The Practice Match


I only take the Adlers team's name for the purpose of this AU, but I'll mix the members with other characters from Haikyuu! Hope you don't mind~


Oikawa berlari dengan penuh semangat menuju gymnasium tempat latihan maupun pertandingan tim voli kampusnya biasanya diadakan. Saking bersemangatnya, beberapa kali ia hampir menabrak mahasiswa yang sedang lewat dan segera meminta maaf dengan terburu-buru. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menghalanginya untuk terus berlari sampai tiba di tempat tujuan.

Sesampainya di sana, dengan napas yang masih terengah, Oikawa memperhatikan sekeliling gymnasium untuk menemukan sosok familier yang dicarinya.

Padahal ia baru menerima pesan dari Iwaizumi sekitar sepuluh menit yang lalu. Pria itu mengatakan dirinya sudah berada di gymnasium untuk melakukan pemanasan dan mendengarkan sedikit arahan dari pelatih.

Dan Iwaizumi menambahkan ia tengah menunggu kedatangan Oikawa.

Maka setelah kelasnya berakhir, dengan secepat kilat Oikawa langsung keluar dan berlari menuju gymnasium yang jaraknya cukup jauh dari gedung fakultasnya.

Tapi, ada di mana Iwaizumi sekarang?

Semesta seakan menjawab pertanyaan Oikawa karena detik setelah pertanyaan itu bergaung di kepalanya, ia langsung menemukan sosok Iwaizumi. Pria itu berada di pinggir lapangan dan tengah mendengarkan celotehan salah satu pemain yang Oikawa ketahui bernama Atsumu. Namun Iwaizumi tidak terlihat begitu banyak memberikan respons, dan sesekali hanya mengangguk atau menggeleng.

Dengan senyum yang terkulum, Oikawa berjalan memutar dari arah belakang dengan niat ingin mengejutkan pria itu.

“Hoi!”

Namun tentu saja Iwaizumi tidak terkejut sama sekali – seolah memang sudah mengetahui kedatangan Oikawa. Pria itu hanya langsung berbalik dan ujung bibirnya terangkat sedikit begitu melihat siapa yang barusan mengagetkannya.

“Ih, kok nggak kaget, sih?” Oikawa menggerutu pelan, tetapi tetap terdengar oleh Iwaizumi.

Pria itu hanya tersenyum simpul, dan bertanya singkat, “hai, baru selesai kelas?”

Ekspresi Oikawa berubah cerah. Dirinya tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat. “Udah pemanasannya?”

“Baru aja selesai. Kamu sendirian?”

Oh, ya, benar. Mereka masih harus berakting.

“He-eh, habis yang lain pada sok sibuk.” Oikawa kemudian maju selangkah dan menyentuh lengan Iwaizumi sambil mengeluarkan senyum terbaiknya. “Lagian aku ke sini, kan, emang cuma pengin nonton kamu. Jadi nggak apa-apa sendirian juga.”

Terdengar suara seperti orang muntah dari arah belakang Iwaizumi. Oikawa melirik dan mendapati Atsumu menyeringai lebar selagi memperhatikan mereka dengan tampang yang dibuat sepolos mungkin.

“Eh, ada Atsumu, ya? Sori, nggak keliatan,” ucap Oikawa dengan nada jahil. Ia tahu betul bagaimana harus menghadapi candaan pemain voli yang satu itu.

Atsumu berdecak, meskipun senyum tak kunjung hilang dari wajahnya yang tampan. “Yaelah, sombong banget lo mentang-mentang sekarang udah punya pacar. Mana minggu kemaren bisa-bisanya bikin heboh satu kampus! Eh, Iwaizumi, kok lo mau sih pacaran sama dia?”

Meskipun pertanyaan Atsumu seperti itu, Oikawa tidak merasa tersinggung sama sekali. Ia cukup sering datang ke latihan atau pertandingan voli kampus mereka. Dan melalui Ushijima, Oikawa jadi mengenal dan cukup dekat dengan beberapa pemain, termasuk salah satunya Atsumu.

“Yee! Lo nggak liat tampang gue? Cakep begini ya Iwaizumi pasti mau lah sama gue! Justru gue yang bingung kenapa Kak Kita mau pacaran sama lo!” balas Oikawa tak mau kalah sambil menjulurkan lidahnya.

Mendengar nama kekasihnya disebut, lantas membuat Atsumu langsung terdiam dengan pipi yang bersemu merah. Matanya sekilas melirik ke arah pria yang duduk sendirian di bangku penonton tak jauh dari sana; asyik membaca buku seolah tak terganggu dengan keramaian di sekitarnya.

Atsumu berdeham kecil, lalu mengembalikan tatapannya ke arah Oikawa.

“Eh, berarti lo hari ini bukan dateng buat dukung Ushijima kayak biasa, dong? Hahahaha pantes tuh orang dari tadi kayak bad mood banget!”

Tepat setelah Atsumu mengatakan hal tersebut, Oikawa menangkap sosok Ushijima dari sudut matanya. Pria jangkung itu tengah berbicara dengan pelatih tim voli mereka, namun beberapa detik kemudian, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Oikawa.

Oikawa mengangkat tangannya dan melambai, namun Ushijima hanya membalas dengan senyuman kecil sebelum kembali berbincang serius dengan sang pelatih.

Hm? Aneh, pikir Oikawa selagi menurunkan tangannya diikuti kernyitan dalam di keningnya.

Saat itulah ia merasakan ada sentuhan kecil di pipinya, dan Oikawa langsung menoleh dengan terkejut ke arah Iwaizumi yang tengah memperhatikannya lekat.

