Seven Minutes in Heaven
Kalau harus menyebutkan hal-hal yang disukainya dari mengikuti TM Spring tim voli di kampusnya, maka Oikawa yakin bisa memenuhi empat lembar kertas folio penuh.
Oke, mungkin tidak sebanyak itu, tapi yang jelas, Oikawa tidak pernah menyesal mengikuti kegiatan tahunan di kampusnya ini karena selain diberikan dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan perkuliahan, ia juga diberikan akomodasi yang nyaman secara gratis, makanan yang berlimpah, juga pemandangan yang indah.
Yang terakhir, harus Oikawa akui baru ia dapatkan dari kegiatan tahun ini.
“Lalat bisa masuk tuh kalau lo mangapnya segede itu.”
Oikawa buru-buru mengatupkan mulutnya, lalu melempar pandangan jengkel pada Matsukawa yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya. Temannya bersiul panjang saat ikut memperhatikan pemandangan yang sedari tadi membuat Oikawa tidak beranjak dari tempat duduknya.
“Pacar lo olahraga apaan deh sampai lengannya bisa segede itu? Hampir nyaingin Ushijima malah,” ujar Matsukawa lagi, tanpa menyadari bahwa akibat ucapannya, Oikawa justru merasa semakin tersiksa.
Oikawa merasa tersiksa karena sejak practice match dimulai, Iwaizumi tampil dengan mengenakan kaus tanpa lengan. Oikawa tahu, meskipun ia lebih tinggi beberapa inci, namun Iwaizumi memiliki otot tubuh yang lebih besar darinya, bahu yang lebih lebar, dada yang lebih bidang dan — Oikawa harus menghentikan pikirannya sampai di sini.
Dan sekarang, Iwaizumi memamerkan otot lengannya itu ke seluruh mata yang hadir di sana. Padahal pemandangan seperti ini bukanlah hal yang aneh lagi. Ia bahkan sudah terbiasa melihat anggota tim voli bermain tanpa mengenakan kaus sama sekali, namun entah kenapa pemandangan Iwaizumi yang memperlihatkan kulit sebanyak itu malah membuatnya resah.
Terbukti dari omongan Matsukawa barusan, bukan hanya dirinya yang memperhatikan.
“By the way, anak acara bakal ngadain apa nanti malem?” tanya Matsukawa yang berhasil memecahkan konsentrasinya.
“Rahasia lah,” jawabnya singkat.
“Gue nggak mau, ya, main uji nyali lagi.”
Oikawa mencibir dengan pandangan mengejek. “Payah lo. Yamaguchi aja tahun kemaren berhasil bertahan tuh.
“Dia ditemenin Tsukishima, ya! Gue sendirian!” seru Matsukawa berapi-api.
Oikawa hanya mengibaskan tangannya tanpa mengalihkan tatapan dari dua tim yang tengah bertanding. Tatapannya, terutama, mengarah pada pria berambut spike yang sedari tadi berhasil mencetak skor dengan gemilang dibantu oleh operan dari Atsumu. Siapa sangka kedua orang itu memiliki kerja sama yang cukup bagus?
“Tenang aja, kali ini santai kok permainannya.”
Matsukawa memicingkan matanya curiga. “Siapa kali ini yang ngusulin?”
“Sugawara,” jawab Oikawa seraya menyeringai lebar. Sesuai dugaannya, Matsukawa langsung mengerang dan memegang kepalanya dengan dua tangan.
“Mampus. Makin-makin aja lah itu namanya.”
Oikawa hanya tertawa, mengerti betul dengan kekhawatiran temannya setelah mendengar bahwa Sugawara lah yang mengusulkan permainan utama mereka nanti malam. Pria itu, meskipun dari luar terlihat tenang dan pendiam, sesungguhnya lebih licik dan berbahya dari yang orang-orang kira. Mungkin itulah kenapa Sugawara justru cocok dengan Daichi sebagai satu-satunya yang bisa mengendalikannya. Entah dengan cara apa.
Tatapannya kembali mengarah ke lapangan. Dan untuk sedetik, ia yakin Iwaizumi tengah melihat ke arahnya juga tadi.
