Part ii

“Woy! Lo nggak ada part time kan hari ini? Mau ke— eh, anjir, buru-buru amat. Mau ke mana lo?”

Oikawa nyaris tidak mendengarkan omongan Matsukawa. Dirinya terlalu sibuk membereskan barang-barangnya untuk segera pergi menuju kafe tempatnya bekerja — tempat di mana ia sudah memiliki janji dengan seseorang.

Oikawa pikir, dia tidak akan terlalu memikirkannya. Namun mau tidak mau, chat masuk dari yang mengaku sebagai Hajime Iwaizumi benar-benar mengganggu konsentrasinya seharian itu.

Emangnya kalau bener, lo bakalan mau…? Oikawa terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri sepanjang hari.

Yah, kalau duit yang bener bakal dia tawarin banyak, mungkin gue—

“Tooru! Woy! Jawab kek pertanyaan gue.”

Oikawa hanya berdecak kesal selagi menyelempangkan tasnya.

“Gue buru-buru, nih. Udah ada janji sama orang. Nanti lagi, ya! Bye!”

Tanpa mengindahkan lebih lanjut panggilan Matsukawa, Oikawa segera berlari keluar dari ruangan kelasnya. Sepanjang jalan menuju gerbang depan kampusnya, berulang kali Oikawa harus memanuver langkahnya agar tidak bertubrukan dengan para mahasiswa yang juga baru keluar kelas.

Begitu mencapai gerbang terluar kampusnya, Oikawa semakin mempercepat derap langkahnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Kalau bisa, ia ingin menjadi orang pertama yang sampai di kafe tempat mereka janjian untuk menyusun kata-kata terlebih dulu. Lagi pula, mahasiswa jurusan manajemen pasti lebih sibuk dari dirinya, bukan?

Begitu sampai, dengan napas yang sedikit terengah, Oikawa menghapus peluh yang muncul di keningnya seraya melirik singkat ke dalam kafe tempatnya bekerja. Ia lantas membuka pintu kafe dan bunyi bel yang familier langsung terdengar dari atasnya.

“Selamat datang di— loh? Kak Oikawa?”

Oikawa menoleh, dan mendapati seorang perempuan mungil dengan potongan rambut sebahu menyapanya dengan bingung.

“Kakak ngapain ke sini? Bukannya hari ini nggak ada jadwal shift kakak?” tanya perempuan itu masih dengan tampangnya yang kebingungan. Seolah aneh sekali bagi Oikawa untuk berkunjung di luar waktunya bekerja.

“Eh, Yachi, ini aku ada janji sama temen di sini. Tapi kayaknya orangnya belum dateng.”

Yachi ber-ooh pendek, lalu memiringkan kepalanya dengan ekspresi ingin tahu. Perempuan itu melirik ke arah belakang Oikawa, kemudian menurunkan oktaf suaranya.

“Bukan yang itu temen kakak? Soalnya dari tadi cowok itu sendirian. Jadi aku pikir dia lagi nunggu seseorang,” ucap Yachi dalam bisikan rendah. Matanya melirik sekali lagi ke arah pojok kafe seolah menunjukkan maksudnya secara tersirat.

Oikawa mengernyitkan keningnya, lalu secara terang-terangan menoleh ke belakang untuk melihat orang yang dimaksud Yachi. Matanya lantas melebar begitu melihat sosok yang duduk sendirian di pojok kafe ternyata orang yang memiliki janji dengannya.

Hajime Iwaizumi sudah datang, dan tengah menunggu kedatangannya.

Seakan bisa membaca pikirannya, pria itu menoleh sehingga mata mereka langsung bertemu. Tetapi pria itu tidak berkata apa pun atau melambaikan tangan. Dia hanya terus menatap Oikawa seakan menunggu untuk dihampiri langsung. Oikawa menelan salivanya susah payah, lalu menoleh kembali ke arah Yachi.

“Eh, iya, itu temenku. Haha, ternyata dia udah dateng,” Oikawa berujar dengan sedikit canggung. “Eh, Yachi, aku pesen iced latte, ya.”

“Ooh, bener temen Kak Oikawa, toh. Haha, oke deh, kak, siap! Nanti aku bawain ke meja sana, ya.” Setelah mengacungkan jempolnya, Yachi segera pergi membuat pesanan — meninggalkan Oikawa yang masih berdiri di depan pintu dengan canggung.

Tapi bukan Oikawa namanya kalau dia mundur begitu saja.

Jadi setelah menarik napas dalam, Oikawa dengan berani berjalan menghampiri meja yang ditempati Iwaizumi. Pria itu tentu saja sudah menyadari kehadirannya, dan dengan tatapan matanya, mengikuti saat Oikawa perlahan mendekat.

