Mellifluous


Disclaimer: this is actually the edited version of my short fic for another pairing in one of the kpop fandoms, so i'm not plagiarized this piece of work if you ever stumbled upon the original work. Thank you!


Mellifluous: refers to something that is sweet and enjoyable, especially when it comes to sound.

Senyum terulas di bibir Shinsuke selagi netranya terpaku pada dua sosok yang, menurutnya, keindahannya mampu mengalahkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian lantai 25 apartemen mereka.

Indah itu ada karena dua orang yang tengah menyatu dengan cahaya lembut sore hari di depannya, seperti karunia terindah dari Tuhan bagi dirinya yang bukan siapa-siapa ini. Bonus dari Sang Pencipta yang dirasa terlalu berlebihan sampai rasanya dia harus mencubit pipinya setiap pagi begitu terbangun, lalu bertanya-tanya dalam hati apakah hidupnya ini nyata atau sekadar mimpi belaka.

Tapi begitu keraguannya datang, secepat itu pula gelisah di hatinya menguap karena detik selanjutnya akan ada dua lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya dan berbisik—

“good morning, tidur kamu nyenyak?”

Dan Shinsuke langsung yakin kalau kehidupan yang tengah dijalaninya memang nyata.

Walaupun karunia Tuhan yang datang dalam bentuk sosok si kecil tak datang seiringan, tapi Shinsuke tetap bersyukur karena segala spektrum yang tadinya masih berwarna abu-abu dalam hidupnya, kini sudah memiliki warna. Keputusan itu memang tidak mudah. Banyak pertimbangan yang harus didiskusikan matang-matang dengan sang suami sebelum mereka memutuskan mengadopsi si mungil yang tidak mendapat kasih sayang sepantasnya dari kedua orang tua kandungnya.

Tapi biarlah fakta tidak menyenangkan tersebut dikubur dalam-dalam karena Shinsuke dan suaminya kini ada untuk menggantikan peran orang tua asli anak tersebut — anak mereka.

“Shin, udah tidur, nih.”

Suara pelan Atsumu membangunkan Shinsuke dari lamunannya. Ia memfokuskan kembali atensinya dan melihat sang suami tengah menundukkan wajahnya untuk memastikan bahwa anak yang berada di dalam gendongannya benar-benar sudah terlelap. Biasanya kalau anak mereka sudah kenyang, memang seperti itu. Tapi kali ini Shinsuke menyuruh Atsumu meninabobokan anak mereka karena barusan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

Sungguh kontras yang menggemaskan melihat bahu lebar suaminya berperan menjadi pelindung teduh dan sandaran nyaman bagi sang bayi kecil. Rasanya Shinsuke ingin meraih kamera pemberian Osamu dulu, dan mengabadikan momen tersebut agar bisa ia pandangi setiap saat.

Shinsuke bangkit, kemudian menghampiri Atsumu. Ia ikut menunduk dan mendapati netra kecil yang biasanya mengerjap penuh rasa ingin tahu, sudah menutup sempurna selagi berkelana ke ladang mimpi.

Shinsuke tersenyum, lalu menegakkan kembali tubuhnya. Atensinya kini beralih kepada sang suami yang masih menunggu titah selanjutnya.

“Capek, ya?” Shinsuke bertanya sembari menghalau surai yang sedikit menghalangi mata yang lebih muda.

Atsumu menggeleng, dan mendekap bayi dalam gendongannya dengan lebih erat.

“Mana mungkin aku capek?” balas pria itu sambil tersenyum miring. Senyum yang disukai Shinsuke.

“Ya udah, bawa ke kamar aja. Aku mau angetin sisa makanan tadi siang dulu buat kita.”

Atsumu mengangguk, kemudian melangkah menuju kamar mereka. Shinsuke memperhatikan punggung lebar itu menjauh dalam diam. Senyum masih belum menghilang dari wajahnya. Shinsuke berpikir, seraya melangkah menuju dapur, apa jadinya jika waktu itu mereka tidak berani mengambil keputusan untuk mengadopsi Hikaru — anak yang langsung membuat mereka jatuh hati dari pertama kali melihatnya di panti asuhan — padahal usia pernikahan mereka pun masih terbilang cukup muda.

