Date (part 1)
Mereka membuat janji untuk bertemu hari Sabtu di depan gerbang Takeshita Street pukul sepuluh tepat.
Dengan gugup, Oikawa berulang kali memeriksa penampilannya di pantulan kaca setiap pertokoan yang dia lewati. Namun tidak sampai semenit kemudian, dirinya lantas mengutuk dalam hati karena sejak kapan gue nervous begini cuma buat ketemu orang?
Oikawa sudah sering dikenal sebagai orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, baik kalangan muda maupun tua. Komunikasi merupakan salah satu keahliannya sehingga menjadi guru merupakan cita-citanya sejak kecil. Itulah kenapa dia mengambil pendidikan di jurusannya yang sekarang. Walaupun tidak sedikit yang mengangkat alis sebelah begitu mendengar keinginannya sejak dulu, Oikawa tidak pernah memedulikan pendapat orang-orang itu. Lagi pula, apa salahnya ingin menjadi guru?
Namun yang jelas, gugup ketika bertemu orang baru ataupun lama tidak pernah ada di dalam kamusnya selama ini.
Jadi kenapa tangannya sampai berkeringat sekarang begitu tahu bahwa pria yang membuat janji dengannya hari ini sudah menanti di depan sana?
Oikawa berhenti sebentar, lalu menepuk kedua pipinya dengan cukup kencang sampai menarik perhatian orang-orang yang lewat di sekitarnya. Namun Oikawa tidak memedulikan orang-orang tersebut, dan lebih memilih untuk memantapkan hati.
Ayo, Oikawa, lo pasti bisa. Ini cuma Iwaizumi. Bukan siapa-siapa. Bukan artis, bukan juga—
Pikirannya langsung terasa kosong detik itu juga begitu matanya menangkap sosok Iwaizumi yang tengah berdiri di depan sebuah toko aksesoris dalam berbagai warna cerah. Sungguh kontras dengan penampilan pria itu yang terlihat gelap. Gelap dan memesona.
Penampilan Iwaizumi begitu memukau sampai Oikawa sulit menggerakkan lidahnya yang mendadak terasa kelu.
Sekarang ia paham kenapa banyak orang yang mengejar-ngejar pria itu, dan Oikawa berdoa keras dalam hati, semoga dia tidak menjadi salah satunya. Setidaknya, tidak sekarang.
Ayo, tarik napas, Oikawa. Tarik napas…
Oikawa berjalan mendekat dengan langkah yang sangat pelan. Jantungnya yang sudah berdegup dengan kencang, kini seakan memukul-mukul dadanya seiring jaraknya dengan Iwaizumi yang semakin terkikis. Begitu tersisa beberapa langkah, Iwaizumi yang menyadari kehadiran Oikawa, langsung mengangkat wajahnya dari layar handphone yang sedari tadi ditekuninya.
Aneh, pikir Oikawa begitu ia tiba di hadapan pria itu. Padahal mereka baru bertemu kemarin, tapi seperti ada sesuatu yang berbeda dari Iwaizumi hari ini, dan itu yang membuat Oikawa sedikit kehilangan fokusnya.
“Hai! Sori, udah nunggu lama, ya?” tanya Oikawa dengan nada ceria, salah satu usahanya untuk menutupi kegugupannya yang kembali datang.
Iwaizumi menggeleng seraya memasukkan handphone-nya ke dalam kantung, kemudian dengan terang-terangan memperhatikan Oikawa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“You look nice.”
Pujian itu singkat, dan tentunya bukan pertama kalinya Oikawa mendengar hal yang serupa selama hidupnya. Namun pujian itu terdengar tulus sehingga mau tak mau semburat merah muda mulai muncul di pipinya tanpa bisa dihentikan.
“T-thanks. Lo hari ini keliatan… ehm, beda,” balas Oikawa sebelum bisa menghentikan dirinya sendiri.
“Beda? Beda gimana?” tanya Iwaizumi tanpa basa-basi. Ada rasa ingin tahu yang terdengar sangat jelas di balik nada suaranya.
“Ehh… beda… aja? Pokoknya beda? Hahaha…” jawab Oikawa dengan kikuk selagi berusaha menghindari tatapan lurus pria itu. Tangannya terangkat untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan sekarang pipinya terasa mulai panas.
Hanya ada satu cara untuk menyelamatkannya dari situasi yang memalukan ini.
“Jadi… rencananya kita mau ke mana?” tanya Oikawa, berusaha mengalihkan topik.
“Hmm…” Iwaizumi bergumam seraya memperhatikan suasana di sekitar mereka yang mulai ramai. “Lo suka nonton film?”
“Hah? Film? Film apa?”
