Alisa's Plan

Alisa Haiba mungkin wanita paling keras kepala yang pernah ditemui Oikawa.

Oikawa tidak tahu apa yang ingin dibicarakan wanita itu sampai bersikeras untuk datang ke kafe tempatnya bekerja keesokan harinya. Apa Alisa pada akhirnya ingin mengumumkan kedekatannya dengan Iwaizumi? Karena kalau iya-

Ya bukan itu lah, Oikawa mengingatkan dirinya sendiri. Emang lo nggak inget kemaren Iwaizumi udah ngaku apa ke lo?

Setiap mengingat kejadian malam ketika Iwaizumi mabuk dan membuat serentetan pengakuan tak terduga, Oikawa tidak bisa menahan agar pipinya tidak memerah. Rasanya ia sedikit kecewa saat mengetahui bahwa pria itu tidak mengingat apa-apa sama sekali. Kalau begitu haruskah dia ikut mengaku? Tapi bukankah itu hanya akan semakin mempersulit keadaan? Lalu bagaimana dengan Ayah Iwaizumi? Jelas sekali pria paruh baya itu tidak menyetujui hubungan mereka. Ayahnya tentu lebih menginginkan Iwaizumi bersama-

“Aku tau kalian cuma pacaran pura-pura.”

Alisa Haiba meletakkan cangkirnya dengan anggun kemudian menatap Oikawa dari balik bulu matanya yang lentik. Tatapannya penuh arti, namun anehnya tak semenyebalkan ketika mereka pertama kali bertemu ataupun saat di acara spring training waktu itu.

Tetapi tetap saja jantung Oikawa seperti jatuh ke dasar perutnya setelah mendengar ungkapan (atau tuduhan?) tersebut.

“Kata siapa?” Oikawa berusaha menjaga agar intonasinya tetap tenang. Kendatipun begitu, wanita di hadapannya hanya tersenyum simpul seolah dapat mendeteksi kebohongannya.

“Insting cewek. Iwaizumi juga nggak tahu, kok, bukan dia yang bilang. Aku nebak sendiri aja. Jadi bener, kan?”

Oikawa memilih diam seribu bahasa.

“Well, tapi aku ke sini bukan buat maksa kamu soal itu. Aku paham alasan Iwaizumi nyari tameng karena tuntutan Ayahnya. Walaupun aku nggak paham kenapa kalian masih harus pura-pura sedangkan keliatan banget kalau kalian saling suka,” cetus wanita itu panjang lebar. “Or am I wrong?”

Oikawa tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk segera berganti topik.

“Terus ngapain kamu ke sini?”

“Like I said, I want to apologize,” kini Alisa Haiba terlihat lebih serius. Ekspresinya yang biasanya penuh arogansi berganti menjadi ketulusan. “For what I did, waktu kita ketemu di apartemen Iwaizumi. Dia manggil aku ke sana beneran cuma buat nyelesain kerjaan. Tapi dia tiba-tiba pusing banget sampai nyaris jatuh. Aku beneran cuma bantu ngerawat dia sebentar. Trust me, I even considered to call you with his phone.” Alisa menghela napas. Wajahnya terlihat menyesal.

“Dan waktu aku mau ke luar beli obat, kita ketemu, terus… yah, anggap aja itu kebodohan aku karena udah bersikap seenaknya.”

Mungkin Alisa melihat ekspresinya yang tidak berubah. Mungkin juga Alisa merasa pembelaannya tidak cukup meyakinkan sehingga wanita itu buru-buru menambahkan.

“Oke, waktu itu aku beneran mau ngisengin kamu juga, Oikawa! Because you looked… so… sooo funny! You were jealous, but you didn’t want to say it.”

Setidaknya itu tepat sasaran.

“But then Iwaizumi marah besar ke aku. Dia sampai nyuekin aku di kantor! Can you believe that? Dia pikir aku udah ngomong yang macem-macem ke kamu… well, yeah I did, tapi bukan begitu maksudku…” Suaranya semakin melemah dan matanya mengeluarkan binar minta dikasihani. “Jadi aku mau minta maaf… buat kelakuan konyolku waktu itu… you know I never really wanted to steal you fake boyfriend, right? It was just an acting too!”

Sekarang Oikawa yang merasa kepalanya berputar.

“Apa?” tanyanya karena ia yakin salah dengar. “Cuma akting?”

Alisa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Serius! Soalnya aku… juga paham sama apa yang dirasain Iwaizumi. Ayahku sama aja. He forced me to be with someone else, padahal aku udah punya pacar! Oh, not a fake one tapi.”

Oikawa meringis. Kenapa wanita itu hobi sekali mengungkit soal hubungan pura-puranya dengan Iwaizumi? Apakah belum cukup Alisa nyaris menghancurkan hubungan mereka?

“Tapi kalau nggak nurut sama Ayah sekalii aja, dia bakalan lebih maksa. Makanya aku awal-awal akting kayak beneran mau ngerebut Iwaizumi, padahal mah…” Alisa bergidik seakan konsep itu sesuatu yang menggelikan baginya. “He’s not my type, anyway.”

Entah Oikawa harus menghembuskan napas lega atau justru semakin bingung dengan keadaan yang ada. Ia berusaha memproses informasi yang menumpuk di kepalanya sementara Alisa ikut diam seakan memberinya waktu untuk berpikir.

“You know,” setelah beberapa saat dilewati dalam keheningan, wanita itu kembali bersuara. “Aku nggak mungkin dateng ke sini cuma buat minta maaf. I also want to fix things between you two. Karena gimanapun, ini termasuk salahku.”

Oikawa merenungi ucapan wanita yang ada di hadapannya. Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja memaafkan Alisa lalu menganggap semuanya beres. Kemudian Oikawa bisa melanjutkan hidupnya yang monoton dan melelahkan.

Tanpa hubungan pura-pura apa pun. Tanpa Iwaizumi Hajime.

Jangan kabur lo.

Oikawa tersenyum tanpa sadar. Mendadak ia teringat ucapan Matsukawa dan betapa gigihnya pria itu mengingatkannya agar tidak kabur dan untuk sekali coba selesaikan masalahnya. Karena pada akhirnya, Oikawa tidak akan menyesal meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Setidaknya dia sudah berusaha memperbaiki hubungan yang hampir kandas ini dengan Iwaizumi.

“Gimana caranya?”

Alisa mengerjap tak percaya kemudian terpekik senang. Wanita itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan antusias diikuti seulas senyum jahil. Oikawa yakin, seandainya Alisa dipertemukan dengan Matsukawa, mereka berdua pasti akan cocok berteman.

Alisa berdeham, lalu membetulkan posisi duduknya. “So, my genius plan goes like this…”


@fakeloveros