Self Control
Trigger Warnings: dry humping, penetrative sex, male orgasm, kinda vanilla-ish
Read at your own risk!
Miya Atsumu biasanya pandai mengontrol diri.
Ia bukan pribadi yang meledak-ledak dan suka menumpahkan amarahnya tanpa alasan yang konkret. Ia juga bukan seseorang yang mudah termakan bujuk rayu — baik itu dalam bisnis maupun hal lainnya.
Sayangnya, lainnya ini ternyata masih memiliki pengecualian.
Pengecualian dalam sosok bernama Kita Shinsuke dan keahliannya dalam meruntuhkan pertahanan Atsumu yang — kalau kata orang — sekuat baja.
Mereka belum saja bertemu Shinsuke.
Atsumu berpikir begitu di tengah-tengah usahanya dalam meredam hasratnya sendiri yang sudah kepalang berada di ujung tanduk karena ulah suaminya.
Ada hembusan napas hangat yang menyapu lehernya diikuti suara tawa rendah milik pria yang tengah menjamah lehernya semenjak beberapa menit yang lalu.
“Kenapa tutup mata?” tanya Shinsuke dalam bisikan yang langsung membangkitkan birahinya. Bukan berarti dari tadi birahinya belum naik. Shinsuke sendiri sudah melancarkan aksinya semenjak pria itu naik ke pangkuannya dan sesekali menggesek-gesekkan bagian tubuh bawah mereka sampai Atsumu mengerang kenikmatan.
“Kamu— ah, shit,” Atsumu mengumpat pelan saat Shinsuke menggoyang pinggulnya lagi, kali ini sengaja menekan bagian bawah tubuhnya dengan lebih keras.
Atsumu bahkan langsung lupa tadi ia ingin mengatakan apa.
Padahal niatan Shinsuke datang ke kantornya adalah ingin mengajak makan siang seperti biasa. Namun karena pekerjaan Atsumu yang menumpuk hari itu, ia mengusulkan untuk makan di dalam ruangannya. Lagi pula, Atsumu ada rapat penting setelah ini. Tetapi entah alasan makan siang itu benar adanya atau hanya alibi semata bagi yang lebih tua agar bisa melancarkan serangan tiba-tiba seperti ini.
Bukannya Atsumu mengeluh atau apa. Rasa laparnya bahkan langsung terlupakan begitu Shinsuke meninggalkan sejenak lehernya dan kembali naik untuk memagut bibirnya dalam ciuman yang melibatkan lidah mereka. Tanpa aba-aba. Dalam. Penuh intensitas. Dan sangat memabukkan.
Shinsuke memang selalu memabukkan bagi dirinya.
Kata Osamu, ia seperti sudah terikat di jari tangan Shinsuke dan rela melakukan apa pun untuk pria itu. Atsumu langsung menyanggahnya waktu itu hanya demi membuat saudara kembarnya diam.
Namun Shinsuke kini memiliki kontrol penuh atas dirinya, padahal ia sudah berkomitmen bahwa kantor merupakan tempat di mana ia harus menjaga profesionalitasnya — tidak peduli sedang berhadapan dengan teman atau anggota keluarga. Bantahannya pun terasa seperti omong kosong belaka sehingga Atsumu harus mengakui perkataan Osamu ada benarnya.
Shinsuke seperti kryptonite bagi dirinya.
Kelemahannya satu-satunya yang dapat mengalahkan segala kontrol dirinya, tak peduli sekuat apa pun Atsumu berusaha berpikir jernih. Segala topeng yang dipasangnya di hadapan orang-orang dengan jabatan yang sama tinggi, langsung luntur sehingga meninggalkan dirinya dalam kondisi tak berdaya di hadapan pria itu.
Tapi Shinsuke juga adalah oksigennya.
Kita Shinsuke mampu membuat dirinya bernapas lebih mudah di antara segala kepenatan dari lingkungan kerja yang senantiasa menuntutnya bersikap tanpa cela — Miya Atsumu yang sempurna. Shinsuke menguatkannya dan membuatnya berpikir bahwa, Tuhan, biarkan dia hidup selamanya asalkan ada Shinsuke yang selalu berada di sampingnya.
Shinsuke adalah segala dari yang bisa ia deskripsikan karena pria itu terlalu sempurna bagi dirinya untuk digambarkan melalui kata-kata.
“Atsumu?”
Shinsuke melepaskan ciuman mereka dan ganti berbisik menggoda di telinganya sebelum menjilat dan mengulumnya sampai Atsumu menggeram pelan.
“Apa?” Atsumu bertanya dengan suara tertahan sambil mencengkeram pinggang ramping suaminya yang belum juga berhenti bergerak. Sepertinya lama-lama ia bisa jadi gila sendiri.
