Part i
Oikawa menutup laptopnya diikuti helaan napas berat yang terasa memenuhi ruangan perpustakaan yang mulai sepi. Dia meregangkan tubuhnya untuk melemaskan persendiannya yang terasa sangat kaku seharian itu. Rasanya tidak ada kesempatan untuk bersantai, bahkan sekadar mencuri-curi waktu tidur siang di sela-sela pergantian kelas pun dia tidak bisa. Tubuhnya sudah terlalu lelah, tapi masih banyak hal yang harus dikerjakannya.
“Males banget…”
Oikawa berucap pelan pada dirinya sendiri selagi menatap dompet hitam yang kini ada di tangannya. Dompet hitam itu ia temukan tadi tergeletak begitu saja di atas meja yang biasa ia tempati setiap mengerjakan tugas di perpustakaan. Oikawa tidak akan berbohong, untuk sedetik, ia memang sempat memiliki pikiran jahat mengambil beberapa lembaran uang di dalamnya. Matanya bahkan sempat berkilau saat melihat dua black credit card yang sudah pasti hanya bisa dimiliki orang-orang tertentu dengan harta kekayaan berlimpah.
“Kalau punya uang sebanyak ini, pasti bisa beli apa aja ya…” gumamnya seraya menghela napas untuk kesekian kalinya. Namun Oikawa tahu, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalahnya sekarang. Setidaknya masih ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki keadaan, dan iri dengan privilege orang lain bukanlah salah satunya.
Oikawa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu buru-buru membereskan kertas dan alat tulis yang berserakan di atas meja. Sebenarnya ia tidak yakin seseorang yang bernama Hajime Iwaizumi ini masih berada di lapangan yang tadi disebutkan temannya. Namun apa boleh buat, tugasnya lebih penting dibandingkan mengembalikan dompet kepunyaan salah satu mahasiswa paling terkenal di kampus mereka. Jadi seandainya pria itu sudah tidak ada di tempat, Oikawa akan langsung menyerahkannya besok ke temannya, Takahiro.
Hembusan angin menyambut Oikawa pertama kali saat dirinya melangkah keluar dari bangunan perpustakaan. Ia mengeratkan jaketnya, lalu berjalan cepat menuju lapangan sebelah gedung B. Oikawa berharap, dia masih memiliki sisa waktu untuk bersiap-siap sebelum pergi ke tempat kerja paruh waktunya malam itu.
Pasti udah nggak ada orang… tebak Oikawa dalam hati begitu memasuki kawasan gedung jurusan manajemen. Karena masih minggu awal semester baru, belum begitu banyak mahasiswa yang berlama-lama di kampus. Oikawa hanya menyaksikan segelintir orang yang masih tinggal di sepanjang jalan tadi. Namun pikirannya langsung teralihkan begitu mendengar suara pantulan bola dari arah lapangan yang ditujunya.
“Hm? Masih ada orang?” ucanya pelan seraya mempercepat langkahnya. Ia sudah bisa melihat ada sosok yang tengah bermain basket sendirian di tengah lapangan. Namun ia tidak tahu pasti, apakah benar itu Hajime Iwaizumi atau bukan karena sosok jangkung tersebut mengenakan jaket hitam dan topi dengan warna senada. Sulit untuk mengenalinya dari belakang, terlebih karena Oikawa pun tidak pernah bertukar sapa dengan pria itu.
Sepertinya sosok yang tengah bermain basket sendirian itu pun tidak menyadari kehadiran Oikawa meskipun suara langkahnya terpantul jelas di lapangan tersebut. Oikawa pun mencoba keberuntungannya.
“Iwaizumi...?” Oikawa menyebut nama itu dengan sedikit ragu.
Pria yang dipanggil Iwaizumi itu langsung menoleh dengan bola basket yang masih berada di antara kedua tangannya. Oikawa lantas menghembuskan napas lega begitu sosok tersebut ternyata memang orang yang diketahuinya.
“Ehm, maaf gue tiba-tiba nyamperin gini. Cuma kayaknya dompet lo ketinggalan di perpus. Gue nggak sengaja nemu tadi. Oh, tenang aja, isinya masih utuh, kok! Nggak ada yg gue ambil. Gue cuma buka buat ngecek kartu mahasiswa lo,” ucap Oikawa secara beruntun tanpa memberikan kesempatan pada pria yang ada di hadapannya untuk berbicara. “Gue lagi buru-buru banget, nih, jadi…”
Oikawa menyodorkan dompet hitam tersebut pada pria yang malah menatapnya dengan tatapan datar. Oikawa jadi merasa canggung sendiri dengan tangannya yang masih berada di atas udara, tidak dipedulikan oleh sang pemilik dompet.
Setelah beberapa saat terlewat dalam keheningan, Iwaizumi akhirnya buka suara.
“Lo temennya… Takahiro.”
Bukannya menerima uluran dompetnya, pria itu malah menyuarakan hal yang tidak diduga oleh Oikawa. Tapi kalimat barusan tidak terdengar seperti pertanyaan, jadi Oikawa hanya memiringkan kepalanya dengan bingung. “Err… iya? Gue temennya Takahiro. Kok lo tau?”
Pria itu tidak langsung menjawab, namun Oikawa akhirnya dapat menurunkan lengannya yang mulai pegal karena Iwaizumi sudah mengambil dompet yang diulurkannya. Iwaizumi bahkan tidak menatap dompetnya sama sekali, dan langsung memasukkannya ke dalam kantung jaket.
“Sering liat.”
Jawaban singkat tersebut justru semakin menambah kebingungan dalam diri Oikawa. Baru saja dia ingin membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, Oikawa langsung teringat dengan jadwal kerja paruh waktunya yang sebentar lagi akan tiba. Ia tidak punya waktu lagi.
“Aduh, maaf banget, gue beneran lagi buru-buru. Dompetnya jaga baik-baik, ya. Jangan sampai ketinggalan lagi. Nggak semua orang baik kayak gue, loh. Ya udah, gue duluan ya. Daah!”
Tanpa menunggu balasan Iwaizumi, Oikawa langsung berbalik dan berlari secepat mungkin menuju gerbang keluar kampus mereka. Masih ada bus yang harus dikejarnya beberapa menit lagi. Kalau sempat, ia pun ingin mampir sebentar ke minimarket untuk mengisi perutnya sedikit dengan onigiri dingin.
Rentetan rencana sudah tersusun rapi di dalam kepala Oikawa—
tanpa menyadari ada tatapan tak terbaca yang mengikuti punggungnya dari pria yang masih berdiri di tengah lapangan.
@fakeloveros