Heartbeat
Oikawa nyaris berpikir bahwa sisa malam itu akhirnya bisa mereka habiskan dengan tenang.
Nyaris.
Setelah berbagai sambutan yang terdengar lebih membosankan dari kelas yang diajarkan dosennya, makan malam pun mulai dihidangkan. Dan untuk pertama kalinya sejak Oikawa melangkah ke dalam hall besar tersebut, ia bisa tersenyum senang melihat hidangan makanan dengan tampilan begitu menarik dan aroma yang hampir membuat air liurnya menetes. Mulai dari appetizer, main course, sampai dessert, semua ia habiskan dengan senang hati. Iwaizumi pun tidak pernah meninggalkan sisinya dan Yui pun selalu memiliki topik menarik untuk dibicarakan.
Namun Oikawa tahu ada yang tidak beres ketika tiba-tiba Yui dipanggil oleh sekelompok wanita untuk berbincang, juga saat Alisa menghampiri meja mereka dengan senyum malu-malu. Perempuan itu mengatakan bahwa Iwaizumi dipanggil oleh Ayahnya untuk diperkenalkan ke para rekan bisnis pria paruh baya itu.
Tadinya Iwaizumi sudah membuka mulut untuk menolak. Oikawa tahu, pria itu pasti tidak ingin meninggalkannya sendirian. Namun Alisa langsung memotong pria itu dan mengatakan, “nggak apa-apa. Aku yang bakal nemenin pacar kamu di sini. Kamu pergi aja.”
Oikawa mengangkat sebelah alisnya cukup terkejut. Jadi ternyata perempuan itu tahu siapa dirinya. Maka dengan sedikit dorongan di punggung, Oikawa menyuruh Iwaizumi pergi untuk mendatangi Ayahnya. Lagi pula, ia sendiri tidak ingin melihat hubungan ayah dan anak itu semakin memburuk kalau Iwaizumi tidak patuh.
Oikawa pun ditinggal berdua bersama Alisa.
Untuk sesaat, tak ada yang mengatakan apa pun di antara mereka. Oikawa terus mengesap minumannya sementara perempuan di seberangnya hanya menatap udara kosong meskipun Oikawa tahu sesekali obsidiannya akan mengarah padanya dengan tatapan ingin tahu. Oikawa memutuskan bahwa dirinya akan menunggu sampai perempuan itulah yang pertama kali bersuara.
“Nama kamu... Oikawa, kan?”
Gotcha.
Oikawa hanya mengangguk dan menunggu kelanjutan kalimat yang ingin diucapkan perempuan itu.
“Oikawa,” kali ini Alisa menyebut namanya dengan lebih yakin. Tatapan perempuan itu pun terlihat lebih fokus mengarah padanya. “Aku yakin kamu pasti tau kalau sebenernya aku mau dijodohin sama Hajime.”
Hajime? Oikawa mencibir dalam hati. Perempuan itu berani memanggil Iwaizumi dengan nama kecilnya hanya saat pria itu sedang tidak ada? Apa ini usahanya untuk menunjukkan kedekatan semu mereka?
Setidaknya Oikawa tahu bagaimana cara untuk tetap bersikap tenang. Sebutlah ini berkat pengalamannya karena harus menghadapi berbagai jenis pembeli saat bekerja sebagai pelayan kafe ataupun kasir di mini market.
“Iya, aku tau. Hajime sendiri yang pernah bilang,” Oikawa hanya menjawab singkat.
“Dan Ayahnya bakal ngelakuin segala cara supaya perjodohan ini berhasil.”
Oh, wow. “Aku tau, tapi,” Oikawa meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu menatap perempuan itu tepat di manik mata. “Hajime juga punya hak di sini untuk menolak. Dan setauku, Hajime udah nolak perjodohan itu sejak lama.”
Perempuan itu mengernyitkan alisnya sedikit. Tatapannya terlihat tak setuju. “Kamu nggak tau. Keputusan apa pun bisa berubah. Hubungan kamu sama dia pun bisa aja nggak akan bertahan lama.”
“Hmm...” Oikawa bergumam panjang dan pura-pura berpikir keras. “Kayaknya kamu belum kenal Hajime dengan baik, ya? Maksudku, kamu pasti nggak tau Hajime orang yang kayak apa sampai bisa berkesimpulan gitu.”
“Terus kenapa? Apa karena kamu pacarnya, jadi kamu mau bilang kalau udah kenal Hajime dengan baik?” tantang Alisa seraya menaikkan dagunya dengan gestur angkuh.
