Request
Oikawa menarik ritsleting jaketnya sambil mengecek penampilannya yang sudah rapi di depan cermin. Wajahnya masih terlihat agak pucat akibat sakit yang dideritanya, namun hal itu tidak menghalangi Oikawa untuk memilih pakaian terbaik yang dimilikinya demi bertemu dengan ayah 'pacar' bohongannya.
Oikawa sudah menimbang-nimbang sejak tadi pagi, apakah dia harus memberitahukan hal ini pada Iwaizumi atau tidak. Atau lebih baik merahasiakannya sesuai yang dikatakan sang sekretaris? Mengingat hubungan mereka hanya dilandasi atas sebuah perjanjian, Oikawa khawatir pertemuan diam-diam ini justru akan menempatkan Iwaizumi dalam situasi yang menyulitkan pria itu nantinya. Tentu saja itu menjadi hal terakhir yang diinginkan Oikawa. Walaupun tidak sepenuhnya paham, tapi ia bisa meraba adanya ketegangan antara anak dan ayah itu. Dan Oikawa lagi-lagi khawatir apa pun yang akan mereka bicarakan nanti justru akan semakin menyulitkan Iwaizumi.
Oikawa menghela napas dan mengecek handphone-nya. Barusan ada pesan masuk dari Pak Takeda yang mengumumkan bahwa pria itu akan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Oikawa pun memeriksa penampilannya sekali lagi di depan cermin, lalu bergegas keluar kamar.
Oikawa memilih untuk menunggu di depan bangunan apartemennya sampai sang sekretaris tiba. Selain gugup, otaknya pun terasa kosong. Ia tidak tahu harus mempersiapkan apa. Tidak tahu harus mengekspektasikan apa. Dia bahkan tidak tahu orang seperti apa Ayahnya Iwaizumi karena Iwaizumi sendiri hanya menceritakan tentang keluarganya dalam garis besar. Kalau sudah begini, Oikawa hanya bisa pasrah dan menyerahkan pada instingnya saja nanti.
Tak sampai sepuluh menit, ada mobil silver berhenti tepat di depannya. Ketika jendela mobil diturunkan, terlihat seorang pria yang sepertinya berumur 40-an tersenyum ke arahnya. Oikawa berasumsi, pria itu pastilah Pak Takeda.
“Tuan Oikawa?” sapa pria itu sopan. Oikawa hanya mengangguk dan telinganya sedikit memerah mendengar panggilan yang tak biasa tersebut.
“Silakan masuk, Tuan. Tuan Iwaizumi sudah menunggu kedatangan Anda.”
Oikawa lagi-lagi hanya mengangguk, dan dengan canggung masuk ke dalam mobil. Begitu memastikan bahwa sabuk pengamannya sudah terpasang, pria itu tersenyum sekali lagi ke arahnya, lalu mulai menjalankan mobil.
Beberapa menit di awal perjalanan, mereka lalui dalam keheningan. Oikawa memainkan jari-jarinya dengan gugup sementara memperhatikan gedung-gedung yang mereka lewati. Pak Takeda yang ada di sampingnya tetap tenang, dan sesekali menanyakan pertanyaan ringan.
“Kalau boleh saya tahu, apa Tuan Oikawa hari ini nggak ada kelas?”
“Oh, nggak… saya… ehm, sebenernya lagi agak nggak enak badan,” jawab Oikawa yang — dengan kebetulan — setelahnya mengeluarkan batuk kecil.
Pria paruh baya yang tengah menyetir itu menoleh dengan terkejut selama beberapa detik sebelum mengembalikan fokusnya ke jalanan.
“Tuan lagi sakit?”
Oikawa menggaruk hidungnya dengan malu-malu. “Eng… iya, tapi nggak parah, kok. Cuma demam sama flu biasa.”
“Tuan, maaf, mungkin harusnya saya nggak meminta bertemu hari ini, ya? Harusnya Tuan istirahat saja di rumah,” ucap pria itu diliputi kekhawatiran. “Apa perlu saya sampaikan sekarang ke Tuan Iwaizumi supaya pertemuannya diundur…?”
“E-eh, nggak usah! Jangan! Sa-saya nggak apa-apa, kok,” Oikawa buru-buru mencegah, merasa tidak enak sendiri karena hampir saja merepotkan pria tua itu. “La-lagian Tuan Iwaizumi kan sibuk, nanti bisa tambah susah nyusun jadwalnya…”
Pria di sebelahnya meringis kecil, seolah menyetujui perkataan Oikawa.
“Kalau begitu, nanti pulangnya akan saya antarkan lagi. Tuan nggak perlu khawatir.”
“Eh? Oh, terima kasih…”
Lalu keadaan di dalam mobil kembali hening, namun Oikawa tidak tahan, dan akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ada di benaknya.
“Kira-kira… Ayahnya Hajime mau ngomongin apa, ya, sama saya?”
Dari sudut matanya, Oikawa bisa melihat Pak Takeda mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil. “Hmm… sepertinya ada kaitannya dengan Tuan Hajime. Tapi Tuan Oikawa nggak perlu khawatir. Tuan Iwaizumi orangnya baik, kok.”