Keduanya masih sibuk dengan pekerjaan, sehingga mau tak mau sang bayi terpaksa dititipkan ke neneknya yang tinggal tak jauh dari lokasi mereka. Hanya akhir pekan sajalah mereka memiliki waktu sepenuhnya bagi si mungil.

Meskipun begitu, kata penyesalan tak pernah ada di kamusnya semenjak mereka mengadopsi Hikaru.

Shinsuke larut kembali dalam lamunannya sementara menunggu makan malam mereka dihangatkan. Pikirannya sudah begitu jauh berkelana sampai tidak menyadari ada langkah kaki yang diam-diam mendekatinya dari belakang.

Saat ada sapuan bibir yang mendarat di pipinya, Shinsuke terlonjak kaget.

Pelakunya sendiri hanya tertawa pelan di dekat telinganya. Lengan yang sudah begitu familier di tubuhnya melingkari pinggangnya dan menariknya lebih dekat.

“Kamu akhir-akhir ini sering ngelamun, ya. Ngelamunin apa sih, hmm?” tanya Atsumu, seraya menopangkan dagunya di bahu Shinsuke.

“Ngelamunin kamu,” jawab Shinsuke singkat selagi merilekskan tubuhnya, dan secara tidak sadar mulai bersandar pada sang suami.

“Pasti ngebayangin yang jorok-jorok, ya?”

Shinsuke menyikut suaminya sampai pria itu mengaduh pelan.

“Itu, mah, maunya kamu aja.”

Atsumu terkekeh, lalu menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di leher Shinsuke sampai pria itu menggeliat kegelian.

“Ngomong-ngomong, Osamu sama Suna setuju nih besok jagain Hikaru.”

Shinsuke sudah membuka mulut untuk membalas, tapi bunyi oven yang terdengar menunda keinginannya untuk sementara. Barulah saat makanan sudah dipindahkan ke atas counter, Shinsuke membalikkan tubuhnya yang masih berada dalam dekapan Atsumu untuk menatap suaminya tepat di manik mata.

“Beneran? mereka... nggak keberatan?”

“Bener. Katanya nggak apa-apa, kok.”

Shinsuke menghela napas lega. Meskipun masih merasa sedikit tidak enak, ia bersyukur karena adik ipar dan pacarnya itu bersedia menjaga Hikaru sementara mereka berdua besok akan—

“Jadi besok kamu nggak perlu khawatir. Pokoknya tinggal nikmatin aja apa yang udah aku siapin.”

Shinsuke tersenyum tipis. Tangannya terangkat untuk membelai pipi sang suami yang terasa sedikit kasar di bawah sentuhannya. Ia berasumsi, Atsumu pasti belum bercukur pagi tadi.

“Kamu beneran nggak mau ngasih tau aku kita bakalan dinner di mana besok?”

“Nope,” jawab Atsumu diikuti gelengan berulang kali seolah memantapkan jawabannya. “Itu bagian surprise-ku buat hari valentine besok.”

“Emang masih zaman, ya, kita ngerayain valentine kayak gini...” gumam Shinsuke, teringat sedikit akan rasa malunya saat harus meminta pertolongan kepada sang adik ipar untuk menjaga anak mereka sementara ia dan Atsumu merayakan hari kasih sayang itu berdua.

“Biar berasa muda lagi gitu, Shin,” jawab Atsumu seraya terkekeh ringan.

“Kamu ngeledek, ya?”

Atsumu tersenyum, kemudian menarik pinggang Shinsuke agar semakin merapat padanya.

“Sweetheart,” bisiknya di telinga Shinsuke yang sudah memerah duluan, “everyday with you feels like valentine.”

Shinsuke menggigit bibirnya agar senyum yang berusaha ia tahan tidak keluar. Ia pun menjauhkan sedikit tubuhnya untuk memukul dada pria di hadapannya dengan setengah bercanda.