“Ha-halo… gue Oikawa,” ujarnya seraya tersenyum kikuk. Tangannya refleks terangkat untuk menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia masih merasa sedikit canggung.

Namun Iwaizumi hanya mengangguk singkat, lalu dengan gerakan kepalanya, menyiratkan Oikawa untuk duduk.

“Udah pesen?” tanya pria itu setelah Oikawa duduk di hadapannya.

“Oh, udah, kok,” jawab Oikawa, matanya lantas tertuju pada cangkir hijau khas kafe mereka yang ada di depan Iwaizumi. Isinya tinggal setengah. “Lo… udah nunggu dari tadi?”

“Lumayan. Gue nggak ada kelas soalnya tadi siang,” jawab pria itu, tanpa mengalihkan tatapannya dari Oikawa. Berbeda dengan Oikawa sendiri yang berusaha menatap ke mana saja asalkan bukan ke arah pria itu langsung.

“Oh, oke, jadi…” Oikawa menghentikan omongannya karena masih dilanda kebingungan. Iwaizumi sepertinya bukanlah tipe yang banyak berbicara, jadi ia tidak tahu bagaimana harus mengarahkan obrolan mereka.

Apa gue harus basa-basi lagi? Atau to the point aja langsung?

“Lo—”

“Soal tawaran itu—”

Oikawa berhenti dan memilih untuk membiarkan Iwaizumi melanjutkan ucapannya. Iwaizumi hanya menatapnya sebentar, sebelum melanjutkan.

“Soal tawaran itu… gue tau tiba-tiba banget. Apalagi sebelumnya kita nggak saling kenal. Tapi gue nggak bohong waktu bilang gue sering liat lo bareng Takahiro. Lo keliatan gampang bergaul sama orang lain dan… nggak banyak gaya. Makanya gue pikir lo orang yang tepat buat gue mintain tolong.”

Selesai. Pria itu berbicara dengan tenang, tidak terburu-buru dan seolah sudah memikirkan semuanya baik-baik. Meskipun begitu, masih banyak pertanyaan yang menumpuk di kepala Oikawa.

“Oke… tapi lo masih belum jelasin, kenapa butuh orang buat jadi pacar bohongan lo, padahal jelas-jelas banyak orang yang ngejar-ngejar lo selama ini? Maksud gue, lo terkenal di kampus kita. Masa nggak ada yang lo taksir satu orang pun? Dan kenapa lo pilih gue?”

Sungguh timing yang tepat karena setelah mengeluarkan pertanyaan beruntun seperti itu, Yachi datang membawakan iced latte-nya. Oikawa cepat-cepat meminumnya untuk menghilangkan rasa haus, sekaligus kegugupannya. Matanya diam-diam melirik ke arah Iwaizumi yang tengah membuat ekspresi berpikir.

“Sebenernya lumayan panjang, tapi intinya, masalah keluarga. Gue butuh orang buat jadi pacar bohongan karena kalau nggak gitu, gue bakal dijodohin sama orang lain.”

“Wow. Oh, ya?” Zaman sekarang masih ada ya yang bikin perjodohan kayak gitu? pikir Oikawa dalam hati dengan sedikit takjub. Namun tidak heran juga karena setahunya Iwaizumi memang lahir di keluarga terpandang, jadi pasti perjodohan seperti itu pun berkaitan dengan bisnis keluarga mereka. Persis seperti cerita dalam novel atau dorama yang pernah ditontonnya.

Iwaizumi mengangguk, lalu menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Pria itu terlihat lebih rileks sekarang.

“Dan soal kenapa gue pilih lo… terlepas dari alasan yang gue sebutin tadi, lo termasuk salah satu orang yang nggak ngejar-ngejar gue selama ini,” ucap Iwaizumi dengan tenang.

Oikawa hampir saja tersedak minumannya.

“M-maaf? Lo bilang apa barusan?”

Kalau tidak sedang dalam keadaan panik, Oikawa yakin dia baru saja melihat Iwaizumi tersenyum kecil ke arahnya. Tapi pernyataan Iwaizumi barusan cukup membuatnya kehilangan fokus, juga kata-kata.

“Gue nggak punya banyak temen di kampus. Takahiro pun cuma satu dari segelintir yang gue bener-bener anggap temen. Sisanya… mereka nggak serius temenan sama gue. Pasti ada maunya. Entah itu reputasi atau duit gue,” jelas Iwaizumi dengan santai seakan memang sudah sering mengalaminya. Untuk sedetik, Oikawa merasa prihatin. “Dan gue butuh orang yang bisa ngeliat gue… secara normal.”

