Friend's Words
“Ngapain lo di sini?”
Oikawa mendongak saat mendengar suara yang familier tersebut menyapa gendang telinganya.
“Maksud lo apa? Gini-gini gue sering ya ke perpus. Lah lo sendiri ngapain di sini?” balas Oikawa sewot pada temannya yang hanya menyeringai lebar tersebut.
“Mau nungguin Kenma,” jawab Kuroo yang langsung mengambil tempat di depannya.
“Lagi ngapain emang Kenma?”
“Mabar sama temennya.”
Oikawa lantas mencibir. “Bucin banget lo sampai Kenma mabar aja ditungguin.”
Bukannya tersinggung, Kuroo hanya mengibaskan tangannya dengan santai. “Ah, udah biasa, kok. Pacar lo sendiri ke mana? Biasanya dia suka ngintilin lo tuh.”
“Gue suruh balik duluan,” jawab Oikawa singkat. Mendadak dirinya langsung kembali lesu mengingat hubungannya dengan Iwaizumi yang kembali canggung dan aneh. Namun kali ini dirinya tidak tahu siapa yang bersalah.
“Kenapa emang? Lagi berantem ya lo sama dia?”
“Bukan berantem, sih…” Oikawa menggantungkan kalimatnya. Ia bahkan tidak yakin apakah yang mereka lakukan sekarang bisa disebut sedang berantem atau bukan.
“Tapi? Kayak ada tapinya…” Di luar dugaan, Kuroo justru seolah memaksanya untuk bercerita. Oikawa pun menimbang-nimbang selama beberapa saat sebelum bertanya.
“Lo pernah nggak berantem sama Kenma?”
Kuroo mendengus seakan itu pertanyaan paling konyol yang pernah didengarnya.
“Ya pernah, dong. Gila, pacaran apaan namanya kalau nggak ada berantemnya sama sekali? Justru aneh, anjir, kalau ada orang pacaran yang nggak pernah berantem,” jawab pria itu, kemudian tatapannya berubah menjadi lebih curiga. “Bener ya lo lagi berantem sama Iwaizumi?”
Oikawa hanya bergumam panjang. Pandangannya jatuh pada permukaan meja yang dipenuhi oleh buku-bukunya. Ia bahkan sampai berbohong pada Iwaizumi dan mengatakan ada tugas kelompok. Padahal yang dilakukannya sedari tadi hanyalah mencoba belajar di perpustakaan, namun gagal karena pikirannya akan kembali terusik dengan masalah mereka sekarang.
“Tapi gue sama Kenma kalau berantem paling lama cuma dua hari. Percaya nggak lo?” ucap Kuroo penuh kebanggaan. “Mau tau nggak tipsnya apa?”
“Apa?” Oikawa berusaha tidak terdengar tertarik, namun dirinya penasaran juga.
“Gampang. Ko-mu-ni-ka-si. Ngomong. Bicara. Talk. Niscaya habis itu hubungan lo bakal balik adem ayem,” jawab Kuroo dengan khidmat. “Emang sih kedengerannya klasik banget. Tapi justru itu yang sering dilupain sama banyak pasangan di dunia ini. Komunikasi. Dan buang ego lo berdua sejauh-jauhnya untuk sementara. Ngomong sejujur-jujurnya soal yang lo rasain. Liat masalah itu nggak cuma dari sudut pandang lo, tapi juga sudut pandang pasangan lo. Istilahnya, lo kalau mau dimengerti, ya harus coba ngertiin pasangan lo juga. Jangan maunya enak sendiri aja.”
Oikawa tak bisa menahan dirinya untuk tidak tercengang. Ia tidak menyangka orang seperti Kuroo, yang terlihat cuek dari luar, ternyata memperhatikan hal sedetail itu dalam sebuah hubungan.
“Anjir…” Oikawa hanya mampu mengucap satu kata itu dengan takjub. “Coba lo sehebat ini juga pas pelajaran…”
“Sialan lo.”
Oikawa menggeleng-gelengkan kepalanya — tak habis pikir dengan tips yang diberikan Kuroo. Namun sedikit banyak, saran pria itu mulai ia pertimbangkan.
Mungkin, dirinya dan Iwaizumi memang hanya perlu berbicara serius.
“Gue mau nanya sesuatu deh,” Oikawa tiba-tiba terpikirkan akan satu hal, dan selagi ada orang yang bisa ditanya di hadapannya, ia memutuskan untuk menyuarakannya. “Gimana pas lo pertama kali tau kalau lo suka sama Kenma?”
Kuroo tersenyum (Oikawa harus menahan diri agar tidak bergidik geli karena itu pertama kalinya dia melihat Kuroo tersenyum begitu lembut) dan matanya menerawang seakan berusaha mengingat momen berharga yang sudah lama.
