Birthday

Pagi itu Oikawa terbangun akibat ketukan berkali-kali yang terdengar di pintu kamarnya. Oikawa mengerang dan berusaha mengenyahkan suara itu dari kepalanya dengan menarik selimutnya sampai menutupi sekujur tubuh. Namun beberapa menit kemudian, ketukan itu tetap terdengar.

“Kalau lo nggak bangun juga, hadiahnya nggak bakal gue kasih.”

Ucapan yang — walaupun teredam — terdengar di balik pintu itu langsung membangunkan Oikawa dan membuatnya sadar akan sesuatu.

Ini hari ulang tahunnya.

Sambil tersenyum lebar, Oikawa cepat-cepat bangkit lalu berjalan menuju pintu dan membuka dengan sangat keras. Tetapi satu setengah tahun tinggal bersama Oikawa sepertinya sudah cukup membuat Ushijima terbiasa karena pria itu tidak terlihat terkejut sama sekali.

Sebelum Ushijima membuka mulut dan mengucapkan sesuatu, Oikawa mendahuluinya terlebih dulu.

“Mana kadonya?”

Yang ditagih hanya berdecak kesal dan memukul kepala Oikawa pelan seraya memutar kedua bola matanya.

“Emang buat lo ucapan tuh nggak penting, ya?”

Oikawa mencibir sambil memperhatikan kotak yang dipegang Ushijima dengan mata berbinar. “Nggak perlu. Ucapan ulang tahun cuma ngingetin kalau gue udah tambah tua sekarang.”

Ushijima menghela napas, meskipun ada seulas senyum di wajahnya saat menyerahkan hadiah kepada roommate-nya itu.

“Still. Happy birthday.”

“Hehe, makasih.” Oikawa baru akan meraih hadiahnya ketika tiba-tiba Ushijima menariknya kembali. “Hadiahnya dibuka nanti malem aja. Kan kita mau makan-makan.”

“Ooh...” Mendengar kata nanti malam entah kenapa langsung membuat perut Oikawa bergejolak. Ia jadi diingatkan bahwa nanti di kampus harus bertemu seseorang dan mengatakan sesuatu yang penting.

Ushijima sepertinya menyadari perubahan ekspresi pada temannya itu, namun ia memutuskan untuk tidak bertanya sekarang dan memilih mengalihkan ke topik lain. “Nih, taro dulu, habis itu lo makan. Gue udah buatin sarapan khusus buat yang lagi ulang tahun,” ucapnya sambil meletakkan kotak hadiahnya di tangan Oikawa. Sepertinya pengalihan topik tersebut berhasil karena senyum yang tadi sempat hilang, kini muncul kembali di wajah Oikawa.

“Roger!”

Dan untuk sementara, Oikawa pun tidak ingin diingatkan akan keputusan yang sebentar lagi harus ia utarakan.


“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Hari ini ulang tahun Oikawa sayang, so I'll always love you, baby~!”

“Orang gila,” ucap Oikawa sembari mendorong wajah Matsukawa jauh-jauh darinya. Temannya itu sedari tadi sudah berteriak-teriak heboh dan kini sedang berusaha mencium pipinya. Dengan refleksnya yang teramat bagus, Oikawa lantas menghindari serangan pria itu.

“Woy, lo ulang tahun setahun sekali! Masa nggak mau gue cium?!” protes Matsukawa setelah usahanya yang kesekian kali digagalkan. Sekarang Oikawa kabur ke belakang Daichi untuk meminta perlindungan dari pria yang memiliki fisik lebih besar itu. Kuroo dan Sugawara yang sedari tadi memperhatikan hanya menggelengkan kepala mereka.

“Ogah! Gue maunya kado! Bukan bibir lo!”

“Ini kado dari gue!”

“Dasar nggak modal!”

Matsukawa akhirnya berhenti dan dengan wajah (sok) sedih, menghempaskan dirinya di kursi terdekat. Kelas pertama mereka baru akan dimulai 15 menit lagi, dan untungnya, belum terlalu banyak teman-temannya yang datang. Namun beberapa sudah memberinya selamat, dan hanya dibalasnya dengan ucapan terima kasih singkat.

Perutnya kembali bergejolak tidak nyaman karena waktu yang terus berjalan. Ia bahkan merasa hari ini berjalan terlalu cepat, sedangkan yang diharapkan justru sebaliknya.

