Prologue
“Gue masih nggak paham kenapa kita harus berdamai sama mereka.”
“Gencatan senjata.”
Oikawa memutar bola matanya. “Sama aja.”
Kageyama yang berada di sebelahnya hanya menghela napas. Pria yang lebih muda itu mungkin bisa jadi satu-satunya orang yang bertahan menerima segala keluhan Oikawa sepanjang hari. Padahal keputusan itu sudah ada sejak minggu lalu, namun di saat tinggal beberapa menit lagi mereka harus pergi, Oikawa mulai mengoceh kesal.
“They're a bunch of disgusting Alphas,” ucap Oikawa lagi, kali ini sambil bergidik geli. “They have no manners or whatsover.”
“Tapi mereka lebih kuat dari kita,” Kageyama bergumam tanpa maksud ingin membela. Itu hanya kenyataan yang sudah mereka ketahui sejak lama. Namun beberapa anggota klan masih menolak fakta tersebut, termasuk pria di hadapannya yang semakin merengut kesal.
“Pasti kalau bisa disuruh milih, lo lebih pengen masuk klan mereka, kan?” tanya Oikawa tanpa bersusah payah menyembunyikan kesinisan dalam suaranya. Namun yang ditanya lagi-lagi mengeluarkan napas berat seakan sudah lelah untuk berargumen lebih jauh.
Bagaimanapun, mereka tidak punya banyak waktu.
“Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, deh. Kita harus pergi sekarang.”
“Tunggu, gue mau nanya satu hal.” Oikawa memberhentikan pria itu sebelum melangkah lebih jauh. “Gimana seandainya lo ketemu soulmate lo di klan itu? Mana yang bakal lo pilih?”
Bukannya menjawab, Kageyama justru tersenyum miring. Pria itu menurunkan suaranya satu oktaf seakan di ruangan itu ada yang hadir selain mereka.
“Gimana kalau LO yang ketemu soulmate lo di sana? Mana yang bakal lo pilih, hmm?”
Dan tanpa menunggu jawaban Oikawa, Kageyama berbalik dan meninggalkan sang Omega seorang diri.
Oikawa tak memiliki banyak waktu untuk mengeluarkan kekesalannya yang semakin menumpuk. Suara Ayahnya sudah terdengar dari luar. Itu berarti, mereka harus pergi sekarang menuju tempat tinggal klan yang sudah sangat ia benci sejak dulu.
Pertanyaan yang tadi dirinya tujukan pada Kageyama kembali terngiang. Tanpa berpikir dua kali pun Oikawa tahu harus memilih pihak yang mana.
Sekalipun soulmate-nya ada di sana.
“Jangan pasang wajah jutek kamu.”
Oikawa bergumam tak jelas. Tatapannya mengarah ke luar jendela.
“Jangan ngomong yang aneh-aneh.”
Oikawa mendengus pelan, namun ternyata cukup keras untuk didengar Ayahnya.
“Jangan—”
“Ayah,” Oikawa memotong dengan nada jengkel. Kekesalannya semakin menumpuk seiring roda mobil yang terus berputar membawa mereka ke tempat tujuan. Dari GPS yang terpampang, mereka hampir sampai di tempat yang seumur hidup paling tidak ingin ia injakkan kakinya. Namun Ayahnya justru memilih momen itu untuk menasihatinya seakan ia anak kecil.
“Aku bakal diem aja, jadi Ayah nggak usah khawatir,” jawab Oikawa, berusaha menjaga agar nadanya tetap tenang. Sekesal-kesalnya dia malam itu, Ayahnya adalah orang terakhir yang ingin ia kecewakan. Bagaimanapun, semua keputusan berdamai dengan pihak yang telah menjadi musuh mereka sejak lama diambil secara musyawarah. Mau ia marah-marah atau menolak ikut pun keputusan itu akan tetap dijalankan. Lagi pula, klan yang menjadi musuh mereka dulu pun ikut memberi usulan gencatan senjata tersebut.
Oikawa tidak punya kuasa apa-apa di sini.
Mungkin kalau dia terlahir sebagai seorang Alpha…
Oikawa buru-buru menghalau pikiran itu dan kembali memfokuskan pandangannya ke luar jendela. Mereka telah meninggalkan jalanan besar ibu kota dan kini memasuki wilayah pinggiran yang lebih banyak dikelilingi pohon-pohon. Tinggal sebentar lagi, dan Oikawa tidak ingin melalui sisa perjalanan dengan penyesalannya yang tidak ada guna. Kalau Ibunya ada di sini dan bisa mendengar isi pikirannya, ia pasti akan diceramahi habis-habisan soal ranking dan bagaimana hal itu tidak seharusnya menjadi tolak ukur kekuatan seseorang.