“Fuck me.”
Ya. Shinsuke memang bermaksud membuat dirinya jadi gila.
“Aku ada rapat habis ini...”
Alasan itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.
“Hmm...” Shinsuke kembali mencium bibirnya sambil menggoyang pinggulnya dengan lebih keras — bermaksud menggoda Atsumu sampai yang lebih muda itu tanpa sadar ikut menggerakkan bagian tubuh bawahnya untuk mengejar friksi.
“Sayang banget.”
Namun kata-kata Shinsuke berlawanan dengan aksinya karena pria itu malah menjulurkan tangannya ke bawah dan menyentuh bagian bawah tubuh Atsumu yang sudah menegang sejak awal. Shinsuke menyeringai penuh kemenangan saat Atsumu mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya penuh kenikmatan.
“Shinsuke—“
“Kamu yakin bisa rapat dalam kondisi begini?”
Sungguh pertanyaan yang mematikan karena Atsumu tahu persis apa jawabannya.
“Kata kamu itu rapat penting. Jadi bukannya kamu harus… hmm, apa sebutannya? Tampil prima?” ucap Shinsuke serayal memijat lembut kemaluan suaminya yang semakin mengeras di bawah sentuhannya. Ia tahu, Atsumu tidak akan bisa mengatakan tidak setelah ini.
Dan memang benar. Atsumu mana mungkin mengatakan tidak pada godaan yang lebih menggiurkan dibandingkan segala jenis kenikmatan yang ada di dunia.
“Fuck.”
Dengan keluarnya umpatan itu dari mulut Atsumu, Shinsuke tahu dirinya berhasil membujuk suaminya. Kontrol yang tadi dipegangnya, kini sudah berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi milik pria itu sepenuhnya. Namun dengan senang hati Shinsuke membalas ciuman Atsumu yang kini intensitasnya menjadi lebih familier. Pria itu selalu menciumnya dengan intensitas yang sama setiap kali mereka bercinta di atas ranjang. Dan Shinsuke tidak pernah bosan karena setiap sentuhan Atsumu selalu membangkitkan api yang orang-orang tidak ketahui ada di dalam dirinya.
Mereka bercumbu selama beberapa saat, sebelum Atsumu menyapukan bibirnya yang basah di sepanjang rahang dan leher Shinsuke. Tangannya pun sibuk membuka satu per satu kancing kemeja yang lebih tua. Shinsuke mendesah pelan dan mempercepat gerakannya di bawah sana sampai ia bisa merasakan sendiri celananya yang semakin basah dan sesak.
Atsumu tidak melepaskan kemeja Shinsuke sepenuhnya dan hanya membuka semua kancingnya agar tubuh mulus suaminya itu bisa ia sentuh sepuas hati. Tanpa ragu, Atsumu langsung menjilat dan mengulum kedua titik coklat yang sudah mengeras di bawah sentuhannya seperti orang yang kelaparan. Shinsuke tercekat dan memejamkan matanya rapat-rapat seraya meremas rambut Atsumu yang semakin berantakan di tangannya.
Kenikmatan yang bertubi itu membuat Shinsuke menarik wajah Atsumu kembali agar mereka bisa melanjutkan sesi ciuman yang sempat terhenti sementara tangan Atsumu sibuk menggerayangi tubuhnya sampai ke bagian bawah Shinsuke yang masih tertutupi oleh celana.
Shinsuke tidak sengaja menggigit bibir bawah Atsumu saat tangan pria itu langsung meremas kemaluannya dan membuatnya melenguhkan nama prianya keras-keras. Tubuhnya terasa semakin panas, padahal ruangan Atsumu memiliki pendingin udara yang pada hari-hari biasa selalu membuatnya menggigil kedinginan.
“Stop teasing,” ucap Shinsuke dengan sedikit merajuk sambil menggerak-gerakkan pinggulnya penuh frustrasi.
“Hurry up and fuck me,” lanjutnya lagi sebelum menggigit bibirnya untuk menahan erangannya.
Manik mata Atsumu berubah semakin gelap saat mendengar pria di atasnya mengatakan sesuatu yang benar-benar memutus ikatan kontrol dirinya yang terakhir. Padahal tadinya ia ingin menahan dirinya lebih lama, namun salahkan Shinsuke dengan wajahnya yang menggoda, tubuh halusnya yang menghantarkan panas dan desahannya yang membuat Atsumu semakin tidak tahan.
Atsumu mengangkat pinggang Shinsuke untuk memberi kode bahwa kini harus ada helaian kain selanjutnya yang dilepas. Shinsuke langsung berdiri dan melepas kemeja serta seluruh celananya dalam kecepatan yang patut diacungi jempol. Atsumu yang juga sudah menanggalkan seluruh pakaiannya, menunggu dengan sabar meskipun tangannya gatal ingin segera menarik pria itu kembali ke pangkuannya.