Seven minutes in heaven.
Itulah nama permainan yang diciptakan oleh Sugawara untuk mereka malam ini.
Jadi di belakang bangunan penginapan yang mereka tinggali, ada semacam gubuk-gubuk yang diberi sekat dan berisi peralatan berkebun dan bersawah milik warga sekitar. Jumlah gubuknya ada cukup banyak sehingga Sugawara memanfaatkannya untuk permainan mereka hari ini.
Idenya cukup simpel. Setengah dari yang berpartisipasi hanya harus mengambil kertas undian berisi nama pasangan secara acak. Nantinya kedua orang itu harus berada di dalam gubuk selama tujuh menit. Terserah mereka mau membicarakan atau melakukan apa pun.
“Misalnya gue dapet nama Daichi, kalau mau gue bisa aja make out sama dia di dalam sana sampai waktu habis,” jelas Sugawara di hadapan seluruh anggota tim voli dan panitia yang sudah berkumpul. Langsung saja terdengar suara orang yang pura-pura muntah, siulan, tepukan tangan, juga decakan.
Serta Atsumu yang berseru kencang.
“ANJIIRRRR...! TAU GITU GUE NGAJAK KAK KITA BUAT IKUTAN!”
Dan seruannya itu lagi-lagi mengakibatkan dirinya menerima geplakan keras di kepala dari Osamu.
Sugawara menyeringai senang. “Tapi, bayangin misal lo dapet nama orang yang lo nggak suka banget. Tujuh menit itu bakalan berubah jadi neraka, dan bukannya surga.”
“Ya kita tinggal diem-dieman aja nggak, sih...” bisik Matsukawa yang duduk di sebelahnya setelah mendengar pernyataan tersebut. Oikawa hanya mengangguk setuju.
Sugawara sepertinya bisa memperkirakan pemikiran seperti itu karena tidak lama dirinya kembali berujar, “fyi aja, tujuh menit itu lama, lho. Jadi jangan harap dengan nggak saling ngomong pun kalian bakalan fine-fine aja.”
Setelahnya, dilakukan undian pertama untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan memilih pasangannya. Sayangnya nama Oikawa tidak keluar sehingga ia harus pasrah menunggu sampai namanya keluar karena dipilih seseorang. Dari jauh, Oikawa memperhatikan bahwa Iwaizumi mendapat hak untuk menarik undian kedua.
Oikawa menyilangkan dua jarinya di belakang punggung dan berdoa sepenuh hati agar namanya yang keluar saat Iwaizumi menarik undiannya.
Namun semesta pasti tengah membencinya malam itu.
“Iwaizumi dapet...” Sugawara mengambil jeda selama beberapa detik, berdeham, lalu meneriakkan nama yang Oikawa harap justru tidak akan terdengar.
“Alisa Haiba!”
Langsung saja terdengar pekikan kaget dari wanita dengan nama tersebut. Alisa terlihat menutup mulutnya dengan mata yang melebar tidak percaya. Wanita itu kemudian berjalan menghampiri Iwaizumi yang tetap menampilkan ekspresi datar.
Oikawa mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Rasanya ia ingin maju saat itu juga dan memberi jarak sejauh mungkin di antara dua orang itu. Meskipun Iwaizumi terlihat tidak peduli, namun tetap saja Oikawa tidak bisa menghilangkan perasaan jengkel yang mendadak muncul.
“Tampang lo udah kayak mau bunuh orang.”
Kali ini bukan Matsukawa yang berbicara, melainkan Atsumu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana dengan santai dan ada senyum penuh arti yang terukir di wajahnya.
“Maksudnya apa?”
Atsumu terkekeh pelan, lalu berjalan mendekatinya dan merangkulnya. “Lo pikir gue nggak nyadar? Dari hari pertama aja, lo sama Kak Alisa tuh kayak saling punya dendam.”