Tapi bagaimana mungkin, padahal hidup mereka saja ditentukan oleh itu? Oikawa beruntung dirinya lahir di klan terpandang meskipun rankingnya ada di posisi bawah. Dan lebih menguntungkan lagi karena Ayahnya merupakan pemimpin klan. Namun dirinya tahu, di belakang, anggota yang lain membicarakannya.
Bagaimana bisa seorang anak pemimpin klan mafia terkenal merupakan seorang Omega?
Ia hidup selama 22 tahun dengan menutup telinga atas semua pertanyaan tak kasatmata tersebut. Namun ia bisa mendeteksinya dari tatapan mereka dan bersumpah akan membuktikan pada semuanya bahwa dia pun memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda dari ranking-ranking di atasnya.
Itulah alasan kekesalannya juga hari ini. Oikawa yakin, begitu orang-orang dari klan musuh itu mengetahui dirinya seorang Omega, mereka pasti akan langsung menganggap remeh dirinya.
“Tuan, kita sudah sampai.”
Oikawa tersadar dari lamunannya dan mendapati mereka telah tiba di depan sebuah gerbang besar yang dijaga ketat. Tidak jauh berbeda dengan headquarter utama mereka. Klan itu pastilah sudah mengetahui kedatangan mereka karena tak butuh waktu lama sampai dibiarkan masuk. Mobil klan mereka pun satu per satu memasuki wilayah yang luas tersebut. Ayahnya tentu tidak membawa semua anggota, hanya wakilnya, seorang Beta yang merupakan Ayah Kageyama, satu orang penasihat, tiga capo dan lima orang yang tergabung dalam ranking soldier. Kageyama dan dirinya berada di ranking tersebut.
Saat mereka turun dari mobil, Oikawa merasa perutnya sedikit bergejolak. Tangannya dingin dan jantungnya memompa lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Ia menyatukan kedua tangannya yang gemetar di belakang punggung dengan bingung — tak ingin menarik perhatian anggotanya dengan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba terasa aneh.
Mereka dituntun berjalan menuju sebuah bangunan yang sepintas terlihat seperti rumah. Namun Oikawa tahu, rumah utama pemilik klan itu sendiri pastilah berada di titik yang lebih dalam, bukan di dekat gerbang masuk. Mereka dipersilakan masuk ke sebuah ruangan luas yang terlihat begitu megah dengan lampu kristal besar di tengah-tengah, lukisan-lukisan mahal, dan kaca besar yang hampir memenuhi satu sisi dinding. Kendatipun begitu, tak ada barang lain di dalam ruangan itu. Hanya ada satu meja dan dua kursi di tengah-tengah.
Oikawa berdiri gelisah. Kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai dengan tak tenang. Ada peluh yang mulai mengalir di pelipisnya, padahal ruangan itu berpendingin udara.
Kageyama sepertinya menyadari sikap anehnya karena pria itu menyenggolnya pelan.
“Lo kenapa sih, dari tadi nggak bisa diem?”
Oikawa baru ingin membuka mulut untuk menjawab, namun pintu yang ada di seberang mereka mendadak terbuka dan masuklah segerombolan orang. Seorang pria berbadan besar dengan wajah menyeramkan memimpin di depan diikuti anggota klan lainnya. Oikawa refleks segera menunduk begitu merasakan aura Alpha yang menguar kuat dari pria itu.
Namun ada hal lain yang membuat perasaannya semakin tidak tenang.
Oikawa ganti memainkan jari-jarinya supaya kegelisahannya tidak lagi tersalurkan dalam bentuk ketukan kaki di lantai. Kageyama masih memberinya tatapan bertanya dari samping, namun Oikawa hanya mampu menggeleng pelan untuk meyakini temannya itu bahwa dirinya baik-baik saja.
“Terima kasih sudah mengundang kami untuk datang.”
Suara menggelegar Ayahnya terdengar. Ruangan itu langsung hening dan ada ketegangan yang menguar di udara. Meskipun sudah ada perjanjian bahwa masing-masing pihak tak boleh ada yang mengeluarkan feromon selama pertemuan berlangsung, Oikawa tetap bisa merasakan aura kuat di sekelilingnya. Kalau tidak terbiasa sejak dulu, dirinya pasti sudah jatuh pingsan sekarang.