Setelah memastikan Matsukawa tidak akan berbuat aneh-aneh lagi, Oikawa keluar dari persembunyiannya (punggung Daichi), lalu mengambil tempat di sebelah Kuroo. Temannya yang satu itu pun tadi hanya mengucapkan HBD singkat diikuti nanti hadiahnya gue kirim langsung aja ya, ke rumah lo.

Tidak disangka, tiba-tiba Kuroo bertanya,

“Iwaizumi udah ngucapin belum?”

Oikawa langsung menghentikan gerakannya. Tetapi belum sempat ia menjawab, Matsukawa langsung berputar menghadap Kuroo dan menatap pria itu aneh.

“Ya pasti udah, dong! Kan tuh orang pacarnya!”

Kuroo mengedikkan bahunya. “Kenma pernah hampir lupa sama ulang tahun gue, terus dia baru ngucapin jam 9 malem.”

Setelahnya, kedua orang itu terlibat dalam diskusi tidak penting yang samar-samar terdengar seperti, apakah seorang pacar wajib mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali? Namun tidak ada satu pun yang masuk ke telinga Oikawa karena ia sendiri baru tersadar akan satu hal.

Iwaizumi belum mengucapinya selamat ulang tahun.

Tangannya gatal ingin segera meraih handphone-nya dan bertanya apa pria itu datang ke kampus. Ia tidak mau kejadian minggu lalu terulang. Namun kali ini, Oikawa berusaha percaya bahwa apa pun yang terjadi pria itu pasti akan datang.

Karena ini hari ulang tahunnya.

Karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya.

“Hajime belum ngucapin, kok.”

Oikawa mengatakannya dengan santai sembari mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas. Dan pernyataan itu sukses mendiamkan kedua temannya yang masih terlibat dalam diskusi panas.

Tapi Oikawa tidak peduli. Lagi pula, baginya ucapan ulang tahun tidaklah penting, sekalipun Iwaizumi yang mengatakannya.


“Temen-temen, kisi-kisi materi ujian hari pertama gue taro di grup kelas, ya!”

Oikawa tengah sibuk membereskan barang-barangnya ketika teriakan dari ketua kelasnya terdengar. Suasana kelas cukup berisik setelah kelas terakhir selesai, namun suara di kepalanya jauh lebih berisik. Seharian ia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam mengikuti kelas. Ia bahkan hampir menolak ajakan makan siang kalau Sugawara tidak menatapnya tajam dan segera menariknya paksa menuju kantin.

Bahkan ketika kelasnya sudah selesai, masih tidak ada pesan satu pun dari Iwaizumi. Oikawa sendiri tetap menolak untuk menghubungi duluan dan memutuskan akan langsung pergi ke gym dan menunggu di sana. Kalau ternyata Iwaizumi tidak datang—

“Lo mau langsung balik?”

Pertanyaan Kuroo menyadarkan Oikawa dari lamunannya. Ia mendongak dan menyadari teman sekelasnya satu per satu sudah mulai meninggalkan kelas.

“Eh? Nggak... gue ada urusan sebentar,” jawabnya seraya berdiri dan merapikan lipatan di bajunya dengan gugup. “Lo langsung balik?”

“Nggak kok, sama. Gue mau ke perpus nungguin Kenma,” jawab Kuroo selagi meneliti ekspresinya dengan saksama. “Lo nggak apa-apa?”

“Hah? Kenapa emang?”

“Habis seharian lo kayak orang linglung. Tadi Suga sampe nanya ke gue lo kenapa,” jawab Kuroo dengan oktaf yang lebih rendah karena masih ada beberapa teman di sekitar mereka. “Apa lo... ada masalah lagi sama Iwaizumi?”

“Hah? Oh, ng-nggak ada...” Oikawa buru-buru menyanggah. “Gue cuma... cuma... kepikiran aja soal ujian nanti. Iya, itu. Hahahaha...”

Kuroo mengangkat sebelah alisnya. Kentara sekali pria itu tidak memercayai alasan remeh yang dikemukakan Oikawa. Namun sebagaimana orang yang sangat mengenal baik Oikawa, Kuroo tahu temannya itu tidak bisa dipaksa untuk bercerita.

