Get to Know You

Oikawa merasa kehidupannya berubah 180 derajat.

Pertama, waktunya yang dulu terasa tak pernah cukup untuk melakukan segala aktivitas — kuliah, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, kerja paruh waktu — kini menjadi kebalikannya. Keluar dari dua pekerjaan paruh waktunya ternyata memberi perubahan yang cukup besar.

Dan Oikawa bersyukur akan hal itu.

Yachi sempat bertanya ketika pria itu datang menemui pemilik kafe tempat mereka bekerja, apa Oikawa baru saja menemukan pekerjaan lain yang bayarannya lebih besar.

Sambil meringis kecil, Oikawa hanya menjawabnya dengan anggukan serta janji bahwa ia masih akan sering datang ke kafe sebagai pelanggan. Yachi, bagaimanapun, sudah dia anggap seperti adik perempuannya sendiri.

Kedua, mulai ada surat serta berbagai merek cokelat yang memenuhi lokernya setiap pagi. Awalnya Oikawa bingung dari mana benda-benda yang kebanyakan dilapisi pembungkus berwarna merah muda itu berasal. Sampai Matsukawa datang, melingkarkan tangan di bahunya, dan berucap dengan nada usil.

“Lah, lo gak tau? Sekarang yang terkenal bukan Iwaizumi doang!'

Pernyataan itu terus terngiang-ngiang dan masih terasa tak masuk akal sampai Oikawa menyaksikannya sendiri.

Ada seorang perempuan, sepertinya angkatan di bawahnya, memandanginya suatu hari secara terang-terangan dengan pipi yang bersemu merah. Oikawa tanpa sadar membalas tatapan perempuan itu untuk waktu yang cukup lama, sampai Iwaizumi (yang lagi-lagi ikut makan bersama mereka) tiba-tiba menyentuh tangannya sampai dirinya terlonjak. Dengan kening yang sedikit berkerut, Iwaizumi bertanya menu makan siang apa yang ingin dibeli Oikawa hari itu.

Oikawa tentu tidak bodoh. Ia sendiri tahu dirinya memang memiliki tampang di atas rata-rata. Kepopuleran itu pernah ia rasakan sewaktu SMA. Namun semenjak masuk kuliah dan mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan (ditambah lagi tidak sedikit mahasiswa di kampusnya yang memiliki tampang serta dandanan keren untuk menarik kaum hawa), Oikawa tidak lagi begitu memikirkan tentang hal tersebut. Malah, ia cukup menikmati privasinya tanpa ada kumpulan perempuan yang mengejar-ngejarnya setiap saat seperti dulu.

Namun hubungan terbukanya bersama Iwaizumi mulai menempatkannya di bawah lampu sorot dan Oikawa paham akan risikonya, jadi ia membiarkannya saja.

Oikawa menceritakan tentang hal tersebut pada Iwaizumi di salah satu perjalanan pulang mereka. Iwaizumi tidak mengatakan banyak, namun di sepanjang sisa perjalanan, ekspresi pria itu terlihat sedikit masam.

Ketiga, memasuki hari kelima Oikawa resmi 'berpacaran' dengan Iwaizumi, ia jadi sedikit mengetahui lebih banyak soal pria itu.

Selama lima hari berturut-turut itu pula Iwaizumi selalu datang ke kantin departemennya untuk makan siang bersama. Karena selalu bersama, Oikawa jadi tidak sengaja mengetahui kebiasaan makan pria itu.

Seperti bagaimana Iwaizumi selalu menyingkirkan timun yang ada di sayurannya karena ternyata memiliki darah rendah. Atau bagimana Iwaizumi akan memulai menyantap hidangannya dengan tiga sendok nasi, baru mencicipi lauk pauknya. Dan Oikawa juga menemukan fakta bahwa Iwaizumi lebih menyukai susu rasa stroberi dibandingkan rasa lainnya.

Tidak hanya itu, hubungan Iwaizumi dengan teman-temannya ternyata berjalan sangat baik. Ia bahkan baru tahu bahwa Iwaizumi juga suka bermain game, sampai Kuuro, dengan senang hati menawarkan Iwaizumi untuk bermain bersama kekasihnya, Kenma, yang juga seorang maniak game minggu depan di apartemen mereka.

“Our first double date!” seru Kuroo dengan bersemangat setelah Iwaizumi menyetujui ajakannya.

