Date (part 3)
“Nice place.”
Begitu komentar Iwaizumi pertama kali saat melangkah ke dalam sebuah kafe. Tadinya memang pria itu yang mengusulkan nama kafe lain sebagi tempat diskusi mereka selanjutnya. Tetapi di detik terakhir, Oikawa memberanikan diri mengajak Iwaizumi untuk pergi ke kafe langganannya.
“Ya, kan? Gue sering ke sini sama temen-temen,” balas Oikawa sambil tersenyum begitu dilihatnya Iwaizumi menyukai kafe pilihannya. Kafe itu memang seperti harta karun bagi Oikawa karena tidak begitu banyak orang yang tahu sehingga tempat duduk selalu tersedia, padahal kopi dan kue di sana menurutnya sangat enak.
“Kenapa dulu nggak part time di sini aja?” tanya Iwaizumi seraya mengambil tempat duduk di dekat jendela. Oikawa mengikuti, masih dengan senyumnya yang terpampang lebar.
“Waktu itu lagi nggak nerima. Lagian sekarang ada adek kelas gue dulu pas SMA yang kerja di sini, jadi kadang suka dapet kue gratisan. Oh, itu orangnya,” Oikawa menoleh ke arah pria jangkung yang sepertinya baru saja kembali, lalu melambaikan tangannya dengan antusias. “Tobio!!”
Pria berambut hitam dengan wajah malas bernama Tobio itu lantas mendongak, dan menatap Oikawa tanpa bersuara selama beberapa detik. Pria itu kemudian keluar dari meja kasir dan menghampiri meja mereka.
“Kak,” sapa pria itu dengan nada datar. “Mau pesen apa?” matanya bergulir ke arah Iwaizumi sebentar, sebelum kembali menatap Oikawa yang tengah tersenyum sangat lebar sampai gigi-giginya yang putih dan berderet rapi kelihatan.
“Heh! Datar banget sih ketemu gue! Udah lama gue nggak ke sini, emangnya nggak kangen apa?” tanya Oikawa, kini sambil berdiri dan merangkul pria itu. Yang dirangkul diam saja, dan hanya menghela napas seolah itu hal yang sudah biasa.
Seakan teringat bahwa dirinya tidak sendirian, Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi lalu memperkenalkan pria yang masih dirangkulnya erat tersebut.
“Iwaizumi, ini adek kelas yang tadi gue kasih tau. Namanya Kageyama. Tobio Kageyama.”
Sementara Kageyama mengangguk singkat, Iwaizumi hanya menatap interaksi keduanya dalam diam.
“Lo mau pesen apa?” tanya Oikawa pada Iwaizumi selagi menepuk-nepuk dada Kageyama yang tetap memasang ekspresi datar. “Nanti dia yang bikinin.”
“Long black aja. Thanks.”
Kageyama mengangguk, lalu dengan sigap (meskipun Oikawa masih menggelayut padanya) mengeluarkan catatannya. Pria itu lantas menoleh pada Oikawa dan bertanya, “tadi aku udah tanya, kakak mau pesen apa?”
“Hmm, lagi pengen yang manis, nih. Iced vanilla aja deh sama strawberry cake satu.”
Kageyama mengangguk, lalu dengan lancar mencatat semuanya. Setelah selesai, pria itu menoleh sedikit ke arah Oikawa dan berucap datar, “lepasin, dong. Gimana mau buat?”
Oikawa terkekeh, dan menuruti permintaan pria itu. “Thanks, Tobio!”
Kageyama hanya mengangguk singkat sekali lagi, kemudian berbalik dan melangkah kembali menuju meja kasir.
Iwaizumi masih diam meskipun ada begitu banyak emosi yang tergambar di balik matanya. Sayang, Oikawa tidak menyadari hal tersebut dan dengan santai duduk kembali di kursinya selagi berbicara dengan nada ringan.
“Nah, sambil nunggu, ayo kita mulai ngomongin soal—”
“Kamu deket sama dia?”