Oikawa diam. Sengaja tidak ingin memberi jawaban apa pun yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
“Tenang aja, gue nggak akan nanya sebenernya ada masalah apa antara lo berdua. Tapi asumsi gue... ini ada hubungannya sama pacar lo? Soalnya Kak Alisa kayaknya ngebet banget tuh pengin deket-deket sama Iwaizumi dari kemaren.”
Kali ini Oikawa tidak bisa menahan rasa kesalnya yang kembali muncul. Ia mendorong pelan Atsumu sampai rangkulan pria itu terlepas dari bahunya.
“Intinya apa, sih, lo ngomong gitu ke gue?”
Atsumu mengangkat kedua tangannya seperti gestur yang menunjukkan bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam. Pria itu kemudian mendekat kembali, lalu berbisik.
“Gue bisa bantuin lo nanti.”
“Hah? Maksudnya?”
Dengan gerakan penuh dramatisasi, Atsumu menarik secarik kertas kecil dari dalam kantung jaketnya.
“Lo fokus banget tadi ke Iwaizumi sampai nggak denger nama lo sendiri udah dipanggil.”
Dan di situlah — di secarik kertas yang tengah dipegang Atsumu, ada namanya tertulis dengan jelas.
Oikawa mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan tidak sabar seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya berulang kali. Ia sudah mendengar rencana yang diutarakan Atsumu dengan begitu yakin. Namun tetap saja, menanti sendirian di dalam gubuk yang hanya diterangi oleh satu lampu penerangan ternyata malah menambah kegugupannya.
Rencananya sendiri sangat sederhana. Orang yang namanya keluar di undian kedua menjadi yang menunggu di dalam gubuk sampai pasangan mereka datang sesuai aba-aba agar hitungan waktunya pas. Atsumu bilang, ia akan membujuk Sugawara agar membiarkan dirinya dan Iwaizumi bertukar posisi. Dan di bagian itulah Oikawa merasa sedikit ragu. Meskipun Sugawara temannya, apakah pria itu mau membantunya begitu saja?
Namun Atsumu lagi-lagi hanya menepuk pundaknya berulang kali dan mengatakan bahwa dia tidak perlu khawatir. Oikawa hanya perlu menunggu di dalam gubuk yang kecil ini sampai Iwaizumi tiba.
Pasalnya, meski sudah hari ketiga mereka menginap di tempat yang sama, belum ada kesempatan sama sekali untuk membicarakan apa yang perlu dibicarakan. Oikawa sibuk membantu para panitia dan menyusun acara, sedangkan Iwaizumi sibuk ikut berlatih bersama tim voli. Mereka hanya bertemu saat makan, dan itu pun tidak banyak interaksi yang bisa dilakukan.
Jadi menurutnya, hanya ini kesempatan yang mereka punya untuk saling berbicara.
Tok Tok
Oikawa terlonjak kaget saat ada suara ketukan terdengar di pintu gubuknya. Ia pun mendekat ke arah pintu dan menempelkan telinganya untuk mendengar dengan lebih jelas.
“Hajime...?” bisiknya agak kencang, berharap bahwa pria itulah yang benar-benar datang ke tempatnya.
Untuk sesaat, tidak ada yang menjawab. Oikawa baru akan memanggil sekali lagi ketika ada suara bariton pria yang menyahut dari balik pintu.
“Tooru, ini aku.”
Ada kelegaan luar biasa yang menghampirinya saat suara familier itu terdengar. Perlahan, Oikawa pun membuka pintu gubuk dan membiarkan Iwaizumi masuk ke dalam.
Iwaizumi menyapu sekilas pemandangan di dalam isi gubuk tersebut, kemudian menoleh ke arahnya.
“Fancy.”
Oikawa terkekeh, tidak menyangka Iwaizumi bisa memberikan komentar playful seperti itu. Pria itu masih terlihat letih seperti bagaimana pertama kali Oikawa mendapati keadaannya di dalam bus, namun setidaknya, Iwaizumi sudah terlihat lebih hidup dan bertenaga sekarang.
“Gimana Atsumu bisa bujuk Sugawara?” tanya Oikawa penasaran. Tentu temannya itu tidak langsung mengiyakan, bukan?