“Cheesy banget tau, nggak?” Shinsuke berpura-pura kesal, meskipun yang ia rasakan justru sebaliknya. Walaupun Atsumu suka melemparkan godaan-godaan yang memalukan seperti itu, Shinsuke tidak pernah menyuruhnya untuk berhenti karena ia sendiri diam-diam menikmatinya. “Dan sejak kapan kamu manggil aku sweetheart?”

“Aku bisa manggil kamu dengan puluhan pet names yang kamu mau, Shin. Sweetheart, sweetie, honey, honey pie.” Atsumu mengambil jeda, “honey pot.”

“Honey pot?” Shinsuke mengangkat sebelah alisnya dengan heran. “Kayak yang suka dibawa-bawa Winnie The Pooh itu?” tanya Shinsuke, tiba-tiba teringat dengan benda yang suka dibawa-bawa oleh karakter kartun berwarna kuning tersebut.

“Intinya,” Atsumu memotong sebelum obrolan mereka semakin keluar jalur. “Kamu manis, jadi cocok dipanggil sama nama-nama itu.”

“Aku manis?” Shinsuke bertanya dengan heran. Ia yakin, satu-satunya orang di dunia ini yang menganggap dirinya manis pasti hanyalah Atsumu. Shinsuke pun mengerutkan keningnya sambil membuat ekspresi berpikir. “Aku maunya panggilan yang normal-normal aja, deh. Makasih.”

“Oh, aku tau panggilan yang normal apa.”

Shinsuke tak langsung menyahut, tapi ia bertanya melalui tatapan matanya.

“Sayang.”

Detik berikutnya, Atsumu langsung tertawa terbahak-bahak karena reaksi yang sudah ia duga dari suaminya benar-benar terlihat.

Sungguh tidak masuk akal (setidaknya bagi Shinsuke) bagaimana setelah menikah, panggilan sakral tersebut masih membuat pipinya mengeluarkan semburat merah selayaknya remaja yang baru pertama kali berpacaran. Memang itu bukan pertama kalinya Atsumu menyebut dirinya begitu, tapi setiap kali satu kata itu terlontar, rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang bergesekan di dalam perutnya, jantungnya memompa lebih cepat, dan ia tidak bisa menatap mata Atsumu tepat di maniknya.

Seolah Shinsuke diingatkan lagi bahwa Atsumu merupakan satu-satunya pria yang mampu menimbulkan reaksi semacam itu dari dirinya.

Dan ia paham betapa Atsumu sangat menikmati reaksinya tersebut.

“Jangan,” Shinsuke menatap tajam Atsumu. “Berani-beraninya kamu manggil aku kayak gitu di depan umum,” ancamnya setengah bercanda.

“Nggak akan.” Jawaban itu keluar lebih cepat dari perkiraan Shinsuke. “Itu panggilan khusus kalau kita lagi berduaan aja. Soalnya aku nggak mau orang-orang liat ini nanti,” Atsumu menambahkan sembari tangannya ikut naik dan mengelus pipi Shinsuke yang masih mengeluarkan semburat kemerahan itu dengan punggung tangannya.

Shinsuke bergumam pendek seraya menikmati proksimitas dan afeksi yang diberikan Atsumu tersebut. Kalau panggilan sayang saja bisa memunculkan puluhan kupu-kupu dalam perutnya, maka sentuhan teringan dari tangan Atsumu bisa menghantarkan aliran listrik di sekujur tubuhnya. Apalagi jika obsidian hitam itu sudah menatap dirinya terlalu lekat — seolah Shinsuke dijadikan pusat alam semesta bagi pria itu, dan sisanya tak lagi penting.

Sungguh kasihan, Shinsuke mencibir dalam hati, karena orang-orang di luar sana tak bisa memiliki sosok bernama Atsumu Miya. Karena pria itu hanya ada satu di dunia dan sudah berjanji di hadapan Tuhan akan menjalani kehidupan bersamanya sampai maut memisahkan.

“Besok apa aku harus pake baju formal?” tanya Shinsuke, berusaha mengarahkan mereka kembali ke topik awal.

“Nggak kok, yang santai aja.”

