Salvation
“Itu gelas ketiga lo.”
Iwaizumi hanya melirik tanpa suara dari balik gelasnya. Pria berambut pirang yang tadi berkata dengan nada kagum itu sudah berpindah posisi sehingga kini benar-benar duduk menghadapnya.
“Ini pelampiasan gara-gara ujian udah selesai apa gimana, bro?” tanya Atsumu seraya menatap Iwaizumi dengan pandangan takjub sekaligus heran. Namun Iwaizumi diam saja dan menenggak minumannya sampai habis. Atsumu bahkan tidak tahu bahwa itu sudah bukan gelas ketiganya lagi. Dirinya sendiri sudah berhenti menghitung.
“Btw, kok lu nggak dateng bareng Oikawa? Gue sengaja nggak ngajak dia karena gue pikir lo pasti bakalan bareng dia,” ucap Atsumu lagi, tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajah Iwaizumi.
Seandainya Atsumu tahu kenapa dirinya memutuskan untuk mabuk berat malam ini.
Iwaizumi pikir, pastilah dia memiliki semacam radar yang bisa merasakan kehadiran seorang Tooru Oikawa di dekatnya karena mendadak ada dorongan yang membuatnya mengangkat wajah tepat saat pria itu baru saja tiba.
Oikawa belum melihatnya. Belum. Pria itu tengah menyapa Ushijima yang sudah terlebih dulu datang tadi dan beberapa anggota voli lainnya. Iwaizumi terus menatapnya seakan memberi sinyal. Ia berharap bahwa Oikawa pada akhirnya akan mengalihkan fokus ke arahnya dan—
dan ketika manik kecokelatan itu akhirnya bergulir ke arahnya, Iwaizumi selalu berharap dirinya memiliki ingatan fotografis sehingga meskipun sedang tidur, ia bisa mengingatnya dengan sangat jelas sekalipun sang pemilik tak berada di dekatnya.
Seperti sekarang.
Iwaizumi meletakkan gelasnya — yang entah sudah keberapa — berbarengan dengan mata Oikawa yang langsung beralih ke arah lain dengan pipi yang bersemu merah. Iwaizumi memiringkan kepalanya dengan sedikit takjub. Apa itu permainan cahaya? Karena kalau iya, Iwaizumi merasa harus memberikan pujian kepada pemilik restoran karena berkat lampunya, rona cantik di wajah pria itu bisa terlihat lebih jelas.
Iwaizumi menggeleng. Tidak. Menurutnya, tanpa bantuan cahaya apa pun Oikawa selalu terlihat sempurna di matanya. Berbeda dengan dirinya yang mungkin memiliki banyak kekurangan di mata pria itu. Mungkin dirinya terlalu pendiam. Mungkin dirinya terlalu pemaksa. Mungkin dirinya terlalu pengecut untuk mendekati pria itu sebagaimana mestinya.
Mungkin juga dirinya terlalu menyukai pria itu sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.
Mendadak, tawaran dari Alisa Haiba terngiang kembali di telinganya. Tentang pesta sialan yang mau tidak mau harus dihadirinya bersama wanita itu. Iwaizumi belum mengatakan pada siapa pun kecuali Takahiro bahwa hubungan kontrak antara dirinya dengan Oikawa telah berakhir secara sepihak. Sekalipun pura-pura, ia belum rela melepaskan Oikawa begitu saja karena bagaimanapun perasaannya terbilang nyata. Seandainya hubungan mereka masih baik-baik saja, ia membayangkan akan mengajak Oikawa pergi ke pesta sialan itu. Setidaknya, ia bisa mengajak pria itu kembali berdansa. Iwaizumi tahu Oikawa suka berdansa. Kalau perlu, setiap hari ia akan mengadakan pesta untuk pria itu apabila mampu.
“Lo udah mabuk, ya?”
Suara Atsumu terdengar untuk kesekian kalinya. Kali ini ada sedikit nada khawatir terselip dalam suara pria itu. Matanya melirik ke arah Oikawa yang duduk di ujung meja, lalu kembali pada dirinya yang masih menenggak segelas alkohol. Ada paham yang melintas sebelum pria itu akhirnya mengedikkan bahu dan bergumam,
“asal lo nggak nyesel aja nanti.”
Iwaizumi mendengus pelan. Atsumu tidak tahu ia sudah terlambat.
Ia sudah menyesali semuanya sejak awal.
“Kayaknya lo harus bawa pacar lo balik sekarang, deh.”
“Eh?”
Oikawa mendongak. Suara Atsumu mendadak masuk ke gendang telinganya dan sukses membawanya kembali dari lamunan. Ia mengikuti kedikkan kepala Atsumu dan mendapati Iwaizumi tengah... tertidur? Kepala pria itu berada di atas meja dan tubuhnya terlihat tidak bergerak sedikit pun selain gerakan naik-turun punggungnya yang menandakan pria itu masih bernapas.
“Dia minum banyak banget tadi. Gue pikir karena akhirnya bisa ngelepas stres habis ujian. Tapi kayaknya...” Atsumu terlihat ragu sesaat. “Ada alasan lain,” lalu dia memandang Oikawa penuh arti.
