Drunk Confession


trigger warning: drinking


Setelah diajak berkeliling ke sebuah taman sampai pegal (atau setidaknya Oikawa yang merasa begitu karena Iwaizumi sendiri terlihat baik-baik saja), akhirnya Iwaizumi mengajaknya pergi ke restoran yang lokasinya telah diberi tahu oleh Atsumu. Reaksi pertamanya tentu saja ber-ooh panjang karena ia sudah hapal betul dengan lokasi tersebut.

“Kamu tau restorannya?” tanya Iwaizumi saat mengamati ekspresi Oikawa.

“Hm? Tau, kok. Restoran langganan anak-anak voli emang di situ tuh. Aku juga suka ke sana kadang-kadang sama Ushijima.”

“Sama Ushijima?”

Oikawa merasa ia harus mengambil jeda sebentar sebelum menjawab.

“He-eh.”

Dan ia hanya menjawab singkat.

Panggil dirinya payah karena baru menyadari hal ini sekarang. Namun sepertinya, Iwaizumi tidak begitu suka saat dia menyebut-nyebut nama Ushijima, entah itu dengan sengaja ataupun tidak. Oikawa jadi teringat percakapannya dengan Ushijima yang menyebutkan bahwa sepertinya 'pacar' bohongannya itu tidak begitu menyukai sang roommate. Waktu itu memang Oikawa langsung menyanggahnya, namun melihat sikap Iwaizumi sekarang, kemungkinan itu sepertinya cukup besar.

Oikawa sendiri tidak tahu alasannya dan ia enggan menanyakannya sekarang, terlebih lagi saat suasana di antara mereka baru saja kembali seperti dulu. Mood Iwaizumi pun terlihat lebih baik karena pria itu — meskipun tidak lebar — banyak menunjukkan senyumannya selama mereka berkeliling taman. Pemandangan itu terlihat begitu asing sampai beberapa kali Oikawa tidak fokus dengan obrolan mereka dan terpaksa meminta Iwaizumi mengulangi pertanyaannya.

Dan pria itu hanya tersenyum sambil mengulangi, sedangkan Oikawa mengerang tersiksa dalam hati.

Oikawa bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Mungkin akibat terik matahari atau perutnya yang mulai keroncongan karena tadi siang hanya menyantap dua potong sandwich. Apa pun itu, Oikawa berusaha mendorongnya jauh-jauh ke belakang.

Sepanjang perjalanan menuju restoran, mereka hanya diam. Namun keterdiaman itu bukannya menimbulkan kecanggungan, melainkan sebuah kenyamanan baru. Rasanya seolah mereka baru saja menyelesaikan konflik pertama setelah saling mengenal dan ada kepemahaman baru dalam diri masing-masing terhadap satu sama lain. Bisa dikatakan, hal itulah yang membuat atmosfer di antara mereka terasa jauh lebih nyaman.

Mungkin yang namanya komunikasi itu memang perlu, sekalipun dalam hubungan pura-pura.

Saat mereka hampir tiba di depan pintu restoran, di saat yang bersamaan, Iwaizumi langsung meraih tangan Oikawa dan menggenggamnya erat. Oikawa hanya tersentak selama sepersekian detik sebelum merilekskan tubuhnya dan balas menggenggam tangan pria itu dengan lebih erat. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran bersama-sama dan mencari meja yang sudah pasti ditempati oleh paling banyak orang.

Tidak sulit menemukannya karena selain anggota tim voli sangat berisik, ada Ushijima yang kebetulan sedang berdiri dan tentu saja pemandangan tersebut cukup menarik perhatian.

Tapi Atsumu lah yang menyadari kehadiran mereka pertama kali. Sang setter dengan bersemangat langsung melambaikan tangan dan memanggil nama keduanya sampai semua anggota tim menoleh. Oikawa tersenyum lebar dan segera menarik Iwaizumi menuju meja yang sudah penuh ditempati tersebut.

“Hoooy! Beneran dateng berdua lo, ya! Dasar pasangan lagi kasmaran!” sambut Atsumu sambil mengajak keduanya ber-high five dan langsung mempersilakan duduk.

“Ngaca, dong! Lo sendiri bareng Kak Kita terus, kan,” celetuk Osamu dari seberang sambil melempari saudara kembarnya itu dengan segumpal tisu.

