The Gala
“Harusnya aku nggak setuju buat dateng.”
Oikawa mengucapkannya pelan, namun ia tahu pria di sebelahnya dapat mendengarnya dengan jelas. Oikawa berusaha tidak memedulikan suara tawa tertahan dari sebelahnya dan melanjutkan monolog kekhawatirannya sejak sepuluh menit yang lalu.
“Gila. Gimana kalau tiba-tiba aku kesandung atau apa gitu? Gimana kalau misalnya aku lagi jalan, terus nggak sengaja nyenggol minuman, eh minumannya tumpah ke baju orang yang harganya lebih mahal dari sewa apartemenku selama setahun? Kayak di dorama-dorama gitu? Atau misalnya aku—”
“Tooru.”
Oikawa langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat mendengar namanya disebut pelan. Tak beberapa lama, tangannya langsung digenggam erat seolah pria di sebelahnya sedang memberinya kekuatan dan ketenangan.
“You'll be fine. Nggak usah tegang gitu,” ujar Iwaizumi seraya menampilkan seulas senyum kecil. “Lagian ada aku, kan.”
Oikawa menghela napas berat. Matanya kembali tertuju ke arah pintu masuk hotel yang sudah ramai dengan para tamu undangan. Sejauh mata memandang, orang-orang yang hadir terlihat seperti pejabat-pejabat berkedudukan tinggi dengan penampilan begitu rapi dan mewah. Melihatnya saja sudah membuat nyali Oikawa kembali ciut. Secara tidak sadar tangannya kembali bergerak ke arah kerah kemejanya sebelum dihentikan oleh pasangannya malam itu.
“Udah rapi, kok. You look splendid,” lagi-lagi Iwaizumi menenangkannya sementara Oikawa terus menyesali keputusannya dalam hati. Hanya karena Ayah Iwaizumi yang meminta pertolongannya, bukan berarti seharusnya Oikawa langsung menyetujui begitu saja. Apalagi setelah mengetahui motif sebenarnya dari ajakan ke pesta malam ini. Tapi nasi telah menjadi bubur, sekarang tinggal bagaimana ia memanfaatkan keadaan untuk membuat bubur yang enak.
“Oke,” Oikawa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Oke. Aku siap. Ayo kita masuk sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban Iwaizumi, Oikawa keluar dari mobil yang sedari tadi sudah mereka parkirkan. Saat Iwaizumi sudah berada di sampingnya, pria itu lantas merengkuh pinggangnya supaya jarak di antara mereka terkikis. Oikawa berusaha menenangkan jantungnya yang mendadak berdetak dua kali lebih cepat sembari mereka mulai berjalan menuju pintu masuk hotel.
“Ayah Ibu kamu udah dateng?” Oikawa berbisik pelan untuk mengalihkan pikirannya dari tangan Iwaizumi yang melingkar di pinggangnya. Pria itu terlihat tenang seperti biasa, seakan sudah terbiasa dengan acara besar seperti ini. Oikawa benar-benar bersyukur ia tidak sendirian dan ada Iwaizumi yang menuntunnya sampai mereka sudah melewati pintu masuk.
“Katanya sih udah,” jawab Iwaizumi tak beberapa lama begitu mereka tiba di dalam. Setelah melewati pintu masuk hotel, mereka diarahkan menuju pintu besar lainnya yang di dalamnya sudah disulap menjadi ruangan mewah dengan lampu-lampu kristal besar menghiasi, dengan meja-meja bundar beralaskan kain linen berwarna putih tersebar, juga para pelayan yang bolak-balik membawakan nampan berisi minuman berwarna bening. Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali — berusaha membiasakan diri dengan pemandangan yang biasanya hanya dia lihat di dalam film-film.
Tiba-tiba, ada gelas sampanye berwarna bening yang muncul di periferalnya. Oikawa menoleh, dan mendapati Iwaizumi tengah menyodorkan gelas tinggi tersebut padanya.
“Aku nggak bisa minum malam ini karena harus nyetir. Jadi kamu aja yang wakilin,” Iwaizumi tersenyum dan langsung menyerahkan minuman itu sebelum Oikawa menjawabnya. “Kayaknya kamu butuh ini buat nenangin diri juga.”