“Kamu bisa tanya soal itu ke Atsumu langsung nanti. Tapi sekarang,” Iwaizumi mendekatinya beberapa langkah sampai mereka benar-benar berdiri berhadapan. “Aku harus minta maaf dulu ke kamu.”
Oikawa menelan salivanya susah payah, dan bersiap mendengarkan.
“Maaf karena aku waktu itu udah bawa-bawa nama Ushijima tanpa alasan. Aku tahu kalian berdua termasuk temen deket. I know he cares for you, dan kamu pun begitu ke dia. Harusnya nggak ada alasan buat aku jadi... cemburu.”
Oikawa yakin, mulutnya sudah terbuka sekarang seperti bagaimana tadi pagi ia disindir Matsukawa saat melihat Iwaizumi berlatih dengan kaus yang lebih terbuka.
Namun apakah ia tidak salah dengar? Iwaizumi cemburu?
“Kamu... cemburu?” Oikawa bertanya seperti orang bodoh. “Kenapa?”
“Kamu inget dulu pas awal-awal pertemuan kita, aku pernah bilang sesuatu soal salah satu sifatku?”
Oikawa berpikir keras, berusaha mengingat-ingat percakapan mengenai sifat Iwaizumi dari sekian banyak yang telah mereka lakukan. Namun ia tidak ingat sama sekali dan akhirnya menggeleng sambil menatap pria di hadapannya dengan bingung.
“Aku pernah bilang ke kamu... kalau aku agak overprotective orangnya?” Iwaizumi pun membantunya dengan menjawab langsung, tetapi jawaban pria itu terdengar seperti pertanyaan untuk memastikan.
“Oh.” Sekarang Oikawa ingat. “Jadi... kamu... ke aku... m-maksudku...” Oikawa membuka dan menutup mulutnya berulang kali. Tidak yakin bagaimana harus melanjutkan.
“Aku tau hubungan kita cuma pura-pura, tapi aku tetep anggap hubungan ini sebagai yang pertama buat aku. Makanya tanpa sadar, aku bersikap kayak gitu. I acted as if you were my real boyfriend.”
“Hah? Pertama?!” Dari rentetan kalimat sepanjang itu, fakta bahwa Iwaizumi tidak pernah berpacaran sebelumnya lah yang justru menarik perhatiannya. Kali ini Oikawa benar-benar tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Ini maksudnya kamu... nggak pernah pacaran sebelumnya??” Oikawa bertanya memastikan.
Iwaizumi tersenyum kecil. Pria itu menelengkan kepalanya ke satu sisi. “Kamu pernah bilang mantanku pasti ada banyak, padahal pacaran aja aku belum pernah.”
Oikawa masih tercengang. Rasanya sulit dipercaya bahwa pria seperti Hajime Iwaizumi tidak pernah memiliki pacar sama sekali sebelumnya.
“Kamu bohong, ya?” tuduhnya impulsif.
“Ngapain aku bohong?”
“Tapi kalau orang yang disuka ada, kan?”
“Ada.”
Oikawa lagi-lagi dibuat terkejut oleh jawaban pria itu. “Siapa?” tanyanya refleks.
Iwaizumi tidak menjawab, dan hanya menatapnya lama.
“Kamu nggak bilang ke orang itu kalau kamu suka sama dia? Kalau bilang, kan, kita nggak perlu...” Oikawa menghentikan ocehannya sendiri. Tiba-tiba tersadar akan makna di balik ucapannya.
Dan kini ia dilanda kebingungan.
“Aku nggak bilang karena... aku punya firasat orang itu bakalan kabur kalau aku bilang suka sama dia,” Iwaizumi menjawab pelan. Ada senyum yang kembali terulas, namun di mata Oikawa, senyuman itu terlihat sedih.
“Kenapa?”
“Karena aku nggak sesempurna yang orang-orang sering bilang. I have too many flaws. Dan aku pikir, perasaanku ke orang itu cuma bakal jadi beban buat dia.”
“You don't know that,” balas Oikawa halus. “Kamu nggak akan tau sebelum bilang langsung ke orang itu, kan.”