“Iri aja lo jadi orang! Gue sama Kak Kita, kan, emang udah sepaket!” balas Atsumu seraya menjulurkan lidahnya dan langsung merangkul kekasih yang tadi disebutkannya dengan erat. Kita sendiri tentu saja hanya diam dan menggeleng pelan — seolah sudah terbiasa menyaksikan pertengkaran si kembar dalam kehidupan sehari-harinya.

Oikawa hanya menyeringai, kemudian matanya tak sengaja menangkap tatapan Ushijima yang tengah mengarah padanya dari ujung lain meja. Saat Oikawa baru ingin menyapanya, pria itu langsung memalingkan wajah dan berbincang dengan Yaku, sang libero. Oikawa lantas mengernyitkan keningnya, tetapi memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

Seiring malam yang semakin berjalan, obrolan di sekitar meja mereka pun mengalir semakin lancar. Tak disangka, Iwaizumi dapat berbaur cukup baik dengan anggota tim yang lain. Pria itu terbukti mampu mengimbangi Atsumu yang terlihat kelebihan energi di setiap detiknya, bahkan Tsukishima, si middle blocker pendiam yang hanya mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dianggap pria itu penting. penting. Dan Tsukishima menjawab semua pertanyaan Iwaizumi, bahkan sesekali bertanya balik. Hampir semua yang ada di meja tercengang, bahkan Oikawa yakin Osamu hampir berdiri dan memberikan standing applause untuk Iwaizumi.

Malam itu, Oikawa berusaha agar dirinya lebih berhati-hati dalam menyentuh Iwaizumi. Meskipun Iwaizumi tidak marah padanya, namun tetap saja ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar menjaga sentuhan darinya tetap dalam batas normal dan sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Kalau itu terdengar masuk akal.

Maka betapa terkejutnya Oikawa saat Iwaizumi lah yang justru menggelayut manja padanya malam itu.

Dengan mata yang memicing curiga, Oikawa mengamati gelas kosong di hadapan Iwaizumi dan bertanya-tanya berapa banyak botol yang sudah dihabiskan oleh pria itu.

“Toooooruuuu~” Iwaizumi menyebut nama Oikawa dalam erangan panjang sebelum menarik tubuh pria itu lebih dekat. Iwaizumi memeluk bahu Oikawa dengan kedua tangan dari samping, lalu menenggelamkan kepalanya di leher sang kekasih sambil menghela napas panjang.

“Kamu pake parfum apa, sih...? Wanginya...” Oikawa hanya duduk sambil terpaku selagi merasakan betul bagaimana Iwaizumi menghidu aromanya dengan lekat. “Hmm... enak... seger... kayak buah...” gumam Iwaizumi seraya mengeratkan pelukannya.

Oikawa tidak mampu untuk bergerak atau berpikir. Saraf motorik di otak yang seharusnya bekerja sebagai pengendali pergerakan tubuh manusia seakan tidak bekerja sama sekali di dirinya. Ia bahkan tidak sadar bahwa sebelumnya, Iwaizumi ternyata terus-terusan menenggak alkohol sampai mabuk seperti ini, padahal pria itu jelas-jelas harus pulang dengan menyetir.

“Hajime...” Oikawa menyentuh lengan yang masih melingkar di bahunya dengan lembut. “Kamu... mabuk? Terus nanti pulangnya gimana? Kamu, kan, bawa mobil ke sini...” ucap Oikawa pelan, tak berani sama sekali menoleh ke arah pria itu karena jarak mereka yang hampir tak tersisa.

“Hmm?” Iwaizumi hanya bergumam malas, lalu mengangkat sedikit wajahnya yang sedari tadi masih disembunyikan di leher Oikawa. “Siapa... yang mabuk? Aku nggak mabuk, kok...?”

Oikawa menghela napas pelan. “Kamu yang mabuk. Dari tadi minum berapa gelas sih emang? Masa lupa kalau ke sini barusan nyetir?”

Iwaizumi tidak memedulikan pertanyaannya. Pria itu malah kembali memeluknya, bahkan tangannya mulai terangkat dan memainkan anak-anak rambut Oikawa yang ada di pangkal lehernya.

Oikawa hampir yakin ada aliran listrik yang mengalir di sepanjang tubuhnya barusan.

“Nanti bisa... panggil supir aku... buat ke sini... tapi aku... nggak mau pulang ke rumah... aku maunya... pulang sama kamu...”

Oikawa nyaris tersedak salivanya sendiri.