“Terima kasih sudah menyetujui usulan gencatan senjata ini,” balas pria berwajah seram di seberang mereka yang Oikawa asumsikan sebagai pemimpin tertinggi klan tersebut. Seperti Ayahnya. “Cepat atau lambat, memang harus segera berakhir.”
Ayahnya membalas dengan ucapan lain, namun telinga Oikawa seperti disumpal. Ia tak dapat mendengar apa-apa lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat dan ada dorongan aneh untuk mengangkat wajah dan menatap ke depan. Tetapi ia menolak dorongan aneh tersebut dan tetap menundukkan kepalanya entah sampai berapa lama.
“Dalam perjanjian gencatan senjata yang sudah disetujui, ada pernyataan bahwa kedua klan harus saling menghargai dan respek terhadap satu sama lain.” Tiba-tiba, ada suara bariton seorang pria dari seberang yang menggantikan Alpha sebelumnya. “Tapi kenapa salah satu anggota klan Anda justru tidak memperhatikan diskusi kita sejak awal?”
Oikawa yakin jantungnya sempat berhenti selama sedetik penuh. Ia berhenti memainkan jari-jarinya dan bisa merasakan tatapan semua orang tertuju padanya sekarang.
Ada suara langkah kaki yang mendekat dan dorongan aneh dalam diri Oikawa muncul kembali, kali ini bahkan lebih kuat. Keringatnya mengalir deras di punggung dan rasanya Oikawa bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang memompa semakin cepat.
“Oikawa…” Kageyama berbisik ngeri di sebelahnya. Oikawa tidak tahu siapa yang tengah berjalan ke arahnya, namun dari aura yang menguar, ia yakin pria itu juga seorang Alpha.
“Angkat kepala kamu.”
Oikawa menarik napas tercekat. Pria itu sudah berdiri di depannya dan memerintahkan dengan nada tegas. Tetapi Oikawa menolak dan bersikeras terus menatap lantai yang ada di bawah kakinya.
Perasaannya tidak enak.
“Tooru.” Terdengar Ayahnya menyebut namanya dengan nada memperingatkan yang sudah ia hafal. Ayahnya hanya akan memanggilnya seperti itu jika ada hal yang benar-benar harus dipatuhinya.
“Angkat kepala kamu.”
Perintah dari pria di hadapannya kembali terulang dan terdengar lebih tegas seakan tak akan menerima penolakan untuk kedua kalinya. Ketegangan itu semakin memuncak sehingga Oikawa tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat wajahnya.
Dan hal yang paling ditakutinya terjadi.
Oikawa tidak tahu apa yang dilihat pria itu dalam dirinya, namun ia sendiri mampu menyaksikan ketika retina Alpha di hadapannya berubah warna menjadi silver selama sepersekian detik sebelum kembali ke warna aslinya. Setelah itu, ada keterkejutan bermain di wajah sang Alpha sebelum ekspresinya mengeras.
“Soulmate.”
Seperti ada paku yang menancapkan kakinya dalam-dalam di lantai, Oikawa tidak bisa bergerak sama sekali. Oikawa tahu arti perubahan warna retina itu. Menurut hukum alam, itu menandakan seseorang telah menemukan soulmate-nya. Belahan jiwanya. Dan dari satu kata yang diucapkan pria berkulit kecokelatan di hadapannya barusan, ia yakin warna retinanya juga sempat berubah.
Pertanyaan yang ia ajukan sebelum berangkat pada Kageyama seakan menamparnya. Bagaimana seandainya ia menemukan soulmate-nya di klan musuh—
Dan jawaban dari pertanyaan itu harus ia jawab sekarang.
Tapi Oikawa tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Begitu kata soulmate terdengar dari mulut pria di hadapannya, otaknya seperti kosong. Seperti gerigi-gerigi sepeda yang putus sehingga menjatuhkannya ke tanah tanpa peringatan apa pun.
Suasana di dalam ruangan itu begitu hening sampai Oikawa bisa mendengar suara jantungnya sendiri yang memompa cepat. Ia takut jika bergerak sedikit saja, rasionalitas dalam dirinya akan runtuh dan membuatnya melakukan hal-hal bodoh.
Seperti kabur misalnya.
Oikawa mengerjapkan matanya tak percaya ketika itulah yang justru dilakukan pria yang baru saja menyuarakan takdir yang paling ditakutinya. Pria itu berbalik cepat dan keluar dari ruangan dengan pintu yang terbanting keras di belakangnya, serta rentetan umpatan kasar.
