iwaizumi menelengkan kepalanya sedikit, seolah memikirkan jawaban Oikawa baik-baik. “Lo suka film romance?”

“Yah, soalnya gue punya kakak cewek, jadi kebawa aja karena dia di rumah juga suka nonton film romance.”

“Oh, kita sama,” Iwaizumi berujar dengan sedikit terkejut. “Gue juga punya kakak cewek. Dan gue ngerti banget sama yang lo maksud barusan.”

Oikawa menelan minumannya, lalu menoleh ke arah Iwaizumi sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba kegugupannya yang barusan hilang seolah menguap di udara. “Dan harus gue akui… kadang film-film itu emang seru banget. Lebih seru dibanding action malah,” Oikawa membalas dengan penuh antusias.

Iwaizumi ikut tersenyum, bahkan terkekeh sedikit. “Setuju.”

Entah ada mantra tersembunyi apa di balik suara tawa bernada rendah itu, tapi yang jelas, Oikawa tidak bisa langsung mengalihkan tatapannya. Ia menatap Iwaizumi nyaris tanpa berkedip. Kursi bioskop yang memiliki jarak sangat dekat satu sama lain itu sama sekali tidak membantunya. Justru seakan ada sesuatu yang memperkuat mantra itu agar Oikawa tidak mengalihkan atensinya sama sekali. Pikirannya kosong, dan yang ia inginkan saat itu hanya mendengar suara tawa Iwaizumi sekali lagi.

Iwaizumi pastilah menyadari perubahan sikap pada Oikawa karena pria itu langsung menghentikan tawanya, dan balas menatap tanpa mengatakan sepatah kata pun. Oikawa menjilat bibirnya yang terasa kering tanpa sadar, dan ia bersumpah, Iwaizumi baru saja mengikuti gerakan lidahnya barusan dengan kedua matanya.

Sayangnya, mantra itu harus terputus begitu terdengar suara kumpulan remaja yang baru saja masuk dan berebut tempat duduk tak jauh dari mereka. Oikawa lantas menoleh kembali ke depan — ke arah layar bioskop yang masih gelap dengan pipi yang bersemu merah. Untuk menutupi kegugupannya, Oikawa langsung menghabiskan minumannya sampai setengah seolah dia begitu kehausan.

Anehnya, pria di sebelahnya tidak langsung mengalihkan tatapannya. Oikawa bisa merasakan Iwaizumi menatap sisi wajahnya untuk beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya kembali menoleh ke depan diikuti sebuah helaan napas panjang.

Sisa menit yang ada pun berlalu dalam keheningan. Begitu kursi penonton mulai terisi banyak, lampu digelapkan dan layar mulai menyala, barulah Oikawa bisa menghela napas lega.

Namun untuk pertama kalinya, Oikawa tidak bisa berkonsentrasi sepanjang film diputar.


@fakeloveros

“Woy! Lo nggak ada part time kan hari ini? Mau ke— eh, anjir, buru-buru amat. Mau ke mana lo?”

Oikawa nyaris tidak mendengarkan omongan Matsukawa. Dirinya terlalu sibuk membereskan barang-barangnya untuk segera pergi menuju kafe tempatnya bekerja — tempat di mana ia sudah memiliki janji dengan seseorang.

Oikawa pikir, dia tidak akan terlalu memikirkannya. Namun mau tidak mau, chat masuk dari yang mengaku sebagai Hajime Iwaizumi benar-benar mengganggu konsentrasinya seharian itu.

Emangnya kalau bener, lo bakalan mau…? Oikawa terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri sepanjang hari.

Yah, kalau duit yang bener bakal dia tawarin banyak, mungkin gue—

“Tooru! Woy! Jawab kek pertanyaan gue.”

Oikawa hanya berdecak kesal selagi menyelempangkan tasnya.

“Gue buru-buru, nih. Udah ada janji sama orang. Nanti lagi, ya! Bye!”

Tanpa mengindahkan lebih lanjut panggilan Matsukawa, Oikawa segera berlari keluar dari ruangan kelasnya. Sepanjang jalan menuju gerbang depan kampusnya, berulang kali Oikawa harus memanuver langkahnya agar tidak bertubrukan dengan para mahasiswa yang juga baru keluar kelas.

Begitu mencapai gerbang terluar kampusnya, Oikawa semakin mempercepat derap langkahnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Kalau bisa, ia ingin menjadi orang pertama yang sampai di kafe tempat mereka janjian untuk menyusun kata-kata terlebih dulu. Lagi pula, mahasiswa jurusan manajemen pasti lebih sibuk dari dirinya, bukan?

Begitu sampai, dengan napas yang sedikit terengah, Oikawa menghapus peluh yang muncul di keningnya seraya melirik singkat ke dalam kafe tempatnya bekerja. Ia lantas membuka pintu kafe dan bunyi bel yang familier langsung terdengar dari atasnya.

“Selamat datang di— loh? Kak Oikawa?”

Oikawa menoleh, dan mendapati seorang perempuan mungil dengan potongan rambut sebahu menyapanya dengan bingung.

“Kakak ngapain ke sini? Bukannya hari ini nggak ada jadwal shift kakak?” tanya perempuan itu masih dengan tampangnya yang kebingungan. Seolah aneh sekali bagi Oikawa untuk berkunjung di luar waktunya bekerja.

“Eh, Yachi, ini aku ada janji sama temen di sini. Tapi kayaknya orangnya belum dateng.”

Yachi ber-ooh pendek, lalu memiringkan kepalanya dengan ekspresi ingin tahu. Perempuan itu melirik ke arah belakang Oikawa, kemudian menurunkan oktaf suaranya.

“Bukan yang itu temen kakak? Soalnya dari tadi cowok itu sendirian. Jadi aku pikir dia lagi nunggu seseorang,” ucap Yachi dalam bisikan rendah. Matanya melirik sekali lagi ke arah pojok kafe seolah menunjukkan maksudnya secara tersirat.

Oikawa mengernyitkan keningnya, lalu secara terang-terangan menoleh ke belakang untuk melihat orang yang dimaksud Yachi. Matanya lantas melebar begitu melihat sosok yang duduk sendirian di pojok kafe ternyata orang yang memiliki janji dengannya.

Hajime Iwaizumi sudah datang, dan tengah menunggu kedatangannya.

Seakan bisa membaca pikirannya, pria itu menoleh sehingga mata mereka langsung bertemu. Tetapi pria itu tidak berkata apa pun atau melambaikan tangan. Dia hanya terus menatap Oikawa seakan menunggu untuk dihampiri langsung. Oikawa menelan salivanya susah payah, lalu menoleh kembali ke arah Yachi.

“Eh, iya, itu temenku. Haha, ternyata dia udah dateng,” Oikawa berujar dengan sedikit canggung. “Eh, Yachi, aku pesen iced latte, ya.”