Oikawa menggantungkan ucapannya di udara dan sebagai gantinya menatap Iwaizumi dengan terkejut.
Oh, apa mereka masih harus berakting sekarang?
“Ng… yaah, bisa dibilang lumayan deket…?” jawab Oikawa dengan bingung — masih dikagetkan dengan perubahan nada Iwaizumi yang terdengar lebih tajam. “Emangnya kenapa?”
“Apa kamu juga sering ketemu dia?”
Oikawa mulai bergerak-gerak gelisah di kursinya. “Eeh… iya? Setidaknya setiap minggu aku pasti bakal ke sini.”
“Kalau gitu bukannya harusnya kamu bilang ke dia kalau kita pacaran?”
Keterkejutannya pun semakin bertambah sampai Oikawa tidak sanggup berkata apa pun.
Keterdiaman Oikawa sepertinya langsung membuat Iwaizumi tersadar dengan sikapnya yang aneh. Pria itu menghembuskan napas berat dan langsung meminta maaf.
“Sori, aku nggak bermaksud ngatur kamu. Aku cuma… khawatir rencana kita bakal gagal kalau ada orang yang curiga,” ucap Iwaizumi pelan, matanya kini tak lagi menatap Oikawa dan lebih memilih memperhatikan permukaan meja. “Dan nggak banyak orang yang tau, but I have this nasty personality of being…”
Iwaizumi menghentikan ucapannya dengan ragu, sedangkan Oikawa menunggu dengan sabar.
”.... overprotective.”
Iwaizumi semakin menundukkan kepalanya, sementara Oikawa berusaha memproses informasi baru tersebut dan menimbang-nimbang bagaimana ia harus merespons semua ini.
“Aku... paham sama kekhawatiran kamu. Maaf juga karena hal kayak gitu nggak kepikiran sama aku tadi. Terus, selama nggak ngelewatin batas… I don't think that personality of yours is nasty.”
Iwaizumi mendongak dan membuat ekspresi tak setuju.
“Maksud gue— ehm, maksud aku,” Oikawa buru-buru menjelaskan. “Itu artinya kamu sayang, kan, sama partner kamu itu? Dan kamu cuma mau mastiin keamanan mereka.”
Iwaizumi memikirkan kata-kata itu sebentar. “Kalau… misalnya nanti aku nggak sengaja gituin kamu dan kamu ngerasa nggak nyaman… tolong kasih tau aku, ya?” pinta pria itu dengan tatapan meminta maaf.
Oikawa mengibaskan tangannya dengan santai. “It's okay, lagian gue orangnya suka diperhatiin juga, kok. Hehehe,” jawabnya ringan sebagai upaya untuk mencairkan suasana di antara mereka yang tiba-tiba terasa begitu serius. Meskipun begitu, ia yakin usahanya berhasil karena dilihatnya Iwaizumi tersenyum kecil ke arahnya sebelum mengangguk paham.
Oikawa baru akan membuka mulut untuk kembali bertanya, namun momen itu keburu dipotong oleh suara Kageyama yang tiba-tiba sudah terdengar di sebelah meja mereka.
“Long black, iced vanilla dan strawberry cake. Ada lagi yang mau dipesan?” Kageyama bertanya dengan nada profesionalnya selagi meletakkan pesanan mereka masing-masing di atas meja. Iwaizumi menggeleng, tatapannya beralih pada Oikawa yang malah sedang memperhatikan Kageyama dengan ekspresi berpikir.
“Tobio,” panggil Oikawa dengan determinasi baru dalam nada suaranya.
Kageyama menoleh ke arah pria yang memanggilnya dan mengangkat sebelah alis sebagai gestur bahwa ia mendengarkan.
“Cuma mau ngasih tau, sebenernya Iwaizumi itu…” Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi dan tersenyum sangat manis pada pria itu. “....pacar gue.”
Ada keheningan panjang yang menyusul setelahnya.