“Oke, tapi lo bisa cerita ke gue kalau ada apa-apa,” ucap Kuroo seraya tersenyum kecil dan menepuk pundaknya sedikit keras. “Sekali lagi met ultah, ya. Do not let bad things ruin your birthday.”

Setelah mengatakan kalimat yang sangat tidak terduga tersebut, Kuroo melangkah keluar kelas. Oikawa tertegun selama beberapa saat sebelum kegugupannya kembali mengambil alih.

“Oke, Oikawa, ayo tarik napas... lo pasti bisa.”

Oikawa menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali. Meskipun begitu, langkahnya tetap terasa berat, tangan dan kakinya begitu dingin, juga ada peluh yang mulai mengalir di pelipisnya.

Kakinya seolah bergerak sendiri menuju gym tempat latihan dan pertandingan voli sering diadakan. Gym itu jugalah yang menjadi saksi atas ciuman pertamanya dengan Iwaizumi. Ia berusaha menguatkan hati dan bahkan sedikit berharap bahwa Iwaizumi akan lupa dan tidak datang ke tempat yang telah dimintanya.

Tetapi harapan itu sepertinya mustahil terkabul karena beberapa langkah lagi sebelum dirinya sampai, Oikawa berhenti dan matanya membeliak lebar.

Iwaizumi sudah datang dan tengah bersandar di depan pintu gym. Wajahnya menunduk dan terlihat seperti sedang melamun selagi memandangi sebuah kotak berukuran sedang yang dipegangnya. Namun Iwaizumi sepertinya langsung menyadari kehadiran Oikawa karena wajahnya langsung terangkat sehingga mata mereka saling beradu.

Untuk sesaat, tak ada yang berani memecah suasana hening tersebut.

“Hai.” Iwaizumi tersenyum kecil dan menegakkan tubuhnya.

“H-hai,” balas Oikawa dengan gugup. Suaranya sedikit pecah saat membalas pria itu. Ia pun berdeham lalu menyapa Iwaizumi sekali lagi. “Hai, kamu udah... nunggu lama?”

“Belum, baru aja,” jawab Iwaizumi singkat. Entah hanya dirinya, atau Iwaizumi memang terlihat sedikit... ragu? Oikawa bahkan bisa mendeteksi nada penuh kehati-hatian dalam suara pria itu. “Jadi... kita... mau masuk ke dalem, kan?”

“Eh? Oh? O-oh, iya...” Oikawa tersadar dan buru-buru mengeluarkan kunci gym yang sudah dipinjamnya dari Ushijima tadi pagi. Tangannya sedikit gemetar saat berusaha membuka pintu gym. Ia bisa merasakan Iwaizumi memandang sisi wajahnya lekat meskipun tidak berkata apa pun.

Saat pintu gym sudah berhasil terbuka, dengan bantuan cahaya yang masuk dari luar, Oikawa meraba dinding untuk menyalakan sakelar lampunya.

Setelah gym itu dipenuhi cahaya yang terang benderang, Oikawa bisa merasakan kegugupannya bertambah dua kali lipat. Ia menoleh ke belakang, dan tanpa melihat ke arah Iwaizumi, menarik tangan pria itu pelan sampai masuk ke dalam.

Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di dalam gym tersebut. Oikawa terus berjalan dengan tangan Iwaizumi yang masih berada di dalam genggamannya. Ia terus menariknya sampai mereka berhenti di pinggir lapangan.

Oikawa melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik sampai menghadap pria itu. Iwaizumi masih belum mengatakan apa-apa. Pria itu hanya mengawasinya dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Sesuai janji waktu itu, aku mau ngasih kamu hadiah,” ucap Oikawa, berusaha mencairkan ketegangan di antara mereka. Namun sebelum tangannya bergerak meraih kotak yang disimpannya di dalam tas, Iwaizumi menghentikannya.

“Sebelum itu, boleh aku yang ngasih kamu kado duluan?”

Tanpa menunggu jawaban dari Oikawa, Iwaizumi lantas menyerahkan kotak kecil yang sudah dipegangnya sejak awal.

“Selamat ulang tahun.”

Mau tidak mau, senyumnya merekah juga saat kotak bersampul abu-abu itu sudah berada di dalam genggamannya. Oikawa menggoyangkannya sedikit, namun tidak ada bunyi yang terdengar.

“Buka aja,” Iwaizumi berkata tiba-tiba.

“Eh? Boleh? Buka di sini?”