“Ooh, bener temen Kak Oikawa, toh. Haha, oke deh, kak, siap! Nanti aku bawain ke meja sana, ya.” Setelah mengacungkan jempolnya, Yachi segera pergi membuat pesanan — meninggalkan Oikawa yang masih berdiri di depan pintu dengan canggung.

Tapi bukan Oikawa namanya kalau dia mundur begitu saja.

Jadi setelah menarik napas dalam, Oikawa dengan berani berjalan menghampiri meja yang ditempati Iwaizumi. Pria itu tentu saja sudah menyadari kehadirannya, dan dengan tatapan matanya, mengikuti saat Oikawa perlahan mendekat.

“Ha-halo… gue Oikawa,” ujarnya seraya tersenyum kikuk. Tangannya refleks terangkat untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia masih merasa sedikit canggung.

Namun Iwaizumi hanya mengangguk singkat, lalu dengan gerakan kepalanya, menyiratkan Oikawa untuk duduk.

“Udah pesen?” tanya pria itu setelah Oikawa duduk di hadapannya.

“Oh, udah, kok,” jawab Oikawa, matanya lantas tertuju pada cangkir hijau khas kafe mereka yang ada di depan Iwaizumi. Isinya tinggal setengah. “Lo… udah nunggu dari tadi?”

“Lumayan. Gue nggak ada kelas soalnya tadi siang,” jawab pria itu, tanpa mengalihkan tatapannya dari Oikawa. Berbeda dengan Oikawa sendiri yang berusaha menatap ke mana saja asalkan bukan ke arah pria itu langsung.

“Oh, oke, jadi…” Oikawa menghentikan omongannya karena masih dilanda kebingungan. Iwaizumi sepertinya bukanlah tipe yang banyak berbicara, jadi ia tidak tahu bagaimana harus mengarahkan obrolan mereka.

Apa gue harus basa-basi lagi? Atau to the point aja langsung?

“Lo—”

“Soal tawaran itu—”

Oikawa berhenti dan memilih untuk membiarkan Iwaizumi melanjutkan ucapannya. Iwaizumi hanya menatapnya sebentar, sebelum melanjutkan.

“Soal tawaran itu… gue tau tiba-tiba banget. Apalagi sebelumnya kita nggak saling kenal. Tapi gue nggak bohong waktu bilang gue sering liat lo bareng Takahiro. Lo keliatan gampang bergaul sama orang lain dan… nggak banyak gaya. Makanya gue pikir lo orang yang tepat buat gue mintain tolong.”

Selesai. Pria itu berbicara dengan tenang, tidak terburu-buru dan seolah sudah memikirkan semuanya baik-baik. Meskipun begitu, masih banyak pertanyaan yang menumpuk di kepala Oikawa.

“Oke… tapi lo masih belum jelasin, kenapa butuh orang buat jadi pacar bohongan lo, padahal jelas-jelas banyak orang yang ngejar-ngejar lo selama ini? Maksud gue, lo terkenal di kampus kita. Masa nggak ada yang lo taksir satu orang pun? Dan kenapa lo pilih gue?”

Sungguh timing yang tepat karena setelah mengeluarkan pertanyaan beruntun seperti itu, Yachi datang membawakan iced latte-nya. Oikawa cepat-cepat meminumnya untuk menghilangkan rasa haus, sekaligus kegugupannya. Matanya diam-diam melirik ke arah Iwaizumi yang tengah membuat ekspresi berpikir.

“Sebenernya lumayan panjang, tapi intinya, masalah keluarga. Gue butuh orang buat jadi pacar bohongan karena kalau nggak gitu, gue bakal dijodohin sama orang lain.”

“Wow. Oh, ya?” Zaman sekarang masih ada ya yang bikin perjodohan kayak gitu? pikir Oikawa dalam hati dengan sedikit takjub. Namun tidak heran juga karena setahunya Iwaizumi memang lahir di keluarga terpandang, jadi pasti perjodohan seperti itu pun berkaitan dengan bisnis keluarga mereka. Persis seperti cerita dalam novel atau dorama yang pernah ditontonnya.

Iwaizumi mengangguk, lalu menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Pria itu terlihat lebih rileks sekarang.

“Dan soal kenapa gue pilih lo… terlepas dari alasan yang gue sebutin tadi, lo termasuk salah satu orang yang nggak ngejar-ngejar gue selama ini,” ucap Iwaizumi dengan tenang.

Oikawa hampir saja tersedak minumannya.

“M-maaf? Lo bilang apa barusan?”

Kalau tidak sedang dalam keadaan panik, Oikawa yakin dia baru saja melihat Iwaizumi tersenyum kecil ke arahnya. Tapi pernyataan Iwaizumi barusan cukup membuatnya kehilangan fokus, juga kata-kata.

“Gue nggak punya banyak temen di kampus. Takahiro pun cuma satu dari segelintir yang gue bener-bener anggap temen. Sisanya… mereka nggak serius temenan sama gue. Pasti ada maunya. Entah itu reputasi atau duit gue,” jelas Iwaizumi dengan santai seakan memang sudah sering mengalaminya. Untuk sedetik, Oikawa merasa prihatin. “Dan gue butuh orang yang bisa ngeliat gue… secara normal.”

Dan menurut dia, gue orang yang cocok? Oikawa masih merasa sangsi dengan keputusan pria itu. Walaupun sudah dijelaskan, ia tetap tidak mengerti bagian mana dari dirinya yang cocok dideskripsikan seperti itu. Lagi pula, ia tidak ikut mengejar-ngejar Iwaizumi karena sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bukannya tidak tertarik pada pria itu.

“Well, oke, anggap aja gue setuju. Terus, apa yang bakal gue dapet?” Oikawa akhirnya menanyakan perihal yang diam-diam sudah ia nantikan sejak awal. Apakah benar pria itu bisa membantu keadaannya yang sedang sulit?

“Gue denger lo part time di tiga tempat? Sebut aja lo butuh berapa sampai pokoknya bisa bikin lo keluar dari dua part time di antaranya.”

Lagi-lagi Oikawa hampir saja tersedak iced latte-nya.

“Serius…?” Oikawa bertanya dalam bisikan tidak percaya. Keluar dari dua kerja paruh waktunya? Oikawa berharap dia tidak sedang bermimpi. “Lo… serius mau ngasih gue setara itu?” Oikawa bertanya sekali lagi untuk memastikan.

Iwaizumi mengangguk. Tidak ada tanda-tanda ketidakseriusan sama sekali di balik obisidian hitamnya.

“Lebih juga nggak apa-apa. Just say the number, and I'll give it to you. Every month,” ucap Iwaizumi seolah berusaha meyakinkannya lebih jauh.

Oikawa hanya tercengang selagi otaknya menghitung cepat nominal yang bisa ia dapatkan setiap bulannya. Dan ia tidak perlu begadang lagi, ataupun mengorbankan waktu istirahatnya.

Semua bisa ia dapatkan asalkan menjadi pacar bohongan pria itu.

“Apa aja… yang harus gue lakuin kalau misalnya setuju?” tanya Oikawa setelah beberapa saat.