Tidak hanya dengan Kuroo, Iwaizumi juga terlihat sering tenggelam dalam pembicaraan seru mengenai olahraga bersama Daichi dan Suga. Oikawa pun baru mengetahui bahwa pria itu benar-benar mencoba segala jenis olahraga, tidak hanya voli dan basket, tapi juga pernah ikut lomba lari, memiliki sabuk hitam dalam Taekwondo, rutin memanah setiap minggu, bahkan mengaku cukup ahli dalam berenang.

Oikawa harus menahan diri agar tidak tercengang.

Keempat, tentu saja hubungannya dengan Iwaizumi.

Di luar hubungan pura-pura mereka, Oikawa di luar dugaan sangat menikmati keberadaan pria itu di dekatnya. Iwaizumi memang tidak banyak bicara, tidak seperti dirinya yang apabila sudah nyaman bersama seseorang, pasti akan mengoceh setiap saat. Namun pria itu pendengar yang baik dan sekali dua kali akan menanyakan perihal yang berkaitan dengan omongan Oikawa. Responsnya tidak terlihat dipaksakan maupun sekadar formalitas. Rasanya seolah Iwaizumi benar-benar mendengarkannya dan menghargai setiap ocehannya, bahkan yang tidak penting sekalipun.

Tidak jarang, Oikawa akan mengoceh sepanjang jalan (“Matsun hari ini ditegur Pak Ukai lagi gara-gara ketiduran di kelas”, “Gue denger bakal ada menu baru loh di kantin FED!”) dan Iwaizumi hanya diam mendengarkan. Saat Oikawa menoleh untuk melihat reaksi pria itu, Iwaizumi ternyata sudah menatapnya lebih dulu. Pria itu terus menatapnya, sampai Oikawa duluan yang mengalihkan atensi sambil berdeham kecil dengan gugup.

Iwaizumi sering memberikannya tatapan seperti itu.

Di luar dugaan pula, Iwaizumi tidak begitu 'pandai' dalam memulai apa yang mereka sepakati sebagi skinship. Setiap pagi mereka akan bergandengan tangan, terkadang pria itu juga akan merangkulnya di beberapa kesempatan. Namun sejauh ini, Iwaizumi tidak pernah melakukan lebih dari itu, padahal kalau ingin lebih meyakinkan orang-orang di sekitar mereka, Oikawa tahu seharusnya ada aksi tambahan selain hanya berpegangan tangan atau merangkul.

Tanpa bermaksud lain, Oikawa memberanikan diri mencoba hal itu hari Kamis kemarin.

Seperti biasa, Iwaizumi mengantarkannya sampai ke depan departemennya pagi itu, masih sambil bergandengan tangan. Karena kelas pertama sebentar lagi akan segera dimulai, banyak mahasiswa/i yang lalu lalang. Kini pemandangan mereka berduaan sudah bukan hal aneh lagi sana. Meskipun begitu, masih ada beberapa orang (kebanyakan perempuan) yang menatap mereka dengan penasaran serta ingin tahu.

“See you at lunch?” ucap Iwaizumi pelan seraya mulai menarik tangannya agar terlepas. Oikawa pun cepat-cepat megambil kesempatan dengan menarik tangan Iwaizumi yang hampir terlepas sampai pria itu terdorong ke depan — ke arahnya.

Secepat kilat, Oikawa menjatuhkan ciuman tepat di pipi sebelah kiri pria itu. Di depan banyak orang.

Sambil menyeringai lebar, Oikawa melepaskan pegangan tangan mereka, lalu segera berbalik dan masuk ke dalam gedung.

Ia bahkan tidak sempat melihat ekspresi terkejut Iwaizumi, tangan pria itu yang membeku selagi memegang pipinya sendiri, serta semburat merah yang perlahan mulai muncul.

Namun Oikawa tahu ia telah melakukan hal yang tepat.

Sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana besok ia harus menghadapi keluarga Oikawa. Mereka sudah membicarakan ini berulang kali. Mendiskusikan sekali lagi segala detail yang mungkin akan ditanyakan.

Namun terutama, Iwaizumi berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa Oikawa tidak perlu terlalu khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja. Mereka hanya perlu menghabiskan waktu makan malam dengan ayah, ibu, juga kakak perempuan Iwaizumi.

“Tenang aja,” ucap Iwaizumi setelah dilihatnya Oikawa yang biasanya cerewet, kini hanya diam dan menatap kerikil-kerikil di bawah kakinya dengan gugup. Pria itu kemudian menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat. Hangat.

“Kan ada aku.”

Detik itu juga, Oikawa yakin semua akan baik-baik saja.


@fakeloveros