Yang ditanya hanya mengangguk. “It's your gift.”

Dengan jantung yang sedikit berdebar, Oikawa membuka sampulnya sampai kotak aslinya terlihat. Tangannya langsung berhenti saat melihat tulisan yang ada di atas kotak tersebut. Nama brand yang tertera sungguh tidak asing.

“Kenapa?” tanya Iwaizumi saat dilihatnya Oikawa hanya diam. Namun Oikawa buru-buru menggeleng, dan dengan jantung yang semakin berdebar, membuka tutup kotak tersebut.

Matanya seakan tak bisa lepas dari benda yang ada di dalam kotak. Ia bahkan baru tersadar dirinya tercengang cukup lama sampai ada tangan Iwaizumi yang masuk ke peripheral-nya.

“Aku liat ini... dan langsung keingetan sama kamu,” ujar pria itu pelan selagi mengambil kalung berwarna silver yang ada di dalam kotak dengan hati-hati. “Terutama... ininya. Bener-bener ngingetin aku sama kamu.”

Ini yang dimaksud Iwaizumi adalah bandul kecil berwarna senada berbentuk bola voli.

Oikawa hanya mampu menelan salivanya saat Iwaizumi maju dan dengan tatapan matanya meminta izin. Seperti orang bodoh, Oikawa tak bisa melakukan apa pun selain mengangguk singkat. Namun itu diartikan cukup bagi Iwaizumi sehingga tanpa ragu pria itu maju lebih dekat sampai jarak di antara wajah mereka tinggal beberapa inci. Oikawa menahan napas saat Iwaizumi memiringkan kepalanya sedikit dan melingkarkan kedua tangan di sekitar lehernya tanpa benar-benar menyentuhnya untuk memasangkan kalung tersebut.

Padahal hanya sebentar, tapi bagi Oikawa, rasanya seperti seabad.

“It looks good on you,” Iwaizumi mengatakannya setelah kalung itu terpasang sempurna. Pria itu tidak langsung menarik dirinya, melainkan berlama-lama menyentuh bandul kecil yang menggantung sampai Oikawa yakin dirinya bisa jatuh sebentar lagi kalau mereka terus-terusan berada dalam jarak sedekat ini.

Barulah Oikawa bisa menghela napas lega saat Iwaizumi mulai memberi jarak di antara mereka.

“Se-sekarang aku.” Oikawa menyumpahi dirinya sendiri karena terdengar sangat gugup. Ia melepaskan tasnya, lalu meletakkannya di atas kursi penonton. Tangannya langsung meraih ke dalam isi tas untuk mengeluarkan hadiah yang sudah disiapkannya.

Dengan wajah bersemu merah, Oikawa langsung menyerahkan hadiah yang sudah disiapkannya ke arah Iwaizumi yang menerimanya dengan raut wajah penasaran.

“Se-selamat ulang tahun! Maaf telat ngucapinnya...”

Namun Iwaizumi sepertinya tidak mendengar ucapan Oikawa karena pria itu terus memandang hadiah yang baru saja diterimanya.

“Ini... boleh aku buka sekarang?” Ada nada penuh harap terdengar di balik suara pria itu.

Tentu saja Oikawa tidak mungkin melarang.

“O-oh, boleh... buka aja!” Berkebalikan dengan jawabannya, Oikawa justru semakin gugup saat melihat Iwaizumi membuka hadiah darinya. Ia mana mungkin menyangka bahwa hadiah yang diberikannya ternyata—

“Eh? Ini bukannya...” Iwaizumi terlihat terkejut saat membaca tulisan yang ada di kotak tersebut. Pasalnya, merek yang tertera sama persis dengan apa yang barusan diberikannya pada Oikawa.

Oikawa sendiri hanya mengawasi saat Iwaizumi akhirnya membuka penutup kotak tersebut.

“Kayaknya... kita nggak sengaja beli di tempat yang sama,” ujar Oikawa saat dilihatnya Iwaizumi diam saja. “Dan kata yang jual... itu bisa dibeli sepasang... sama kalung ini,” tambahnya lagi dengan pelan. Tangannya secara otomatis menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

Saat Iwaizumi masih belum mengatakan apa pun, Oikawa maju dan meraih gelang itu dari dalam kotak. Mata Iwaizumi bergerak mengikutinya, namun bibirnya masih terkatup rapat.