Iwaizumi terdiam sebentar, lalu mengangkat bahunya. “Ya akting layaknya orang pacaran? Nggak cuma depan keluarga gue, tapi juga orang-orang di kampus. Kita bisa bicarain lebih detailnya nanti kalau lo bener-bener udah setuju.”

Oikawa bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat mendengar penuturan tersebut. Konsep berpacaran pura-pura dengan pria asing di hadapannya yang selama ini hanya ia ketahui nama dan reputasinya di kampus, masih begitu asing di pikirannya. Namun ia tahu, kesempatan seperti ini tentunya tidak akan datang dua kali.

Lagian Iwaizumi juga lumayan… Oikawa menatap pria itu dari balik bulu matanya. Diam-diam mengagumi bagaimana cahaya matahari sore bermain di kulit kecoklatan pria itu. Perawakannya yang tenang juga menambah karisma yang dimilikinya. Belum lagi lengannya yang terlihat berotot. Pria itu pasti sering berolahra-

Oikawa cepat-cepat menggeleng untuk mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba datang tersebut.

“Lo nggak mau?”

“Eh?” Oikawa mendongak dengan bingung, kemudian tersadar bahwa gerak refleksnya barusan pasti dianggap sebagai penolakan oleh pria itu. Untuk sesaat, Oikawa seperti melihat adanya sinar kekecewaan di balik mata Iwaizumi sebelum menghilang sedetik kemudian.

“Oh, bukan, bukan! Sori, tadi gue cuma kepikiran sesuatu. Haha, nggak penting, kok,” Oikawa cepat-cepat menampiknya sebelum Iwaizumi berubah pikiran dan mencari orang lain.

Eh? Oizawa tersentak sendiri atas pemikiran tersebut. Berarti gue mau…?

“Terus? Apa lo mau nerima tawaran gue?” tanya Iwaizumi pada akhirnya, seolah mencari jawaban yang sama atas pertanyaan Oikawa barusan pada dirinya sendiri.

Yah, lagi pula, dia cuma akan hidup sekali di dunia ini, bukan? Jadi tidak ada salahnya mencari keseruan sedikit dari hidupnya yang akhir-akhir ini begitu melelahkan.

Begitu pikir Oikawa.

Maka, dirinya pun memutuskan.

“Sure. Let's do this,” jawab Oikawa dengan yakin seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka mulai berbincang, Iwaizumi menerbitkan senyumnya.

Pria itu menyambut uluran tangan Oikawa, dan ikut menjawab dengan nada yakin yang terdengar sama.

“Deal.”


@fakeloveros

Oikawa menutup laptopnya diikuti helaan napas berat yang terasa memenuhi ruangan perpustakaan yang mulai sepi. Dia meregangkan tubuhnya untuk melemaskan persendiannya yang terasa sangat kaku seharian itu. Rasanya tidak ada kesempatan untuk bersantai, bahkan sekadar mencuri-curi waktu tidur siang di sela-sela pergantian kelas pun dia tidak bisa. Tubuhnya sudah terlalu lelah, tapi masih banyak hal yang harus dikerjakannya.

“Males banget…”

Oikawa berucap pelan pada dirinya sendiri selagi menatap dompet hitam yang kini ada di tangannya. Dompet hitam itu ia temukan tadi tergeletak begitu saja di atas meja yang biasa ia tempati setiap mengerjakan tugas di perpustakaan. Oikawa tidak akan berbohong, untuk sedetik, ia memang sempat memiliki pikiran jahat mengambil beberapa lembaran uang di dalamnya. Matanya bahkan sempat berkilau saat melihat dua black credit card yang sudah pasti hanya bisa dimiliki orang-orang tertentu dengan harta kekayaan berlimpah.

“Kalau punya uang sebanyak ini, pasti bisa beli apa aja ya…” gumamnya seraya menghela napas untuk kesekian kalinya. Namun Oikawa tahu, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalahnya sekarang. Setidaknya masih ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan, dan iri dengan privilege orang lain bukanlah salah satunya.

Oikawa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu buru-buru membereskan kertas dan alat tulis yang berserakan di atas meja. Sebenarnya ia tidak yakin seseorang yang bernama Hajime Iwaizumi ini masih berada di lapangan yang tadi disebutkan temannya. Namun apa boleh buat, tugasnya lebih penting dibandingkan mengembalikan dompet kepunyaan salah satu mahasiswa paling terkenal di kampus mereka. Jadi seandainya pria itu sudah tidak ada di tempat, Oikawa akan langsung menyerahkannya besok ke temannya, Takahiro.

Hembusan angin menyambut Oikawa pertama kali saat dirinya melangkah keluar dari bangunan perpustakaan. Ia mengeratkan jaketnya, lalu berjalan cepat menuju lapangan sebelah gedung B. Oikawa berharap, dia masih memiliki sisa waktu untuk bersiap-siap sebelum pergi ke tempat kerja paruh waktunya malam itu.

Pasti udah nggak ada orang… tebak Oikawa dalam hati begitu memasuki kawasan gedung jurusan manajemen. Karena masih minggu awal semester baru, belum begitu banyak mahasiswa yang berlama-lama di kampus. Oikawa hanya menyaksikan segelintir orang yang masih tinggal di sepanjang jalan tadi. Namun pikirannya langsung teralihkan begitu mendengar suara pantulan bola dari arah lapangan yang ditujunya.

“Hm? Masih ada orang?” ucanya pelan seraya mempercepat langkahnya. Ia sudah bisa melihat ada sosok yang tengah bermain basket sendirian di tengah lapangan. Namun ia tidak tahu pasti, apakah benar itu Hajime Iwaizumi atau bukan karena sosok jangkung tersebut mengenakan jaket hitam dan topi dengan warna senada. Sulit untuk mengenalinya dari belakang, terlebih karena Oikawa pun tidak pernah bertukar sapa dengan pria itu.

Sepertinya sosok yang tengah bermain basket sendirian itu pun tidak menyadari kehadiran Oikawa meskipun suara langkahnya terpantul jelas di lapangan tersebut. Oikawa pun mencoba keberuntungannya.

“Iwaizumi...?” Oikawa menyebut nama itu dengan sedikit ragu.

Pria yang dipanggil Iwaizumi itu langsung menoleh dengan bola basket yang masih berada di antara kedua tangannya. Oikawa lantas menghembuskan napas lega begitu sosok tersebut ternyata memang orang yang diketahuinya.

“Ehm, maaf gue tiba-tiba nyamperin gini. Cuma kayaknya dompet lo ketinggalan di perpus. Gue nggak sengaja nemu tadi. Oh, tenang aja, isinya masih utuh, kok! Nggak ada yg gue ambil. Gue cuma buka buat ngecek kartu mahasiswa lo,” ucap Oikawa secara beruntun tanpa memberikan kesempatan pada pria yang ada di hadapannya untuk berbicara. “Gue lagi buru-buru banget, nih, jadi…”

Oikawa menyodorkan dompet hitam tersebut pada pria yang malah menatapnya dengan tatapan datar. Oikawa jadi merasa canggung sendiri dengan tangannya yang masih berada di atas udara, tidak dipedulikan oleh sang pemilik dompet.