“Oh, ya, jelas. Seenggaknya aku tau kalau Hajime orang yang menghargai banget pasangannya. Dia nggak pernah maksa, tapi juga mau tetap berargumen kalau menurutnya ada yang salah. Dia perhatian, sabar, dan walaupun kata orang-orang dia bucin tolol sama aku,” Oikawa berhenti untuk mengangkat sudut bibirnya dan memberi Alisa tatapan penuh arti. “Dia tau gimana harus tetap memosisikan dirinya. Dan kalau digabungin sama sifat aku... hmm, ya katakanlah hubungan kita berdua bakal bisa bertahan lama.”
Oikawa mengakhiri penuturannya dengan sebuah cengiran lebar sementara wajah perempuan di hadapannya terlihat memerah karena menahan marah.
“Kamu—”
“Kamu mendingan pergi dari sini sekarang.”
Oikawa menoleh dan mendapati Iwaizumi sudah kembali dan berdiri di dekatnya. Namun pria itu mengarahkan tatapannya ke arah Alisa dengan ekspresi cukup datar.
Alisa menggigit bibirnya dan tanpa mengucap satu patah kata pun segera berdiri dari duduknya. Namun sebelum perempuan itu melangkah lebih jauh, Iwaizumi kembali bersuara.
“Dan tolong jangan panggil aku Hajime lagi. Hubungan kita nggak sedekat itu.”
Berbeda dengan ekspresinya yang seakan tidak menampilkan emosi apa pun, ucapan Iwaizumi justru terdengar sangat dingin. Alisa hanya melempar pandangan tak suka sekali lagi sebelum melangkah menjauhi meja mereka.
Oikawa menghela napas panjang dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Dia bahkan tidak sadar dari tadi sudah duduk terlalu tegak saat berargumen dengan perempuan itu. Rasanya seperti baru saja ada beban yang diangkat dari bahunya.
Beberapa detik berlalu, namun Iwaizumi belum juga ikut duduk di sebelahnya.
“Kok nggak duduk?” tanya Oikawa sambil mendongak menatap Iwaizumi yang masih berdiri menjulang di sebelahnya.
Iwaizumi memandanganya lama untuk beberapa saat sebelum tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya ke arahnya.
“Would you like to dance with me?”
Saat itulah Oikawa baru tersadar bahwa ada musik lembut yang mengalun di sekeliling mereka. Oikawa menegakkan tubuhnya kembali dan memperhatikan beberapa pasangan bahkan sudah turun ke lantai dansa dan mulai menari.
Oikawa lalu mengembalikkan tatapannya ke arah Iwaizumi yang masih menunggu jawabannya dengan sabar. Ia yakin ada pengaruh alkohol yang membuatnya menyambut uluran tangan itu dengan berani dan penuh percaya diri.
“Of course, sir.”
Iwaizumi lantas menuntunnya ke lantai dansa di mana para pasangan tengah menikmati musik yang mengalun tersebut. Oikawa tersenyum malu saat Iwaizumi berbalik ke arahnya dan mulai meletakkan kedua tangannya di sisi pinggangnya.
“Tapi kamu harus tau... aku nggak bisa dansa sama sekali,” Oikawa berbisik rendah sementara Iwaizumi mulai menggerakkan tubuh mereka pelan mengikuti musik.
“Nggak apa-apa. Ikutin aja gerakan aku.”
Oikawa mengangguk singkat, lalu mulai merilekskan tubuhnya dan mengikuti gerakan pelan pria itu. Tak beberapa lama, ia merasa mulai terbiasa dan bisa menyesuaikan tanpa harus tersandung kakinya sendiri.
“Jadi... kamu bukan cuma jago olahraga, tapi jago dansa juga, ya?” godanya pada pria yang malam ini terlihat sangat tampan dalam balutan setelan serba hitam.
Iwaizumi tertawa pelan dan Oikawa rasanya seperti terbutakan oleh pemandangan tersebut.
“Menurutku dansa juga termasuk olahraga,” jawab pria itu setelah tawanya reda.
“Oh, ya? Kamu kalau latihan dansa biasanya sama siapa emang?”
“Kak Yui.”
Oikawa mengangkat sebelah alisnya tak percaya. “Kak Yui doang?”
“Ditambah sama kamu sekarang.”
Oikawa bisa merasakan gesekan aneh di perutnya kembali muncul.
“You really know how to flirt. Mantan pacar kamu dulu pasti banyak, deh,” ucap Oikawa selagi berusaha mengusir rasa gugupnya yang tiba-tiba datang.
“Am I flirting?” Iwaizumi malah bertanya balik.
“You are.”
“Does it work?”
Oikawa memilih untuk tak menjawabnya. Ia berdeham dan memfokuskan tatapannya ke arah kerah kemeja hitam pria itu.