Oikawa mana mungkin memercayainya. Tidak, kalau ia belum bertemu langsung.
“Kita udah hampir sampai, Tuan.”
Oikawa menegakkan tubuhnya tanpa sadar, lalu matanya memicing saat mobil yang membawanya berhenti di depan lobi masuk sebuah hotel mewah.
Langsung ada pemuda bersetelan rapi yang membukakan pintunya. Saat Oikawa menoleh ke samping, ternyata Pak Takeda justru telah turun dari mobil.
“Terima kasih…” ucapnya pelan pada pemuda itu, namun dengan terburu-buru langsung mengikuti Pak Takeda yang telah berjalan lebih dulu setelah menyerahkan kunci mobil ke pria yang membukakan pintunya tadi.
“Tuan Iwaizumi sudah menunggu di dalam. Mari ikuti saya.”
Oikawa tidak memiliki waktu untuk mengangumi interior hotel yang terlihat sangat mewah tersebut. Dengan panik, ia berusaha memastikan penampilannya tetap terlihat tidak bercela di setiap permukaan kaca yang dilewatinya. Oikawa berharap setidaknya Ayah Hajime tidak akan kecewa dan mendapatkan kesan baik dari pertemuan pertama mereka hari ini.
Pak Takeda kemudian mempersilakannya masuk ke sebuah restoran luas dengan beberapa meja bundar dan musik yang mengalun pelan dari suatu sudut. Tidak banyak orang yang ada di dalam restoran tersebut, namun dari yang hadir untuk makan, semuanya nampak berpenampilan rapi dan formal. Juga mahal.
Termasuk pria yang sudah menunggunya di meja dekat jendela saat Pak Takeda mengarahkannya ke sana.
Tidak perlu diberi tahu, Oikawa langsung tahu ia tengah berhadapan dengan siapa.
“Se-selamat siang, nama saya Tooru Oikawa. Senang bertemu dengan Anda,” Oikawa memberi salam seraya membungkuk dengan sopan. Saat menegakkan badannya kembali, Pak Takeda tengah membisikkan sesuatu pada pria itu. Oikawa menunggu dengan gugup, sementara pria yang terlihat seperti jiplakan Hajime Iwaizumi itu memperhatikannya dengan pandangan tak terbaca.
“Silakan duduk, Oikawa,” ucap pria itu setelah Pak Takeda pergi dari hadapan mereka berdua. Dengan gerakan teramat pelan, Oikawa mengangguk, kemudian mengambil tempat di hadapan pria itu.
“Saya harap kamu nggak keberatan karena tadi sudah saya pesankan makanan duluan. Kamu suka steak?”
Oikawa mengangguk lagi dan sedikit terperangah saat pria itu berbicara begitu sopan padanya diikuti seulas senyum kecil. Dari jarak yang lebih dekat, kemiripannya dengan putranya terlihat semakin jelas. Atau setidaknya, begitu menurut Oikawa.
“Maaf karena sudah tiba-tiba menghubungi kamu seperti ini. Apalagi tadi saya diberi tahu kalau kamu sedang sakit?”
Oikawa menunduk dengan sedikit malu. “Nggak apa-apa, Tuan… sakit saya juga nggak begitu parah, kok.”
“Tetap saja. Hajime pasti khawatir sekali, ya.”
Oikawa tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengerjapkan matanya beberapa kali sementara pria di hadapannya tersenyum polos.
“Alasan saya memanggil kamu ke sini karena ingin membicarakan sesuatu soal Hajime. Memang dia belum memperkenalkan kamu ke keluarga kami secara resmi sebagai pacarnya, tapi saya pikir, bisa memercayai kamu soal ini.”
“Memercayai… saya?” Oikawa mengulangi satu kata itu dengan bingung.
“Begini, dari yang saya perhatikan, sepertinya Hajime sangat menyukai kamu, Oikawa.”
Oikawa bertambah bingung. Dari mana pria itu tahu apakah putranya benar-benar menyukai dirinya atau tidak? Lagi pula, mereka kan belum lama ini baru mengenal. Jadi bagaimana kesimpulan seperti itu muncul?
“Ah, mungkin kamu bingung dari mana saya bisa tahu hal seperti itu,” pria itu tertawa kecil, dan Oikawa harus menahan dirinya agar tidak tercengang sekali lagi karena caranya tertawa bahkan sangat mirip dengan Hajime. “Anggap saja saya sebagai ayah, sering mengawasi anak-anak saya meskipun kami sudah jarang bersama akhir-akhir ini. Dan dari pengawasan itu, saya bisa mendapatkan kesimpulan seperti tadi.”
Pengawasan. Oikawa jadi teringat percakapannya dulu dengan Hajime yang mengatakan bahwa meskipun dia belum diperkenalkan, ayahnya pasti akan langsung mengetahui bahwa Oikawa adalah pacarnya. Mungkinkah memang benar ada orang yang disewa khusus untuk mengawasi Hajime selama 24 jam penuh? Seperti yang sering ada di film-film? Yang jelas, Oikawa benar-benar tidak paham jalan pikir orang kaya.