Entah sudah berapa sekon terlewati saat tak ada satu pun yang bergerak di ruangan tersebut. Semua seakan ikut dibuat terkejut atas apa yang baru saja terjadi. Namun perlahan, banyak pasang mata yang kembali menancapkan atensinya pada pria yang masih berdiri kaku di tempatnya— menunggu Oikawa mengambil keputusan.
“A-apa...” Oikawa melarikan netranya dengan panik ke sekeliling ruangan— meminta bantuan. Namun sebagian besar anggota klannya justru memberinya tatapan iba. Tatapannya kemudian jatuh pada Ayahnya yang sedari tadi belum mengeluarkan titah apa pun. Tetapi pria paruh baya itu ikut diam seribu bahasa dan menatapnya dengan sesuatu yang tak bisa diartikan.
Kageyama lah yang justru berbicara padanya pertama kali.
“Kejar dia.”
Dan itu nasihat paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya dari mulut temannya sejak kecil.
“Dia soulmate lo. Kejar dia.”
Oikawa menarik napas dan menyumpahi segala Dewa dan Dewi maupun Tuhan yang telah meletakkan takdirnya seperti ini. Rasanya seolah ada yang mengatur kehidupannya menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya. Seakan apa yang dialaminya selama ini belumlah cukup dan semesta ingin melihat seberapa jauh Oikawa akan berusaha.
Sebelum menyadari apa yang tengah dilakukannya, kakinya tahu-tahu sudah bergerak sendiri dan keluar dari ruangan yang menyesakkan tersebut. Namun begitu di luar, bukan aroma musim panas yang mengelilingya, melainkan cokelat; seperti cokelat panas yang dibuatkan ibunya ketika hujan deras membasahi bumi atau cokelat batangan yang dibawakan pamannya dulu sekembalinya dari tugas di luar negeri.
Namun yang satu ini jauh lebih kuat sehingga membuat Oikawa mempercepat langkahnya kendatipun kepalanya mulai berputar.
Oikawa tahu, wangi feromon dari setiap Alpha memang berbeda-beda. Yang satu bisa lebih kuat dari yang lain, tergantung pada kekuatan yang dimiliki sang Alpha. Semakin kuat, wanginya bisa semakin memabukkan dan membuat Omega di sekitarnya bertekuk lutut.
Oikawa menggertakkan giginya— ia sudah sampai tahap berlari dan memasuki hutan yang terletak jauh di belakang bangunan. Wangi cokelat itulah satu-satunya yang menjadi penuntunnya. Napasnya semakin berat begitu ia masuk semakin dalam sampai tak ada lagi suara dari headquarter yang terdengar. Apa yang masuk ke gendang telinganya tinggal gemerisik dedaunan dan hewan-hewan kecil. Mereka seperti menonton Oikawa yang berlari dengan konyol mengejar soulmate-nya sendiri.
Oikawa memperlambat larinya ketika di depannya tak lagi terlihat pohon-pohon tinggi. Jalanan di depannya membuka lebar sampai ia tiba di sebuah danau kecil. Dan di sana— di pinggir danau, ia bisa melihat punggung lebar seseorang yang sedari tadi dikejarnya. Punggungnya naik turun, karena seperti Oikawa, pria itu juga pasti berlari sekuat tenaga untuk mencapai kedalaman hutan seperti ini.
Seraya menghirup napas dalam-dalam, Oikawa berjalan pelan menghampiri pria itu. Aroma cokelat itu semakin kuat dan Oikawa harus menancapkan kuku-kukunya ke telapak tangannya yang mengepal agar tidak terbawa feromon Alpha di hadapannya.
“Stop.”
Langkahnya terhenti tanpa aba-aba karena kata-kata itu terdengar seperti mantra di telinganya.
“Berhenti... di situ,” ucap pria itu, dengan punggung yang masih menghadap ke arahnya. Kata-katanya terdengar tercekat seolah pria itu sedang menahan sesuatu. “Ngapain... ada di sini?”
Mau tak mau, ada gelombang kekecewaan yang menghantamnya kuat. Pertanyaan sederhana itu membuat Oikawa semakin mengepalkan tangannya. Sakit akibat kuku-kukunya yang menancap di kulit seolah tak terasa dibandingkan pertanyaan yang barusan dilontarkan sang Alpha.
