Under Your Spell
Saat mengatakan bahwa dirinya akan menjadi lebih sibuk, Oikawa tidak menyangka bahwa perkataan Iwaizumi ternyata benar. Setelah chat terakhir mereka pada hari Minggu, Oikawa benar-benar tidak bertemu dengan Iwaizumi bahkan sampai H-1 MT Spring tim voli akan diadakan. Dalam pertemuan terakhir technical meeting yang diadakan pada hari sebelumnya pun Iwaizumi tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali.
Hal ini jelas menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.
Matsukawa yang paling berisik. Temannya yang satu itu terus-terusan menuduh bahwa ia dan Iwaizumi tengah bertengkar hebat sampai tidak berbicara satu sama lain. Daichi dan Sugawara ikut menanyakan keberadaan Iwaizumi beberapa kali, sedangkan Kuroo hanya menatapnya penuh arti tanpa mengatakan apa pun, namun tatapannya seperti mengatakan, lo belum ngomong juga sama dia?
Oikawa sendiri bingung bagaimana harus memulai percakapan dengan Iwaizumi. Di satu sisi ternyata ia merindukan juga keberadaan pria itu dan obrolan-obrolan ringan mereka di setiap kesempatan yang ada. Beberapa kali Oikawa ingin mencoba menghubungi Iwaizumi untuk sekadar menanyakan kabar, tapi sesering itu juga Oikawa menghapus teks yang sudah ia tulis, lalu berteriak sendiri di balik bantalnya.
Baru kali ini Oikawa merasa dirinya benar-benar seperti pengecut — sesuatu yang tidak pernah ada di dalam kamusnya.
Dan baru kali ini juga Oikawa memikirkan seseorang sampai dirinya tidak bisa tidur sama sekali.
“Lo kayak zombie.”
Bukannya ucapan selamat pagi, sapaan itulah yang justru Oikawa dengar pertama kali keluar dari bibir Matsukawa. Ia hanya melirik temannya dengan jengkel sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung jaket — mencoba mencari kehangatan di tengah pagi buta yang masih menebarkan hawa dingin.
“Tapi tampang lo masih lebih mending dibanding pacar lo sendiri, sih.”
Kalimat itu sukses menarik perhatian Oikawa yang hampir saja menutup matanya untuk mencuri waktu tidur. Kepalanya langsung terangkat dan matanya berputar ke segala arah mencari keberadaan pria yang tadi disebutkan temannya.
“Iwaizumi udah dateng? Mana??”
Matsukawa menyeringai, lalu menepuk pundaknya pelan. “Udah tadi, tapi langsung ngilang nggak tau ke mana.”
Oikawa mendecak sebal, lalu melepaskan rangkulan temannya itu dan segera melangkah menjauh untuk mencari 'pacar'nya. Dari kejauhan dia bisa melihat rambut pirang Atsumu di tengah gerombolan anggota voli dan memutuskan untuk bertanya pada pria itu. Namun tinggal beberapa langkah sebelum sampai, Oikawa mendadak berhenti.
Ada sosok seorang wanita yang tidak asing berada di tengah gerombolan tersebut.
Tapi sayang, sebelum dirinya sempat membalikkan badan dan bertanya pada orang lain, Atsumu sudah melihatnya lebih dulu.
“Eh, woy! Oikawa! Sini!”
Oikawa mengerang dalam hati, dan dengan enggan mendekati sang setter. Semakin dirinya melangkah lebih dekat, Oikawa pun semakin mengenali wanita yang kini sudah ikut menatapnya dengan senyuman kelewat polos terulas di wajah cantik itu.
Alisa Haiba ada di sini.
“Woy! Lemes amat sih lo! Kayak Iwaizumi aja anjir. Tadi pacar lo dateng-dateng juga mukanya lesu banget kayak muka Osamu setiap habis ujian!”
Perkataan itu berhasil membuat Atsumu menerima geplakan keras di kepalanya dari saudara kembarnya. Namun Atsumu hanya mengaduh pelan, kemudian berbicara lagi dengan penuh antusias kepada Oikawa seolah tidak ada yang terjadi.
“By the way, lo belum pernah ketemu Kak Alisa, kan? Dia kakaknya Lev. Tahun ini katanya mau ikutan bantu-bantu di MT kita! Tadi juga Kak Alisa bawain banyaaak banget makanan! Wah, lo kalo liat—”
“Hajime mana?” Oikawa segera memotong, bukan karena tidak ingin mendengarkan ocehan Atsumu, melainkan jengah karena harus berada di dekat wanita yang terus-terusan menatapnya dengan aura penuh permusuhan. Atsumu langsung berhenti, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Eeh... ke mana ya tuh orang? Hmm, tadi sih bilangnya mau nyari tempat buat istirahat sebentar. Tapi habis itu gue—”
“Iwaizumi udah naik duluan ke dalam bus. Katanya dia capek, mau tidur.”
Ada suara baru yang bergabung dengan mereka. Oikawa menoleh, dan mendapati Ushijima tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu memang berangkat lebih dulu tadi pagi, mengingat posisinya sebagai kapten yang harus memastikan semuanya sudah lengkap sebelum mereka berangkat.
Dengan agak bingung, Oikawa memperhatikan Ushijima yang menjawab tanpa menampilkan ekspresi apa pun. Sepertinya itu pertama kalinya dia mendengar roommate-nya menyebutkan nama Iwaizumi secara langsung tepat di hadapannya.
“Oh, oke, thanks. Ehm... apa boleh gue naik sebentar ke busnya? Mau ngecek aja,” jawab Oikawa sedikit ragu. Namun sang kapten hanya mengedikkan bahunya dan dengan gerakan kepalanya mempersilakan Oikawa untuk naik ke dalam bus yang akan ditempati anggota tim voli. Setelah mengucapkan terima kasih juga kepada Atsumu (dan tanpa menghiraukan keberadaan Alisa), Oikawa cepat-cepat berjalan menuju bus.