“Thanks,” Oikawa bergumam selagi menerimanya. Langsung saja ia menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa. Saat ada pelayan lain yang lewat dengan nampan berisi minuman yang sama, tanpa berpikir dua kali Oikawa langsung meletakkan gelas yang sudah habis dan mengambil yang baru.
“Pelan-pelan minumnya, Tooru,” Iwaizumi memperingatkan dari sebelahnya.
Tooru. Entah sejak kapan panggilan nama kecilnya yang keluar dari mulut Iwaizumi mulai membuat perutnya bereaksi aneh. Rasanya seperti ada gesekan diikuti sensasi hangat serta keinginan untuk mendengar nama itu sekali lagi keluar dari bibir pria yang masih merangkulnya erat. Oikawa bertanya-tanya dalam hati apakah ia sudah mulai mabuk hanya gara-gara satu gelas alkohol, sampai bisa memikirkan hal aneh seperti itu.
Tidak. Bahkan tanpa adanya pengaruh alkohol pun akhir-akhir ini dirinya sering merasa aneh setiap kali berada di dekat Iwaizumi.
Selagi memikirkan berbagai kemungkinan penyebabnya, mendadak rengkuhan Iwaizumi di pinggangnya mengerat. Oikawa baru ingin bertanya ada apa, namun jawaban itu segera muncul dalam sosok Ayah Iwaizumi yang sedang berjalan mendekati mereka.
“Hajime, ada seseorang yang ingin Ayah kenalkan sama kamu.”
Tanpa menyapa, bahkan tanpa melirik ke arah Oikawa sekali pun, pria paruh baya yang malam ini tampil begitu formal, langsung mengucapkan satu kalimat itu begitu tiba di hadapan mereka. Iwaizumi sendiri tidak mengucapkan apa-apa dan hanya menatap Ayahnya tajam. Oikawa ikut terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa.
Saat seseorang itu terlihat berjalan menghampiri mereka, Ayah Iwaizumi tersenyum sangat lebar dan menoleh kembali pada anaknya. “Kamu pernah ketemu sama dia dulu. Kamu pasti inget, kan, sama Alisa?”
Perempuan bernama Alisa yang disebut oleh Ayah Iwaizumi itu sudah tiba di hadapan mereka dengan seulas senyum manis. Perempuan itu terlihat sangat anggun memakai gaun berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya yang berwarna pirang dibiarkan jatuh alami dan membingkai wajahnya yang cantik. Alisa memiliki tipe wajah yang biasanya sering dilihat dalam majalah fashion dengan brand-brand terkenal berlomba-lomba untuk memenangkan hatinya agar bisa menjadi model mereka.
Setidaknya, itu kesan pertama Oikawa saat melihat perempuan yang seharusnya menjadi jodoh Iwaizumi tersebut.
Diam-diam Oikawa melirik dari sudut matanya untuk melihat reaksi pria itu. Namun seperti dugaannya, Iwaizumi tidak menampilkan perubahan ekspresi apa pun. Pria itu tetap terlihat datar, bahkan nyaris tak tertarik.
Apakah aneh kalau Oikawa langsung merasa puas melihat reaksi Iwaizumi yang sepertinya tak terpengaruh sama sekali?
“Hajime, ini Alisa Haiba. Ayah yakin kamu sudah tau dia, hanya saja kalian belum sempat berkenalan. Alisa, kamu juga tau Hajime, kan?”
Perempuan itu mendengarkan ucapan Ayah Iwaizumi baik-baik, lalu mengangguk penuh antusias. “Tau kok, Om. Adik aku, kan, satu kampus sama anak Om. Kata Lev, Iwaizumi terkenal banget di kampusnya.”
Lev? Oikawa memiringkan kepalanya mendengar nama yang tak asing itu. Pantas saja wajah Alisa terlihat sedikit familier. Ternyata dia kakak dari Lev Haiba, salah satu anggota tim voli di kampusnya yang juga ia kenal baik. Setelah diingat-ingat, kalau tidak salah Lev memang pernah mengatakan dia memiliki seorang kakak perempuan.
“Nah, berarti bakalan gampang, kan, buat kalian supaya jadi deket. Alisa kalau mau juga bisa main ke kampusnya Hajime buat sekalian ketemu sama Lev. Nanti Hajime yang bakal—”
“Maaf,” Iwaizumi tiba-tiba memotong ucapan Ayahnya. “Aku sama Tooru mau ke tempat Kak Yui dulu. Permisi.”
