Promise

Oikawa tidak pernah melihat Iwaizumi semarah itu.

Iwaizumi memang bukan orang yang sering tersenyum, bahkan Oikawa yakin bisa menghitung dengan jari pernah berapa kali ia mendengar pria itu tertawa.

Tapi Iwaizumi tidak pernah memperlihatkan ekspresi marah di hadapannya. Sampai sekarang.

Oikawa yakin pria itu membawa mobilnya dengan kecepatan penuh karena kalau tidak, mana mungkin 20 menit kemudian Iwaizumi sudah muncul dan melewati pintu restoran hotel dengan langkah cepat serta tatapan menusuk pada Ayahnya sendiri. Oikawa baru akan membuka mulut untuk menyapa pria itu, namun tangannya langsung ditarik sampai ia berdiri dari duduknya. Gerakan yang sangat tiba-tiba itu membuat tubuhnya sedikit terhuyung, tetapi Iwaizumi langsung menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, lalu menariknya sedikit paksa untuk segera berjalan. Oikawa pun panik dan berusaha menahannya seraya menoleh ke belakang — ke arah Ayah Iwaizumi yang hanya menyaksikan dengan tatapan tertarik.

“Hajime—”

“Hajime.”

Panggilan dari Ayah pria itulah yang menghentikan langkah mereka berdua.

“Kamu bahkan nggak mau nyapa Ayah sekarang?”

Oikawa bisa merasakan genggaman di tangannya sedikit mengerat. “Kalau Ayah nggak tiba-tiba manggil Tooru ke sini tanpa sepengetahuanku, mungkin lain lagi ceritanya,” jawab Iwaizumi dengan nada dingin. “Aku harap Ayah nggak akan ngelakuin hal kayak gini lagi. Ayah nggak berhak ikut campur soal hubunganku. Itu perjanjian kita, kan?”

Tanpa menunggu jawaban dari Ayahnya, Iwaizumi kembali menarik tangan Oikawa supaya mereka bisa segera keluar dari sana. Oikawa terlalu panik dan bingung sampai ia tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti pria itu keluar.

Bahkan ketika Iwaizumi membukakan pintu mobil untuknya, juga saat pria itu sudah masuk dan menjalankan mobil, tidak ada di antara mereka yang mengatakan apa pun. Oikawa melirik lewat kaca spion tengah ke arah kursi belakang. Ada tas serta buku-buku Iwaizumi yang sepertinya habis dilempar dengan asal oleh pemiliknya.

“Kamu.. udah selesai kelas? Habis ini nggak ada lagi?” Oikawa akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan tersebut.

“Nggak ada.”

“Ooh…”

Hening lagi.

Oikawa diam-diam menghela napas. Sepertinya Iwaizumi tidak bisa diajak berbicara untuk sekarang.

“Apa kamu keberatan kalau ke tempat aku sekarang?”

Oikawa menoleh dengan cepat saat pertanyaan itu terlontar dari mulut pria di sebelahnya. “Ke tempat kamu? Sekarang?”

“Iya, aku perlu… nenangin diri sebentar. Dan aku yakin ada yang mau kamu omongin juga sama aku.”

Oikawa terdiam, tapi dia bisa melihat cengkeraman Iwaizumi di setir mobil menguat untuk beberapa sekon. Iwaizumi pastilah masih menahan emosinya sampai sekarang.

“Hmm, ya udah…” Oikawa akhirnya menjawab.

Iwaizumi menghela napas, kemudian dengan satu tangan mengusap wajahnya dengan kasar.

“Maaf, aku narik paksa kamu tadi… padahal kamu masih sakit.” Tanpa menunggu jawaban Oikawa, pria itu lantas menyentuh keningnya dengan satu tangan, sedangkan matanya tetap tertuju ke jalanan.

“Kamu masih demam. Kenapa mau-mau aja diajak keluar?”

Oikawa meringis kecil mendengar pertanyaan bernada tajam itu. Dirinya lalu menjawab pelan, “soalnya yang ngajak keluar Ayah kamu, kan.”

Iwaizumi menarik tangannya dari kening Oikawa, lalu kembali menghela napas. Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka, bahkan ketika mereka sudah sampai di suatu kawasan elit dengan bangunan-bangunan apartemen mewah yang mengelilingi.

Oikawa menelan salivanya, lalu mengikuti Iwaizumi masuk ke dalam salah satu bangunan tinggi berinterior mewah. Ada resepsionis yang langsung menyapa mereka dengan begitu ramah. Oikawa menunduk dengan canggung, lalu cepat-cepat mengikuti Iwaizumi menuju lift.

Bahkan sesampainya mereka di dalam apartemen besar milik pria itu, Iwaizumi tetap diam seribu bahasa. Iwaizumi hanya menyuruhnya duduk di ruang tamu sebelum menghilang menuju dapur. Oikawa pun patuh, meski matanya terus bergerak mengagumi setiap sudut apartemen Iwaizumi yang terlihat simpel dan rapi. Sungguh jauh berbeda dengan apartemennya yang ditinggali bersama Ushijima.

