Date (part 2)
“Di sini nggak apa-apa?”
Oikawa mengangguk, lalu mengikuti Iwaizumi duduk di kursi yang baru saja ditunjukkan oleh pelayan. Mereka baru saja selesai menonton film, dan Iwaizumi langsung mengajaknya makan siang di restoran yang ternyata sudah direservasinya.
Oikawa menoleh ke berbagai arah, dan diam-diam memperkirakan harga makanan di restoran yang terlihat mewah ini. Seumur-umur, dirinya baru pertama kali pergi ke restoran yang terlihat begitu glamor dan mahal. Rasanya seolah disadarkan kembali bahwa ada perbedaan besar antara dirinya dengan Iwaizumi.
“Mau pesen apa?” tanya Iwaizumi yang bahkan sama sekali tidak membuka buku menunya. Oikawa melirik ke arah pelayan yang tengah menunggu dengan sabar di sebelah meja mereka — tersenyum sopan selagi menanti Oikawa menyuarakan pesanannya.
“Apa aja yang lo rekomendasiin,” jawab Oikawa, memutuskan untuk mencari pilihan teraman sementara tangannya terulur ke arah pelayan dan menyerahkan buku menu restoran tersebut. Iwaizumi tidak protes, dan langsung menyebutkan beberapa nama hidangan kepada pelayan yang dengan sigap langsung mencatatnya.
Setelah pelayan itu pergi, ada keheningan yang menyelimuti meja mereka.
“Lo sering makan di sini?” Oikawa berusaha membuka percakapan dengan santai, meskipun matanya masih belum bisa menatap manik hitam Iwaizumi secara langsung.
“Hmm, lumayan. Biasanya sama keluarga,” jawab Iwaizumi yang terlihat lebih santai dibandingkan dirinya.
Oikawa ber-ohh pendek, lalu memperhatikan interior restoran tersebut dengan ketertarikan baru.
“Apa lo udah keluar dari part time?”
Pertanyaan tiba-tiba Iwaizumi membawa tatapan Oikawa kembali pada pria itu.
“Part time?” Oikawa memiringkan kepalanya, sembari bertanya dengan bingung.
Iwaizumi mengangguk. Matanya tidak beralih sama sekali meskipun pelayan kembali datang untuk membawakan beberapa hidangan yang mereka pesan.
“Part time mana yang bakal lo pertahanin?”
Seakan ada lampu menyala di atas kepalanya, barulah Oikawa mengerti arah pembicaraan mereka. “Ooh… maksud lo soal itu? Hmm…” Oikawa mengambil jeda untuk berpikir, namun bukannya dia belum memikirkan soal ini sama sekali. Ia hanya heran kenapa Iwaizumi ingin tahu kerja paruh waktu mana yang akan ia lepas maupun pertahankan.
“Kayaknya gue bakal keep part time yang pas weekend. Itu cuma ngajarin anak-anak SD SMP main voli soalnya,” jawab Oikawa tak beberapa lama kemudian.
“Voli?” Iwaizumi kini terdengar lebih tertarik. “Lo bisa main voli?”
Oikawa tersenyum bangga dan membusungkan dadanya sedikit. “Gini-gini gue setter yang lumayan jago.”
“Oh, gue dulu wing spiker,” Iwaizumi mengatakannya dengan datar seolah itu bukan informasi yang bisa mengejutkan pendengarnya, terutama Oikawa.
“Lo main juga??” tanyanya dengan mata yang membulat penuh rasa ingin tahu dan ketakjuban.
“Waktu SMA. Kalau sekarang sih udah nggak terlalu sering. Paling kalau diajak senior aja.”
Wow. “Kita harus main bareng kapan-kapan!” tanpa bisa menghentikan dirinya, Oikawa berucap dengan penuh semangat. Pasalnya, tidak banyak orang-orang di sekitarnya yang bisa ia ajak bermain voli begitu lulus SMA. Kebanyakan anggota timnya yang dulu berkuliah di kota lain, atau menetap di kampung halaman mereka. Jadi siapa sangka kalau ternyata Iwaizumi juga pernah berkecimpung di olahraga yang satu itu?