“Hmm… selain gue lebih deg-degan setiap kali ada di deket dia, gue jadi lebih aware aja sama mood dia. Dan gue juga nggak mau liat dia sedih, ngambek, marah atau khawatir. Menurut gue, ucapan yang bilang kalau lo cuma mau buat pasangan lo bahagia itu bener.”
“Kalau cemburu? Pernah nggak?” Oikawa kembali bertanya.
“Duh, salah nanya lo. Gue orangnya bukan tipe yang cemburuan gitu, sih,” jawab Kuroo sekenanya.
“Kan gue nanyanya pernah atau nggak, bukan sering atau nggak.”
“Ooohh… hehehe,” Kuroo menggaruk tengkuknya dengan malu-malu. “Pernah, tapi ya gitu. Sekelebat aja soalnya Kenma sendiri orangnya cuek. Dia nggak mikirin hal-hal yang kayak gitu.”
Oikawa mengangguk-angguk sementara otaknya berusaha memproses perkataan Kuroo.
“Iwaizumi pasti tipe yang cemburuan banget, ya?”
“Kenapa gitu?” Bukannya menjawab, Oikawa malah bertanya balik. Ia sendiri penasaran kenapa Kuroo bisa berpendapat seperti itu.
“Yaa... keliatan aja? Dia kalau ada di deket lo, kayak maunya lo ngeliat dia, dia ngeliat lo. Gitu.”
“Oh, ya?” Oikawa memiringkan kepalanya sedikit terkejut setelah mendengar pernyataan tak terduga tersebut. “Hmm… kadang-kadang dia emang aneh, sih, kalau gue nyebut-nyebut nama Ushijima depan dia… tapi masa, sih…” Oikawa berucap penuh keraguan.
Ngapain Iwaizumi cemburu? Kita, kan, nggak pacaran beneran? Oikawa bertanya-tanya dalam hati dengan bingung.
“Gue aja sadar, Oik. Masa lo nggak? By the way, bukannya itu nggak bagus. Bisa aja itu emang cara dia buat ngungkapin rasa sayangnya. I know some people emang kayak gitu waktu pacaran. Asal nggak over aja, sih, menurut gue. Dan lo tau nggak, kalau orang tuh cemburu karena biasanya dia ngerasa insecure. Bisa aja Iwaizumi ngerasa insecure gara-gara Ushijima deket sama lo as roommate? Coba aja lo kurang-kurangin nyebut nama Ushijima depan dia. Kayak yang gue bilang di awal, coba pahami dari sudut pandang pasangan lo juga.”
Kuroo menyudahi jawaban yang tak bisa dibilang singkat tersebut seraya mengangguk yakin. Oikawa sendiri lagi-lagi hanya mampu tercengang takjub mendengar jawaban bijak tersebut.
“Ini beneran Kuroo bukan, sih? Jangan-jangan lo hantu perpus yang nyamar jadi Kuroo, ya?”
Kuroo merobek satu kertas binder milik Oikawa, membentuknya seperti bola, lalu melemparnya tepat ke kepala pria itu.
“Heh, gue udah ngasih lo saran panjang lebar gini, malah dituduh hantu. Lagian mana ada hantu yang seganteng gue??” ucap Kuroo tak terima. “Justru lo yang kayak hantu soalnya tampang lo tadi dari jauh tuh kucel banget!”
Oikawa meringis, namun dirinya langsung menyerah dan tak membalas ledekan Kuroo lagi.
“Udah, jangan galau terus. Mending lo omongin dulu deh masalah lo berdua sama Iwaizumi. Tapi jangan pake emosi dan ego. Ingetin tuh tips gue tadi!” Kuroo mengingatkannya sekali lagi dengan berapi-api.
Oikawa menghela napas berat. Matanya bergulir ke arah pemandangan kampus yang terlihat dari jendela perpustakaan. Pikirannya refleks berkenala ke setiap perkataan dan sikap yang diberikan Iwiazumi padanya selama sebulan terakhir. Terkadang ia sampai lupa bahwa mereka hanya berpura-pura dan semua yang dilakukan seharusnya hanyalah akting.
Namun untuk ukuran akting, bukankah Iwaizumi terlau hebat? Oikawa bahkan nyaris yakin bahwa Iwaizumi terkadang memang menaruh perhatian lebih padanya, juga cemburu terhadap kedekatannya dengan Ushijima.
Semua terasa mustahil kecuali seandainya ternyata Iwaizumi menyu—
Oikawa langsung menggeleng dan berusaha menghilangkan kemungkinan absurd tersebut.
Nggak mungkin, kan, Iwaizumi suka beneran sama gue? Tetapi tanpa bisa ditahan, Oikawa tetap memikirkan adanya kemungkinan tersebut. Dan anehnya, justru tak ada alasan lain lagi yang terasa lebih masuk akal.
Tetapi Oikawa tidak ingin menarik kesimpulan secara asal. Karena itulah, ia memutuskan akan bertanya langsung pada pria itu nanti.
@fakeloveros