“Ohh, oke.”

“Jangan cakep-cakep juga, nanti banyak yang naksir.”

Shinsuke menggerutu di bawah napasnya.

“Bukannya kebalik? Biasanya cewek-cewek itu yang ngeliatin kamu,” Shinsuke lantas teringat dengan memori mereka semasa SMA — saat mereka masih bermain voli dan si kembar Miya selalu menjadi pusat perhatian siapa pun karena kemampuan bermain voli mereka yang tidak buruk, diimbangi dengan tampang di atas rata-rata milik keduanya.

Shinsuke jadi teringat masa-masa saat mereka mulai berpacaran dan pandangan para wanita selalu mengikuti Atsumu seolah suaminya merupakan santapan lezat. Tak jarang, ia sampai harus menggandeng Atsumu untuk memperlihatkan bahwa pria yang wanita-wanita itu jadikan 'incaran' sudah menjadi 'milik orang lain'. Meskipun setelahnya, Atsumu pasti akan meledeknya habis-habisan karena sikapnya yang memperlihatkan rasa cemburu itu, dianggap menggemaskan oleh yang lebih muda.

“Yaaa, kalau aku nggak cakep, kamu nggak bakalan mau sama aku,” balas Atsumu tak beberapa lama. “Tapi, itu kan namanya dinner. Din-ner. Makan malem. Nah, pagi sampai sorenya kita mau ngapain?”

Shinsuke mengedikkan bahunya. “Terserah kamu, aku ngikut aja.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Di rumah aja, ya, kalau gitu?”

“Boleh.”

“Di kasur.”

Shinsuke langsung memicingkan matanya. “Ngapain?”

“Sayang-sayangan,” jawab Atsumu sekenanya sambil terkekeh yang justru semakin menambah rasa curiga dari dalam diri Shinsuke.

“Definisi sayang-sayangan kita kayaknya beda,” balas Shinsuke lagi, masih dengan nada curiga yang sama.

“Tau dari mana?”

Shinsuke tak bisa langsung menjawab karena sel-sel di otaknya terasa putus dalam sekejap begitu Atsumu semakin mengeratkan pelukannya.

“Emang definisi sayang-sayangan aku kayak gimana, Shin?” bisik Atsumu saat jarak bibir mereka tinggal beberapa inci lagi sebelum menyentuh satu sama lain.

“Kayak gini?”

Hilang sudah kemampuan Shinsuke dalam bervokal karena detik berikutnya, bibirnya sudah dikuasai oleh yang lebih muda. Bibir bawahnya ditarik pelan, sebelum pagutan itu diperdalam sesuai arahan Atsumu yang sudah hapal betul dalam membuat lututnya semakin lemas. Kalau tidak ada Atsumu yang merengkuhnya erat, atau counter dapur yang ia jadikan sandaran, Shinsuke pasti sudah jatuh tak berdaya ke atas lantai.

“Atau lebih?” bisik Atsumu di tengah cepatnya napas mereka beradu satu sama lain begitu ciuman itu dilepas.

Shinsuke belum mampu menjawab. Tapi kalau boleh jujur, mau disayang dalam bentuk apa pun oleh Atsumu, ia akan tetap menerimanya dengan senang hati.

“Terserah kamu,” setelah satu tarikan napas yang sangat panjang, akhirnya Shinsuke mampu menjawab juga.

Atsumu lagi-lagi hanya tertawa, kemudian maju dan memeluk mantan kaptennya itu dengan sangat erat.

“Sayang,” pria itu memanggilnya pelan. “Sayangnya aku.”

Shinsuke membalas pelukan hangat itu selagi merenungkan bahwa yang namanya bahasa itu begitu ajaib. Dia bisa mengucapkan satu kata berulang kali sampai tak ada maknanya lagi. Sampai kata itu hanyalah deretan huruf semata yang diciptakan tanpa tujuan.

Tapi, mau Atsumu menyebut kata sayang puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali pun, makna itu akan selalu ada bagi Shinsuke.

Dan dia tidak akan pernah bosan mendengarnya.


@fakeloveros