Beberapa menit kemudian, Iwaizumi muncul kembali dari arah dapur dan berjalan ke arahnya sambil membawa segelas minuman yang masih mengepulkan asap tipis. Saat Iwaizumi sudah berada di depannya, barulah ia bisa mencium aroma minuman itu. Teh chamomile.

Oikawa menerimanya dengan senang hati, lalu mencicipinya sedikit untuk mengetahui kadar hangatnya. Tanpa sadar, dirinya menghela napas panjang saat cairan hangat itu masuk ke perutnya. Oikawa juga tidak sadar bahwa Iwaizumi sudah duduk di sampingnya dan mengamatinya dengan fokus tak terbagi.

“Gimana kamu bisa ketemu Ayahku?” pria itu mulai bertanya.

Oikawa memejamkan mata selagi menghirup aroma teh chamomile-nya dalam-dalam. Namun ia tetap mendengar pertanyaan Iwaizumi dan memutuskan untuk menjawab sejujur-jujurnya.

“Sekretaris Ayah kamu yang ngehubungin aku duluan. Katanya tau nomor aku dari Kakak kamu.”

“Terus apa yang kamu omongin sama Ayah aku?”

Oikawa berhenti menghirup aroma tehnya, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Iwaizumi seakan tidak berkedip saat menanti jawabannya.

Dan Oikawa sendiri sedang tidak ingin berbasa-basi.

“Ayah kamu minta tolong aku buat bujuk kamu dateng ke pesta yang bakal diadain rekan kerjanya minggu ini,” Oikawa menjawabnya dalam satu tarikan napas. Saat keadaan kembali hening dan Oikawa mencoba mengamati ekspresi Iwaizumi, pria itu justru terlihat tenang seakan sudah menduga apa yang barusan dikatakannya.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku… bukan jawab, tapi lebih tepatnya, sih, aku setuju buat dateng ke… pesta… itu…” Oikawa segera membungkam mulutnya rapat-rapat saat Iwaizumi akhirnya mulai menampakkan perubahan ekspresi setelah mendengar jawabannya.

“Kamu setuju buat dateng?” Iwaizumi bertanya di antara rahangnya yang terkatup keras. “Kamu beneran mau dateng ke pesta itu?”

“Ngg…” Oikawa berpikir sebentar. “Iya…? Maksudku, kita cuma perlu dateng, kan? Nggak bakal ngapa-ngapain? Lagian katanya Ayah kamu mau ngenalin kamu ke seseorang…”

Kali ini Iwaizumi menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa keras. Oikawa merasa bingung, tapi dia tetap diam dan menunggu sampai pria itu sendiri yang mau mengatakan alasannya — alasan mengapa Iwaizumi sebegitu kerasnya menolak ajakan Ayahnya untuk datang ke pesta tersebut.

Iwaizumi kemudian menjatuhkan kedua tangannya ke sisi tubuh, lalu menoleh ke arah Oikawa. Ekspresi pria itu sungguh tak terbaca.

“Apa kamu tau siapa orang yang mau dikenalin sama Ayahku itu?”

Oikawa menggeleng.

“Orang yang mau dijodohin sama aku.”

“Hah?!”

Iwaizumi tersenyum, seakan reaksi terkejutnya barusan sangat menghibur pria itu. Namun Oikawa benar-benar terkejut dan hanya mampu tercengang. Untung saja barusan gelasnya sudah ia letakkan di atas meja. Kalau tidak, pastilah gelas itu sudah hancur berkeping-keping sekarang di atas lantai.

“Ka-kamu serius? Tau dari mana emang??” tanya Oikawa, masih diliputi oleh keterkejutan.

“Well, he's not very subtle. Aku bisa nebak dengan jelas kalau emang itu tujuannya. Nggak ada lagi alasan lain.”

“Tunggu sebentar,” Oikawa mengangkat satu telunjuknya sebagai gestur meminta waktu untuk mencerna informasi tersebut. “Tapi… Ayah kamu tau aku. Maksudku, beliau tau aku sebagai pacar kamu. Dan kamu masih diminta buat ketemu orang yang mau dijodohin sama kamu itu? Maksudnya apa?”

Senyum Iwaizumi belum pudar dari wajahnya, bahkan kini terlihat lebih lebar dari sebelumnya. “Tooru,” Iwaizumi menyebut namanya penuh kelembutan dan kesabaran. Persis seperti seorang ayah yang tengah berbicara pada anaknya. “Itu cara halus Ayahku buat nolak hubunganku dengan siapa pun kecuali sama pilihannya.”

“Oh.”

Iwaizumi masih tersenyum.

