All I Want

Shinsuke meletakkan handphone-nya ke dalam kantung, lalu menghela napas.

Sayangnya, helaan berat itu masih terdeteksi oleh indra pendengar seorang pria yang berada di ruangan yang sama dengannya.

Dan sepertinya, pria itu tahu apa penyebab manajernya barusan menghela napas berat.

“Atsumu?” tanya pria itu, Suna, bahkan tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

Shinsuke menggigit bibirnya pelan, lalu bergumam, “siapa lagi?”

Sebagi balasan, Suna hanya ber-hmm panjang selagi merapikan kertas-kertas tersebut.

“Apa ini soal dating ban itu lagi?” tanyanya setelah membiarkan keadaan hening untuk beberapa saat. Tidak perlu menebak jauh pun, Suna pikir dia sudah tahu akar permasalahan yang menyebabkan wajah seniornya berubah menjadi sedikit lebih muram.

Keterdiaman Shinsuke lah yang kemudian menjadi jawaban pastinya.

“Emang kenapa sih, Kak, kalau orang-orang di kantor pada tau kalian pacaran?”

Pertanyaan Suna tentu bukan sesuatu yang tidak pernah terlontarkan sebelumnya. Bahkan Shinsuke sering mempertanyakan perihal yang sama berulang-ulang pada dirinya sendiri.

Kenapa?

Dan setiap kali pertanyaan itu terpikirkan, Shinsuke selalu berbohong pada dirinya sendiri.

“Aku cuma... nggak mau hubungan itu jadi penghalang di tempat kerja,” jawab Shinsuke, meski dirinya tahu betul bukan itu alasan sebenarnya.

“Maksudnya? Takut jadi distraksi gitu buat kalian?” Suna berusaha memastikan.

Shinsuke hanya mengangkat bahunya. “Kurang lebih?”

“Kalian, kan, bukan akan kecil lagi. Pasti tau lah mana yang perlu diprioritasin, dan mana yang harus ditunda.”

Jawaban Suna berhasil mendiamkan Shinsuke untuk kedua kalinya.

“Atau... Kak Kita punya alasan lain?”

Shinsuke hanya melirik Suna dari sudut matanya. Dia paham betul bahwa juniornya itu tengah memaksanya secara halus untuk mengatakan alasan yang selama ini dipendamnya sendirian.

“Nggak ada, kok.”

Namun lagi-lagi, Shinsuke hanya mampu berbohong.


“God. I miss you so much.”

Shinsuke tersenyum tipis seraya menepuk-nepuk pelan punggung kekasihnya yang tengah memerangkapnya dalam sebuah pelukan erat. Padahal jam baru menunjukkan pukul 12 siang, dan mereka juga sudah bertemu sekilas tadi pagi, tapi Atsumu berhasil memanggil Shinsuke ke ruangan pribadi pria itu dengan alasan pekerjaan.

Sungguh klasik. Mereka sudah sering menggunakan alasan itu. Tinggal menunggu waktu sampai ada yang menyadari bahwa direktur utama perusahaan mereka memiliki hubungan khusus dengan salah satu manajer.

“Gimana kalau kita makan siang di sini? Nanti aku bisa minta Samu bawain makanan ke sini,” ucap Atsumu dengan suara yang sedikit teredam karena kepalanya masih disembunyikan di bahu Shinsuke.

“Hei, dia itu sekretaris kamu, bukan orang yang seenaknya bisa kamu suruh-suruh,” tegur Shinsuke, meskipun nada yang digunakannya masih terdengar halus.

“Nggak apa-apa. Dia pasti mau-mau aja.”

Shinsuke tidak membalas, tahu bahwa argumennya tidak akan berhasil di saat-saat seperti ini.

“Nanti malem kamu ke tempat aku lagi, kan?” tanya Atsumu selagi melepaskan pelukannya. Tangannya kini turun dan merengkuh pinggang yang lebih tua dengan santai. Ada senyum miring yang terulas di sana. Senyum kesukaan Shinsuke.

“Hmm... Kayaknya hari ini aku harus balik ke apartemenku dulu, deh. Bajuku udah hampir habis di tempat kamu,” jawab Shinsuke sambil diam-diam menikmati proksimitas mereka tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti biasanya.