Dan menurut dia, gue orang yang cocok? Oikawa masih merasa sangsi dengan keputusan pria itu. Walaupun sudah dijelaskan, ia tetap tidak mengerti bagian mana dari dirinya yang cocok dideskripsikan seperti itu. Lagi pula, ia tidak ikut mengejar-ngejar Iwaizumi karena sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bukannya tidak tertarik pada pria itu.

“Well, oke, anggap aja gue setuju. Terus, apa yang bakal gue dapet?” Oikawa akhirnya menanyakan perihal yang diam-diam sudah ia nantikan sejak awal. Apakah benar pria itu bisa membantu keadaannya yang sedang sulit?

“Gue denger lo part time di tiga tempat? Sebut aja lo butuh berapa sampai pokoknya bisa bikin lo keluar dari dua part time di antaranya.”

Lagi-lagi Oikawa hampir saja tersedak iced latte-nya.

“Serius…?” Oikawa bertanya dalam bisikan tidak percaya. Keluar dari dua kerja paruh waktunya? Oikawa berharap dia tidak sedang bermimpi. “Lo… serius mau ngasih gue setara itu?” Oikawa bertanya sekali lagi untuk memastikan.

Iwaizumi mengangguk. Tidak ada tanda-tanda ketidakseriusan sama sekali di balik obisidian hitamnya.

“Lebih juga nggak apa-apa. Just say the number, and I'll give it to you. Every month,” ucap Iwaizumi seolah berusaha meyakinkannya lebih jauh.

Oikawa hanya tercengang selagi otaknya menghitung cepat nominal yang bisa ia dapatkan setiap bulannya. Dan ia tidak perlu begadang lagi, ataupun mengorbankan waktu istirahatnya.

Semua bisa ia dapatkan asalkan menjadi pacar bohongan pria itu.

“Apa aja… yang harus gue lakuin kalau misalnya setuju?” tanya Oikawa setelah beberapa saat.

Iwaizumi terdiam sebentar, lalu mengangkat bahunya. “Ya akting layaknya orang pacaran? Nggak cuma depan keluarga gue, tapi juga orang-orang di kampus. Kita bisa bicarain lebih detailnya nanti kalau lo bener-bener udah setuju.”

Oikawa bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat mendengar penuturan tersebut. Konsep berpacaran pura-pura dengan pria asing di hadapannya yang selama ini hanya ia ketahui nama dan reputasinya di kampus, masih begitu asing di pikirannya. Namun ia tahu, kesempatan seperti ini tentunya tidak akan datang dua kali.

Lagian Iwaizumi juga lumayan… Oikawa menatap pria itu dari balik bulu matanya. Diam-diam mengagumi bagaimana cahaya matahari sore bermain di kulit kecoklatan pria itu. Perawakannya yang tenang juga menambah karisma yang dimilikinya. Belum lagi lengannya yang terlihat berotot. Pria itu pasti sering berolahra-

Oikawa cepat-cepat menggeleng untuk mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba datang tersebut.

“Lo nggak mau?”

“Eh?” Oikawa mendongak dengan bingung, kemudian tersadar bahwa gerak refleksnya barusan pasti dianggap sebagai penolakan oleh pria itu. Untuk sesaat, Oikawa seperti melihat adanya sinar kekecewaan di balik mata Iwaizumi sebelum menghilang sedetik kemudian.

“Oh, bukan, bukan! Sori, tadi gue cuma kepikiran sesuatu. Haha, nggak penting, kok,” Oikawa cepat-cepat menampiknya sebelum Iwaizumi berubah pikiran dan mencari orang lain.

Eh? Oizawa tersentak sendiri atas pemikiran tersebut. Berarti gue mau…?

“Terus? Apa lo mau nerima tawaran gue?” tanya Iwaizumi pada akhirnya, seolah mencari jawaban yang sama atas pertanyaan Oikawa barusan pada dirinya sendiri.

Yah, lagi pula, dia cuma akan hidup sekali di dunia ini, bukan? Jadi tidak ada salahnya mencari keseruan sedikit dari hidupnya yang akhir-akhir ini begitu melelahkan.

Begitu pikir Oikawa.

Maka, dirinya pun memutuskan.

“Sure. Let's do this,” jawab Oikawa dengan yakin seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka mulai berbincang, Iwaizumi menerbitkan senyumnya.

Pria itu menyambut uluran tangan Oikawa, dan ikut menjawab dengan nada yakin yang terdengar sama.

“Deal.”


@fakeloveros