“Oh,” Kageyama berujar dengan adanya sedikit nada terkejut terdengar dalam suaranya. “Ehm… congrats?” lanjutnya dengan tidak yakin. Mata pria itu bergulir ke arah Iwaizumi selama beberapa sekon sebelum mengalihkannya ke arah lain dengan cepat.
“Thanks!” balas Oikawa dengan nada ceria khasnya.
“Kalau gitu… selamat menikmati. Kalau ada yang mau dipesan lagi, nanti panggil aja.”
Setelah mereka berdua memperhatikan kepergian Kageyama, Oikawa menoleh ke arah Iwaizumi sembari meringis kecil.
“Anggap aja yang tadi latihan…?” ucap Oikawa sedikit ragu.
Iwaizumi mengangkat cangkir kopinya sampai menyentuh ujung bibir dan diam-diam tersenyum di baliknya.
“Jadi, mau mulai dari mana kita?” tanya Oikawa sambil berdeham kecil dan berusaha menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya.
Oikawa menguap lebar-lebar, lalu menghempaskan dirinya ke atas kasur. Ia baru saja selesai mandi setelah seharian terpapar debu dan matahari. Tubuhnya yang kini sudah terasa lebih bersih justru membuat kelopak matanya semakin berat, padahal ini baru jam sepuluh malam.
Oikawa memejamkan matanya, bahkan tanpa repot-repot menjemur handuknya yang masih melingkar di bahu. Dirinya sudah terlalu malas untuk bergerak.
Lagi pula, kepalanya terasa berat karena dipenuhi oleh banyak informasi yang diserapnya hari ini.
Hajime Iwaizumi…
Tanpa sadar, satu nama itu terpikirkan olehnya. Oikawa lantas mendengus keras seakan siap menertawai nasibnya yang entah kenapa bisa berubah menjadi seperti sekarang.
Jadi pacar pura-pura…
Oikawa membuka matanya, lalu menatap langit-langit kamarnya yang polos. Samar-samar, ia bisa mendengar suara TV dari arah ruang tamu di mana teman satu apartemennya masih sibuk di sana. Meskipun terdengar suara-suara, pikirannya terlalu dipenuhi oleh hal lain sehingga tidak bisa menangkap acara apa yang tengah ditonton temannya itu.
Oikawa termenung, lalu menghembuskan napas berat. Matanya ia pejamkan kembali.
Dari sekian banyak hal yang dibicarakan dengan Iwaizumi sore tadi, ada satu pembahasan yang sangat menempel di otaknya.
“Safe word?” tanyanya dengan nada terkejut yang tak bisa disembunyikan. “Buat apa?” pipinya sedikit memerah karena dua kata itu—
“I don’t mean it sexually,” Iwaizumi menyela seolah bisa membaca pikiran Oikawa. “Safe word di sini maksudnya sebagai kode kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman gara-gara aku. Misalnya kata-kata aku ada yang kelewatan atau kamu lagi nggak mau disentuh sama aku di depan orang banyak. Just say the word and I'll stop.”
“Oh.” Masuk akal.
“Kamu aja yang nentuin.”
“Hmm…” Oikawa berpikir keras. Iwaizumi mengangkat topik ini begitu tiba-tiba sehingga tidak ada kata benda atau kata sifat yang terpikirkan olehnya detik itu juga untuk dijadikan kode rahasia mereka berdua.
Sampai Oikawa teringat akan sesuatu.
“Voli.”
“Voli?” Iwaizumi mengulangi satu kata itu dengan seulas senyum kecil yang menemani. “Safe word-nya voli?”
Oikawa mengangguk seraya tersenyum lebar. “Karena kita berdua bisa main voli, jadi pake kata itu aja. Orang juga nggak akan ada yang curiga, kan, kalau denger.”
Iwaizumi masih tersenyum. “Oke. Kalau gitu kita pake kata voli.”