“Apa aja,” jawab Iwaizumi, kini sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung dan menatap Oikawa penuh ekspektasi.
“Ooh, suka-suka aja, sih. Kenapa emang?” tanya Oikawa yang justru semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.
“Mau nonton film dulu? Mumpung masih jam segini.”
“Hah?”
Lagi-lagi, Oikawa hanya mampu tercengang.
Oikawa pikir, hari itu ia akan bertemu dengan Iwaizumi untuk membicarakan soal perjanjian mereka tanpa melalui basa-basi apa pun. Karena itulah kesan yang Oikawa dapat setiap kali berbicara dengan Iwaizumi — to the point dan tidak suka mengulur waktu.
Namun siapa sangka, 45 menit kemudian, dirinya sudah duduk rapi di dalam salah satu studio bioskop dengan segelas soda di tangannya. Iwaizumi sendiri sudah duduk di sebelahnya selagi memegang gelas minuman yang sama.
Bagi Oikawa, tidak ada Sabtu yang lebih absurd dari hari ini.
“Lo suka genre film apa aja?”
Suara rendah Iwaizumi yang terdengar dua kali lebih dekat di telinganya, membuatnya terlonjak kaget dan hampir saja menumpahkan minumannya. Padahal Oikawa memiliki refleks yang cukup cepat, tapi kali itu, Iwaizumi lah yang langsung menahan tangannya agar minumannya tidak jatuh ke lantai.
“Hati-hati,” ucap pria itu setelah memastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah. Sedangkan Oikawa hanya mampu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.
“Makasih…” Oikawa berujar pelan, lalu segera menegakkan tubuhnya diiringi dehaman canggung. “Kalo gue suka… literally genre film apa aja, sih, selama nggak yang garing banget. Tapi gue lebih sering nonton film komedi atau action. Oh, romance is fine too.”
“Romance?” Iwaizumi menelengkan kepalanya sedikit, seolah memikirkan jawaban Oikawa baik-baik. “Lo suka film romance?”
“Yah, soalnya gue punya kakak cewek, jadi kebawa aja karena dia di rumah juga suka nonton film romance.”
“Oh, kita sama,” Iwaizumi berujar dengan sedikit terkejut. “Gue juga punya kakak cewek. Dan gue ngerti banget sama yang lo maksud barusan.”
Oikawa menelan minumannya, lalu menoleh ke arah Iwaizumi sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba kegugupannya yang barusan hilang seolah menguap di udara. “Dan harus gue akui… kadang film-film itu emang seru banget. Lebih seru dibanding action malah,” Oikawa membalas dengan penuh antusias.
Iwaizumi ikut tersenyum, bahkan terkekeh sedikit. “Setuju.”
Entah ada mantra tersembunyi apa di balik suara tawa bernada rendah itu, tapi yang jelas, Oikawa tidak bisa langsung mengalihkan tatapannya. Ia menatap Iwaizumi nyaris tanpa berkedip. Kursi bioskop yang memiliki jarak sangat dekat satu sama lain itu sama sekali tidak membantunya. Justru seakan ada sesuatu yang memperkuat mantra itu agar Oikawa tidak mengalihkan atensinya sama sekali. Pikirannya kosong, dan yang ia inginkan saat itu hanya mendengar suara tawa Iwaizumi sekali lagi.
Iwaizumi pastilah menyadari perubahan sikap pada Oikawa karena pria itu langsung menghentikan tawanya, dan balas menatap tanpa mengatakan sepatah kata pun. Oikawa menjilat bibirnya yang terasa kering tanpa sadar, dan ia bersumpah, Iwaizumi baru saja mengikuti gerakan lidahnya barusan dengan kedua matanya.
Sayangnya, mantra itu harus terputus begitu terdengar suara kumpulan remaja yang baru saja masuk dan berebut tempat duduk tak jauh dari mereka. Oikawa lantas menoleh kembali ke depan — ke arah layar bioskop yang masih gelap dengan pipi yang bersemu merah. Untuk menutupi kegugupannya, Oikawa langsung menghabiskan minumannya sampai setengah seolah dia begitu kehausan.
Anehnya, pria di sebelahnya tidak langsung mengalihkan tatapannya. Oikawa bisa merasakan Iwaizumi menatap sisi wajahnya untuk beberapa detik lebih lama, sebelum akhirnya kembali menoleh ke depan diikuti sebuah helaan napas panjang.
Sisa menit yang ada pun berlalu dalam keheningan. Begitu kursi penonton mulai terisi banyak, lampu digelapkan dan layar mulai menyala, barulah Oikawa bisa menghela napas lega.
Namun untuk pertama kalinya, Oikawa tidak bisa berkonsentrasi sepanjang film diputar.
@fakeloveros