Apologize

Menghindari Iwaizumi ternyata tidaklah sesulit yang Oikawa bayangkan. Meskipun begitu, ada perasaan aneh yang membuat perutnya seperti terlilit setiap kali harus membuat alasan bohong lain atau bahkan saat sengaja tidak membuka chat dari pria yang tengah dihindarinya itu.

Perbuatan impulsifnya saat di lapangan voli kemarin malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan sekarang Oikawa tidak tahu bagaimana harus memperbaiki keadaan. Memang dalam perjanjian mereka, ciuman diperbolehkan dalam situasi yang apabila memang diperlukan. Namun perbuatan spontannya kemarin tidak terhitung sebagai sesuatu yang benar-benar diperlukan, bukan? Apalagi jika ia melakukannya tanpa seizin pria itu terlebih dahulu.

Meskipun Iwaizumi sendiri tidak mengungkit hal tersebut apalagi melayangkan protes, namun tetap saja, Oikawa merasa ia sudah melewati batas.

Untuk kesekian kalinya hari itu, Oikawa menghela napas berat.

Satu-satunya kerja paruh waktu yang ia pertahankan baru saja selesai dan ia sedang melambai kepada anak terakhir yang baru saja dijemput oleh ibunya ketika tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya dari belakang.

“Oikawa.”

Yang dipanggil namanya lantas menahan napas dan membalikkan badan dengan terkejut. Mungkin karena sudah cukup sering bersama pria itu, Oikawa jadi bisa dengan mudah mengenali suara berat Iwaizumi yang memanggil namanya.

Dan benar saja, Iwaizumi sekarang tepat berdiri di hadapannya.

“E-eh? Iwaizumi? K-kok bisa ada di sini…” Oikawa refleks mundur selangkah dan bertanya dengan gugup — tidak berani menatap kedua manik hitam yang tengah memakunya intens tersebut.

“Kata Takahiro kamu part time di sini hari ini,” jawab Iwaizumi singkat tanpa mengalihkan tatapannya meskipun yang diajak bicara terus saja berusaha menghindar.

“I-iya sih bener, terus ada apa lo... ke... sini…” Oikawa menelan salivanya susah payah dan suaranya semakin menghilang saat pria itu justru berjalan semakin mendekatinya.

“Kenapa kamu ngehindarin aku terus?”

Mampus.

Oikawa tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tiba-tiba lidahnya terasa kelu.

“Oikawa?” panggil Iwaizumi sekali lagi. “Tolong jawab pertanyaanku.”

“G-gue nggak… ngehindarin lo…” Oikawa tahu, bahkan di telinganya sendiri, sanggahan itu terdengar sangat lemah.

Dan jelas sekali Iwaizumi tidak memercayainya.

“Kenapa kamu ngehindarin aku?” tanya pria itu sekali lagi. Terdengar lebih lembut, tapi juga lebih menuntut dari sebelumnya.

Sekarang Oikawa yakin dirinya tidak bisa kabur lagi.

“Soalnya... gue... malu dan ngerasa nggak enak sama lo…” jawab Oikawa pada akhirnya.

“Malu? Malu kenapa? Gara-gara kejadian di lapangan waktu itu?”

Oikawa meringis. Tidak menyangka Iwaizumi bisa langsung menebaknya dengan tepat. Tapi memang selain itu, Oikawa tidak memiliki alasan lain untuk menghindari Iwaizumi, bukan?

“Iya... gue... itu... spontan banget. Gue juga nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba... tiba-tiba... err…” Oikawa memalingkan mukanya dan menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal dengan canggung. Padahal sebelum bertemu Iwaizumi, dia tidak pernah bersikap seperti ini. Oikawa selalu dikenal sebagai orang yang supel, penuh percaya diri dan tidak pernah ragu. Namun semenjak mengenal Iwaizumi, terkadang ia merasa seperti ini; tidak berdaya.

Dan hanya di hadapan pria itu.