“Ha-hajime, kamu—”

“Wooow!!! Itu si Iwaizumi bisa mabuk juga toh?” mendadak suara Lev, salah satu middle blocker, terdengar dari ujung meja. Oikawa mendongak, lalu mengangguk. Matanya kembali tak sengaja menangkap tatapan Ushijima, namun pria itu kali ini tidak langsung memalingkan wajah, melainkan terus menatapnya dengan pandangan aneh.

Tiba-tiba, ada sepasang tangan yang meraih wajahnya dan menariknya cepat ke arah samping.

Oikawa begitu lambat dalam memproses semuanya, namun begitu tersadar, sudah ada dua obsidian hitam yang dari jarak begitu dekat menatapnya keras.

“Jangan...” Iwaizumi memulai dalam bisikan rendah. “Ngeliatin dia...”

“Hah?” Oikawa mengernyitkan keningnya dengan tak paham.

“Ushijima...” seakan menjawab pertanyaan tak terlisankan Oikawa, Iwaizumi justru menyebutkan satu nama itu. “Jangan suka... ngeliatin Ushijima... pacar kamu itu aku... bukan dia...”

“Hajime—”

”... nggak suka kalau kamu... ngeliatin cowok lain... nggak suka kalau kamu... ngobrol akrab sama cowok lain... nggak suka kalau kamu... dipegang cowok lain...”

Iwaizumi kemudian melepas rengkuhan tangannya di wajah Oikawa, lalu menjatuhkan kepalanya kembali di bahu pria itu.

“Nggak suka kalau kamu... jadi punya orang lain...”

Suara Iwaizumi teredam, namun Oikawa masih bisa mendengarnya dengan jelas. Meskipun begitu, Oikawa tidak sanggup bergerak atau mengatakan sesuatu. Otaknya terlalu kosong dan persendiannya terlalu kaku untuk digerakkan. Oikawa hanya bisa terdiam dengan mata yang terbeliak lebar dan perkataan Iwaizumi yang terus terngiang di otaknya.

Oikawa ragu bahwa semua yang dikatakan Iwaizumi merupakan kebenaran. Tapi bukankah ada perkataan bahwa justru di saat mabuk lah seseorang bisa mengaku sejujur-jujurnya? Jadi apa yang barusan dikatakan Iwaizumi seharusnya bukan sekadar kebohongan, bukan?

Tapi kenapa? Bukankah hubungan mereka hanya skenario semata?

Kecuali...

Pemikiran Oikawa terpotong saat ada siulan panjang terdengar dari sampingnya. Ia menoleh dan melihat si kembar Miya (yang juga sudah dalam keadaan mabuk) tengah menatap dirinya sambil menaik-turunkan alis mereka dengan tatapan menggoda.

“Gilaaaaa, Oikawa!! Kita denger loh barusan Iwaizumi ngomong apaan ke lo!” ucap Osamu seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. “So sweet bangeeet!! Suna mana mau ngomong gitu ke gue!”

Atsumu tiba-tiba menggebrak meja sampai beberapa pengunjung di sekitar mereka menoleh dengan kaget. “Kalau gue! Gue relate banget sama Iwaizumi! Gue juga nggak suka kalau Kak Kita deket-deket sama cowok lain! Soalnya Kak Kita cuma punya gue!”

Tidak disangka, Tsukishima ternyata dari tadi ikut memperhatikan dan kini bahkan menyahuti omongan si kembar.

“Berarti Iwaizumi bucin tolol juga dong ke Oikawa? Kayak lo?” celetuk pria berkacamata itu, yang meskipun sudah menghabiskan beberapa gelas alkohol, tetap tidak terlihat seperti orang mabuk.

“Oh, ya, jelas!!! Kalau perlu nanti gue buat klubnya sendiri! Namanya... Klub Bucin Tolol Para Pacar!! Gue ketuanya, nanti wakilnya baru Iwaizumi!! Hahahaha!!!”

Beberapa anggota tim di sekitar mereka ikut menertawai ucapan Atsumu yang tidak lucu sama sekali. Namun di saat yang lainnya bisa menikmati obrolan konyol seperti itu, Oikawa tetap terdiam di tempatnya.

Ia hanya terdiam dengan tangan yang entah sejak kapan melingkar di tubuh Iwaizumi — berusaha menjaga agar tubuh pria itu tidak terjatuh ke belakang. Ia hanya terdiam dan mendengarkan tarikan napas teratur pria itu, meskipun kini kepalanya berisik bukan main dengan ribuan pertanyaan yang menuntut untuk dicari jawabannya.

Ia hanya terdiam dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak sangat cepat.


@fakeloveros