Setelah beberapa saat terlewat dalam keheningan, Iwaizumi akhirnya buka suara.

“Lo temennya… Takahiro.”

Bukannya menerima uluran dompetnya, pria itu malah menyuarakan hal yang tidak diduga oleh Oikawa. Tapi kalimat barusan tidak terdengar seperti pertanyaan, jadi Oikawa hanya memiringkan kepalanya dengan bingung. “Err… iya? Gue temennya Takahiro. Kok lo tau?”

Pria itu tidak langsung menjawab, namun Oikawa akhirnya dapat menurunkan lengannya yang mulai pegal karena Iwaizumi sudah mengambil dompet yang diulurkannya. Iwaizumi bahkan tidak menatap dompetnya sama sekali, dan langsung memasukkannya ke dalam kantung jaket.

“Sering liat.”

Jawaban singkat tersebut justru semakin menambah kebingungan dalam diri Oikawa. Baru saja dia ingin membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, Oikawa langsung teringat dengan jadwal kerja paruh waktunya yang sebentar lagi akan tiba. Ia tidak punya waktu lagi.

“Aduh, maaf banget, gue beneran lagi buru-buru. Dompetnya jaga baik-baik, ya. Jangan sampai ketinggalan lagi. Nggak semua orang baik kayak gue, loh. Ya udah, gue duluan ya. Daah!”

Tanpa menunggu balasan Iwaizumi, Oikawa langsung berbalik dan berlari secepat mungkin menuju gerbang keluar kampus mereka. Masih ada bus yang harus dikejarnya beberapa menit lagi. Kalau sempat, ia pun ingin mampir sebentar ke minimarket untuk mengisi perutnya sedikit dengan onigiri dingin.

Rentetan rencana sudah tersusun rapi di dalam kepala Oikawa—

tanpa menyadari ada tatapan tak terbaca yang mengikuti punggungnya dari pria yang masih berdiri di tengah lapangan.


@fakeloveros

Shinsuke meletakkan handphone-nya ke dalam kantung, lalu menghela napas.

Sayangnya, helaan berat itu masih terdeteksi oleh indra pendengar seorang pria yang berada di ruangan yang sama dengannya.

Dan sepertinya, pria itu tahu apa penyebab manajernya barusan menghela napas berat.

“Atsumu?” tanya pria itu, Suna, bahkan tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

Shinsuke menggigit bibirnya pelan, lalu bergumam, “siapa lagi?”

Sebagi balasan, Suna hanya ber-hmm panjang selagi merapikan kertas-kertas tersebut.

“Apa ini soal dating ban itu lagi?” tanyanya setelah membiarkan keadaan hening untuk beberapa saat. Tidak perlu menebak jauh pun, Suna pikir dia sudah tahu akar permasalahan yang menyebabkan wajah seniornya berubah menjadi sedikit lebih muram.

Keterdiaman Shinsuke lah yang kemudian menjadi jawaban pastinya.

“Emang kenapa sih, Kak, kalau orang-orang di kantor pada tau kalian pacaran?”

Pertanyaan Suna tentu bukan sesuatu yang tidak pernah terlontarkan sebelumnya. Bahkan Shinsuke sering mempertanyakan perihal yang sama berulang-ulang pada dirinya sendiri.

Kenapa?

Dan setiap kali pertanyaan itu terpikirkan, Shinsuke selalu berbohong pada dirinya sendiri.

“Aku cuma... nggak mau hubungan itu jadi penghalang di tempat kerja,” jawab Shinsuke, meski dirinya tahu betul bukan itu alasan sebenarnya.

“Maksudnya? Takut jadi distraksi gitu buat kalian?” Suna berusaha memastikan.

Shinsuke hanya mengangkat bahunya. “Kurang lebih?”

“Kalian, kan, bukan akan kecil lagi. Pasti tau lah mana yang perlu diprioritasin, dan mana yang harus ditunda.”

Jawaban Suna berhasil mendiamkan Shinsuke untuk kedua kalinya.

“Atau... Kak Kita punya alasan lain?”

Shinsuke hanya melirik Suna dari sudut matanya. Dia paham betul bahwa juniornya itu tengah memaksanya secara halus untuk mengatakan alasan yang selama ini dipendamnya sendirian.

“Nggak ada, kok.”

Namun lagi-lagi, Shinsuke hanya mampu berbohong.


“God. I miss you so much.”

Shinsuke tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk pelan punggung kekasihnya yang tengah memerangkapnya dalam sebuah pelukan erat. Padahal jam baru menunjukkan pukul 12 siang, dan mereka juga sudah bertemu sekilas tadi pagi, tapi Atsumu berhasil memanggil Shinsuke ke ruangan pribadi pria itu dengan alasan pekerjaan.

Sungguh klasik. Mereka sudah sering menggunakan alasan itu. Tinggal menunggu waktu sampai ada yang menyadari bahwa direktur utama perusahaan mereka memiliki hubungan khusus dengan salah satu manajer.

“Gimana kalau kita makan siang di sini? Nanti aku bisa minta Samu bawain makanan ke sini,” ucap Atsumu dengan suara yang sedikit teredam karena kepalanya masih disembunyikan di bahu Shinsuke.

“Hei, dia itu sekretaris kamu, bukan orang yang seenaknya bisa kamu suruh-suruh,” tegur Shinsuke, meskipun nada yang digunakannya masih terdengar halus.

“Nggak apa-apa. Dia pasti mau-mau aja.”

Shinsuke tidak membalas, tahu bahwa argumennya tidak akan berhasil di saat-saat seperti ini.

“Nanti malem kamu ke tempat aku lagi, kan?” tanya Atsumu selagi melepaskan pelukannya. Tangannya kini turun dan merengkuh pinggang yang lebih tua dengan santai. Ada senyum miring yang terulas di sana. Senyum kesukaan Shinsuke.

“Hmm... Kayaknya hari ini aku harus balik ke apartemenku dulu, deh. Bajuku udah hampir habis di tempat kamu,” jawab Shinsuke sambil diam-diam menikmati proksimitas mereka tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti biasanya.

Tidak perlu waktu 5 detik bagi Atsumu untuk mengeluarkan jurus merajuknya.

“You can just use mine, please? Tidurku nggak nyenyak kalau nggak ada kamu...” ucap Atsumu dengan wajah setengah cemberut. Rengkuhannya ia eratkan sampai jarak di antara mereka semakin terhapus.

“Loh, sebelum ada aku terus tidur kamu gimana?” tanya Shinsuke sedikit bercanda.

“Ya itu, kan, dulu... Sekarang beda, Shin,” jawab Atsumu, masih dengan bibir yang ditekuk ke bawah. “Lagian kenapa, sih, kita nggak sekalian aja tinggal bareng? Dulu aku juga pernah nawarin, kan?”