“Mungkin nanti aku bakal bilang ke dia. Tapi aku bakal nunggu sampai orang itu juga suka sama aku. Call me selfish, but I don't think I can face a rejection from him,” ucap Iwaizumi sambil tertawa rendah. “Aku udah sesuka itu sama dia, tapi terlalu pengecut buat bilang karena takut ditolak. See? That's one of my flaws.”
Oikawa menggeleng pelan. “Semua orang punya kelemahannya masing-masing. Tapi nggak seharusnya kelemahan diri sendiri kamu jadiin tolak ukur atas sikap orang lain. Bisa aja yang ada di pikiran orang lain beda, kan?”
Iwaizumi tersenyum, dan hanya memandangnya lekat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Oikawa baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan Sugawara dari luar.
“Waktunya tiga menit lagi ya, guys!”
Oikawa bahkan tidak sadar waktu sudah berlalu sebanyak itu. Benar kata sugawara — tujuh menit ternyata cukup lama.
“Aku masih utang satu permintaan maaf lagi.”
Oikawa menoleh, dan mendapati Iwaizumi tengah memandanganya dengan serius.
“Tentang ciuman waktu itu... I know it's not a big deal for you. But I'll still feel like a jerk if I have to kiss you when I know you don't like me in a romantic way.”
Oikawa ingin membantah, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Jadi... menurutku, kita nggak harus bertindak sejauh itu buat meyakinkan orang-orang. Dan aku cuma bakal cium kamu kalau kamu sendiri yang minta.”
“Kalau aku yang... minta?” Oikawa bertanya pelan — memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi tidak salah.
Iwaizumi mengangguk. “Kalau kamu yang minta atau yang mulai duluan, aku nggak bakal nolak. Tapi selebihnya... I won't kiss you until then.”
Oikawa tidak yakin harus memberikan respons seperti apa. Namun karena Iwaizumi terlihat dan terdengar begitu yakin, Oikawa pun hanya sanggup menyanggupi.
Untuk sekarang.
“Oke,” jawabnya tak beberapa lama.
“Satu menit lagi ya!!” Teriakan Sugawara kembali terdengar dari luar. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
“Iwaizumi, a-aku juga mau minta maaf...” Oikawa buru-buru mengucapkannya sebelum keberaniannya menghilang. “Maaf kalau aku... udah bersifat kekanak-kanakkan dengan kabur atau diemin kamu terus. Padahal aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma... cuma...” lagi bingung aja sama perasaanku sendiri, dan sekarang aku tambah bingung karena ternyata kamu udah punya orang yang disuka.
“Nggak apa-apa,” Iwaizumi segera memotong, seolah paham bahwa Oikawa sangat sulit mengutarakan maksudnya. “I know it won't be easy for both of us. Tapi lain kali, mungkin kalau ada yang ngeganjal di antara kita, bisa langsung diomongin aja biar nggak ada salah paham lagi.”
Oikawa menelan salivanya, dan mengangguk. “Noted.”
Oikawa tahu waktu yang mereka punya kini tinggal hitungan detik, namun rasanya ia tidak bisa beranjak dari sana seakan ada paku yang menancapkan kakinya di tanah.
“Do you mind if we hug? Anggap aja tanda kalau kita udah baikan,” ucap Iwaizumi dengan senyum ragunya yang justru terlihat menggemaskan di mata Oikawa. Tetapi ia buru-buru menggeleng untuk menghilangkan pikiran tersebut.
“Oh? Oke, nggak apa-apa kalau kamu nggak—”
Oikawa tahu ia tidak punya waktu untuk menjelaskan bahwa gelengan tadi bukan ditujukan untuk Iwaizumi. Jadi ia langsung maju dan menghilangkan jarak di antara mereka. Lengannya melingkar erat di pinggang Iwaizumi seakan itu terakhir kalinya mereka akan bertemu.
Dan saat lengan Iwaizumi menyambutnya dengan sama eratnya, saat wangi bergamot yang familier itu kembali memenuhi indra penciumannya, Oikawa tahu ada perasaannya untuk pria itu yang mulai berubah.
@fakeloveros