Tidak perlu waktu 5 detik bagi Atsumu untuk mengeluarkan jurus merajuknya.

“You can just use mine, please? Tidurku nggak nyenyak kalau nggak ada kamu...” ucap Atsumu dengan wajah setengah cemberut. Rengkuhannya ia eratkan sampai jarak di antara mereka semakin terhapus.

“Loh, sebelum ada aku terus tidur kamu gimana?” tanya Shinsuke sedikit bercanda.

“Ya itu, kan, dulu... Sekarang beda, Shin,” jawab Atsumu, masih dengan bibir yang ditekuk ke bawah. “Lagian kenapa, sih, kita nggak sekalian aja tinggal bareng? Dulu aku juga pernah nawarin, kan?”

Shinsuke memilih untuk tidak langsung menjawab pertanyaan frontal tersebut. Tangannya pura-pura sibuk memainkan kerah kemeja Atsumu yang sudah sedikit berantakan. Dia tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap kekasihnya tepat di manik mata.

“Shin?” Atsumu memanggil namanya, kali ini diikuti sentuhan ringan di bawah dagu agar wajah mereka bisa kembali bertatapan. Shinsuke tahu dia tidak bisa menghindar lagi.

“Aku...” Shinsuke menelan salivanya susah payah. Tiba-tiba tenggorokannya terasa begitu kering. “Kamu... serius sama hubungan kita?”

Setelah pertanyaan tersebut terlontar, Atsumu memikiringkan kepalanya ke satu sisi dan menatap kekasihnya dengan ekspresi bingung.

“Kalau nggak serius, aku mana mungkin ngajakin kamu tinggal bareng? Mana mungkin juga aku bersikeras buat ngasih tau orang-orang di kantor soal hubungan kita?”

Skakmat. Atsumu justru membalikkan pertanyaannya dengan sesuatu yang lebih sulit dijawab.

“Apa kamu masih nggak yakin soal hubungan kita? Apa itu alasan kenapa kamu selalu nolak setiap kali aku bawa-bawa topik ngehapus dating ban itu?” Atsumu melontarkan pertanyaan beruntun tersebut dengan nada sedih yang terdengar begitu jelas.

“Nggak, bukan gitu—” Shinsuke buru-buru menjawab, namun ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kelanjutannya.

“Terus kenapa, Shin?”

Shinsuke memalingkan wajah sampai sentuhan Atsumu di dagunya terlepas. Perlahan, dia juga melepaskan rengkuhan tangan Atsumu di pinggangnya, lalu berjalan menuju jendela besar di ruangan yang memperlihatkan megahnya pemandangan kota Tokyo. Terkadang dirinya masih tidak percaya, kehidupannya bisa berubah 180 derajat dari seorang pemuda yang tinggal di pedesaan, sampai menjadi pekerja kantoran di kota yang tidak pernah tidur ini.

Dan di kota inilah Shinsuke bertemu dengan seorang Atsumu Miya. Seorang pria yang lebih muda darinya, namun telah menjadi pemimpin perusahaan terkenal karena kemampuannya yang mumpuni. Dengan tampangnya yang ada di atas rata-rata, sungguh tidak heran Atsumu Miya dikejar-kejar dan diperhatikan oleh banyak orang. Tidak hanya itu, pria itu pun pandai bersosialisasi, terkenal ramah terhadap semua orang, bahkan menguasai banyak bidang olahraga, yang tentu menjadi nilai plus lainnya.

Pria yang bagi Shinsuke terlalu sempurna karena hampir memiliki segalanya.

“Tsumu...” Shinsuke memanggil nama kecil kekasihnya dalam bisikan pelan. Namun ia tahu Atsumu pasti bisa mendengarnya dengan jelas karena pria itu langsung berjalan menghampirinya. Shinsuke mengangkat wajahnya dan memperhatikan pantulan tubuh mereka berdua dari kaca jendela besar di hadapannya.

“Kenapa kamu suka aku?”

Shinsuke pikir, Atsumu akan diam dan tak langsung menjawab, tapi belum sempat ia menghitung dalam hati, suara bariton pria itu sudah terdengar dari belakangnya.

“Emangnya aku butuh alasan, Shin?”