Shinsuke memilih untuk tidak langsung menjawab pertanyaan frontal tersebut. Tangannya pura-pura sibuk memainkan kerah kemeja Atsumu yang sudah sedikit berantakan. Dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap kekasihnya tepat di manik mata.

“Shin?” Atsumu memanggil namanya, kali ini diikuti sentuhan ringan di bawah dagu agar wajah mereka bisa kembali bertatapan. Shinsuke tahu dia tidak bisa menghindar lagi.

“Aku...” Shinsuke menelan salivanya susah payah. Tiba-tiba tenggorokannya terasa begitu kering. “Kamu... serius sama hubungan kita?”

Setelah pertanyaan tersebut terlontar, Atsumu memikiringkan kepalanya ke satu sisi dan menatap kekasihnya dengan ekspresi bingung.

“Kalau nggak serius, aku mana mungkin ngajakin kamu tinggal bareng? Mana mungkin juga aku bersikeras buat ngasih tau orang-orang di kantor soal hubungan kita?”

Skakmat. Atsumu justru membalikkan pertanyaannya dengan sesuatu yang lebih sulit dijawab.

“Apa kamu masih nggak yakin soal hubungan kita? Apa itu alasan kenapa kamu selalu nolak setiap kali aku bawa-bawa topik ngehapus dating ban itu?” Atsumu melontarkan pertanyaan beruntun tersebut dengan nada sedih yang terdengar begitu jelas.

“Nggak, bukan gitu—” Shinsuke buru-buru menjawab, namun ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kelanjutannya.

“Terus kenapa, Shin?”

Shinsuke memalingkan wajah sampai sentuhan Atsumu di dagunya terlepas. Perlahan, dia juga melepaskan rengkuhan tangan Atsumu di pinggangnya, lalu berjalan menuju jendela besar di ruangan yang memperlihatkan megahnya pemandangan kota Tokyo. Terkadang dirinya masih tidak percaya, kehidupannya bisa berubah 180 derajat dari seorang pemuda yang tinggal di pedesaan, sampai menjadi pekerja kantoran di kota yang tidak pernah tidur ini.

Dan di kota inilah Shinsuke bertemu dengan seorang Atsumu Miya. Seorang pria yang lebih muda darinya, namun telah menjadi pemimpin perusahaan terkenal karena kemampuannya yang mumpuni. Dengan tampangnya yang ada di atas rata-rata, sungguh tidak heran Atsumu Miya dikejar-kejar dan diperhatikan oleh banyak orang. Tidak hanya itu, pria itu pun pandai bersosialisasi, terkenal ramah terhadap semua orang, bahkan menguasai banyak bidang olahraga, yang tentu menjadi nilai plus lainnya.

Pria yang bagi Shinsuke terlalu sempurna karena hampir memiliki segalanya.

“Tsumu...” Shinsuke memanggil nama kecil kekasihnya dalam bisikan pelan. Namun ia tahu Atsumu pasti bisa mendengarnya dengan jelas karena pria itu langsung berjalan menghampirinya. Shinsuke mengangkat wajahnya dan memperhatikan pantulan tubuh mereka berdua dari kaca jendela besar di hadapannya.

“Kenapa kamu suka aku?”

Shinsuke pikir, Atsumu akan diam dan tak langsung menjawab, tapi belum sempat ia menghitung dalam hati, suara bariton pria itu sudah terdengar dari belakangnya.

“Emangnya aku butuh alasan, Shin?”

Shinsuke tidak bisa menahan senyumnya yang keluar. “Cheesy,” ucapnya singkat.

Atsumu terkekeh, lalu berjalan semakin mendekat dan melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Shinsuke dari belakang.

“Tapi aku serius. Aku suka karena kamu ya... kamu. Emang kalau aku tanya kenapa kamu suka aku, kamu bisa jawab? Kalau jawabannya cuma karena aku ganteng nggak diterima, ya,” ujar Atsumu dengan nada setengah mengancam seraya menjatuhkan ciuman kecil di pelipis pria yang masih dirangkulnya.

Shinsuke hanya tersenyum dan menatap pantulan diri mereka dengan tatapan setengah melamun.

“Maaf, tadi pertanyaanku aneh. Aku juga serius sama kamu. Aku mau kamu terus nyaman sama aku, tapi... kadang aku takut, Tsumu...” Shinsuke menghela napas, lalu membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap Atsumu kembali. Dengan keberanian diri yang datang tiba-tiba, Shinsuke mendongak agar bisa menatap obsidian cokelat kekasihnya.

“Aku takut kalau aku... nggak cukup buat kamu. Aku takut suatu saat kamu sadar bahwa aku nggak seimbang buat kamu. Aku takut kalau hubungan kita ketahuan, orang-orang bakal ngomongin kita di belakang, terutama soal kamu. Aku cuma nggak mau kamu—”

Shinsuke meracau, dia tahu itu. Tapi bahkan racauannya tidak bisa diselesaikan karena Atsumu tanpa aba-aba langsung mendiamkannya dengan sebuah ciuman. Refleks, Shinsuke memejamkan mata dan membalas ciuman itu dengan cara-cara yang sudah terlampau dihapalnya. Bagaimana cara Atsumu memiringkan wajah, atau bagaimana cara pria itu menyapu lembut bibirnya, kemudian menjilat kecil dengan lidahnya agar diberi izin untuk memperdalam ciuman mereka.

Shinsuke tidak perlu berpikir. Ia cukup menerima dan menikmatinya.

Dan mungkin itulah yang ingin disampaikan Atsumu.

“Sejak kapan kamu mikirin apa kata orang...”

Shinsuke membuka matanya perlahan, lalu mengerjap. Pagutan bibirnya sudah dilepaskan, dan kini ia tengah mengatur napas selagi netra yang tajam itu memaku dirinya di tempat.

“Sejak kapan seorang Shinsuke Kita yang aku kenal jadi penakut kayak gitu...”

Shinsuke tidak tahu harus membalas apa. Tubuhnya bergetar sedikit saat Atsumu mengangkat tangannya dan dengan hati-hati mengelus pipinya dengan punggung tangan. Seakan-akan dirinya boneka porselen yang mudah pecah.

Tapi keduanya pun tahu, Shinsuke Kita bukan orang yang seperti itu.

Dan Atsumu ingin mengingatkannya sekali lagi.

“Hubungan itu dijalani oleh dua orang, Shin. Kamu sama aku. Orang mau ngomong apa pun, nggak akan ada pengaruhnya asalkan kita masih yakin satu sama lain. I've got a strong resilience muscle towards people who bad mouthing me. Bukannya kamu yang paling paham soal itu? Hmm?” Atsumu bertanya, tanpa mengalihkan tatapannya dari pria yang selama dua tahun terakhir telah menjalin hubungan dengannya. Ia sedikit kecewa terhadap dirinya sendiri karena ia pikir sudah mengetahui segala hal tentang Shinsuke. Tapi ternyata, masih ada hal-hal yang disembunyikan oleh pria itu, termasuk ketakutannya dalam hubungan mereka.