Untuk beberapa saat, keadaan terasa hening. Mereka masih ada di luar gedung gymnasium tempat Oikawa melatih anak-anak bermain voli, namun tidak ada siapa pun di sekitar mereka saat itu. Yang terdengar hanya suara kendaraan dan gemerisik daun yang tertiup angin pelan.

“Kamu nggak perlu ngerasa kayak gitu,” Iwaizumi lah yang pertama kali memecahkan keheningan suasana tersebut. Pria itu kembali mendekat selangkah sampai, mau tak mau, Oikawa terpaksa kembali menoleh dan menatapnya.

“Aku nggak marah, atau ngerasa keberatan. Jadi harusnya kamu nggak usah ngerasa kayak gitu. Justru kalau kamu ngehindar, aku bakal ngerasa kalau kamu sebenernya... nyesel karena udah ngelakuin hal itu.”

Oikawa tertegun. Ia tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Ia tidak pernah berpikir dari sudut pandang Iwaizumi, apalagi—

“Emang kamu nyesel? Kalau kamu nyesel, aku yang bakal minta maaf.”

Pernyataan mendadak Iwaizumi tentu saja mengejutkan Oikawa. Namun dibandingkan itu, ia lebih memikirkan pertanyaan Iwaizumi.

Apa dia menyesal?

Daripada menyesal, mungkin sebenernya ia lebih khawatir Iwaizumi akan membencinya karena telah melakukan sesuatu di luar consent pria itu. Namun Iwaizumi jelas-jelas mengatakan barusan bahwa ia tidak marah atau keberatan sama sekali.

Berarti bukan masalah, kan, kalau dia tidak…

“Gue... nggak nyesel, kok. Lagian lo nggak salah apa-apa, jadi nggak perlu minta maaf juga. Justru harusnya gue yang minta maaf…” Oikawa menarik napas panjang, dan memberanikan diri menatap lurus pria itu. “Maaf karena udah nyium lo tiba-tiba... depan banyak orang. Maaf juga karena gue balik duluan waktu itu, bahkan sampai nggak bales chat lo. Pokoknya gue... minta maaf. Ke depannya gue bakal lebih hati-hati karena gimanapun, hubungan kita ini kan bukan beneran…” Oikawa mengakhiri ucapannya dengan seulas senyum kecil, meskipun hal yang sama tidak terlihat sama sekali di wajah Iwaizumi. “Lo...beneran nggak marah, kan?” Oikawa bertanya untuk memastikan.

Iwaizumi memang tidak langsung menjawab, hanya menatap Oikawa sedikit lebih lama sebelum menghela napas berat.

“Aku nggak marah, tapi tolong lain kali bales chat dari aku. Meskipun kamu lagi nggak mau ketemu, seenggaknya tolong tetep bales. Biar aku tahu kalau kamu baik-baik aja.”

Iwaizumi mengatakannya dengan pelan, sehingga bukannya terdengar sebagai perintah, melainkan permohonan.

Dan Oikawa tidak kuasa menolaknya, jadi dirinya pun langsung mengangguk sebagai gestur menyanggupi.

“Gue janji. Sori ya, Iwaizumi, lo sampe repot-repot dateng ke sini.”

“Nggak apa-apa, lagian aku juga mau sekalian ngajak kamu keluar.”

“Oh, ya? Mau ke mana?”

“Hmm…” Iwaizumi bergumam panjang seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jeans. Oikawa bahkan baru sadar penampilan pria itu terlihat jauh lebih...rapi dibandingkan biasanya. Oikawa jadi penasaran, memang Iwaizumi mau mengajaknya pergi ke mana?

“Aku diajakin makan-makan sama anggota tim voli sebagai ucapan makasih. Katanya boleh ajak kamu juga, jadi..” Iwaizumi mengerling ke arahnya, dan barulah Oikawa melihat seulas senyum kecil di wajah pria itu. “Kamu mau kan nemenin aku?”


@fakeloveros