“Aku denger apa yang kamu bilang tadi ke Alisa.”
Oikawa tetap diam, namun ia mengembalikan tatapannya ke arah Iwaizumi yang kini tengah berbicara dengan serius.
“Rasanya mau berapa kali pun aku ngucapin terima kasih ke kamu kayaknya nggak bakal cukup. Thank you for... helping me. Even kalau dari kata-kata kamu ada yang bohong pun aku bakalan tetap berterima kasih.”
Oikawa buru-buru menggeleng. “Nggak ada dari kata-kata aku barusan yang bohong, kok. Aku serius pas ngomong kayak gitu.”
“Kalau gitu, apa kamu serius pas bilang hubungan kita bakal bertahan lama?”
Oikawa tertegun karena tidak menyangka Iwaizumi akan menanyakan hal seperti itu. Sekarang ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena bukankah hubungan mereka hanya—
“Karena aku serius berharap mau hubungan kita bertahan lama.”
Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.
“Hajime, apa—”
“Kalau nggak setuju sama harapanku barusan, kamu bisa dorong aku habis ini.”
Tidak ada kata-kata dari pria itu yang terproses di otaknya dengan baik, terutama yang terakhir. Benaknya langsung kosong dan yang terpikirkan olehnya hanyalah betapa jarak mereka begitu dekat, wangi bergamot yang semakin tercium, juga bagaimana ia sampai lupa bernapas saat bibir Iwaizumi tiba-tiba menempel di bibirnya.
Oikawa refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Peringatan Iwaizumi sebelumnya terlupakan begitu saja. Sekelebat, Oikawa jadi teringat saat dirinya mencium Iwaizumi selama dua detik di lapangan voli dulu. Namun ia sadar, dibandingkan dengan sekarang, yang waktu itu bahkan tidak bisa dihitung sebagai ciuman.
Karena di momen inilah Iwaizumi benar-benar menciumnya.
Awalnya pria itu hanya menempelkan bibir mereka — seakan mengetes reaksi apa yang akan diberikan Oikawa. Namun tak beberapa lama, bibir pria itu mulai bergerak pelan di atas bibirnya. Oikawa menarik napas dengan gemetar dan tanpa sadar mengeratkan rangkulannya di sekeliling leher pria itu. Iwaizumi semakin maju untuk menghilangkan jarak di antara mereka. Iwaizumi memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kanan untuk mendapat posisi yang pas agar bisa memperdalam ciuman mereka.
Detik itu juga, Oikawa melupakan fakta bahwa mereka berada di tempat terbuka. Banyak orang di sekitar mereka yang bisa saja menyaksikan. Namun di saat yang bersamaan, ia sendiri tidak peduli. Ia hanya terfokus pada Iwaizumi, sentuhan pria itu, juga hangat dari tubuh mereka yang saling menempel. Oikawa bahkan yakin tubuhnya sempat terdorong ke belakang saat pagutan Iwaizumi di bibirnya terasa semakin keras dan menuntut. Oikawa hampir saja membuka bibirnya untuk memberi izin pada pria itu kalau tidak secara tiba-tiba Iwaizumi menarik dirinya menjauh.
Oikawa membuka matanya dengan terkejut. Napasnya sedikit terengah. Ia bahkan tidak sadar mereka telah berciuman cukup lama sampai musik telah berganti. Namun keduanya hanya menatap satu sama lain tanpa bersuara.
Iwaizumi tiba-tiba menghela napas dan memejamkan matanya untuk sesaat. Pria itu kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Oikawa sambil merengkuhnya. Mereka tak lagi bergerak untuk berdansa dan hanya berdiri diam seperti itu di tengah puluhan pasang mata yang diam-diam mengawasi.
Tetapi tak ada dari mereka yang peduli.
“Maaf.”
Iwaizumi berucap pelan seraya mengeratkan pelukannya dengan kepala yang masih ditenggelamkan di bahu Oikawa.
“Hampir aja aku...” Iwaizumi menahan ucapannya dan hanya helaaan napas yang terdengar.
Apa?
Oikawa ingin bertanya, tapi dia sendiri tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Pikirannya masih kosong dan dirinya seakan sulit untuk memercayai apa yang baru saja terjadi. Jadi ia diam saja dan membiarkan Iwaizumi terus memeluknya — seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun.
Kali ini Oikawa yakin Iwaizumi pasti bisa mendengar suara detak jantungnya yang bertalu sangat kencang.
Atau mungkin juga tidak karena suara detak jantung pria itu pun sama kencangnya sekarang.
YEAAAAH THEY FINALLY KISSED!!! Hehe selamat hari Senin semua~
@fakeloveros