Atsumu meraihnya kembali dan Shinsuke langsung terduduk di pangkuan pria itu. Keduanya sama-sama mengerang saat bagian bawah tubuh mereka yang sudah menegang bersentuhan. Di titik ini, Shinsuke bahkan tidak keberatan seandainya Atsumu langsung memasuki dan memenuhi dirinya sampai ia merasa puas.
Atsumu seolah dapat membaca pikirannya karena pria itu langsung mengambil inisiatif untuk menggerakan tubuh mereka bersama-sama. Gesekan itu membuat precum yang dikeluarkan di antara mereka semakin banyak.
Shinsuke memeluk leher Atsumu begitu erat. Napasnya ikut tersengal selagi pria itu mencengkeram pinggangnya lebih kencang dan mempercepat gerakan mereka. Ada setitik air mata yang sudah berada di ujung matanya karena rasa nikmat dan frustrasi itu bergabung jadi satu. Rasanya ia bisa benar-benar menangis seandainya Atsumu tidak cepat-cepat memenuhi keinginannya.
“I don't— I don't have a lube,” ucap Atsumu dengan napas yang sama terengahnya. Matanya terlalu digelapkan oleh nafsu sampai melupakan fakta bahwa ia tidak menyimpan benda seperti itu di dalam ruangan kantornya.
Shinsuke tidak mampu menjawab karena tangan Atsumu sudah berpindah menuju bokongnya untuk diremas kuat-kuat. Atsumu menolehkan wajahnya agar ia bisa dapat mencium kembali bibir Shinsuke yang sudah memerah dan membengkak. Namun perhatiannya teralihkan sedikit saat Shinsuke menepuk bahunya lemah.
“Di… kantung celana aku… ada...”
Atsumu berhenti dan menatap suaminya selama sepersekian detik.
“Jadi ini rencana makan siang kita? Hmm...” Atsumu tersenyum dan mengecup pelipis Shinsuke ringan sementara dirinya berusaha menggapai celana Shinsuke yang tersampir di atas sofa. Saat menemukan botol kecil yang sudah familier tersebut, senyum Atsumu semakin melebar.
Jelas sekali kalau ini sudah direncakan.
“Cepetan...” Shinsuke hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Atsumu — tidak berani memperlihatkan wajahnya yang sudah memerah akibat campuran panas tubuhnya yang semakin naik, juga rasa malu karena niatnya sedari awal langsung ketahuan.
Atsumu tidak mengatakan apa-apa lagi — meskipun masih ada senyum kecil yang bermain di wajahnya — dan langsung melumuri jarinya dengan cairan tersebut. Setelah dirasa cukup licin, ia meremas bokong Shinsuke sekali lagi, lalu langsung memasukkan dua jari yang langsung disambut oleh hangat pria itu.
Shinsuke memekik pelan dan meremas bahu Atsumu sampai meninggalkan bekas. Tidak lama, Shinsuke langsung melenguh panjang dan refleks menggerakkan pinggulnya mengikuti jari-jari Atsumu yang bergerak pelan di dalam dirinya.
“Tsumu...“
Atsumu suka setiap kali Shinsuke mendesahkan namanya. Itu akan selalu menjadi melodi terindah yang takkan pernah membuatnya bosan.
Atsumu melingkarkan salah satu lengannya di pinggang Shinsuke untuk menahan gerakan pria itu dan dengan jari-jarinya yang masih berada di dalam, ia berusaha mencari titik yang bisa membuat suaminya itu meneriakkan namanya lebih kencang. Tidak membutuhkan waktu lama sampai keinginannya terkabul karena ia sudah paham betul bagian mana saja yang bisa memberikan kenikmatan bertubi-tubi pada tubuh Shinsuke.
“Atsumu— ah—”
Tidak butuh persiapan yang lebih lama karena Shinsuke pun sebetulnya sudah siap sedari tadi. Hanya saja, Atsumu tetap tidak ingin menyakitinya karena hanya kenikmatan lah yang ingin ia berikan pada orang yang paling disayanginya itu.
Maka, ketika akhirnya Atsumu mengarahkan miliknya dan mereka bersatu dengan sempurna, namanya dilafalkan panjang dalam intonasi yang begitu disukai Atsumu setiap kali mereka bercinta. Tidak ada lagi yang menahan mereka kali ini. Semua kontrol telah dilepaskan dan nafsu naluriah lah yang memimpin gerakan-gerakan mereka untuk mengejar puncaknya masing-masing.