“Dan ini... ngingetin aku juga sama kamu.”

Oikawa menyentuh sekilas ukiran bola voli yang menghias bagian tengah gelang silver tersebut sebelum meraih tangan Iwaizumi dan memasangkannya.

“Cocok juga di kamu,” puji Oikawa setelah gelang itu terpasang pada tempatnya. Diam-diam ia mengagumi bagaimana gelang itu terlihat berkilau di bawah cahaya lampu gym yang amat terang. Namun yang membuat Oikawa semakin terlena adalah kulit kecoklatan Iwaizumi yang mengenakannya — seakan menambah kecantikan gelang itu.

Tanpa melepaskan tatapannya dari gelang yang melingkar di tangan Iwaizumi, Oikawa bertanya pelan, “apa boleh... aku minta satu hadiah lagi?”

Oikawa memang tidak bisa melihat wajah Iwaizumi, namun ia tetap mendengar jawaban cepat pria itu.

“Apa aja kalau aku bisa ngasih—”

“Can you kiss me?”

Oikawa pikir, ia bisa mengatakannya dengan lebih lancar apabila tidak melihat wajah pria yang ada di hadapannya.

“Kamu dulu pernah bilang... nggak akan cium aku lagi kecuali aku yang minta sendiri. Dan aku tau ini aneh karena tiba-tiba banget minta kayak gini. Apalagi pas lagi nggak ada siapa pun sekarang. A-aku bakal maklum kalau kamu nggak mau. Tapi habis ini aku nggak akan lagi—”

Oikawa bahkan belum menyelesaikan racauannya ketika ada tangan yang merengkuh sisi wajahnya dan menariknya tiba-tiba. Oikawa hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya kalau Iwaizumi tidak segera menahan pinggangnya dengan tangannya yang satu lagi.

Oikawa hanya memiliki waktu satu detik untuk menatap mata dengan warna obsidian gelap itu sebelum miliknya sendiri menutup secara otomatis berbarengan dengan bibir Iwaizumi yang menyentuhnya.

Rasanya sungguh berbeda dengan dua ciuman mereka sebelumnya. Kalau yang pertama tidak lebih dari sekadar gerak motorik refleks, dan yang kedua merupakan bagian dari akting mereka, maka yang ini terasa lebih nyata dari apa pun.

Tidak ada kehati-hatian apalagi keraguan dalam ciuman mereka. Iwaizumi menariknya semakin dekat sampai tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Tangannya yang sebelumnya memegang erat pinggang Oikawa, berpindah ke atas dan ikut merengkuh wajahnya dengan kedua tangan.

Oikawa tidak bisa kabur maupun memiliki keinginan untuk melepaskan diri.

Pagutan bibir mereka terhadap satu sama lain semakin cepat. Iwaizumi menciumnya seperti kelaparan. Napasnya tercekat saat bibir bawahnya digigit pelan dan Iwaizumi menganggapnya sebagai izin untuk menelusuri lebih dalam.

Oikawa berpegangan erat pada lengan pria itu agar tidak terjatuh menghadapi intensitas ciuman mereka. Napasnya semakin terengah seiring dengan lidah Iwaizumi yang terus bergerak seakan mempunya misi untuk mengambil seluruh pasokan oksigennya.

Oikawa tidak tahu berapa lama mereka berciuman. Yang ada di kepalanya hanya rasa dan aroma pria itu yang terasa menginvasi seluruh indranya. Dan saat dirinya benar-benar membutuhkan udara untuk bernapas, Iwaizumi melepaskan ciumannya.

Hanya ada suara tarikan napas pendek-pendek yang memenuhi gymnasium tersebut. Oikawa tetap memejamkan matanya. Wajahnya masih direngkuh dengan erat oleh Iwaizumi. Rahangnya bahkan ikut diusap lembut oleh pria itu. Oikawa memejamkan matanya semakin erat dan memantrai dirinya sendiri agar menikmati proksimitas itu untuk terakhir kalinya.

“Maaf...”

Suara Iwaizumi lah yang memecah kesenyapan di antara mereka pertama kali. Oikawa membuka matanya dan mendapati manik gelap pria itu tengah memakunya intens.

Maaf buat apa? Oikawa ingin bertanya, namun tak ada suara yang keluar.

“Maaf... soal yang waktu itu. Soal Haiba. Aku... aku minta maaf...”