Shinsuke tidak bisa menahan senyumnya yang keluar. “Cheesy,” ucapnya singkat.

Atsumu terkekeh, lalu berjalan semakin mendekat dan melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Shinsuke dari belakang.

“Tapi aku serius. Aku suka karena kamu ya... kamu. Emang kalau aku tanya kenapa kamu suka aku, kamu bisa jawab? Kalau jawabannya cuma karena aku ganteng nggak diterima, ya,” ujar Atsumu dengan nada setengah mengancam seraya menjatuhkan ciuman kecil di pelipis pria yang masih dirangkulnya.

Shinsuke hanya tersenyum dan menatap pantulan diri mereka dengan tatapan setengah melamun.

“Maaf, tadi pertanyaanku aneh. Aku juga serius sama kamu. Aku mau kamu terus nyaman sama aku, tapi... kadang aku takut, Tsumu...” Shinsuke menghela napas, lalu membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap Atsumu kembali. Dengan keberanian diri yang datang tiba-tiba, Shinsuke mendongak agar bisa menatap obsidian cokelat kekasihnya.

“Aku takut kalau aku... nggak cukup buat kamu. Aku takut suatu saat kamu sadar bahwa aku nggak seimbang buat kamu. Aku takut kalau hubungan kita ketahuan, orang-orang bakal ngomongin kita di belakang, terutama soal kamu. Aku cuma nggak mau kamu—”

Shinsuke meracau, dia tahu itu. Tapi bahkan racauannya tidak bisa diselesaikan karena Atsumu tanpa aba-aba langsung mendiamkannya dengan sebuah ciuman. Refleks, Shinsuke memejamkan mata dan membalas ciuman itu dengan cara-cara yang sudah terlampau dihapalnya. Bagaimana cara Atsumu memiringkan wajah, atau bagaimana cara pria itu menyapu lembut bibirnya, kemudian menjilat kecil dengan lidahnya agar diberi izin untuk memperdalam ciuman mereka.

Shinsuke tidak perlu berpikir. Ia cukup menerima dan menikmatinya.

Dan mungkin itulah yang ingin disampaikan Atsumu.

“Sejak kapan kamu mikirin apa kata orang...”

Shinsuke membuka matanya perlahan, lalu mengerjap. Pagutan bibirnya sudah dilepaskan, dan kini ia tengah mengatur napas selagi netra yang tajam itu memaku dirinya di tempat.

“Sejak kapan seorang Shinsuke Kita yang aku kenal jadi penakut kayak gitu...”

Shinsuke tidak tahu harus membalas apa. Tubuhnya bergetar sedikit saat Atsumu mengangkat tangannya dan dengan hati-hati mengelus pipinya dengan punggung tangan. Seakan-akan dirinya boneka porselen yang mudah pecah.

Tapi keduanya pun tahu, Shinsuke Kita bukan orang yang seperti itu.

Dan Atsumu ingin mengingatkannya sekali lagi.

“Hubungan itu dijalani oleh dua orang, Shin. Kamu sama aku. Orang mau ngomong apa pun, nggak akan ada pengaruhnya asalkan kita masih yakin satu sama lain. I've got a strong resilience muscle towards people who bad mouthing me. Bukannya kamu yang paling paham soal itu? Hmm?” Atsumu bertanya, tanpa mengalihkan tatapannya dari pria yang selama dua tahun terakhir telah menjalin hubungan dengannya. Ia sedikit kecewa terhadap dirinya sendiri karena ia pikir sudah mengetahui segala hal tentang Shinsuke. Tapi ternyata, masih ada hal-hal yang disembunyikan oleh pria itu, termasuk ketakutannya dalam hubungan mereka.

“Dan kamu udah cukup buat aku. Lebih dari cukup, malah, Shin. Kamu udah bikin aku bahagia, jadi harusnya kamu justru bangga. Nggak semua orang bisa bikin aku bahagia, loh?” lanjut Atsumu setelah sebelumnya menjatuhkan ciuman cepat sekali lagi di bibir yang lebih tua.

Shinsuke mau tak mau tersenyum kecil, lalu memiringkan kepala dan bertanya dengan nada polos, “termasuk owner restoran sushi kesukaan kamu? Dia nggak bisa bikin kamu bahagia?”