“Dan kamu udah cukup buat aku. Lebih dari cukup, malah, Shin. Kamu udah bikin aku bahagia, jadi harusnya kamu justru bangga. Nggak semua orang bisa bikin aku bahagia, loh?” lanjut Atsumu setelah sebelumnya menjatuhkan ciuman cepat sekali lagi di bibir yang lebih tua.

Shinsuke mau tak mau tersenyum kecil, lalu memiringkan kepala dan bertanya dengan nada polos, “termasuk owner restoran sushi kesukaan kamu? Dia nggak bisa bikin kamu bahagia?”

“Hei! Jangan gitu dong perbandingannya!”

Shinsuke tertawa, kemudian menghilangkan jarak di antara mereka dengan memeluk erat pria yang lebih muda tersebut. Walaupun sudah menjadi pemimpin perusahaan, terkadang Atsumu bisa bertingkah seperti anak kecil di hadapannya. Itu termasuk sikap Atsumu yang tidak diketahui oleh banyak orang. Dan Shinsuke bangga ia bisa menjadi satu-satunya yang mengetahui sisi lain pria tersebut.

“Makasih ya... udah bilang begitu. Kamu juga bikin aku bahagia, kok.”

Atsumu hanya bergumam panjang, dan membalas pelukan Shinsuke dengan lebih erat. Mereka terus seperti itu selama beberapa saat sampai Atsumu yang memecahkan keheningan.

“Jadi? Gimana? Kamu mau, kan, tinggal bareng aku? Oh ya, soal dating ban juga—”

“Tunggu, ayo pilih salah satu,” Shinsuke buru-buru memotong sebelum Atsumu terbawa suasana lebih jauh. “Mana yang lebih urgent buat kamu? Aku tinggal bareng kamu atau dating ban itu dihapus?”

Atsumu tercengang seraya menatap Shinsuke tidak percaya. “Kamu serius nyuruh aku milih? Padahal aku bisa langsung lakuin dua-duanya—”

“Nggak, kamu harus pilih dulu salah satu. Satunya lagi tahun depan.”

“Tahun depan?!”

Shinsuke hanya mengulum senyum dan menikmati konflik batin yang jelas-jelas tengah diderita kekasihnya. Sesekali mengerjai Atsumu seperti ini menyenangkan juga, pikirnya.

“Lift the dating ban.”

Jawaban yakin Atsumu membawa Shinsuke kembali ke dunia nyata.

Kini giliran Shinsuke yang menatap Atsumu dengan tatapan terkejut. “Eh? Serius? Aku pikir kamu bakal—”

“Aku mau banget tinggal sama kamu, Shin. Kamu pikir aku bakal bisa tahan harus nunggu setahun? Tapi... bukan berarti kamu nggak akan nginep lagi di aku, kan? Aku bakal tetep nyulik kamu setiap ada kesempatan. Liat aja!” Atsumu mengatakannya dengan berapi-api seolah itu adalah misi yang harus dilakukannya sebelum mati.

“Terus kenapa nggak milih itu?” tanya Shinsuke dengan bingung.

“Karena aku bakal lebih kesel kalau nggak bisa terang-terangan nunjukkin ke orang-orang sini kalau kita pacaran. Kalau kamu udah jadi punya aku dan nggak boleh ada lagi yang pegang-pegang sembarangan, terutama si pegawai baru itu dan orang dari divisi marketing!”

Shinsuke memutar kedua bola matanya, walau tidak bisa menyangkal alasan kekanakkan itu justru membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

“Kamu tuh kayak anak kecil yang mainannya nggak boleh diambil tau, nggak?” ujar Shinsuke sambil menepuk kedua pipi Atsumu pelan. “Kamu beneran CEO bukan, sih?”

Atsumu hanya cemberut meskipun matanya justru menyiratkan hal yang sebaliknya.

Meskipun Shinsuke kini berdiri tegap di hadapannya, bahkan masih berada dalam pelukannya, namun dirinya sendiri tidak bisa menampik ketakutan yang juga disimpannya.

Bukan hanya Shinsuke yang menyimpan rasa takut itu. Atsumu pun memilikinya. Namun ia cukup ahli untuk menyembunyikannya karena ia tidak ingin membuat Shinsuke khawatir.

Ada rasa takut seandainya Shinsuke lah yang justru meninggalkannya suatu saat. Dan cara yang terpikirkan oleh Atsumu untuk menjaga Shinsuke agar terus berada di sisinya hanyalah melalui cara yang kekanakkan seperti ini.

“Makan siang, yuk?”

Tapi nggak masalah, Atsumu berpikir dalam hati seraya mengangguk untuk mengiyakan ajakan Shinsuke.

Selama Shinsuke masih tersenyum lebar seperti ini padanya, ia yakin semua akan baik-baik saja.


@fakeloveros


Disclaimer: this is actually the edited version of my short fic for another pairing in one of the kpop fandoms, so i'm not plagiarized this piece of work if you ever stumbled upon the original work. Thank you!


Mellifluous: refers to something that is sweet and enjoyable, especially when it comes to sound.

Senyum terulas di bibir Shinsuke selagi netranya terpaku pada dua sosok yang, menurutnya, keindahannya mampu mengalahkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian lantai 25 apartemen mereka.

Indah itu ada karena dua orang yang tengah menyatu dengan cahaya lembut sore hari di depannya, seperti karunia terindah dari Tuhan bagi dirinya yang bukan siapa-siapa ini. Bonus dari Sang Pencipta yang dirasa terlalu berlebihan sampai rasanya dia harus mencubit pipinya setiap pagi begitu terbangun, lalu bertanya-tanya dalam hati apakah hidupnya ini nyata atau sekadar mimpi belaka.

Tapi begitu keraguannya datang, secepat itu pula gelisah di hatinya menguap karena detik selanjutnya akan ada dua lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya dan berbisik—

“good morning, tidur kamu nyenyak?”

Dan Shinsuke langsung yakin kalau kehidupan yang tengah dijalaninya memang nyata.

Walaupun karunia Tuhan yang datang dalam bentuk sosok si kecil tak datang seiringan, tapi Shinsuke tetap bersyukur karena segala spektrum yang tadinya masih berwarna abu-abu dalam hidupnya, kini sudah memiliki warna. Keputusan itu memang tidak mudah. Banyak pertimbangan yang harus didiskusikan matang-matang dengan sang suami sebelum mereka memutuskan mengadopsi si mungil yang tidak mendapat kasih sayang sepantasnya dari kedua orang tua kandungnya.

Tapi biarlah fakta tidak menyenangkan tersebut dikubur dalam-dalam karena Shinsuke dan suaminya kini ada untuk menggantikan peran orang tua asli anak tersebut — anak mereka.

“Shin, udah tidur, nih.”