Tanpa diberi tahu pun, Oikawa paham akan maksudnya.
“Setau gue dia nggak bawa mobil ke sini tadi. Jadi mungkin lo bisa anter dia naik taksi? Lo pasti tau rumahnya, kan?” ujar Atsumu lagi, yang secara refleks dibalas Oikawa dengan sebuah anggukan.
“Oke, nanti gue yang anterin. Makasih ya, Atsumu.”
“Sip. Sama-sama.”
Oikawa menunggu sampai sang setter itu pergi, lalu berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba, tangannya ditahan seseorang.
“Lo mau nganterin dia?”
Pertanyaan Ushijima seolah memiliki makna lain. Oikawa tahu, sungguh aneh bagaimana berhari-hari ia kehilangan kontak dengan pria itu, dan sekarang tiba-tiba harus mengantarnya pulang. Namun mau dalam keadaan apa pun, Oikawa mana mungkin membiarkan Iwaizumi begitu saja.
Jadi itulah jawaban yang diberikannya.
“Iya, lo balik duluan aja. Gue cuma bakal nganterin, terus langsung balik.”
“Ooh...”
Saat pegangan di tangannya mengendur, Oikawa lantas beranjak menghampiri pria yang masih tertidur pulas tersebut. Ini kali kedua dia melihat Iwaizumi mabuk, namun sepertinya yang ini lebih parah.
“Hajim— ehm, Iwaizumi, ayo bangun. Aku anter kamu pulang,” ucap Oikawa seraya menggoyang-goyangkan badan pria itu. Awalnya, Iwaizumi tidak langsung bergerak, namun saat Oikawa memanggilnya sekali lagi, pria itu lantas membuka matanya.
“Tooru...”
Oikawa menelan salivanya. Rasanya seperti sudah lama sekali ia tidak mendengar namanya keluar dari mulut pria itu. Ia masih hapal dengan nadanya. Intonasinya. Semuanya.
“Ayo, Iwaizumi, kamu mabuk banget. Aku anter pulang, ya?” ucapnya sekali lagi, sembari berusaha meredam debaran jantungnya ketika akhirnya bisa berada dalam jarak yang cukup dekat dengan pria itu setelah sekian lama.
Seperti dulu.
“Kamuu? Kamu yang bakal nganterin akuu?” Iwaizumi mengerjap-ngerjapkan matanya. Pria itu akhirnya menegakkan tubuh meskipun ucapannya masih belum terlalu jelas. Oikawa mengangguk, lalu membantu pria itu untuk bangkit.
Entah Iwaizumi benar-benar mengerti maksudnya atau tidak, namun pria itu tidak protes ketika dibantu berdiri. Oikawa mengalungkan sebelah lengan Iwaizumi di sekitar bahunya, lalu setengah menyeret pria itu menuju pintu keluar.
Di depan restoran, ia bertemu Atsumu.
“Oikawa, gue udah manggilin taksi tuh, jadi lo berdua bisa langsung balik.”
“Oh, thanks ya, Atsumu!”
Atsumu hanya mengibaskan tangan, lalu segera membantunya menaikkan Iwaizumi yang setengah sadar dan setengah tertidur ke dalam taksi. Setelah itu, Oikawa menyebutkan alamat apartemen Iwaizumi kepada sang supir, dan langsung saja mereka disambut oleh jalanan malam ibu kota yang sudah lengang.
Oikawa melirik ke arah Iwaizumi yang masih tertidur pulas. Tangannya bergerak menyentuh kepala pria itu dan memosisikannya secara perlahan agar bersandar di bahunya.
Oikawa menghembuskan napas pelan, lalu mengalihkan atensinya ke luar jendela.
Ternyata, ia lebih merindukan pria itu daripada yang diduganya.
Oikawa mengerang keras seraya menjatuhkan Iwaizumi ke atas sofa. Pria itu memang memiliki bobot yang lebih berat darinya sehingga Oikawa bersyukur bisa membawa Iwaizumi pulang dengan selamat.
Sementara Iwaizumi langsung kembali ke alam bawah sadar, Oikawa membuka lemari kecil di bawah TV dan mengeluarkan aspirin. Ia kemudian beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya ia tidak mengunjungi apartemen milik pria itu. Semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah. Bahkan aroma yang memenuhi apartemen itu pun masih sama seperti dalam ingatannya.
Saat dirinya kembali, Oikawa langsung meletakkan gelas dan obat penghilang rasa sakit itu di atas meja. Ia sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya membawa Iwaizumi ke dalam kamarnya ketika tangannya tiba-tiba disentuh pelan.
Oikawa menunduk dan mendapati mata hitam pria itu sudah membuka dan tengah menatapnya sayu.
“Jangan pulang...”
Apa?
“Jangan pulang... temenin aku di sini...”
Awalnya Oikawa hanya mampu tercengang, tetapi ia cepat-cepat menolak dengan sedikit tergagap.
“A-aku... nggak bisa... a-aku harus pulang...” ucapnya lemah.