Pikirannya masih melayang jauh ke percakapan mereka sore hari tadi. Iwaizumi juga menceritakan soal keluarganya, termasuk upaya Ayahnya dalam menjodohkan dirinya dengan orang asing.
“Apa Ayah kamu nggak bakal keberatan?” tanya Oikawa dengan bingung. Masalahnya, ia hanya orang asing yang istilah kasarnya disewa oleh pria itu untuk menjadi pacar bohongan. Dia bukan berasal dari keluarga terpandang, apalagi memiliki harta yang berlimpah. Bagaimana kalau Ayah Iwaizumi tetap melayangkan keberatannya terhadap hubungan mereka?
Iwaizumi mendengus dan Oikawa harus menggigit bibirnya untuk menahan tawa karena ekspresi kesal pria itu justru terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.
“Ayahku nggak bisa ngatur mau sama siapa aku berhubungan. Ayahku cuma bilang, syarat biar aku dibebasin dari perjodohan itu ya asal punya pacar yang bisa dikenalin ke keluarga.”
“Dan apa yang bakal kamu jelasin ke keluarga kamu nanti seandainya kita udah harus putus?”
Pertanyaan itu Oikawa lontarkan tanpa berpikir. Ia hanya benar-benar penasaran apakah Iwaizumi sudah menyiapkan jawabannya. Lagi pula, kemungkinan putus itu memang ada, mengingat hubungan mereka hanya berlandaskan pura-pura.
Iwaizumi tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap Oikawa untuk waktu yang cukup lama sampai Oikawa merasa jengah sendiri karena diamati penuh intensitas seperti itu.
“Iwai—”
“Alasannya,” Iwaizumi akhirnya membuka suara. “Biar aku yang pikirin nanti. Tapi untuk sekarang, cukup jalani aja dulu apa yang udah kita sepakati.”
Oikawa langsung mengangguk paham dan beralih ke topik lain.
Oikawa ingat, sebelum mereka menyudahi diskusi mengenai keseluruhan rencana tersebut, Iwaizumi mengajukan peraturan terakhir.
“Apa kamu lagi deket sama seseorang?” tanya pria itu sesudah menghabiskan kopinya. Matanya mengarah ke meja kasir selama beberapa detik sebelum kembali menatap Oikawa yang tengah memikirkan pertanyaan tersebut.
“Nggak ada, sih. Kenapa?”
“Aku tau hubungan kita cuma pura-pura, tapi kalau bisa… aku mau selama rencana ini berjalan, nggak ada di antara kita yang terlibat hubungan serius sama orang lain. Kecuali… kamu sendiri yang mau ngebatalin semua ini.”
Oikawa tidak membantah karena baginya, hal itu pun terdengar masuk akal.
“Oke, itu gampang, kok.” Karena Oikawa merasa dia memang sedang tidak dekat dengan siapa pun.
Respons yang diberikan Iwaizumi setelahnya lagi-lagi hanya anggukan singkat diikuti seulas senyuman puas.
Sisanya mereka bicarakan dengan cukup santai. Di luar dugaan, banyak kesamaan pendapat antara dirinya dengan Iwaizumi, jadi tidak memerlukan waktu lama bagi mereka untuk menyetujui semua yang diusulkan satu sama lain.
Oikawa mengerang malas, lalu bangkit untuk meraih handphone-nya yang masih berada di dalam tas. Kalau tidak salah tadi baterainya tinggal sedikit. Ia jadi terpaksa bangun untuk mengisi daya baterainya.
Saat membukanya, ternyata ada chat masuk dari Iwaizumi.
Thanks buat hari ini. Mohon bantuannya ya
Oikawa tersenyum, dan membalas chat itu dengan jawaban singkat. Setelah memastikan semua notifikasi sudah dibuka, handphone-nya ia letakkan di atas nakas selagi mengisi daya baterai.
Entah sejak kapan suara TV di ruang tamu sudah tak terdengar. Oikawa kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menghela napas.
Mendadak, ia jadi tidak sabar menunggu hari Senin tiba.
@fakeloveros