Bohong kalau dibilang jantungnya tidak berdegup kencang saat tahu bahwa sebentar lagi dirinya akan bertemu Iwaizumi setelah sekian lama.
Oikawa menaiki bus dengan langkah pelan — tidak ingin membuat suara sedikit pun yang bisa saja membangunkan pria yang sedang beristirahat di dalamnya. Benar saja, ia langsung menemukan Iwaizumi yang tengah tertidur pulas di salah satu bangku karena tidak ada siapa-siapa lagi di dalam bus selain mereka berdua.
Oikawa menelan salivanya, kemudian mendekat secara perlahan. Namun keningnya berkerut semakin dalam saat menyadari penampilan pria itu sedikit berbeda dibandingkan biasanya. Ada lingkaran hitam di bawah mata pria itu dan — apakah ini hanya perasaannya atau memang — Iwaizumi terlihat lebih kurus. Pria itu tidur sambil bersedekap dan jelas sekali terlihat tidak nyaman karena kepalanya harus bersandar ke sandaran kursi yang tegak.
Selama beberapa saat, Oikawa hanya diam di tempatnya dan memperhatikan Iwaizumi lekat-lekat.
Ada banyak yang ia rasakan. Ada banyak yang ingin ia utarakan. Namun kakinya seakan tertanam di lantai dan lidahnya kelu dengan mata yang terpaku pada pria yang selama beberapa hari belakangan membuatnya tidak bisa tidur tenang.
Membuatnya rindu.
“Kalau ngeliatinnya kayak gitu, mata kamu bisa perih nanti.”
Oikawa terlonjak kaget saat suara Iwaizumi tiba-tiba terdengar meskipun mata pria itu masih terpejam. Namun ia yakin, bibir pria itu memang bergerak barusan.
“Iwai... zumi?” Oikawa memanggilnya pelan.
Barulah setelah namanya disebut, Iwaizumi membuka matanya. Obisidian hitam itu langsung mengarah tepat ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Meskipun begitu, Oikawa bisa melihat betapa lelahnya pria itu.
Pantas saja Matsukawa menyebut tampang Iwaizumi lebih parah dibandingkan dirinya.
“Kok bisa tau... aku yang dateng? Bukannya kamu lagi tidur barusan?” tanya Oikawa selagi memperhatikan Iwaizumi meregangkan badannya. Kaus yang dikenakan pria itu terangkat sedikit sampai Oikawa bisa melihat kulit halus kecoklatan yang melengkapi otot kencang di baliknya. Oikawa buru-buru mengalihkan pandangannya sebelum fokusnya buyar. Atau yang lebih parah, sebelum Iwaizumi menangkap tatapannya.
“Kalau diliatin kayak gitu, siapa yang nggak bakal kebangun?” jawab Iwaizumi dengan suara parau khas seseorang yang baru bangun tidur. Matanya mengerjap pelan seakan berusaha mengusir letih yang terpancar jelas di baliknya.
“Kamu... nggak apa-apa, kan? Maksudku kamu... keliatan capek banget,” ucap Oikawa tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Kalau masih mau tidur, aku bisa turun lagi. Tadi aku naik cuma mau ngecek keadaan kamu, jadi—”
“Tooru.”
Oikawa refleks mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Jantungnya mungkin sudah berdetak dengan kecepatan yang tidak normal sekarang karena akhirnya bisa mendengar nama kecilnya disebut lagi oleh Iwaizumi setelah sekian lama.
“A-apa?”
“Sini, temenin aku.”
Oikawa memiringkan kepalanya tidak paham, namun ia patuh dan maju beberapa langkah. Setelah cukup dekat, Iwaizumi lantas menarik tangannya sampai dirinya terduduk di sebelah pria itu.
Oikawa bahkan belum sempat memproses apa yang terjadi ketika kepala Iwaizumi tiba-tiba sudah bersender di bahunya.
“Sekarang setiap habis pulang kuliah, aku harus langsung ke kantor Ayahku. Kadang aku bisa pulang malem banget, kadang aku bahkan bisa ketiduran di sana.”
Oikawa bergeming. Telinganya mendengar dengan jelas, namun otaknya tidak tahu harus membentuk respons seperti apa.
“Aku capek. Aku cuma mau tidur. Tapi tetep aja percuma karena meskipun udah tutup mata, aku malah mikirin hal lain.”
Suara pria itu terdengar sangat letih, namun di saat yang bersamaan seolah memberikan indikasi bahwa apa yang mereka pikirkan selama beberapa hari belakangan pastilah hal yang sama.
“Kita bisa ngomongin banyak hal nanti. Itu tujuan aku ikut acara ini. Tapi buat sekarang, kita bisa kayak gini tanpa harus mikirin hal apa pun.”
Seolah memperjelas makna di balik ucapannya, Iwaizumi semakin mendekatkan tubuh mereka sampai aroma parfum pria itu tercium dengan jelas. Bergamot kesukaannya.
Terdengar helaan napas berat yang menyusul, dan Oikawa tahu pria itu pastilah sudah kembali menutup matanya sekarang.
“Sebentar aja, Tooru. Aku mau kamu nemenin aku kayak gini.”
Oikawa tidak tahu mantra apa yang ada di balik ucapan halus tersebut. Tapi yang jelas, mantra itu pasti bekerja dengan sangat baik karena pada detik itu juga, tidak ada hal yang diinginkannya selain menemani Iwaizumi sampai pria itu kembali tertidur pulas.
Honestly, I can't wait to write the entire MT Spring scenes. But, of course, it needs to wait.
@fakeloveros