Pendingin udara benar-benar tidak ada efeknya bagi tubuh mereka yang semakin berkeringat dan menempel satu sama lain. Napas hangat mereka kian bersatu selagi Atsumu mempercepat gerakannya. Suara-suara penuh seks memenuhi ruangan tersebut dan Atsumu sudah tidak peduli lagi bahkan seandainya ada yang mendengar mereka dari luar.
Yang ia inginkan hanyalah mengejar kenikmatan itu bersama Shinsuke yang ada di rengkuhannya.
“Fa— faster...“
Peduli setan dengan kontrol diri. Ia seolah berubah menjadi boneka marionet dengan Shinsuke yang memegang kendali penuh atas dirinya.
Atsumu menuruti pria itu dan dengan alis yang bertaut penuh konsentrasi, mempercepat gerakannya sampai Shinsuke memekik kencang. Tidak ada yang mengetahui hal ini, namun dalam hubungan mereka, memang Shinsuke lah yang lebih vokal. Dan Atsumu selalu menemukan kepuasan tersendiri setiap kali dia bisa membuat pria yang terkenal pendiam itu ikut kehilangan kontrol dalam aktivitas panas mereka.
“A— Aku hampir...“
Atsumu meraih rahang Shinsuke dan mempertemukan bibir mereka dalam ciuman basah yang berantakan, sementara gerakannya semakin frantik dan tak terkontrol. Ia tidak perlu mengatakan bahwa dirinya juga sudah sangat dekat karena Shinsuke pun langsung paham dan ikut menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang sama.
Tahu apa orang-orang yang mengenalnya hanya dari luar. Mereka hanya tahu sosok Miya Atsumu yang tenang dan selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya. Tidak ada satu pun yang akan terlewat darinya jika itu sudah menyangkut masalah kedisiplinan maupun kontrol diri.
Ah, kata itu lagi.
Mereka benar-benar tidak tahu bahwa kontrol diri tidak ada di dalam kamusnya jika sudah menyangkut Kita Shinsuke.
Ia akan mengabulkan, sekalipun Shinsuke meminta bulan.
Kedua tungkai kaki Shinsuke bergetar hebat saat pelepasan itu diraihnya. Atsumu bisa merasakan bagian dalam tubuh Shinsuke yang hangat dan lembap itu menghisap dirinya dengan kuat sebelum ia memperdalam gerakannya selama sepersekian detik dan ikut terhempas ke atas kenikmatan yang sama.
Hanya suara napas mereka yang terengah-engah memenuhu ruangan tersebut. Atsumu menggerakkan tangannya dan mulai membuat pola abstrak di punggung Shinsuke yang sedikit berkeringat. Ia mencium bahu telanjang Shinsuke penuh sayang sementara yang lebih tua itu masih berusaha mengumpulkan oksigen di antara ceruk leher Atsumu.
Atsumu melirik ke arah jam dinding dan mendapati bahwa rapatnya akan dimulai lima belas menit lagi.
“Aku beneran ada rapat habis ini,” bisik Atsumu di telinga Shinsuke dengan lembut.
Suaminya hanya terkekeh pelan, lantas mengangkat wajahnya yang — walaupun bermandikan peluh — namun terlihat sangat tampan dan bahagia.
“Sayang banget,” balas Shinsuke — mengulangi kalimat yang diucapkannya di awal tadi.
“Jangan,” Atsumu memperingati pria itu diikuti gelengan singkat. Tangannya kini berpindah ke atas dan sedikit merapikan poni Shinsuke yang jatuh berantakan.
“Kan kamu CEO-nya. Kamu bisa ubah jadwalnya semau kamu, dong,” ucap Shinsuke sembari menyentuh dadanya dengan gerakan sehalus kapas.
Atsumu meraih tangan Shinsuke dan mengecup satu per satu ujung jarinya dengan lembut.
“And what should I say? That I want to fuck my husband?”
“Hmm, boleh juga.”
Atsumu menggelengkan kepalanya, namun senyum yang terbit di wajahnya penuh afeksi untuk suaminya itu.
“You're unbelievable.”
“But you love me.”
“I do,” Atsumu menjawab cepat. Ia bahkan tidak perlu berpikir untuk membalas kalimat yang satu itu. “I do love you.”
“Kalau gitu, rapatnya dicepetin aja hari ini biar kamu bisa pulang lebih awal.”
Shinsuke menggerakkan pinggulnya sekali dan berhasil membuat Atsumu tersentak karena ia hampir lupa kalau dirinya masih berada di dalam pria itu.
“Terus kita… bisa lanjutin ini.“
Maka kuasa apa yang dimiliki Atsumu untuk menolak permintaan tersebut?
@fakeloveros