“Oh, tapi waktu gue balikin dompet lo waktu itu… lo lagi main basket sendirian. Apa lo juga bisa main basket?” tanya Oikawa yang tiba-tiba teringat dengan pertemuan pertama mereka.
“Kalau sekarang iya,” jawab Iwaizumi yang untuk pertama kalinya hari itu, terlihat sedikit malu sehingga mengalihkan tatapannya sedikit ke samping.
Menarik… Oikawa tersenyum kecil dan bergumam dalam hati. Entah kenapa, mengetahui hal-hal kecil tentang Iwaizumi membuatnya merasakan kesenangan yang aneh, juga semacam rasa puas. Rasanya seperti berhasil mengurai benang yang kusut meskipun tahu akan ada ikatan benang selanjutnya yang menanti di depan.
Setelah itu, pelayan bergiliran datang ke meja mereka untuk menghidangkan makanan yang tersisa. Oikawa sedikit tercengang begitu semua hidangan sudah datang dan tahu-tahu meja mereka dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang mengeluarkan aroma begitu menggoda. Kalau tidak ada Iwaizumi di depannya sekarang, air liur Oikawa pasti sudah mengalir deras.
Untuk beberapa menit pertama, yang terdengar di meja mereka hanyalah suara alat makan yang saling beradu. Beberapa kali Oikawa terpaksa menahan dirinya agar tidak mendesah nikmat meskipun indra perasanya terasa begitu dimanjakan oleh berbagai hidangan mahal ini. Namun ia tidak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh di depan Iwaizumi yang terlihat makan dengan begitu tenang. Pastilah karena pria itu sudah terbiasa dengan santapan yang ada di depan mereka.
Oikawa tidak sadar ia makan begitu lahap sampai suara Iwaizumi memecah konsentrasinya.
“Enak?”
Dan niat untuk tidak mempermalukan diri di depan Iwaizumi hancur seketika saat dirinya tersedak. Tangannya lantas meraih gelas yang ada di depannya dan dengan tak sabar langsung menenggak isinya sampai habis. Begitu tenggorokannya sudah lega dan yang tersisa hanyalah batuk kecil, Oikawa mengangakat wajahnya.
Iwaizumi sudah setengah berdiri dari duduknya. Tangannya terjulur seakan berusaha membantu, namun yang membuat Oikawa tertegun adalah ekspresi khawatir pria itu.
“Nggak apa-apa? Maaf, harusnya gue nggak ngajak lo ngobrol tiba-tiba,” ucap pria itu penuh rasa bersalah. Oikawa langsung menggeleng sambil meletakkan kembali gelasnya ke atas meja.
“Nggak, kok, nggak. Gue aja yang makannya terlalu buru-buru. Ehm, by the way, ini enak semua, kok,” jawab Oikawa seraya tersenyum lebar. Untuk suatu alasan, rasanya ia ingin cepat-cepat menghapus ekspresi khawatir dan rasa bersalah itu dari wajah Iwaizumi.
Setelah keadaan kembali tenang, dan makanan di atas meja sudah hampir habis semua, gantian Oikawa yang bersuara.
“Apa lo mau… ngomongin soal rencana kita sekarang?”
Iwaizumi meletakkan cangkirnya yang berisi teh (kapan pria itu memesan teh?) dengan gaya bak seorang pangeran, lalu menatap Oikawa tepat di manik mata. “Boleh. Mau mulai dari mana?”
Oikawa menimbang-nimbang, lalu memilih perihal yang urgensinya paling dekat.
“Gimana kalau soal hari Senin nanti?”
Iwaizumi menatapnya penuh spekulasi selama beberapa saat sebelum bertanya balik. “Lo pernah pacaran?”
“Hah? Pacaran?” Kenapa tiba-tiba? “Pernah, sih… dulu. Kenapa emangnya?”
“Hari Senin kita harus keliatan kayak gitu. Orang yang lagi pacaran.”
“Nah, iya, tapi gimana caranya?”
Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya yang tebal.
“Skinship? Obviously?” jawaban pria itu lebih terdengar seperti pertanyaan.
Oikawa bersyukur sedang tidak ada minuman atau makanan yang masuk ke tenggorokannya jadi bisa dipastikan dia tidak akan tersedak.
“Skinship…” Oikawa mengulangi satu kata itu secara perlahan. “Oke, terus?”
“Kita harus ubah gaya bicara, juga nama panggilan masing-masing.”
Oikawa menelan salivanya, lalu bergumam memastikan, “maksudnya ubah jadi… aku kamu?”
Iwaizumi lagi-lagi mengangguk. Ekspresinya tetap tenang. “Itu dan… kita harus sebut nama depan masing-masing.”
Astaga. “Oh.”
“Mau coba?”
Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali, persis seperti ikan yang kekurangan oksigen. Huruf ‘h’ sudah berada di ujung lidahnya, tapi tetap tak ada suara yang keluar.
“Tooru.”
Kali ini Oikawa berhasil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, namun itu bagian dari usahanya agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh yang nantinya bisa mempertanyakan kewarasannya. Tapi — astaga — suara Iwaizumi saat tadi memanggil nama depannya benar-benar…
“Tooru?” Iwaizumi memanggilnya lagi, kali ini keningnya mengernyit sedikit saat dilihatnya tidak ada respons yang didapat. “Kamu nggak apa-apa?”
Sialan.
Oikawa memaksakan dirinya untuk tertawa, dan memutuskan ikut ‘bermain’ dalam permainan akting ini. Kalau Iwaizumi saja bisa melakukannya, kenapa dia tidak?
“Maaf, aku nggak apa-apa, kok,” Oikawa sengaja mengambil jeda, “Hajime,” dan mengucapkan nama pria itu dengan penuh penekanan.
Saat dilihatnya wajah Iwaizumi sedikit tertegun, rasanya Oikawa ingin langsung bersorak gembira.
Skor mereka satu sama sekarang.
“Gimana kalau yang soal skinship?” tanya Oikawa setelahnya, tidak ingin membiarkan Iwaizume yang sepenuhnya memimpin keadaan.
Pria itu berdeham kecil, lalu menegakkan tubuhnya. Jelas sekali berusaha mempertahankan komposurnya agar tetap tenang. Iwaizumi pun kembali menatap Oikawa dengan tatapan lurusnya.
“Kamu punya batasan? Aku rasa kalau pegangan tangan, ngerangkul atau… pelukan masih nggak masalah? Tapi kalau kamu nggak mau, aku nggak akan maksa,” jawab Iwaizumi dengan pandangan tak terbaca, namun jelas sekali ia amat sangat menunggu jawaban dari Oikawa.
“Aku nggak keberatan, kok.”
“Apa ciuman juga nggak apa-apa?”
Senyum sedikit menghilang dari wajah Oikawa. Jantungnya yang tadi sempat berdetak dengan normal, kini kembali ke kecepatannya yang dua kali lipat.
Iwaizumi sepertinya menangkap perubahan ekspresi itu dan mengartikannya sebagai sebuah penolakan.
“Nggak apa-apa kalau kamu nggak—”
“Nggak,” Oikawa cepat-cepat memotong tanpa sadar. “Maksudku… aku… nggak keberatan. Kissing is fine too,” yang terakhir ia tambahkan sedikit pelan, sedikit berharap bahwa Iwaizumi tidak akan mendengarnya.
Namun pria itu tersenyum sedikit lebih lebar dan jelas sekali terlihat sangat puas. “Great.”
Setelahnya, Oikawa hanya sanggup memperhatikan saat Iwaizumi memanggil pelayan dan meminta bill. Ia juga tidak mengatakan apa-apa saat pembayaran sudah selesai dilakukan dan Iwaizumi kembali menaruh atensi pada dirinya. Pria itu berdiri, lalu berjalan mendekatinya.
“Mau pindah ke tempat lain?”
Next will be the last part of this dating narration! Thank you for reading until now~
@fakeloveros