“Aku baru kali ini liat… kamu pake kacamata,” ujar pria itu pelan. Tangannya lantas naik sedikit dan merapikan poni Oikawa yang jatuh berantakan di dahinya hasil berlari-lari penuh semangat. “Keliatan bagus di kamu.”

“Eh? O-oh… makasih…” balas Oikawa tanpa bisa menahan pipinya yang mulai terasa panas. “Biasanya aku cuma pake di kelas, tapi karena sekarang mau nonton pertandingan di sini, jadi harus pake juga biar keliatan,” jelasnya seraya berusaha mati-matian supaya tidak menghiraukan sentuhan Iwaizumi yang masih terasa.

Iwaizumi hanya bergumam panjang sebelum menurunkan tangannya dan tersenyum simpul. “Kamu bakal nonton sampai selesai, kan? Kita pulang bareng, ya. Nanti aku anter.”

“Eh? Aku, sih, mau-mau aja pulang bareng. Tapi nggak apa-apa? Emang kamu nggak bakal capek?”

Iwaizumi menggeleng pasti. “Nggak apa-apa, kok.” Pria itu kemudian membuat ekspresi aneh selama sepersekian detik sebelum kembali berujar, “aku bakal ngelawan roommate kamu nanti.”

“Oh? Bener, kan, yang aku bilang! Nggak apa-apa, santai aja. Dia emang jago, tapi siapa tau kamu lebih jago. Iya, kan?” Oikawa berucap selagi menepuk-nepuk bahu Iwaizumi, bermaksud memberi dukungan. “Nanti aku bakal nonton dari san—”

“Kalau aku menang,” Iwaizumi tiba-tiba memotong ucapan Oikawa. “Boleh aku minta sesuatu dari kamu?”

Oikawa memiringkan kepalanya dengan bingung. “Minta sesuatu dari aku?” Misalnya apa? Barang? Tapi dia, kan, tidak sekaya pria itu? Jadi apa yang bisa diminta darinya?

Namun Oikawa tetap mengiyakan.

“Yaa, boleh aja kalau aku sanggup. Asal jangan minta yang aneh-aneh, ya!” ancamnya setengah bercanda. Iwaizumi hanya mengangguk, namun dari matanya terlihat jelas binar bahagia yang membuat Oikawa semakin bertanya-tanya, apa yang diinginkan pria itu darinya?

Tak lama, terdengar suara peluit yang menandakan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Oikawa sudah tahu di mana dirinya akan duduk, namun sebelum pergi, ia ingin melakukan sesuatu.

Mumpung di sini lagi banyak orang, pikirnya seraya berusaha mengusir jauh-jauh rasa ragu, malu dan gugupnya.

Oikawa menelan salivanya, lalu memanggil nama Iwaizumi pelan.

“Hajime.”

Iwaizumi yang tadinya tengah menghadap lapangan, lantas menoleh dan dalam satu gerakan cepat, Oikawa merengkuh kedua sisi wajah Iwaizumi dengan tangannya. Ada keterkejutan bermain di wajah Iwaizumi sebelum Oikawa memejamkan matanya dan mencium pria itu cepat dan singkat. Tepat di bibirnya.

Kecupan itu mungkin hanya berlangsung selama dua detik, namun Oikawa bisa merasakan pipinya memanas luar biasa. Ia pun yakin wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

Oikawa langsung berbalik dan berlari menuju bangku penonton setelah sebelumnya membisikkan kata, semangat!

Oikawa tidak berani melihat ke mata Iwaizumi langsung. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan begitu mendudukkan diri di bangku penonton. Ia bahkan tidak ingin tahu berapa banyak pasang mata yang menyaksikan aksi PDA mereka berusan.

Ia bahkan tidak tahu kenapa berani melakukan hal senekat itu.

“Gue pasti udah gila…” Oikawa bergumam pada dirinya sendiri, dan dengan takut-takut membuka jari-jarinya yang menutupi wajah untuk mengintip. Ternyata semua pemain sudah berkumpul di lapangan dan bersiap-siap.

Oikawa membetulkan letak kacamatanya dan mencari keberadaan Iwaizumi. Pria itu berdiri berlawanan dengan Hoshiumi dan terlihat sangat tenang. Malah — Oikawa berani bersumpah — ia yakin Iwaizumi justru terlihat begitu percaya diri.

Matanya kemudian bergulir ke arah tim lawan dan dengan mudah menemukan sosok Ushijima karena perawakan temannya itu memang yang paling besar di antara semuanya. Oikawa jadi teringat kejadian beberapa menit lalu saat dia menyapa sang kapten. Bahkan sekarang saat tengah memperhatikan pria itu, Oikawa sadar Ushijima terlihat sedikit muram. Ekspresi itu membuat wajah temannya yang sudah terlihat sangar, menjadi dua kali lipat lebih seram dari biasanya.

Ushijima lagi ada masalah kali, ya?

Pikirannya segera teralihkan saat para pemain mengambil posisi masing-masing dan peluit dibunyikan sekali lagi sebagai tanda pertandingan dimulai. Oikawa lantas menegakkan tubuhnya begitu servis pertama dilakukan. Ia berusaha berkonsentrasi menonton pertandingan.

Hari itu, tidak seperti practice match yang biasa ia tonton, Oikawa amat sangat menantikan hasil pertandingan.

Tanpa sadar dirinya berdoa dalam hati selagi menyebutkan satu nama.

Kira-kira, siapa yang akan menang?


Whooops, they kissed?? Already?? Or...that didn't even count? (smirk)

@fakeloveros