Suara pelan Atsumu membangunkan Shinsuke dari lamunannya. Ia memfokuskan kembali atensinya dan melihat sang suami tengah menundukkan wajahnya untuk memastikan bahwa anak yang berada di dalam gendongannya benar-benar sudah terlelap. Biasanya kalau anak mereka sudah kenyang, memang seperti itu. Tapi kali ini Shinsuke menyuruh Atsumu meninabobokan anak mereka karena barusan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

Sungguh kontras yang menggemaskan melihat bahu lebar suaminya berperan menjadi pelindung teduh dan sandaran nyaman bagi sang bayi kecil. Rasanya Shinsuke ingin meraih kamera pemberian Osamu dulu, dan mengabadikan momen tersebut agar bisa ia pandangi setiap saat.

Shinsuke bangkit, kemudian menghampiri Atsumu. Ia ikut menunduk dan mendapati netra kecil yang biasanya mengerjap penuh rasa ingin tahu, sudah menutup sempurna selagi berkelana ke ladang mimpi.

Shinsuke tersenyum, lalu menegakkan kembali tubuhnya. Atensinya kini beralih kepada sang suami yang masih menunggu titah selanjutnya.

“Capek, ya?” Shinsuke bertanya sembari menghalau surai yang sedikit menghalangi mata yang lebih muda.

Atsumu menggeleng, dan mendekap bayi dalam gendongannya dengan lebih erat.

“Mana mungkin aku capek?” balas pria itu sambil tersenyum miring. Senyum yang disukai Shinsuke.

“Ya udah, bawa ke kamar aja. Aku mau angetin sisa makanan tadi siang dulu buat kita.”

Atsumu mengangguk, kemudian melangkah menuju kamar mereka. Shinsuke memperhatikan punggung lebar itu menjauh dalam diam. Senyum masih belum menghilang dari wajahnya. Shinsuke berpikir, seraya melangkah menuju dapur, apa jadinya jika waktu itu mereka tidak berani mengambil keputusan untuk mengadopsi Hikaru — anak yang langsung membuat mereka jatuh hati dari pertama kali melihatnya di panti asuhan — padahal usia pernikahan mereka pun masih terbilang cukup muda.

Keduanya masih sibuk dengan pekerjaan, sehingga mau tak mau sang bayi terpaksa dititipkan ke neneknya yang tinggal tak jauh dari lokasi mereka. Hanya akhir pekan sajalah mereka memiliki waktu sepenuhnya bagi si mungil.

Meskipun begitu, kata penyesalan tak pernah ada di kamusnya semenjak mereka mengadopsi Hikaru.

Shinsuke larut kembali dalam lamunannya sementara menunggu makan malam mereka dihangatkan. Pikirannya sudah begitu jauh berkelana sampai tidak menyadari ada langkah kaki yang diam-diam mendekatinya dari belakang.

Saat ada sapuan bibir yang mendarat di pipinya, Shinsuke terlonjak kaget.

Pelakunya sendiri hanya tertawa pelan di dekat telinganya. Lengan yang sudah begitu familier di tubuhnya melingkari pinggangnya dan menariknya lebih dekat.

“Kamu akhir-akhir ini sering ngelamun, ya. Ngelamunin apa sih, hmm?” tanya Atsumu, seraya menopangkan dagunya di bahu Shinsuke.

“Ngelamunin kamu,” jawab Shinsuke singkat selagi merilekskan tubuhnya, dan secara tidak sadar mulai bersandar pada sang suami.

“Pasti ngebayangin yang jorok-jorok, ya?”

Shinsuke menyikut suaminya sampai pria itu mengaduh pelan.

“Itu, mah, maunya kamu aja.”

Atsumu terkekeh, lalu menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di leher Shinsuke sampai pria itu menggeliat kegelian.

“Ngomong-ngomong, Osamu sama Suna setuju nih besok jagain Hikaru.”

Shinsuke sudah membuka mulut untuk membalas, tapi bunyi oven yang terdengar menunda keinginannya untuk sementara. Barulah saat makanan sudah dipindahkan ke atas counter, Shinsuke membalikkan tubuhnya yang masih berada dalam dekapan Atsumu untuk menatap suaminya tepat di manik mata.

“Beneran? mereka... nggak keberatan?”

“Bener. Katanya nggak apa-apa, kok.”

Shinsuke menghela napas lega. Meskipun masih merasa sedikit tidak enak, ia bersyukur karena adik ipar dan pacarnya itu bersedia menjaga Hikaru sementara mereka berdua besok akan—

“Jadi besok kamu nggak perlu khawatir. Pokoknya tinggal nikmatin aja apa yang udah aku siapin.”

Shinsuke tersenyum tipis. Tangannya terangkat untuk membelai pipi sang suami yang terasa sedikit kasar di bawah sentuhannya. Ia berasumsi, Atsumu pasti belum bercukur pagi tadi.

“Kamu beneran nggak mau ngasih tau aku kita bakalan dinner di mana besok?”

“Nope,” jawab Atsumu diikuti gelengan berulang kali seolah memantapkan jawabannya. “Itu bagian surprise-ku buat hari valentine besok.”

“Emang masih zaman, ya, kita ngerayain valentine kayak gini...” gumam Shinsuke, teringat sedikit akan rasa malunya saat harus meminta pertolongan kepada sang adik ipar untuk menjaga anak mereka sementara ia dan Atsumu merayakan hari kasih sayang itu berdua.

“Biar berasa muda lagi gitu, Shin,” jawab Atsumu seraya terkekeh ringan.

“Kamu ngeledek, ya?”

Atsumu tersenyum, kemudian menarik pinggang Shinsuke agar semakin merapat padanya.

“Sweetheart,” bisiknya di telinga Shinsuke yang sudah memerah duluan, “everyday with you feels like valentine.”

Shinsuke menggigit bibirnya agar senyum yang berusaha ia tahan tidak keluar. Ia pun menjauhkan sedikit tubuhnya untuk memukul dada pria di hadapannya dengan setengah bercanda.

“Cheesy banget tau, nggak?” Shinsuke berpura-pura kesal, meskipun yang ia rasakan justru sebaliknya. Walaupun Atsumu suka melemparkan godaan-godaan yang memalukan seperti itu, Shinsuke tidak pernah menyuruhnya untuk berhenti karena ia sendiri diam-diam menikmatinya. “Dan sejak kapan kamu manggil aku sweetheart?”

“Aku bisa manggil kamu dengan puluhan pet names yang kamu mau, Shin. Sweetheart, sweetie, honey, honey pie.” Atsumu mengambil jeda, “honey pot.”

“Honey pot?” Shinsuke mengangkat sebelah alisnya dengan heran. “Kayak yang suka dibawa-bawa Winnie The Pooh itu?” tanya Shinsuke, tiba-tiba teringat dengan benda yang suka dibawa-bawa oleh karakter kartun berwarna kuning tersebut.

“Intinya,” Atsumu memotong sebelum obrolan mereka semakin keluar jalur. “Kamu manis, jadi cocok dipanggil sama nama-nama itu.”