“Even… misalnya kamu punya orang yang bener-bener disuka, terus kamu ngeyakinin Ayah kamu kalau orang itu udah jadi satu-satunya buat kamu. Apa kamu bakal masih dipaksa kayak gini?”

Iwaizumi mengangkat sebelah alisnya. “Bukannya itu yang lagi aku lakuin sekarang? Ngeyakinin Ayahku?”

“Tapi kamu, kan, nggak beneran suka sama aku.”

Oikawa menjawab dengan bingung, sementara Iwaizumi hanya menatapnya lama. Pria itu tetap membisu seraya memandangnya lama sampai Oikawa merasa jengah sendiri. “Apa?”

“Nggak, cuma…” Iwaizumi tertawa kecil, meskipun di telinga Oikawa tawa itu terdengar pahit. “Kamu lebih naif dari yang aku duga.”

Oikawa menyatukan alisnya dengan tak mengerti.

Iwaizumi mengibaskan tangannya seolah berusaha mengenyahkan topik itu. “Terus gimana? Kamu masih mau dateng?”

Oikawa mengangkat kedua bahunya dan menghela napas berat. “Nggak tau. Gara-gara kamu bilang tujuan Ayah kamu sebenernya itu, aku jadi ngerasa nggak enak karena udah setuju buat dateng. Tapi kalau aku beneran nggak dateng, kok, kayaknya malah jadi nggak sopan… dan itu bukannya bakal jadi nilai minus buat kita berdua? Maksudku, kalau masih mau ngeyakinin Ayah kamu soal hubungan kita berdua, ya...”

Oikawa melirik Iwaizumi yang terlihat tengah berpikir keras. Jujur, ia benar-benar merasa tidak enak sekarang karena sudah seenaknya menyetujui ajakan datang ke pesta itu.

“Tapi kalau kamu beneran nggak mau dateng—”

“Nggak. Kita dateng aja.” Mendadak, Iwaizumi memotong dengan raut wajah yang begitu serius. “Kamu bener. Semakin aku nolak, justru Ayahku bakal semakin gencar. Dan lagi, aku justru bisa manfaatin momen itu buat buktiin ke Ayahku kalau aku udah bener-bener yakin sama pilihanku.”

Rasanya Oikawa ingin mengingatkan Iwaizumi bahwa hubungan mereka sesungguhnya tidak akan berjalan lama. Suatu saat nanti, Iwaizumi pasti akan menemukan orang lain yang benar-benar disukainya. Orang yang benar-benar dipacarinya, dan bukan untuk kamuflase semata seperti dirinya sekarang.

Tiba-tiba pemikiran bahwa Iwaizumi akan menemukan orang lain membuat Oikawa kesal. Dia buru-buru meraih gelas berisi tehnya dan meminum banyak-banyak demi menelan kekesalan yang muncul tiba-tiba tersebut. Lagi pula, kenapa Oikawa harus merasa kesal? Iwaizumi, kan, bukan siapa-siapanya selain teman biasa. Dia tidak punya hak apa pun atas pria itu.

”...Kamu bakal bantuin aku, kan?”

“Eh? Hah? Sori, barusan kamu bilang apa?” Oikawa sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Iwaizumi masih mengajaknya berbicara.

“Aku nanya, kamu bersedia bantu aku, kan, pas lagi di pesta itu nanti?”

“Ooh, iyalah, jelas. Tapi bantuin gimana emang?”

“Kita udah pernah ciuman, kan?”

Pertanyaan Iwaizumi hampir saja membuat Oikawa tersedak tehnya sendiri. “H-hah? Ciuman?”

Iwaizumi mengangguk. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Oikawa yang terlihat gelagapan.

Dan pertanyaan Iwaizumi selanjutnya hampir membuat jantung Oikawa jatuh ke dasar perutnya.

“Menurut kamu, apa kita bisa ngelakuin itu untuk kedua kalinya? Tapi kali ini di depan orang yang lebih banyak.”

Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali — tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut. Ia pun tak tahu apakah Iwaizumi serius atau tidak dengan pertanyaannya.

“Aku bilang dulu, supaya nanti kamu nggak langsung kabur lagi kayak waktu itu,” Iwaizumi melanjutkan saat dilihatnya Oikawa masih diam saja. Pria itu tiba-tiba tertawa saat wajah Oikawa berubah menjadi semerah tomat karena menahan malu.

“Jadi nanti jangan kabur, ya? Temenin aku sampai pestanya selesai.”

Ucapan itu tidak lagi terdengar seperti tengah menggodanya, namun lebih seperti permohonan anak kecil yang tidak ingin ditinggal oleh teman bermainnya.

Oikawa tak punya kuasa untuk menolaknya, jadi dirinya mengangguk dan menjawab penuh determinasi.

“Iya, pasti bakal aku temenin sampai akhir.”


Happy Saturday, folks!

@fakeloveros