“Orang macam apa yang lari dari soulmate-nya sendiri?” Oikawa memuntahkan pertanyaan itu dengan pahit. “Apa lo pikir gue juga seneng sama takdir ini? Lo dari klan musuh, dan walaupun sekarang kita udah berdamai, belum tentu gue—” Oikawa menghentikan kalimatnya dan menarik napas panjang. Ia berusaha meredakan emosinya yang tiba-tiba terpancing. “Gue ke sini karena kita harus ngambil keputusan. Gue nggak keberatan kalau lo emang mau reject gue sebagai soul—”
Kalimatnya belum selesai. Namun mendadak, seperti ada angin besar yang mendorongnya kuat-kuat ke belakang. Oikawa refleks memejamkan mata saat punggungnya menabrak batang pohon yang kasar. Mulutnya membuka kaget saat tahu-tahu pria itu sudah berdiri sangat dekat di hadapannya. Oikawa tidak menduga sang Alpha akan bergerak secepat itu menghampirinya.
“Apa?” Pertanyaan yang keluar terdengar begitu tajam sampai Oikawa bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. “Barusan kamu bilang apa? Reject? Kamu pikir aku mau reject bond kita?”
Oikawa membuka dan menutup mulutnya dengan bingung. Dari nadanya, pria itu bertanya seolah apa yang Oikawa utarakan sebelumnya sangatlah di luar logis. Netranya menggelap dan ada aura kemarahan yang terpancar sehingga Oikawa secara otomatis melingkarkan sebelah tangan di tubuhnya sendiri sebagai bentuk perlindungan.
Mata sang Alpha mengikuti gerakannya dan rahangnya mengeras sebelum menjauhkan diri dengan mengambil beberapa langkah mundur.
“Aku nggak akan reject bond kita.”
Pernyataan itu terdengar seperti final. Meskipun begitu, Oikawa masih dibuat bingung dengan sikap pria itu.
“Terus kenapa lo kabur barusan?”
“Karena kamu yang jelas-jelas keliatan nggak mau ini semua kejadian.”
Oikawa menggigit bibirnya. Jawaban itu memang tepat sasaran, tapi ia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk memutarbalikkan hukum semesta. Ikatan soulmate adalah mutlak dan walaupun atas persetujuan masing-masing bisa saja dipatahkan, itu hanya akan menimbulkan pandangan buruk dari masyarakat, serta dipercaya hidupnya tak akan lagi diberi keberuntungan oleh Dewa.
Namun jika pria di hadapannya ingin mematahkan ikatan mereka, tentu ia tidak akan menentang.
“Bukannya nggak mau, tapi lo...” Oikawa menelan salivanya dan menegakkan tubuh. “Lo dari klan musuh. Usulan gencatan senjata ini cuma bakal lebih nguntungin klan lo. Jangan dipikir gue nggak paham,” ucapnya tajam— sedikit tak memedulikan fakta bahwa yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seorang Alpha dengan kekuatan yang lebih besar darinya. Rasa kesalnya sebelum berangkat seakan kembali dan Oikawa melampiaskannya mentah-mentah sekarang.
Tetapi pria itu seakan tak terpengaruh atas tuduhan yang dilemparkan Oikawa. Sambil bersedekap dan dengan satu alis yang terangkat tinggi, sang Alpha justru bertanya balik.
“Apa cuma itu alasannya?”
Oikawa lagi-lagi menelan salivanya. Ia kini melarikan tatapannya ke arah lain— tak ingin menatap pria yang meniliknya intens seakan mencari kebenaran di balik jawabannya.
“Y-yang jelas, gue bakalan tetep balik ke klan gue hari ini,” ujar Oikawa setelah beberapa saat terlewati dalam keheningan. “Lo nggak bisa maksa gue.”
Pria itu, seseorang yang Oikawa ketahui sebagai Iwaizumi Hajime, putra dari pemimpin klan yang sejak bertahun-tahun lalu menjadi musuh mereka, mengeraskan tatapannya begitu keputusannya ia lontarkan.
“Oke,” Iwaizumi menjawab dengan oktaf yang direndahkan. Kakinya kembali melangkah sampai menyentuh ujung sepatu Oikawa sehingga ia terpaksa mundur dan punggungnya kembali menyentuh batang pohon.
“Tapi kamu harus inget kalau kita udah jadi soulmate, dan nggak boleh ada orang lain.”
Kalau Oikawa tak dibutakan oleh kebencian terhadap klan pria itu, ia pasti akan menganggap kalimat tersebut sebagai ikrar kepemilikan. Namun sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah kenyataan bahwa semesta lagi-lagi tengah menjatuhinya hukuman.
Dan kali ini pun ia harus menerimanya.
@fakeloveros