Iwaizumi menggeleng keras. Pria itu terlihat seperti anak kecil yang mainannya hampir diambil secara paksa. “Nggak boleh!”
“Iwaizumi—”
“Nggak boleh! Jangan pergi! Nanti kamu nggak balik lagi...”
Oikawa menelan salivanya. Ia kehilangan kata-kata.
“Kamu pergi... ninggalin aku... padahal aku... sayang banget sama kamu...”
Mendadak, pria itu bangkit dari tidurnya lalu menarik pinggang Oikawa dengan kedua tangannya. Oikawa terpekik kaget, tetapi bibirnya langsung terkatup rapat saat pria itu melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuhnya. Iwaizumi menenggelamkan wajahnya di perut Oikawa yang masih tertutup oleh jaket, kemudian mulai meracau.
“Kamu tau superpower apa yang pengin banget aku punya? Aku mau... bisa mundurin waktu! Aku mau ngulang ke awal pas kita pertama kali ketemu,” Iwaizumi tiba-tiba tertawa pelan. “Tapi kamu pasti nggak inget kapan kita pertama kali ketemu! Aku... cuma aku yang inget... dan aku langsung suka sama kamu... tapi itu juga pasti kamu nggak tau...” Iwaizumi terkekeh kembali, sedangkan Oikawa yang mendengarkan, merasa bingung dengan ucapan tersebut. Bukankah mereka pertama kali bertemu di lapangan basket? Saat dirinya mengembalikan dompet milik pria itu?
Atau ingatannya yang salah?
“Terus kamu tau apa yang bodoh dari aku?” Iwaizumi mendengus kencang. “Aku nawarin kamu jadi... jadi... pacar bohongan aku! Padahal aku maunya... kita... pacaran beneran, Tooru...”
Oikawa menggigit bibirnya. Tangannya bergerak dengan sedikit ragu ke arah kepala pria itu. Namun pada akhirnya, dia meletakannya di sana dan mulai mengelus rambut pria itu pelan.
“Terus kenapa kamu nggak jujur aja?” tanyanya dalam sebuah bisikan.
“Karena aku pengecut. Aku nggak berani deketin kamu... dengan cara biasa. Aku pikir... kamu bakalan langsung kabur kalau aku deketin... aku harus cari cara... biar kamu bisa deket sama aku secepatnya...terus... terus—”
Well, that makes us two, pikir Oikawa dengan pahit tanpa menghentikan gerakan tangannya.
“Aku juga pengecut. Soalnya aku kabur terus,” balas Oikawa tanpa pikir panjang. Lagi pula, itu memang benar.
Iwaizumi bergumam panjang. Suaranya teredam oleh pakaiannya sehingga yang Oikawa rasakan hanya getarannya. Meskipun begitu, jantungnya justru berdetak semakin kencang.
“Kalau gitu kita bisa jadi... pasangan pengecut, dong?” tanya Iwaizumi, wajahnya didongakkan untuk menatap Oikawa yang pipinya sudah bersemu merah.
Oikawa berdeham beberapa kali sebelum menjawab, “that sounds bad...”
“Terus kita bisa jadi pasangan apa?”
Mata yang menatap Oikawa kelewat polos untuk pertanyaan yang membawa begitu banyak makna. Binar itu terlihat penuh harap sampai Oikawa harus memalingkan wajahnya kalau tidak ingin wajahnya berubah semerah tomat.
“Gimana kalau pasangan dansa?”
“Apa?”
Oikawa menunduk dengan bingung. Kenapa tiba-tiba Iwaizumi bertanya seperti itu?
“Maksudnya apa?” tanya Oikawa sekali lagi.
“Pesta! Minggu depan ada pesta... kamu... kamu mau dateng sama aku?”
Pesta? Apa maksudnya pesta yang sama kayak waktu itu, ya? Oikawa bertanya-tanya dalam hati.
“Nanti kita bisa dansa di sana... kamu suka dansa, kan...” lanjut pria itu, kini kembali memeluknya sekaligus menenggelamkan wajahnya. “Kita bisa dansa... sampai bosen... walaupun aku nggak akan bosen kalau sama kamu, Tooru...”
“Tapi aku bukan...” Oikawa berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. “Aku bukan pacar kontrak kamu lagi...”
“You don't have to.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Iwaizumi terdengar seolah kesadarannya sudah kembali. Lengannya memeluk Oikawa semakin erat dan kepalanya dipalingkan sehingga suaranya bisa terdengar dengan jelas.
“Kamu bisa dateng sebagai orang yang aku... sayang. And you don't even have to like me back. Tapi kalau kamu... beneran nggak mau ketemu aku lagi, you don't have to come and I'll stop.”
Oikawa menahan napas. Gerakan tangannya berhenti dengan sempurna. Ia berusaha mencerna ucapan Iwaizumi baik-baik. Lantas seakan bisa membaca keraguannya, pria itu menegaskan sekali lagi dalam bisikan rendah.
“Kalau kamu nggak suka, aku bakalan berhenti.”
@fakeloveros