Sungguh rasanya seperti deja vu saat Iwaizumi menarik Oikawa pergi dari hadapan Ayahnya begitu saja. Iwaizumi bahkan tidak memedulikan panggilan tertahan Ayahnya dan terus berjalan menarik Oikawa menuju salah satu meja bundar yang sudah ditempati oleh kakak perempuannya.
“Berani banget kamu langsung kabur,” ucap wanita itu to the point begitu mereka berdua sudah mendudukkan diri di kursi masing-masing. “Tapi kamu tau, kan, Ayah nggak bakal langsung nyerah?”
Bahkan tanpa Iwaizumi menjawabnya pun Oikawa paham bahwa itu pertanyaan retoris. Ia bisa memperkirakan bahwa Tuan Iwaizumi pastilah bukan tipe yang mudah membiarkan segala sesuatu berjalan tidak sesuai keinginannya.
Dan kesan seperti itu jugalah yang Oikawa dapatkan dari Iwaizumi.
“By the way, Tooru, hari ini kamu keliatan ganteng banget!” tiba-tiba perhatian kakak perempuan Iwaizumi sudah tertuju padanya. Obsidian wanita itu terlihat berbinar selagi memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. “Kamu cocok banget pake warna biru gelap gini. Siapa yang milihin? Pasti Hajime, deh!”
Oikawa bisa merasakan ada semburat merah yang muncul di pipinya mendengar pujian tersebut. Dirinya hanya mengangguk sementara otaknya merekayasa ulang adegan saat mereka berdua berbelanja kemarin. Iwaizumi bahkan tidak hanya membelikannya satu, namun lima setelan jas mahal sekaligus untuk dirinya kemarin. Oikawa sudah berusaha menolak, namun pria itu bersikeras dengan beralasan bahwa di masa pacaran kontrak mereka pesta seperti ini pasti tidak hanya akan ada sekali. Oikawa mau tak mau menyetujui dalam hati karena setelan jasnya sendiri pun tidak akan bisa disandingkan dengan milik pria itu. Jadi pada akhirnya, dia menerima dan membawa pulang semuanya.
“Yah, tapi, setelan bagus pun bakalan keliatan biasa aja kalau yang pake juga nggak ganteng. Kamu sadar nggak, sih, dari tadi banyak yang ngeliatin kamu? Terutama cewek-cewek, tuh. Mungkin karena mereka juga baru pertama kali ngeliat kamu, ya...”
“Eh?” Oikawa mendongak dan memperhatikan para tamu undangan di sekitar mereka yang memang didominasi oleh kaum hawa. Benar saja, ternyata ada beberapa pasang mata yang tengah mengawasinya secara terang-terangan. Bahkan saat Oikawa membalas tatapan mereka, para wanita itu tidak merasa malu dan terus memperhatikannya dengan tertarik. Oikawa jadi merasa seperti santapan lezat yang sedang diincar oleh para hewan yang kelaparan di tengah gurun.
Oikawa menelan salivanya susah payah, lalu menoleh ke arah Iwaizumi untuk meminta afirmasi. Namun Oikawa tidak sadar bahwa Iwaizumi ternyata duduk sangat dekat dengannya. Saat dirinya menoleh ternyata Iwaizumi pun tengah mendekatkan kepalanya untuk berbisik.
“Nggak usah peduliin mereka. Orang-orang di sini emang selalu kayak gitu. Mereka bakal penasaran sama wajah baru,” Iwaizumi berkata dalam bisikan rendah tepat di depan telinganya. Oikawa harus menahan dirinya agar tidak bergidik saat napas hangat pria itu berhembus mengenai lehernya. Aroma bergamot yang familier pun mulai muncul dan Oikawa diam-diam menghirupnya untuk mengingatnya.
Mendadak lampu di sekitar mereka mulai sedikit diredupkan sehingga menyisakan panggung sebagai pusat perhatian. Tak beberapa lama terdengar suara sambutan dari seorang pria dan Oikawa menghela napas lega saat Iwaizumi menarik tubuhnya menjauh. Oikawa khawatir, semakin mereka sering berdekatan malam ini, bisa saja suara jantungnya akan semakin terdengar keluar.
@fakeloveros