“Aku manis?” Shinsuke bertanya dengan heran. Ia yakin, satu-satunya orang di dunia ini yang menganggap dirinya manis pasti hanyalah Atsumu. Shinsuke pun mengerutkan keningnya sambil membuat ekspresi berpikir. “Aku maunya panggilan yang normal-normal aja, deh. Makasih.”

“Oh, aku tau panggilan yang normal apa.”

Shinsuke tak langsung menyahut, tapi ia bertanya melalui tatapan matanya.

“Sayang.”

Detik berikutnya, Atsumu langsung tertawa terbahak-bahak karena reaksi yang sudah ia duga dari suaminya benar-benar terlihat.

Sungguh tidak masuk akal (setidaknya bagi Shinsuke) bagaimana setelah menikah, panggilan sakral tersebut masih membuat pipinya mengeluarkan semburat merah selayaknya remaja yang baru pertama kali berpacaran. Memang itu bukan pertama kalinya Atsumu menyebut dirinya begitu, tapi setiap kali satu kata itu terlontar, rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang bergesekan di dalam perutnya, jantungnya memompa lebih cepat, dan ia tidak bisa menatap mata Atsumu tepat di maniknya.

Seolah Shinsuke diingatkan lagi bahwa Atsumu merupakan satu-satunya pria yang mampu menimbulkan reaksi semacam itu dari dirinya.

Dan ia paham betapa Atsumu sangat menikmati reaksinya tersebut.

“Jangan,” Shinsuke menatap tajam Atsumu. “Berani-beraninya kamu manggil aku kayak gitu di depan umum,” ancamnya setengah bercanda.

“Nggak akan.” Jawaban itu keluar lebih cepat dari perkiraan Shinsuke. “Itu panggilan khusus kalau kita lagi berduaan aja. Soalnya aku nggak mau orang-orang liat ini nanti,” Atsumu menambahkan sembari tangannya ikut naik dan mengelus pipi Shinsuke yang masih mengeluarkan semburat kemerahan itu dengan punggung tangannya.

Shinsuke bergumam pendek seraya menikmati proksimitas dan afeksi yang diberikan Atsumu tersebut. Kalau panggilan sayang saja bisa memunculkan puluhan kupu-kupu dalam perutnya, maka sentuhan teringan dari tangan Atsumu bisa menghantarkan aliran listrik di sekujur tubuhnya. Apalagi jika obsidian hitam itu sudah menatap dirinya terlalu lekat — seolah Shinsuke dijadikan pusat alam semesta bagi pria itu, dan sisanya tak lagi penting.

Sungguh kasihan, Shinsuke mencibir dalam hati, karena orang-orang di luar sana tak bisa memiliki sosok bernama Atsumu Miya. Karena pria itu hanya ada satu di dunia dan sudah berjanji di hadapan Tuhan akan menjalani kehidupan bersamanya sampai maut memisahkan.

“Besok apa aku harus pake baju formal?” tanya Shinsuke, berusaha mengarahkan mereka kembali ke topik awal.

“Nggak kok, yang santai aja.”

“Ohh, oke.”

“Jangan cakep-cakep juga, nanti banyak yang naksir.”

Shinsuke menggerutu di bawah napasnya.

“Bukannya kebalik? Biasanya cewek-cewek itu yang ngeliatin kamu,” Shinsuke lantas teringat dengan memori mereka semasa SMA — saat mereka masih bermain voli dan si kembar Miya selalu menjadi pusat perhatian siapa pun karena kemampuan bermain voli mereka yang tidak buruk, diimbangi dengan tampang di atas rata-rata milik keduanya.

Shinsuke jadi teringat masa-masa saat mereka mulai berpacaran dan pandangan para wanita selalu mengikuti Atsumu seolah suaminya merupakan santapan lezat. Tak jarang, ia sampai harus menggandeng Atsumu untuk memperlihatkan bahwa pria yang wanita-wanita itu jadikan 'incaran' sudah menjadi 'milik orang lain'. Meskipun setelahnya, Atsumu pasti akan meledeknya habis-habisan karena sikapnya yang memperlihatkan rasa cemburu itu, dianggap menggemaskan oleh yang lebih muda.

“Yaaa, kalau aku nggak cakep, kamu nggak bakalan mau sama aku,” balas Atsumu tak beberapa lama. “Tapi, itu kan namanya dinner. Din-ner. Makan malem. Nah, pagi sampai sorenya kita mau ngapain?”

Shinsuke mengedikkan bahunya. “Terserah kamu, aku ngikut aja.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Di rumah aja, ya, kalau gitu?”

“Boleh.”

“Di kasur.”

Shinsuke langsung memicingkan matanya. “Ngapain?”

“Sayang-sayangan,” jawab Atsumu sekenanya sambil terkekeh yang justru semakin menambah rasa curiga dari dalam diri Shinsuke.

“Definisi sayang-sayangan kita kayaknya beda,” balas Shinsuke lagi, masih dengan nada curiga yang sama.

“Tau dari mana?”

Shinsuke tak bisa langsung menjawab karena sel-sel di otaknya terasa putus dalam sekejap begitu Atsumu semakin mengeratkan pelukannya.

“Emang definisi sayang-sayangan aku kayak gimana, Shin?” bisik Atsumu saat jarak bibir mereka tinggal beberapa inci lagi sebelum menyentuh satu sama lain.

“Kayak gini?”

Hilang sudah kemampuan Shinsuke dalam bervokal karena detik berikutnya, bibirnya sudah dikuasai oleh yang lebih muda. Bibir bawahnya ditarik pelan, sebelum pagutan itu diperdalam sesuai arahan Atsumu yang sudah hapal betul dalam membuat lututnya semakin lemas. Kalau tidak ada Atsumu yang merengkuhnya erat, atau counter dapur yang ia jadikan sandaran, Shinsuke pasti sudah jatuh tak berdaya ke atas lantai.

“Atau lebih?” bisik Atsumu di tengah cepatnya napas mereka beradu satu sama lain begitu ciuman itu dilepas.

Shinsuke belum mampu menjawab. Tapi kalau boleh jujur, mau disayang dalam bentuk apa pun oleh Atsumu, ia akan tetap menerimanya dengan senang hati.

“Terserah kamu,” setelah satu tarikan napas yang sangat panjang, akhirnya Shinsuke mampu menjawab juga.

Atsumu lagi-lagi hanya tertawa, kemudian maju dan memeluk mantan kaptennya itu dengan sangat erat.

“Sayang,” pria itu memanggilnya pelan. “Sayangnya aku.”

Shinsuke membalas pelukan hangat itu selagi merenungkan bahwa yang namanya bahasa itu begitu ajaib. Dia bisa mengucapkan satu kata berulang kali sampai tak ada maknanya lagi. Sampai kata itu hanyalah deretan huruf semata yang diciptakan tanpa tujuan.

Tapi, mau Atsumu menyebut kata sayang puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali pun, makna itu akan selalu ada bagi Shinsuke.

Dan dia tidak akan pernah bosan mendengarnya.


@fakeloveros