“Kenapa?”

Oikawa seolah kembali merasakan sakit hatinya saat menemukan wanita itu keluar dari apartemen Iwaizumi. Ia masih belum paham.

“Kenapa kamu nggak manggil aku?”

Saat Iwaizumi tak langsung menjawab, Oikawa melanjutkan, “apa karena aku bukan pacar beneran kamu? Karena hubungan kita cuma kontrak?”

Iwaizumi menggeleng dengan frantik. “Bukan! Tooru, bukan gitu. Aku cuma nggak mau bikin kamu khawatir. Aku nggak mau batalin janji, sedangkan aku masih harus nyelesein kerjaan, jadi aku... manggil Haiba buat nyelesein bareng di apartemenku. But then I got really sick, terus...” Iwaizumi menelan salivanya susah payah. “Maafin aku udah bikin kamu salah paham. Terus aku juga—”

“Aku nggak marah sama kamu dan harusnya aku sadar kamu nggak wajib jelasin itu ke aku. Aku... nggak berhak buat salah paham. Maaf, ya.”

“Tooru—”

“Iwaizumi,” Oikawa memotong pria itu. Ia harus segera mengatakannya. Sekarang, sebelum perasaannya jatuh semakin dalam. “Kamu inget safe word yang pernah aku buat?”

Iwaizumi mengangguk. Wajahnya mendadak terlihat bingung. “Voli.”

“Voli,” Oikawa ikut mengucapkannya dengan sebuah penekanan. “Kita bikin safe word itu karena kamu bilang, if I say the word, you'll stop at whatever we're doing.”

Tangan Oikawa bergerak menyentuh tangan Iwaizumi yang masih berada di sisi wajahnya. Ia menggenggamnya lembut dan menurunkannya.

“Dan aku tadi bilang itu karena mau kita berhenti. At this. At whatever we're doing right now.”

“Tooru, aku nggak—”

“Aku yakin kamu nggak butuh bantuanku lagi. Aku yakin nggak perlu sampai 6 bulan pun Ayah kamu nggak akan maksa kamu lagi. You're doing great at your works and you just have to be in a good terms with Alisa and—”

“Aku suka sama kamu.”

Hening.

“Tooru, waktu aku bilang ada orang yang aku suka, itu maksudnya kamu,” Iwaizumi berkata dengan putus asa. Kalau ia harus memohon, maka ia akan memohon. Kalau Oikawa memintanya untuk tak lagi bertemu Alisa Haiba, ia akan melakukannya.

Ia akan melakukan apa saja.

Oikawa terlihat kehilangan kata-kata. Ada getaran di balik maniknya yang tak tak bisa Iwaizumi pahami. Oikawa menggigit bibirnya dan tak ada yang Iwaizumi inginkan selain mencium bibir itu kembali sebagai bentuk curahan perasaannya. Rasa sukanya. Sayangnya. Dan keinginannya agar Oikawa tidak pergi dari sisinya.

Untuk sedetik, Iwaizumi yakin Oikawa pasti akan mengatakan hal yang sama — bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Namun di detik selanjutnya, tangannya dilepas dan ada determinasi baru dalam mata pria itu.

Iwaizumi panik. Tangannya terjulur — ingin meraih pria itu, namun Oikawa mundur selangkah dan segera mengambil tasnya.

“Makasih banyak buat hadiahnya. Mulai bulan depan, kamu nggak perlu ngirim aku uang lagi. Aku bakal balik ke kerjaan part time yang dulu. Terserah kamu mau pake alasan apa soal kita. Aku bakal... ngikutin alasan kamu.”

Tanpa melirik ke arah Iwaizumi, Oikawa cepat-cepat melangkah. Ia ingin segera keluar dari sana. Ia takut jika sedikit lebih lama lagi berdiri di hadapan pria itu, keteguhannya akan hancur begitu saja.

“Tooru-”

Oikawa berhenti. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Ia memejamkan matanya sangat erat, kemudian berkata—

“dan please, jangan panggil aku Tooru lagi.”

Oikawa melanjutkan langkahnya. Lebih cepat dari sebelumnya, dan terus bertambah sampai air mata yang ada di ujung matanya terhapus dengan sendirinya berkat tiupan angin.

Oikawa semakin cepat berlari saat menyadari tak ada langkah kaki yang mengikutinya dari belakang.


@fakeloveros