“Hei! Jangan gitu dong perbandingannya!”

Shinsuke tertawa, kemudian menghilangkan jarak di antara mereka dengan memeluk erat pria yang lebih muda tersebut. Walaupun sudah menjadi pemimpin perusahaan, terkadang Atsumu bisa bertingkah seperti anak kecil di hadapannya. Itu termasuk sikap Atsumu yang tidak diketahui oleh banyak orang. Dan Shinsuke bangga ia bisa menjadi satu-satunya yang mengetahui sisi lain pria tersebut.

“Makasih ya... udah bilang begitu. Kamu juga bikin aku bahagia, kok.”

Atsumu hanya bergumam panjang, dan membalas pelukan Shinsuke dengan lebih erat. Mereka terus seperti itu selama beberapa saat sampai Atsumu yang memecahkan keheningan.

“Jadi? Gimana? Kamu mau, kan, tinggal bareng aku? Oh ya, soal dating ban juga—”

“Tunggu, ayo pilih salah satu,” Shinsuke buru-buru memotong sebelum Atsumu terbawa suasana lebih jauh. “Mana yang lebih urgent buat kamu? Aku tinggal bareng kamu atau dating ban itu dihapus?”

Atsumu tercengang seraya menatap Shinsuke tidak percaya. “Kamu serius nyuruh aku milih? Padahal aku bisa langsung lakuin dua-duanya—”

“Nggak, kamu harus pilih dulu salah satu. Satunya lagi tahun depan.”

“Tahun depan?!”

Shinsuke hanya mengulum senyum dan menikmati konflik batin yang jelas-jelas tengah diderita kekasihnya. Sesekali mengerjai Atsumu seperti ini menyenangkan juga, pikirnya.

“Lift the dating ban.”

Jawaban yakin Atsumu membawa Shinsuke kembali ke dunia nyata.

Kini giliran Shinsuke yang menatap Atsumu dengan tatapan terkejut. “Eh? Serius? Aku pikir kamu bakal—”

“Aku mau banget tinggal sama kamu, Shin. Kamu pikir aku bakal bisa tahan harus nunggu setahun? Tapi... bukan berarti kamu nggak akan nginep lagi di aku, kan? Aku bakal tetep nyulik kamu setiap ada kesempatan. Liat aja!” Atsumu mengatakannya dengan berapi-api seolah itu adalah misi yang harus dilakukannya sebelum mati.

“Terus kenapa nggak milih itu?” tanya Shinsuke dengan bingung.

“Karena aku bakal lebih kesel kalau nggak bisa terang-terangan nunjukkin ke orang-orang sini kalau kita pacaran. Kalau kamu udah jadi punya aku dan nggak boleh ada lagi yang pegang-pegang sembarangan, terutama si pegawai baru itu dan orang dari divisi marketing!”

Shinsuke memutar kedua bola matanya, walau tidak bisa menyangkal alasan kekanakkan itu justru membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

“Kamu tuh kayak anak kecil yang mainannya nggak boleh diambil tau, nggak?” ujar Shinsuke sambil menepuk kedua pipi Atsumu pelan. “Kamu beneran CEO bukan, sih?”

Atsumu hanya cemberut meskipun matanya justru menyiratkan hal yang sebaliknya.

Meskipun Shinsuke kini berdiri tegap di hadapannya, bahkan masih berada dalam pelukannya, namun dirinya sendiri tidak bisa menampik ketakutan yang juga disimpannya.

Bukan hanya Shinsuke yang menyimpan rasa takut itu. Atsumu pun memilikinya. Namun ia cukup ahli untuk menyembunyikannya karena ia tidak ingin membuat Shinsuke khawatir.

Ada rasa takut seandainya Shinsuke lah yang justru meninggalkannya suatu saat. Dan cara yang terpikirkan oleh Atsumu untuk menjaga Shinsuke agar terus berada di sisinya hanyalah melalui cara yang kekanakkan seperti ini.

“Makan siang, yuk?”

Tapi nggak masalah, Atsumu berpikir dalam hati seraya mengangguk untuk mengiyakan ajakan Shinsuke.

Selama Shinsuke masih tersenyum lebar seperti ini padanya, ia yakin semua akan baik-baik saja.


@fakeloveros