“Jadi… apa yang bisa saya bantu?” tanya Oikawa pada akhirnya, masih dengan kebingungannya mengenai arah jalannya percakapan ini.
Pembicaraan mereka sempat terpotong oleh datangnya makanan dengan aroma yang begitu menggugah selera. Namun sekalipun daging di hadapannya terlihat sangat menggoda, perutnya justru melilit tidak nyaman saking gugupnya.
“Nah, apa yang saya mau minta ke kamu sebenarnya simpel. Kamu cukup bujuk Hajime untuk datang ke pesta rekan kerja saya yang akan diadakan minggu ini. Kalian berdua, maksud saya. Karena kalau kamu setuju ikut, Hajime juga pasti akan ikut,” ucap pria itu dengan intonasi yang terdengar nyaris penuh semangat, seakan bisa mendapatkan hadiah yang sangat berharga apabila hal itu bisa terwujudkan.
Oikawa terdiam selama beberapa saat. Dia berusaha mencerna apa yang barusan didengarnya. Sakit kepalanya yang tadi sempat hilang, kini muncul lagi, namun untuk alasan yang berbeda.
“Pesta…? Tapi kenapa… Hajime harus dibujuk buat dateng?”
“Karena saya sudah berusaha mengajaknya, tapi dia terus-terusan menolak. Padahal di pesta itu, saya ingin mengenalkan Hajime dengan seseorang yang sangat penting.”
Siapa? Pertanyaan itu sudah berada di ujung lidahnya, tapi Oikawa tidak sanggup menyuarakannya. Ia masih bingung dengan permintaan yang diterimanya dan kenapa pria di hadapannya begitu yakin bahwa Hajime pasti mau datang asalkan dirinya ikut pergi.
Dia, kan, bukan siapa-siapa?
Dan lagi… dia belum pernah ke pesta mana pun. Kecuali, mungkin, pesta prom kecil-kecilan yang dulu diadakan di SMA-nya. Tapi Oikawa yakin, bukan pesta dengan skala seperti itu yang mereka bicarakan sekarang.
“Tapi… gimana kalau Hajime tetap nggak mau datang? Meski udah saya bujuk?”
Pria paruh baya di hadapannya tertawa keras, lalu menggeleng seakan pertanyaan Oikawa barusan terdengar begitu konyol.
“Kamu kayaknya masih ragu, ya, sama penilaian saya? Gimanapun, Hajime itu anak saya. Bisa dibilang saya cukup mengenal dia dengan baik,” pria itu lalu mulai mengangkat pisaunya untuk memotong daging yang ada di piringnya, seraya berbicara dengan tenang. “Kalau kamu nggak percaya, coba hubungi Hajime sekarang dan bilang kalau kamu lagi sama saya untuk makan siang.”
Oikawa mengernyitkan keningnya dengan bingung. “Bukannya pertemuan ini rahasia?”
Pria yang kini tengah mengunyah dagingnya itu mengibaskan tangannya dengan santai. “Karena kamu sudah dengar permintaan dari saya, pertemuan ini bukan rahasia lagi. Jadi nggak masalah kalau kamu mau ngasih tahu dia sekarang.”
Benak Oikawa seperti dipenuhi oleh beribu pertanyaan, tapi di saat yang bersamaan, tidak ada satu pun yang terpikirkan karena ini pertama kalinya ia menghadapi situasi di luar dugaan seperti sekarang. Entah kenapa, Oikawa merasa seperti sedang menghadapi suatu tes yang ia sendiri tidak tahu untuk apa tujuannya.
Meskipun begitu, tangannya tetap bergerak ke arah handphone-nya yang ada di dalam kantung jaket untuk menghubungi Hajime Iwaizumi.
Panggilannya diangkat setelah dering ketiga.
“Halo? Hei, aku baru keluar kelas. Kamu ada apa nelpon? Udah mendingan? Atau butuh sesua—”
“Hajime,” Oikawa memotong pria itu dengan menekan pengucapan namanya. Oikawa berdeham, melirik ke arah pria paruh baya di hadapannya yang masih makan dengan tenang, lalu melanjutkan. “Aku… lagi ada di luar sekarang.”
“Di luar? Di mana? Kenapa nggak istirahat di rumah? Emang kamu udah sembuh?” bahkan dari telepon pun Oikawa bisa mendengar nada khawatir pria itu.
“Aku lagi makan siang sama ayah kamu.”
Hening.
“Hajime? Halo? Kamu de—”
“Kirim lokasinya sekarang.”
“Apa?”
Terdengar suara tarikan napas, sebelum yang di seberang mengulangi dengan nada lebih tajam.
“Kirim lokasi kamu. Aku ke sana sekarang.”
Dan saat Oikawa memutus panggilan mereka, setelah mengirimkan lokasinya dan hanya menerima pesan singkat bertuliskan jangan ke mana-mana, pria di hadapannya memberikannya seulas senyum penuh arti.
“Jadi, gimana? Kamu bersedia bantu saya, kan?”
@fakeloveros